Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Chef Laura


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


"Mau aku temani, aku juga ingin melihat kondisi Anan seperti apa," ucap Mark.


"Tak usah, biarkan suamiku istirahat dengan tenang," sahut Dita.


"Apa? istirahat dengan tenang hahaha kau mau suami mu itu meninggal hahaha," tawa Mark.


"Haish aku salah ngomong kan," Dita menutup mulutnya sendiri dengan penuh kekesalan.


"Stop...! gak usah ikut ke dalam," cegah Dita saat Mark mau memasuki lift itu mengikuti Dita.


"Lho ini kan tempat umum, siapapun boleh masuk lift dan berada di tempat yang sama denganmu," sahut Mark memaksa masuk dan mendorong tubuh Dita pelan ke dalam lift.


Tau gini aku bawa deh gelang pak Herdi kemanapun.


Dita melirik ke arah Mark dengan sinis.


"Kau tahu, semenjak Laura meninggalkan ku dan memilih laki-laki lain, semenjak itu aku benci perempuan. Tapi semenjak kau datang, kau membuat hatiku bergetar lagi," ucap Mark.


"Aku tak perduli, huh!" ketus Dita.


"Kau makin cantik jika seperti itu," goda Mark.


Tangannya mengunci Dita di dinding sampai tak bisa bergerak. Untung saja pintu lift terbuka dan Dita langsung segera pergi keluar dan menemui satpam yang menjaga di lantai tersebut.


"Tolong saya pak, ada laki-laki tak saya kenal yang menganggu saya," ucap Dita menoleh ke arah Mark.


Tau dirinya diadukan ke pak penjaga oleh Dita, Mark hanya tersenyum lalu masuk kembali ke dalam Lift.


"Syukurlah... makasih banyak ya pak," ucap Dita.


"Lho perasaan saya belum buat apa-apa udah makasih aja nona," sahut Pak Satpam.


"Bapak sudah berjasa, kehadiran bapak membantu saya. Oh iya pak, saya nyonya bukan nona," ucap Dita seraya pamit menuju kamar Anan.


***


Sementara itu di restoran milik Anan, ada tiga orang pria yang melamar menjadi chef sedang di audisi oleh Tasya dan Jerry. Anta terbaring pulas dengan memeluk boneka Lily di tangannya.


"Kamu suruh mereka masak yang banyak, biar kita kenyang, terus sisanya kita bawa buat mbak Dita sama pak Anan," bisik Jerry.


"Sembarangan! masa Dita kita kasih bekas?" Tasya menoleh pada Jerry.


"Bukan bekas. Maksudnya kan nanti ada yang kita makan tuh tapi sebelumnya kita pisahin dulu makanan yang mau kita bawa buat jenguk pak Anan, gimana?"


"Ide bagus! ini semuanya kita suruh masak? terus nanti yang dua orang gak diterima gimana? kan kasihan..." ucap Tasya seraya menggaruk - garuk kepalanya.


"Hmm... kita bayar aja gaji sehari, pasti mbak Dita gak keberatan," sahut Jerry.


"Oke aku setuju."

__ADS_1


Setelah dua jam mereka menunggu kata chef untuk masak akhirnya diputuskan satu orang chef bernama Laura yang dipilih Tasya dan Jerry untuk bekerja di restoran milik Anan.


"Laura kok bisa masak makanan asia ya?" tanya Tasya sembari menyiapkan makanan untuk Dita dan Anan. Di sampingnya Anta sudah lahap dengan dua porsi nasi goreng serta ayam bakar buatan para chef tadi.


"Suami saya keturunan dari negara anda," jawabnya.


"Lalu dimana suami anda, apa anda juga sudah punya anak?" tanya Jerry.


Raut wajah Laura mendadak sedih dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Sebulan yang lalu suami saya meninggal, dan saya belum punya anak."


"Duh salah ucap kan aku, maaf ya mbak Laura."


Jerry menepuk bahu wanita itu pelan.


"Iya tak apa," jawab Laura.


"Kamu tinggal dimana?" tanya Tasya.


"Saya tinggal di jalan Black Lily," sahutnya.


"Oh itu kan dua blok dari rumah kita," ucap Tasya.


"Maaf sebelumnya, kalian tinggal bersama?"


Tasya dan Jerry mengangguk bersamaan.


"Apa kalian menikah?" tanya Laura menunjuk Jerry dan Tasya.


Pak Herdi yang mendengar pertanyaan Laura langsung terbahak-bahak sampai memegangi perutnya saat berbaring di sofa.


"Ouch... sakit, Sya!" pekik pak Herdi.


"Makanya jangan iseng, main ketawa aja, nih rasakan!" ucap Tasya gemas dengan menggumam agar tak terdengar sedang berbicara.


"Kami bukan pasangan kok, lagian ya mbak chef saya tuh perempuan, nih bagian atasnya nongol kan?" Jerry membuka jaketnya menunjukkan bagian dadanya.


"Tapi kalau yang bawah masih burung hihihi," ucap Jerry terkikik membuat Laura tertawa.


"Tapi kupikir kau laki-laki tadi," ucap Laura.


"Ih... masa sih kurang besar, besok aku gedein biar pada tau kalau aku tuh perempuan, huh!" ketus Jerry.


Laura tertawa kecil kembali, lalu ia pamit pulang.


"Jangan terlambat ya besok jam 9 sampai jam 4," ucap Jerry.


"Baik mas, eh mbak Jerry."


"No, no, no, no panggil saya mbak Yerry," pintanya.


"Baik mas eh mbak Yerry." Laura pamit dari restoran tersebut.


"Hmmm sebelum antar makanan ke rumah sakit ayo kita beres-beres. Oh iya Pak Herdi tolong bersihkan bagian dapur ya, aku bagian atas, Jerry bagian depan." ucap Tasya.


"Kok saya sih, Sya?" Pak Herdi melompat ke hadapan Tasya.


"Ya habis siapa lagi, bantu-bantu lah," tegas Tasya.


"Tunggu bentar, kamu bilang Pak Herdi?" tanya Jerry mulai ketakutan.

__ADS_1


"Ia itu lho penjaga Anta yang pocong tadi kamu pernah lihat kan waktu sama Dita," sahut Tasya.


"Astaga dragon, jadi dia ada di sini, dari tadi?"


Tasya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jerry.


"Tungguin Sya biar barengan nanti aku temenin juga kamu ke lantai atas, di sana serem tau ih..." pekik Jerry.


"Serem? emang kenapa seremnya?" tanya Tasya yang penasaran dengan pernyataan Jerry barusan.


"Iya serem, masa tuh tv nyala sendiri padahal udah aku matiin. Mana yang di tonton drama percintaan sedih gitu, hadeh..."


"Hahahaha... seriusan? wah jangan-jangan yang nonton film itu si Ratu biar keluar mutiara hitam," gumam Tasya langsung berlari menaiki tangga.


"Tante, Anta mau ikut ngumpulin mutiara..." Anta langsung berlari menyusul Tasya menaiki tangga.


"Haduh... pusing... ini pada kenapa sih gak ada takutnya," pekik Jerry menarik ujung rambutnya sendiri menjambak-jambaknya.


Pak Herdi dengan usilnya mencolek dagu Jerry.


"Aduh siapa tuh barusan?" gumam Jerry dengan raut wajah mulai pucat.


Kali ini Pak Herdi meremas bokong Jerry dengan usilnya.


"Awwww... Oh tidak, astaga Tuhanku, lindungi hambamu, Tasyaaaaaaa...!!! Jerry langsung menyusul Tasya ke lantai dua.


Pak Herdi makin terbahak-bahak dengan puas setelah menjahili Jerry barusan.


Tiba-tiba ikatan kepalanya ditarik oleh Lily.


"Heh, jangan kau ganggu anakku!" ucap Lily.


"Oh iya aku lupa sekarang Jerry ada penjaganya ya," sahut Pak Herdi.


"Nah makanya jangan kau ganggu anakku, atau kalau tidak aku..."


Lily merangkul paksa Pak Herdi lalu menyerangnya dengan serbuan kecupan di pipi Pak Herdi.


"Aaaaaaa... tidak... lepaskan...!!" Pak Herdi berusaha mendorong hantu Lily terlepas dari tubuhnya.


Hantu Lily terdorong dan jatuh ke lantai.


Pak Herdi langsung berlari menuju dapur menghindari hantu Lily. Namun, hantu Lily tak gentar mengejar Pak Herdi.


*****


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2