Pocong Tampan

Pocong Tampan
Perpisahan dengan Manan


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Aku harus kembali ya." ucap Manan.


"Yah aku masih mau tanya banyak tentang kamu dan Anan." ucap Dita sedih.


"Maaf, tapi aku tak bisa berlama-lama disini nanti mami kehilangan tenaganya untuk bangkit, oh iya Can mami kangen banget sama kamu."


"Iya iya bener tadi mami kamu bilang kaya gitu." Dita langsung menimpali.


"Gue juga kangen sama mami bek, salam dari gue yak."


Anan dan Manan berpelukan untuk terakhir kalinya.


"Tunggu bentar, itu artinya ini terakhirnya kalinya kita ketemu, dan kamu menyerahkan jiwa kamu buat papi kamu?" tanya Dita.


"Semua sudah terlanjur Dita, semua kehendak papi aku gak bisa berbuat apa-apa, tolong jaga si macan ini yah." pinta Manan.


"Aku boleh peluk kamu?" tanya Dita.


Manan merentangkan kedua tangannya menyambut Dita kedalam pelukannya.


"Makasih ya Dita udah jagain macan aku." ucap Manan memeluk Dita.


"Ehm ehm jangan lama-lama bisa gak?" Anan menyela.


"Ya ampun Nan sama saudara kembar kamu sendiri aja cemburu." Dita melepas pelukannya.


"Ya udah sini aku peluk." Dita menyambut pelukan Anan namun Anan malah memeluk Manan.


"Dih kirain mau peluk aku." gumam Dita.


Akhirnya hari itu pertemuan terakhir mereka dengan Manan. Terselip ingatan saat Anan kecil bermain tembak-tembakan bersama Manan di taman, Maminya sibuk menyiapkan cemilan untuk papinya sambil tertawa melihat anak kembarnya berlarian. Anan ingat sekilas wajah mami dan papinya saat berpisah dengan Manan hari itu.


***


Jam digital di dalam apartemen Anan menunjukkan pukul tiga dini hari.


"Kamu mau kemana Ta?"


"Balik lah ke rumah Tante."

__ADS_1


"Udah tidur sini aja hooaaammm Andri juga gak ada, gak tau kelayapan kemana tuh orang eh setan."


"Terus kalau gak ada Andri mau ngapain emangnya?"


"Bobo bareng."


Pluk. Dita menimpuk Anan dengan bantal sofa tepat diwajahnya.


"Hmmm mulai deh mesum pikirannya, aku gak salah ngomong ya, bobo bareng itu ya bareng-bareng tidurnya kamu di kamar aku di sofa." Anan meringis tersenyum lebar.


"Oh kirain mau bobo bareng yang begituan."


gumam Dita lirih.


"Apaan Ta?"


"Enggak, bukan apa-apa, aku balik yak."


"Ta, ini dulu dong." Anan mengetuk pipinya dengan jari telunjuknya.


"Oh..." Dita menyentuk pipi Anan dengan telunjuknya.


"Bukan pakai telunjuk tapi yang itu tuh." Anan menunjuk bibir Dita.


"Oh, merem dong."


Anan menutup kedua matanya dan


"Ampun Dita bau banget mulutnya."


"Wleeekkk...., modus aja ih."


Ledek Dita dan berlalu meninggalkan Anan.


Dita membuka pintu apartemen Anan perlahan, menengok ke kanan dan ke kiri takut kalau ada yang melihat lalu berjalan mengendap-endap menuju apartemen Tante Dewi. Dita membuka perlahan pintunya dan masuk sembunyi-sembunyi.


"Akhirnya aman." Dita mengelus dadanya.


Klik.


lampu ruang tamu Tante Dewi menyala.


"Dari mana Ta?" Tante Dewi berada di samping stop kontak ruang tamu nya sambil bertolak pinggang.


"Eh tante, kok gak tidur sih?" Dita memilin ujung kausnya sambil meliukkan badannya salah tingkah memasang senyum dengan wajah polos.


"Ditanya malah nanya balik, kamu dari mana?"


"Dari, dari emmm itu tadi jalan-jalan bentar di koridor sama Anita." Dita mencari alasan.


"Hah kok sama aku, kan aku dari tadi di sofa." Anita menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ngapain sama Anita jalan-jalan jam segini kamu nyari hantu?" tanya Tante Dewi.


"Duh gimana ya Tante."


"Aku bisa minta cek rekaman cctv yang di koridor lho Ta."


"Eh iya ya, jangan dong Tante, oke aku jelasin tapi jangan marah yak?"


"Jelasin apa?"


"Aku eng, eng, dari rumah Anan."


"Apa? kamu kok bisa-bisanya bilang dari Rab Anan jam segini pula cewek nyamperin cowok pula terus berduaan sama dia disana terus kamu ngapain coba disana kalau nanti terjadi sesuatu yang diinginkan gimana kamu tuh harusnya mikir Ta kamu tuh...."


"STOP!" Dita menghentikan konser rap ala Tante Dewi itu. "Tarik nafas buang nafas biar lega, terus dengerin Dita mau cerita."


"Tapi kamu tuh..."


"Stop, udah Tante minum dulu nih." Dita mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.


Akhirnya Tante Dewi terdiam juga setelah minum lalu mendengarkan cerita Dita tentang pertemuan nya dengan Manan, ibu Aiko dan perpisahannya dengan Manan di dalam apartemen Anan.


"Mas Arjuna ngelakuin itu semua Ta kok aku gak percaya ya?"


"Itu yang aku tahu dari Tante Aiko dan Manan."


"Kurang dari tiga bulan Anan gak akan bisa jadi manusia kaya sekarang lagi?"


Dita mengangguk, tak terasa Tante Dewi meneteskan air matanya.


"Kok Tante nangis?"


"Kamu masih bisa main sama Anan, aku gak bisa liat Anan lagi nanti huhuhu."


Tante Dewi memeluk Dita.


"Jangan kenceng - kenceng Tante nanti Anan ke ge er an denger di tangisin kaya gini." Dita menepuk-nepuk punggung Tante Dewi.


"Iya ya Ta."


srooottt...


"Ampun dah Tante ku cantik-cantik jorok banget sih, baju aku ini Tante malah di ingusin."


"Eh kirain baju aku Ta, sorry."


"Hahahaha sama nya sama kamu cantik tapi gesrek joroknya ." Anita tertawa terbahak-bahak di ujung sofa.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading guys 😘😘😘


__ADS_2