
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Setelah di otopsi jenazah pak Herdi di semayamkan di tempat pemakaman umum elit di kawasan pinggir kota. Sore itu Dita menaburi bunga di atas makam Pak Herdi dengan tangisan nya yang tak dapat terbendung, Anan mewaspadai sekitar nya saat mendampingi Dita. Terlebih keluarga Anwar sepupu satu-satunya Pak Herdi juga hadir di pemakaman itu.
Anita juga ikut mengamati sekeliling yang mencurigakan, meski banyak penampakan yang terlihat di sana dari Noni Belanda, kuntilanak berdaster warna warni, Pocong - pocong yang berlompatan, hantu raksasa hijau besar seperti Hulk tanpa kepala bahkan tuyul - tuyul ber popok celana yang berseliweran di makam.
"Aku kuat, aku kuat, enggak takut, enggak takut." ucap Anita menguatkan diri sendiri.
"Nit, ayo pulang." ajak Dita.
"Ta itu tuyul ngapain sih pegangin baju kamu terus?" tanya Anita.
"Mana hah?" Dita menoleh ke belakang.
"Jangan ya dek, jangan iseng." ucap Anan memelototi tuyul itu yang tertawa lalu pergi.
"Kuntilanak zaman now keren-keren yak Ta, aku rasa ada butik deh di sini." ucap Anita sambil tertawa.
"Hmmm kenapa Nit, mau aku beliin baju baru?"
"Emang bisa Ta? wah mau dong Ta beliin gaun ya, aku bosen pakai kaus sama jeans terus hehehe."
"Iya nanti aku beliin, baju renang kalau perlu juga aku beliin."
"Gak mau ah Ta, dingin kalau baju renang mah hehehe."
"Mereka gak merhatiin kita kan Nan?" ucap Dita melirik ke arah keluarga Anwar yang sedang berbincang dengan pak pengacara.
"Enggak Ta, tadi juga Om Kevin udah kasih kode agar kita menjauh segera bercampur dengan resi pak Herdi." ucap Anan.
"Oh baguslah, apaan nih?" sebuah bola hijau berukuran besar menggelinding ke kaki Dita.
__ADS_1
"Bola siapa ini gede banget." Anita menendang bola itu pelan lalu bola itu berbalik. "Aaaaaaaaa ada matanya huaaaa." pekik Anita bersembunyi di belakang badan Dita.
"Kembalikan kepalaku." tiba-tiba raksasa hijau seperti Hulk itu datang berlari ke arah Dita namun terjatuh. "Kembalikan kepalaku huhuhuhu." hantu itu menangis mencari kepalanya.
"Perasaan bibirnya di kepala ini kenapa suaranya datang dari leher dia yak?" tanya Anan heran.
"Mana aku tau, sana coba Nan balikin kepalanya." sahut Dita lalu Anan meraih kepala hantu itu dan menghampiri si raksasa. Untungnya mereka berada di sudut pemakaman yang sepi dari para manusia.
"Ini om kepalanya." Anan menyerahkan kepalanya kepada hantu raksasa itu.
"Mana mana mana."
"Om ini kepala saya, aduh sakit om sakit." pekik Anan.
"Hahahahha." tawa Dita dan Anita bersamaan.
"Ini aku habis tangisin pak Herdi kenapa malah ketawa gini sih liat Anan ampun deh yaa Allah." Dita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ini kenapa mukaku rambut semua huaaaaahuaaaa." ucap hantu itu menangis panik.
Kepala hantu itu memang sudah terpasang namun terbalik. "Hahahaha koplak banget ini hantu." Anan tertawa terbahak-bahak menahan sakit di perutnya.
"Nah kan bener sekarang bisa lihat kan?" tanya Anan memastikan.
Pluk... kepala hantu itu jatuh lagi di tangannya.
"Kencengin Nan mur sama bautnya hahahaha." sahut Anita.
"Kocak ye ni hantu badan gede gini tukang lawak hahaha." Anan memasang kepala hantu yang masih dengan posisi duduk itu.
"Akhirnya... terima kasih anak muda." ucap hantu raksasa itu.
"Sama - sama om, saya permisi yak." sahut Anan lalu pamit.
"Tunggu, apa kau boleh ikut dengan mu? aku akan menjadikanmu orang kaya kau hanya cukup berikan aku satu balita setiap bulan." ucap makhluk itu.
"Idih ogah om... saya mah orang kaya om udah kaya dari lahir." ucap Anan dengan nada sombong.
"Hmmm sombong nya." ledek Dita.
"Jadi om ini bekas anak buah orang nih semacam makhluk pesugihan kayanya Ta." ucap Anita.
__ADS_1
"Ya emang Nit, itu barusan dia nawarin, majikan yang lama emang kemana om?" tanya Dita.
"Tuh disana." tunjuk makhluk raksasa itu ke sebuah makam.
"Dia sudah tak punya keturunan dan meninggalkan ku begitu saja, salah sendiri dia korbankan anak satu-satunya untukku, bodoh kan dia terlalu tamak akan harta siapapun dia korbankan, jadi setelah itu aku tak bisa ikut keturunannya karena dia tak punya keturunan." makhluk besar itu menjelaskan sambil mengukir tanah dengan sebatang ranting ditangannya.
"Kasihan sih, tapi kalau kita bawa pulang harus cari anak kecil ya Ta, lebih kasihan lagi yak?" ucap Anita.
"Idih ogah, kamu aja sana yang temenin aku gak mau." sahut Dita.
"Ayo Nan pulang." ajak Dita.
"Oke deh, kami pamit nih om."
"Baiklah, aku akan tetap menunggu mencari manusia-manusia tamak yang akan mengabdi kepadaku hahahaha." suara hantu itu menggelegar terdengar meski Dita, Anan dan Anita sudah pergi menjauh.
"Nan itu Kunti di atas mobil kamu suruh pulang." ucap Dita menepuk bahu Anan, sementara si Kunti berdaster warna ungu terang itu malah bergaya melambaikan tangannya pada Anan.
"Ganjen banget itu Kunti." sahut Anita.
"Udah masuk mobil aja nanti juga pas aku gas mobilnya dia jatoh nyungsep."
"Jahat ih Anan mah, yang baik-baik dong ngusirnya."
"Permisi mbak Kunti, mobilnya mau jalan turun dulu nanti kamu jatuh lho." ucap Dita.
"Hihihihihi...." hantu kuntilanak bergaun ungu itu malah menantang Dita sambil tertawa cekikikan panjang.
"Ngeledek nih Kunti, ayo Nan di gas aja mobilnya, kesel juga sama nih Kunti."
"Aku bilang apa, ayo masuk mobil!" sahut Anan, Dita dan Anita langsung masuk ke dalam mobil.
"Mbak Kunti siap - siap ya." ucap Anan menekan pedal gas mobilnya.
****
**To be continue...
Happy Reading...
Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘**
__ADS_1