
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
"Sya, aku tinggal ya, mau daftar sekolah Anta," ucap Dita sementara Anta sudah berada di gendongan Anan di depan Toko.
"Ta, terus itu gimana mengusirnya?" bisik Tasya melihat ke arah sudut dekat kamar mandi.
Hantu pengendara motor tempo hari itu rupanya berdiri di sana sejak kemarin.
"Dia nakutin kamu gak?" tanya Dita.
"Enggak sih, dia diem aja di sana dari kemarin kalau aku sendirian, cuma berhubung bentuknya gak rapih begitu ya nakutin Ta..." ucap Tasya berbisik mendekat ke Dita.
"Hmmm bentar, aku tahu dia takutnya sama siapa," Dita memanggil Pak Herdi dengan gelangnya.
"Eh maksud kamu dia takut sama Pak Herdi?" tanya Tasya.
"Betul sekali, udah ngilang kan?" Dita menoleh ke tempat hantu pengendara motor berdiri tadi dan dia sudah menghilang.
"Kamu manggil saya mau saya anter Ta?" tanya Pak Herdi.
"Gak kok pak, aku manggil bapak buat temenin Tasya, tadi ada si hantu motor kemarin yang minta tolong, tapi gak jelas minta tolongnya apa," sahut Dita.
"Lalu Anta mana?"
"Tuh sama Anan, di depan sana, jadi aku di anter pergi sama Anan ya pak," ucap Dita.
"Oh... sepertinya Anan sudah kembali dan saya ngerasa gak di butuhkan lagi," ucap Pak Herdi dengan nada kecewa.
"Cie... pocong tampan ini cemburu cie..." Ledek Tasya tetapi langsung menunduk saat mata Pak Herdi menatap tajam padanya.
"Gitu aja marah..." gumam Tasya sambil memilin ujung kausnya.
Dita memeluk Pak Herdi tiba-tiba.
"Aku gak mau pak Herdi pergi, aku masih sangat membutuhkan keberadaan bapak, jadi Dita mohon jangan pergi dulu ya pak, lagi pula Anan belum pulih kok ingatannya," ucap Dita.
Pak Herdi hanya terdiam berusaha untuk cuek dan datar padahal rasanya ingin melompat-lompat kalau bisa terbang malah, karena terlalu senang mendapat pelukan dari Dita.
"Idih pak Herdi mukanya serem masa merah gitu kaya kepiting di rebus idih..." Tasya menunjuk Pak Herdi lalu ketakutan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Masa sih? masa Pak Herdi mukanya merah coba liat?" Dita melepas pelukannya dan mengamati wajah Pak Herdi dengan sesama.
"Gak kok gak merah, udah sana pergi, nanti Anta marah kalau kelamaan lagi," Sahut Pak Herdi.
"Iya deh aku pamit ya," Dita melambaikan tangannya lalu keluar mini market menghampiri Anan dan Anta.
Pak Herdi menoleh pada Tasya dan menatapnya.
"Jangan ngeliatin kayak gitu pak, saya bisa gede rasa karena bapak cakep, tapi saya juga bisa takut karena bapak pocong hiiiii," ucap Tasya tak mau memandang Pak Herdi.
***
Anan, Dita dan Anta sampai di tujuan mereka yaitu sekolah Matahari dengan berjalan kaki. Sekolah Matahari ini adalah sekolah yang menaungi pelajar tingkat kelompok bermain sampai menegah atas.
"Kita ke bagian pendaftaran kan?" tanya Anan.
"Iya, coba aku tanya satpam di mana tempat pendaftarannya, kamu gendong Anta aja ya," ucap Dita yang di jawab anggukan Anan dan Anta yang sama persis membuat Dita tersenyum senang lalu pergi menghampiri dua orang satpam yang berjaga dekat gerbang sekolah.
"Yuk katanya ada di samping kanan sana," ajak Dita sekembalinya dari bertanya pada satpam sekolah.
Dita dan Anan berhasil mendaftarkan Anta ke dalam kelas kelompok bermain di Sekolah Matahari.
"Anta inget ya, pas sekolah nanti jangan cerewet, jangan bawel biasa aja, ngomong dikit aja, cukup iya sama enggak, biar bu guru dan anak lain gak pada tanya macem-macem sama Anta, soalnya Anta tuh beda pinternya dari yang lain, Anta ngerti kan maksud bunda?" Dita terus meracau memberitahukan Anta saat berada di taman sekolah.
"Katanya Anta gak boleh bawel tapi bunda bawel ya yanda?" Anta menoleh pada Anan yang sedari tadi memangkunya.
"Iya Ta, bawel banget elo mah," sahut Anan sambil tertawa kecil di wajahnya.
"Jangan pake ketawa deh, gak jelek tau malah tambah cakep!" ucap Dita menggoda Anan.
"Hihihi bunda lucu," ucap Anta meringis.
Suara perut Anta nyaring terdengar bersahutan dengan suara perut Dita yang keroncongan.
"Hahaha ini kenapa pada konser bareng cacingnya?" ucap Anan menertawakan suara perut Dita dan Anta.
"Ih Anta gak punya cacing, yanda jahat ngatain Anta cacingan...!!!" rengek Anta mencubit tangan Anan.
"Awwww sakit ta...! om cuma bercanda aja kok," sahut Anan.
"Iya Anta, yanda cuma bercanda kan tiap enam bulan sekali Anta minum obat cacing, jadi gak ada cacing di perut Anta," Dita mencubit pelan perut Anta.
"Kok di obatin bunda cacingnya? emang pada sakit bunda?" tanya Anta makin membuat Anan gemas.
"Ih cium juga nih dari tadi nanya mulu," ucap Anan mencubit pipi Anta lalu mencium pipi kanan Anta dengan gemas.
__ADS_1
"Mau dong bundanya di cium juga..." Dita menyodorkan pipi kanannya pada Anan.
"Idih yanda mukanya kok jadi merah sih?" Anta mencubit kedua pipi Anan.
"Hahaha aku cuma bercanda kok Nan, yuk ah cari makan," ajak Dita.
Anak tersipu malu lalu menuruti tarikan tangan Anta mengikuti Dita. Padahal barusan itu hampir saja Anan mencium pipi kanan Dita tanpa paksaan.
Tiba-tiba seorang anak muda menabrak Dita dan menjatuhkan beberapa buku di lantai.
"Maaf bu, saya gak sengaja," ucapnya.
"Eh... ini kakak ganteng yang waktu itu cari sayap," celetuk Anta menunjuk ke anak muda di hadapan Dita.
"Lho kalian, hehehe kakak yang itu toh, halo apa kabar cantik?" anak muda yang bernama Naruto yang tulisan namanya terdapat pada name tag di seragam itu menyapa Anta.
"Hai kakak ganteng, Anta baik kok," sahut Anta dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Umur berapa kak anaknya?" tanya anak muda itu.
"Baru dua tahun, nama kamu Naruto ya? kayak tokoh kartun ninja hehehe," ucap Dita.
"Hehehe iya kak, kata temen-temen saya juga gitu, tapi ini serius dua tahun usianya kok pinter banget ngomongnya?"
"Oh iya Anta lupa cuma boleh ngomong iya sama enggak," sahut Anta.
"Hadeh... telat sadarnya udah terlanjur bawel...!" sahut Dita yang di tertawakan Anan saking lucunya wajah Dita ketika marah dengan gemas pada Anta.
"Naruto...!!"
Seorang gadis cantik berkulit putih, berambut pendek dan berponi memanggil Naruto.
"Iya Kan," sahut Naruto.
"Nanti tungguin aku ya, aku mau latihan cheerleaders dulu," pintanya.
"Oh... ini pasti cewek yang waktu itu kamu beliin yang bersayap ya?" Dita menggoda Naruto yang langsung mengangguk mengiyakan dengan wajah bersemu merona.
"Ini siapa?" tanya Kania.
"Ini pemilik mini market yang di ujung jalan sana," jawab Naruto.
"Oh gitu, halo kak," Kania mengulurkan tangannya.
Dita menjabat tangan Kania begitu juga gantian dengan Anan. Namun, saat Kania menjabat tangan Anan terasa lama dan tak mau lepas sampai Anta yang memisahkan tangan Kania yang tak mau lepas.
"Eh maaf," ucap Kania.
"Ya udah kami pulang duluan ya," ucap Dita mengajak Anan dan Anta pamit pada Naruto dan Kania.
"Anta gak suka sama kakak itu," celetuk Anta tapi masih terdengar Naruto dan Kania yang menoleh pada Anta.
"Sssttt Anta gak boleh ngomong gitu," ucap Anan.
"Habisnya dia pegang tangan yanda lama banget, kan kasian bunda tuh nanti sedih kalau yanda di pegang cewek lain," celetuk Anta kali ini membuat wajah Dita yang gantian merona menahan malunya.
"Aduh buru-buru yuk bekap mulut anak ini dengan makanan biar gak ngoceh," ucap Dita membuat Anan tersenyum-senyum sendiri sedari tadi.
"Gak apa-apa Ta, gue suka bawelnya Anta jujur banget," ucap Anan, senyum manis yang bersinar terpancar manis di wajahnya.
"Anta mau makan mie ramen itu," Anta menunjuk kedai ramen kecil di pinggir jalan di hadapannya.
"Gimana Nan, kamu mau?" tanya Dita pada Anan.
"Terserah Anta aja gue mah ikut," sahut Anan.
"Hore... asik... makan ramen ye ye ye..." ucap Anta dengan senangnya.
Kedai ramen yang hanya punya dua meja di dalam kedainya itu terlihat sepi karena tak ada pelanggan di sana. Namun, wangi yang di hasilkan dari kuah ramen itu sudah tercium menggugah selera si penemu baunya.
Seorang kakek menghampiri Dita sambil tersenyum mempersilahkan ketiganya untuk duduk. Ia menyerahkan menu pada Dita.
"Makasih kek," ucap Dita.
"Ini bacanya apa sih bunda?" tanya Anta yang sudah sibuk memainkan sumpit di tangannya.
"Ini ramen original, ini tempura soyu ramen, yang ini tempura miso ramen, mau yang mana?" tanya Dita.
"Yang miso aja bunda," sahut Anta.
"Oke, terus kamu mau apa Nan?"
"Samain aja," sahut Anan.
"Bunda kakeknya terbang tuh," Anta menunjuk kakek tadi yang tiba-tiba menghilang.
"Lah kemana Ta si kakek tadi?" tanya Anan dengan raut wajah herannya.
"Eh iya lho gak ada."
__ADS_1
"Kan tadi Anta bilang kakeknya terbang ke atas sana," tunjuk Anta.
"Halo permisi, maaf ya saya tadi ke toilet sebentar, kok udah pegang menu ya?" tanya seorang wanita yang baru saja datang menghampiri Dita dan rombongannya.
"Tadi si kakek yang kasih ini menu," ucap Dita.
"Iya terus kakeknya terbang," sahut Anta yang langsung mulutnya di tutup telapak tangan Dita.
"Fuaaahh.... tangan bunda asin ih keringetan," sahut Anta menepis tangan Dita.
"Seorang kakek?" tanya wanita itu.
"Udah mbak gak usah dipikirin, saya pesen ramen miso nya tiga ya, sama air mineralnya juga tiga," ucap Dita.
"Ba-baiklah," ucap wanita itu dengan nada gemetar di bibirnya.
"Jadi maksud Anta si kakek tadi..." ucapan Anan terhenti kala Dita sudah mengangguk menjawab pertanyaan Anan yang belum selesai tadi.
"Kenapa sih bunda emangnya sama kakek itu?" tanya Anta.
"Gak apa-apa," sahut Dita.
Ketiganya menyantap ramen yang baru saja disajikan di atas meja dengan tenang dan lahap.
"Anta nambah ya bunda..." pinta Anta membuat Anan tersentak menoleh ke Anta.
"Gue kenyang banget loh Ta, lah ini bocah perutnya lebar banget bagasinya ckckckck," Anan tertawa memandang Anta.
Akhirnya Dita memesan satu porsi lagi untuk Anta. Anan dan Dita saling pandang dan melempar senyum saat menunggu Anta menyelesaikan makanannya.
"Aku aja yang bayar ya," ucap Anan saat selesai menyantap ramen tersebut.
"Iya deh," sahut Dita memamerkan senyum manisnya pada Anan.
"Jangan senyum kayak gitu ah, cakep soalnya," celetuk Anan lalu berdiri dan membayar pesanan tadi pada wanita pemilik kedai.
Dita langsung meremas tangan Anta dan tersenyum senang.
"Awww sakit bunda..." pekik Anta.
"Iya maaf maaf maaf ya..." ucap Dita lalu menggendong Anta menuju luar kedai.
"Bunda ini kakeknya yang tadi terbang," ucap Anta.
Dita menoleh pada sosok hantu kakek yang tadi di tunjuk Anta. Hantu kakek itu tersenyum pada Dita, dari matanya tiba-tiba keluar darah yang mengalir ke pipi. Telinga dan hidungnya juga mengeluarkan darah.
"Kok kakek jadi serem sih, jangan nengok Ta," Dita membalikkan badan Anta agar gak menoleh pada hantu kakek tadi.
"Udah pulang yuk, wuaaaaaaaa," Anan tersentak saat melihat penampakan hantu kakek tadi sudah berubah menyeramkan.
"Pergi yuk pergi buruan," ajak Dita.
Tangan Anan di tahan oleh hantu kakek itu dengan memegang lengan kanannya.
"Ta... gue gak bisa jalan..." bisik Anan memanggil Dita dengan nada gemetar serta kakinya juga gemetar karena ketakutan.
"Duh ribet banget sih kalau nahan tangan Anan segala, udah deh kek lepasin, ada masalah yang harus di selesaikan memangnya?" tanya Dita.
Kakek itu melepas tangan Anan lalu menatap Dita dengan senyuman menyeringai.
"Kembalikan kedai saya..." ucap hantu kakek itu lirih.
"Hah maksudnya kek?" tanya Dita.
Belum terjawab pertanyaan Dita, namun hantu kakek itu sudah keburu menghilang.
"Pulang Ta, ayo pulang...!" Anan buru-buru menarik tangan kanan Dita yang menggendong Anta dengan tangan kirinya meninggalkan kedai ramen tersebut.
******
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1