Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Mark Tertangkap


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie. Rate bintang lima juga ya.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


******


Anan menghubungi Kapten Leonard dari ponselnya. Ia memberitahukan mengenai keberadaan Mark yang baru saja terlihat di Rumah Sakit Happy.


Pencarian langsung dilakukan dan akhirnya Mark tertangkap di batas kota. Mark sempat bersikukuh dengan pihak polisi dan hendak melarikan diri. Akan tetapi, polisi langsung melayangkan timah panas yang bersarang di kakinya. Mark akhirnya tumbang.


"Lepaskan, saya! lepaskan saya!" seru Mark.


Mark langsung dibawa ke kantor polisi pusat kota. Di sana ia bertemu dengan Anan yang langsung memukul wajahnya.


"Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu ingin merebut Dita dari aku dan membahayakan nyawa Doni!" pekik Anan yang kedua tangannya sudah ditahan oleh Kapten Leonard agar jangan memukul Mark lagi.


Mark tersenyum menyeringai lalu berucap, "Lihat saja nanti, aku akan merebut Dita dari dirimu hahahaha..." balas Mark menantang Anan.


"Awas kau ya..."


Kapten Leonard segera menahan Anan kembali.


Mark dibawa ke rumah sakit khusus tahanan yang berada di samping kantor polisi lalu ia akan dijebloskan ke dalam penjara. Sementara ini, ia akan lama mendekam di penjara sampai waktunya persidangan.


***


Di Rumah Sakit Bahagia.


Mitha dilarikan ke ruangan gawat darurat. Namun akhirnya dokter jaga memutuskan untuk membawa Mitha ke ruangan Dokter Nicky. Beberapa suster memegangi tangan Mitha yang terus saja mengerang kesakitan. Dokter Nicky lalu memeriksakan kondisi Mitha.


Karena tak kunjung diam, Mitha akhirnya di suntik obat penenang yang sesuai untuk ibu hamil agar dia bisa lebih tenang dalam pemeriksaan. Tubuh Mitha mulai melemah dan mulai tenang laku tertidur.


"Itu obat penenang apa obat tidur, Dok?" tanya Dita.


"Dua-duanya, kalau begini kan anteng, saya gak kesusahan buat periksa dia," sahut Dokter Nicky.


"Tapi aman kan, Dok?" tanya Dita.


"Aman, tenang aja. Kita mulai ya."


Saat mengamati janin dalam perut Mitha di layar monitor alat usg, Dokter Nicky tiba-tiba terkejut sampai memundurkan kursinya.


"Astaga, apa itu?" pekik Dokter Nicky. Wajah dokter itu mulai muncul gurat ketakutan.


"Kenapa, Dok?" tanya Dita dan Tasya bersamaan.


"Saya baru ini melihat janin bayi seperti ini di layar monitor USG, ini tidak seperti bayi manusia pada umumnya," ucap Dokter Nicky.


Raut wajah dokter tersebut berubah cemas dan kepanikan langsung terdengar dari penuturannya.


"Janin ini mempunyai ekor, dan usia kandungannya seperti janin berusia 9 bulan, padahal usia kandungan Nyonya ini kan baru dua bulan," ucap Dokter Nicky.


"Karena dia bukan bayi manusia, Dok," sahut Doni.

__ADS_1


Dita langsung menepuk dada Doni dengan punggung tangannya. Ia memberi peringatan pada Doni dengan lirikan mata tajam juga.


"Maksud Anda apa? Bukankah ini anak Anda," balas Dokter Nicky menoleh ke arah Doni.


"Bukan, Dok. Saya gak tau itu anak siapa, tapi bayi itu bukan..."


"Doni!" seru Dita memotong ucapan Doni.


"Apa Mitha mau melahirkan, Dok?" tanya Dita.


"Yang saya takutkan begitu, tapi ini terlihat mengerikan," ucap Dokter Nicky.


"Dokter, pasien mengalami pecah ketuban," ucap suster yang menemani Dokter Nicky dalam ruangan tersebut menunjuk ke arah Mitha.


"Astaga, Ya Tuhan, apa-apaan ini, bagaimana mungkin dia melahirkan di usia dini seperti ini," ucap Dokter Nicky.


"Lalu bagaimana, Dok?" tanya Dita ikut panik.


"Segera siapkan ruang operasinya, biar saya yang bertugas menangani pasien," ucap Dokter Nicky memberi perintah.


Mitha segera dilarikan menuju ruangan operasi untuk para ibu yang hendak melahirkan. Dita dan lainnya mengikuti Mitha dari belakang. Dokter Nicky lalu memakai pakaian operasi di temani dua orang suster sebagai asistennya. Di dalam sana sudah ada seorang dokter anestesi dan dokter spesialis anak yang bersiap di dalam ruangan operasi.


"Aku harus hubungi Shinta, siapa tau dia ada di rumah Tante Dewi," ucap Dita lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Aku mau minta bukain infus ini boleh, gak ya?" tanya Doni.


"Tanya suster dulu, Don. Lagian emang kamu udah boleh pulang?" sahut Tasya.


"Anterin yuk, Sya!" pinta Doni.


"Hmmm ya udah."


Ponsel Dita akhirnya tersambung dengan rumah Tante Dewi, dan benar saja dugaannya kalau Shinta sedang berada di sana bersama Lee.


"Tolong sambungkan aku dengan Shinta, Tante."


"Oke bentar nih," ucap Tante Dewi dari seberang sana.


"Kenapa, Ta?" tanya Shinta.


"Gawat, Shin. Mitha mau melahirkan dan dokter sampai heran pas liat janinnya itu lho ada buntutnya dan gede banget," ucap Dita.


"Jangan sampai bayi itu lahir, atau nantinya Ratu Masako akan hadir melalui dia dan membawa kegelapan di dunia ini," ucap Shinta.


"Lalu bagaimana ini?"


"Aku akan ke rumah sakit, aku akan pastikan bayi itu tak akan lahir dan membahayakan Doni. Tolong jangan sampai Doni berada di dekat bayi itu," pinta Shinta memberi peringatan pada Dita.


"Baiklah, akan aku laksanakan," ucap Dita lalu menutup ponselnya.


Dita langsung menyampaikan pesan dari Shinta agar Doni menjauh dari bayi Mitha tersebut.


"Pak Herdi bantuin saya jagain Doni ya, kamu juga Sya, jangan sampai bayi itu lahir kalau bisa," ucap Dita.

__ADS_1


"Iya, aku juga gak mau dekat sama bayi itu, ogah aku mengakui bayi itu sebagai anakku," sahut Doni.


"Tapi bagaimana caranya agar bayi itu gak lahir, kan Mitha udah di bawa ke kamar operasi buat melahirkan," ucap Tasya.


Tiba-tiba Dokter Nicky keluar dari ruang operasi, dia bersimbah darah yang menempel di baju operasinya. Raut wajahnya ketakutan dan dia terduduk lemas.


"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Dita.


Tak lama kemudian dokter anestesi dan seorang suster keluar dari sana dan menutup pintu ruang operasi dan langsung menguncinya.


"Jangan biarkan berita ini tersebar, segera sterilisasi dan amankan ruangan ini," ucap Dokter anestesi yang bernama Dokter Wayne itu.


"Apa yang terjadi dokter?" tanya Dita pada Dokter Nicky.


Dug... Dug... Dug...


Tiba-tiba terdengar suara kencang dari pintu ruangan.


"Tolong bantu saya, kita beri penjagaan pada pintu ini," pinta Dokter Wayne.


"Suster, panggil pihak keamanan rumah sakit, segera. Dan tolong jangan buat keributan, saya gak mau nama baik rumah sakit ini tercemar karena makhluk itu, dan jangan hubungi polisi!" seru Dokter Wayne yang sebenarnya adalah anak dari pemilik Rumah Sakit Happy itu.


"Baik, Dokter." Suster itu langsung berlari ketakutan mencari penjaga rumah sakit.


"Apa yang terjadi?" tanya Dita mengguncang bahu Dokter Nicky yang masih ketakutan.


"Bayi itu, bayi itu," ucap Dokter Nicky dengan suara yang gagap dan ketakutan.


"Dokter tolong jelaskan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tasya yang beralih pada Dokter Wayne.


"Sebaiknya kalian tidak berada di sini, sebaiknya kalian pergi!" sahut Dokter Wayne.


"Mana mungkin kami bisa pergi, Mitha itu istrinya Doni, dia nih suaminya, dan Mitha itu juga tetangga kami dan kami saling mengenal, jadi wajar kami khawatir dengan keadaannya," sahut Tasya menunjuk ke arah Doni.


Dokter Wayne masih terdiam.


Pak Herdi menghampiri Dita, ia menepuk bahunya dan menunjuk ke arah sosok perempuan yang sedang meneteskan air mata mendengar penuturan Tasya.


Tasya dan Doni lalu ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Pak Herdi.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2