
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Jangan bosen juga bacanya ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
"Dita, gue pulangnya nanti dulu ya..."
Anan kembali ke dalam menutup pintu toko Dita kembali.
"Kamu kenapa pucat ketakutan gitu?" tanya Dita.
"Hantu tadi yang kepalanya pada penyok, ada di depan tuh," bisik Anan.
"Ya udah sih suruh masuk ajak mampir," sahut Dita asal.
"Ta, jangan bercanda deh," ucap Anan.
"Aku ke atas ya mau rebahan, kalau mau keluar silahkan aja nanti pintunya langsung ke kunci otomatis kok nanti dari atas aku kunci pakai hape, keren kan jaman sekarang, nyalain lampu aja bisa lewat hape, dah Yanda... eh Anan."
Dita melangkahkan kakinya menaiki anak tangga sambil melambaikan tangan kanannya pada Anan tanpa berbalik badan meninggalkan Anan.
"Yah gimana nih, kalau gue nekat pulang nanti dia ngikutin gue, makin stres aja gue nanti, duh..." gumam Anan makin takut tak berani keluar rumah Dita.
Anan menuju tangga rumah Dita dan menaiki anak tangganya, tapi dia urungkan lagi niatnya. Selama lima belas menit dia mondar-mandir dari pintu depan rumah Dita ke tangga. Sampai akhirnya Anan lelah dan memutuskan duduk di anak tangga sampai tak terasa dia tertidur pulas.
Ponsel Anan bergetar di dalam tas ranselnya yang ia letakkan dalam bagasi motor skutiknya. Rupanya Hyena dari tadi menghubunginya karena menunggu kehadiran Anan untuk bertemu dengan papinya.
"Mana anak itu?" tanya papinya Hyena.
"Gak tau pih dari tadi gak diangkat," jawab Hyena.
"Papi ke kamar ya, capek juga nih udah nunggu satu jam."
"Dikit lagi ya pih, Anan kan suka telat," pinta Hyena dengan perasaan cemas berjalan mondar-mandir menatap arah pintu masuk rumahnya.
"Ini yang papi gak suka dengan anak itu, dia itu kurang bertanggung jawab, kamu kenapa sih masih saja mengharapkan dia?" tanya papi dengan tegas.
"Habisnya aku udah cinta sih pih, mau gimana lagi coba? mungkin aku gak akan bisa hidup tanpa Anan," ucap Hyena yang masih menghubungi ponsel Anan tanpa jawaban.
***
Jam dinding berdetak menunjukkan pukul satu dini hari. Anta yang kelaparan membangunkan Dita karena sedari sore tadi ia tertidur dengan lelapnya sampai lupa makan malam.
"Bunda... bangun dong..." Anta mengguncang tubuh Dita sampai ibundanya itu tersadar dan membuka matanya sambil menguap.
"Apa nak?" tanya Dita sambil meregangkan tubuhnya.
"Anta laper mau bubur ayam," pinta Anta.
"Duh cari dimana bubur ayam jam segini, Ta."
"Yang pake air panas aja bunda, yang ada di bawah itu," ucap Anta.
"Hmmm... bubur instan maksudnya? okelah ayo ikut bunda, Anta pilih sendiri mau rasa apa,"
ucap Dita menggendong Anta menuju lantai bawah.
Dita terkejut kala melihat bayangan sosok laki-laki di tangga.
"Duh jangan-jangan hantu yang tadi lagi," gumam Dita.
"Itu bukan hantu bunda, Anta yakin," ucap Anta.
"Kalau bukan hantu berarti maling dong, Anta di belakang bunda ya," Dita meletakkan Anta lalu meraih wajan teflon andalannya.
"Lampu menyala..." ucap Anta menyalakan lampu lantai bawah.
"Anta jangan di nyalain dulu kan nanti kita ketau...an, Anan kok masih di sini?" Dita meletakkan wajan ke atas meja lalu bergegas menuruni tangga.
"Yah, dia ngorok," ucap Dita.
"Yanda kok bobo di sini sih bunda?" tanya Anta.
"Sstt jangan berisik, Anta ambil selimut gih bawa turun kesini ya," pinta Dita.
"Pasti dia takut keluar gara-gara lihat hantu tadi, gemes banget sih padahal dulu aku yang selalu ketakutan, sekarang malah dia hihihi," gumam Dita.
Dita mendekatkan wajahnya memandangi Anan.
"Matanya sama kok tuh ada bintik hitam di kelopak matanya, hidungnya juga sama mancung sempurna, apalagi bibirnya gemoy gimana gitu," ucap Dita lirih mencoba menyentuh bibir Anan dengan telunjuknya.
Tiba-tiba Anan membuka matanya karena merasakan nafas Dita yang berhembus dekat ke arah wajahnya. Anan memegang telunjuk Dita secara reflek menahannya.
Deg...
Kedua mata mereka bertatapan. Detak jantung Dita dan Anan tak beraturan, berdetak lebih kencang dari biasanya. Bahkan bunyi detakannya terdengar di keheningan malam itu.
"Bunda ini selimutnya," ucap Anta memberikan selimut berwarna merah dengan motif bunga matahari pada Dita.
"Eh iya, makasih ya Anta, nih pake nanti kamu kedinginan," Dita menyerahkan selimutnya pada Anan.
"Mau ngapain lo tadi nunjuk gue?" tanya Anan.
"Yee siapa yang nunjuk, tadi mau nangkep nyamuk eh kamu keburu bangun, udah deh jangan marah-marah, udah untung gak di teriakin maling, jam segini nginep di rumah orang gak bilang-bilang," ucap Dita menarik lengan Anta.
"Yuk pilih buburnya," ajak Dita.
"Ya maaf habisnya gue takut keluar sana," sahut Anan.
"Yanda mau bubur? apa mau mie?" tanya Anta pada Anan.
"Gak usah udah kenyang," Anan tersenyum pada Anta.
"Anta mau yang ini Bunda," ucapnya menunjuk bubur instan rasa kari ayam.
"Oke, yuk bunda masakin," ucap Dita.
"Sama buatin Anta susu cokelat ya bunda," pinta Anta yang di balas anggukan oleh Dita.
__ADS_1
"Yuk Yanda bobo di atas sama Anta," pinta Anta menarik lengan Anan.
"Jangan nak, gak muat soalnya kan ada tante tasya, lagipula biar aja om Anan di sini, kan dia lagi ngejagain rumah," ucap Dita menaiki anak tangga.
"Kok om sih bunda, kan ini yanda aku," ucap Anta memeluk Anan.
Langkah Dita terhenti lalu menoleh pada pemandangan tersebut, saat Anta memeluk Anan yang masih belum menyadari siapa Anta dan dirinya. Dita menahan air matanya dengan mendangakkan kepalanya menatap langit-langit rumahnya.
"Iya boleh, panggil Yanda juga gak apa-apa," sahut Anan memeluk Anta sambil menoleh pada Dita.
"Anta ayo katanya mau makan bubur sama minum susu," ajak Dita.
"Oke bunda, Anta ke atas dulu ya yanda," Anta meninggalkan Anan lalu melangkahkan kaki kecilnya menuju lantai dua.
***
Keesokan harinya Dita bangun lebih pagi untuk segera melihat Anan. Akan tetapi rupanya Anan sudah pergi dan meninggalkan selimutnya di anak tangga yang semalam di duduki Anan.
"Udah pergi rupanya, baru mau di buatin sarapan," gumam Dita.
Ponsel Dita berdering membangunkan Tasya dan Anta.
"Maaf ya jadi kebangun," ucap Dita lalu meraih ponselnya. Tasya dan Anta melanjutkan tidurnya kembali.
"Halo, ini nomor siapa ya?" tanya Dita.
"Gue Anan," sahut suara di seberang sana.
"Halooooooo woiiiiii lah kok diem aja sih?" seru Anan karena tak ada jawaban dari Dita yang tiba-tiba terkejut tak dapat berkata-kata.
"WOI....!!!"
Gertakan Anan mengejutkan Dita.
"Eh iya, dapat nomor saya dari siapa?" tanya Dita.
"Dari data pengiriman kemarin kan ada nomor telpon lo, gue mau ngucapin makasih ya, maaf tadi gue pergi gitu aja, takut ngebangunin lo semua, lagian tuh hantu udah ngilang tadi," ucap Anan.
"Oh... ya udah padahal tadi mau aku buatin sarapan," ucap Dita.
"Boleh tuh, gue mau cobain masakan lo kayak apa coba rasanya, asal jangan yang instan ya," ucap Anan.
"Oke, nanti aku masakin," sahut Dita.
"Oke deh, gue mau mandi dulu, bye."
Anan memutus sambungan teleponnya.
"Padahal baru mau ditanyain rumahnya di mana malah di matiin, hmmm ini langkah awal aku buat menyadarkan dia pelan-pelan, aku mau masak opor ayam kesukaan dia hari ini," gumam Dita.
***
Pembukaan toko hari ini lancar dan lumayan banyak juga pengunjung yang hadir untuk membeli keperluan sehari-hari, karena memang hanya ada satu mini market di ruko Dita itu yang ada di daerah itu selain itu harus menempuh jarak dua ratus meter lagi baru ada mini market yang lain dekat pasar tradisional.
Tasya bertugas menjaga toko dengan menjadi kasirnya. Doni menemani Tasya, dia bertugas untuk menjaga toko. Meskipun Dita sudah memasang cctv akan tetapi Doni bisa lebih canggih dari cctv karena menjadi penjaga yang tak terlihat.
"Bunda masak apa?" tanya Anta.
"Opor ayam," sahut Dita.
"Oke bunda ambilin ya," ucap Dita sambil memanggil Pak Herdi.
"Ini opor ayam buat Anta ini buat Pak Herdi, tolong jagain Anta ya, aku mau keluar sebentar, mau anter makanan," ucap Dita saat Pak Herdi muncul.
Dita menenteng kotak makanan di tangannya.
"Eh lupa bunda pamit ya," Dita mencium pipi Anta.
Pak Herdi juga siap menyodorkan pipinya agar di cium Dita. Akan tetapi, bukannya memberi kecupan di pipi, Dita malah menepuk pipi Pak Herdi pelan.
"Modus...!!!" ucap Dita.
"Kali aja gitu Ta, ngarep hehehe," sahut Pak Herdi sambil tertawa.
Dita menuruni tangga lalu pamit pada Tasya dan Doni.
"Mau kemana Ta?" tanya Tasya.
"Mau berjuang demi cinta, eh opor ayam udah matang ya kalau mau makan," ucap Dita lalu pergi dengan taxi online yang sudah ia pesan menuju restoran tempat Anan bekerja.
"Maksud kak Dita apa sih?" tanya Doni pada Tasya.
"Berjuang demi cinta, ya pasti berjuang mendapatkan pak Bos kembali lah," sahut Tasya.
"Uwuuu kak Dita manis banget," ucap Doni.
"Makanya kita harus selalu berdoa semoga Dita dan Anan bisa bersatu kembali, amin..!"
seru Tasya penuh semangat.
***
Sesampainya di restoran tempat Anan bekerja. Dkta sudah di halangi oleh hantu nenek tanpa tangan saat hendak menuju ke dalam.
"Astagfirullah nenek mah ngagetin aja," ucap Dita.
"Kau pasti datang mau membantuku kan?" tanya hantu nenek itu.
"Iya nanti aku bantu tapi nanti bentar ya aku ke dalam dulu," ucap Dita.
"Kau pasti berbohong,"
"Enggak nek, aku gak bohong, janji deh nanti aku kesini lagi mau tanya nenek butuh bantuan apa ya?"
"Kau janji ya, awas kalau kau tak menepati janjimu, aku akan terus menghantui kamu!"
"Ya emang udah jadi hantu pasti menghantui lah masa memanusiai apa menyetani ih gak enak, eh apa sih garing gini bahasa ku, oke deh nek I will be back lah, tunggu aja di mari ya," pinta Dita lalu masuk ke dalam restoran.
"Selamat datang di Big Hit Burger," sapa Andri dan pelayan perempuan bernama Jio bersamaan.
"Halo, eh Anannya ada gak?" tanya Dita.
__ADS_1
"Ada, nih gue hadir," sahut Anan yang kembali dari belakang.
"Kaya hantu luh cong ngagetin gue aja!" sahut Andri.
"Mau pesen apa non? Hmmm wangi banget itu kotak makan ampe kecium gini," ucap Andri.
"Aku bawain makanan buat Anan," sahut Dita.
"Loh di sini kan dilarang bawa makanan dari luar," sahut Andri.
"Udah sih biarin, sirik aja luh mentang-mentang dia bawa makanan buat gue!" Anan meraih kotak makan di tangan Dita tanpa permisi lagi.
"Dih belum dikasih main embat aja, ya udah aku pesen kentang goreng ukuran besar, terus soda gembira, sama es krim strawberry dengan topping oreo ya," pinta Dita.
"Nah gitu dong," ucap Andri.
"Yuk duduk di sana," ajak Anan yang langsung di ikuti Dita.
"Ini makanan yang di pesan nona cantik," Andri meletakkan pesanan makanan Dita di atas meja di hadapan Dita.
"Makasih ya," ucap Dita.
"Ini makanan apa?" tanya Anan.
"Opor ayam kesukaan yanda, emmm maksudnya yandanya aku," sahut Dita.
"Enak tuh, boleh nih cobain," pinta Andri.
"Gak boleh...! ini makanan buat gue, jadi cuma gue yang boleh makan!" Anan menepis tangan Andri dan melarangnya.
"Udah sih biarin kan potongan ayamnya ada banyak," ucap Dita.
"Tuh yang bawain makanannya aja ngebagi wleeekkk, " Andri meraih satu potongan ayam dan meletakkannya di piring yang dia ambil dari meja tempat pemesanan.
"Sumpah cong enak banget!" seru Andri.
"Iya loh enak banget Onta, ini sih lebih enak dari kari ayam buatan lo!" sahut Anan.
"Bentar, bentar kamu panggil Anan apa? cong? maksudnya Anan bencong?" tanya Dita dengan polosnya.
"Hahaha... Emang dia kayak bencong yak?" Andri menunjuk Anan sambil tertawa.
Anan menjambak rambut Andri dengan kesalnya.
"Sakit pocong...!" seru Andri.
"Pocong?" tanya Dita heran
"Nih gue ceritain ya..."
"Janganlah gak usah!" ucap Anan dengan mulut penuh berusaha mengunyah opor ayam buatan Dita.
"Biarin sih biar Dita tau, kenapa gue panggil elo pocong," ucap Andri.
"Coba ceritain," pinta Dita.
"Waktu itu dua tahun yang lalu, gue nemuin dia kebungkus kain putih di deket rumah gue, nah katanya ibu gue si Anan itu hantu pocong, taunya masih hidup tapi dia gak sadarkan diri dan koma selama satu bulan, tau-tau dia sadar gitu aja nih malah nyebelin numpang di rumah gue berantem mulu," sahut Andri menoyor kepala Anan.
Anan membalas menoyor kepala Andri.
"Halo..." Hyena datang langsung menghampiri Anan.
"Baby, kamu tuh ya semalaman di tungguin papi malah gak dateng ih, nyebelin..." rengek Hyena.
"Emang gue janji mau dateng?" tanya Anan.
"Ih baby kamu mah gitu... ayo ikut aku ketemu papi sekarang!"
Hyena berusaha menarik tangan Anan.
"Gak bisa ih orang lagi makan juga," sahut Anan.
"Ayo cepet papi nungguin di kantornya," Hyena makin kuat menarik Anan.
"Iya iya bentar, heh Onta, ini sisanya jangan di habisin awas luh! Eh iya hampir lupa, makasih ya Ta atas makanannya," ucap Anan tersenyum manis pada Dita lalu mengikuti tarikan tangan Hyena.
"Iya sama-sama," sahut Dita mengamati Anan.
"Suka ya sama Anan?" tanya Andri mengejutkan Dita.
"Mereka udah lama pacaran?" Dita malah balik bertanya.
"Hmmm lumayan lah satu tahun, Hyena itu temeb gue, pertama kali liat Anan di rumah sakit dia langsung naksir gitu, terus dia yang bantu biaya pengobatan Anan selama koma, Hyena juga sering bantu keuangan gue sama ibu gue, apalagi pas operasi jantung setahun lalu, dia juga yang biayain operasinya, nah mungkin dari situ Anan jadi ngerasa gak enak kalau nolak Hyena." ucap Andri menjelaskan.
"Oh... jadi Anan terpaksa macarin Hyena?" tanya Dita.
"Iya kali kalau Hyena yang naksir gue beuh ikhlas gue mah macarin Hyena hahaha, eh ngomong-ngomong kok elo kepo banget ya sama Anan, udah gitu perhatian banget sih ngasih makanan segala?" Tanya Andri.
Dita mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang ada di layar ponselnya.
"GILA PARAH...!! ELO UDAH NIKAH SAMA ANAN???"
pekik Andri tak percaya saat melihat foto pernikahan Dita dan Anan.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘