Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bertahanlah Doni


__ADS_3

Hayo sebelum pada baca tolong ya tombol Likenya di pencet dulu, jangan lupa rate bintang lima. Lalu, kirimkan poin kamu untuk Vote, kirim koin juga boleh banget lho...


Happy Reading... 🥰😊


******


Tubuh Doni ditemukan tergeletak tak sadarkan diri. Mark sudah kabur, pergi meninggalkan tubuh Doni saat Anan dan Dita berlari dari kamar mereka menuju kebun belakang.


Jerry dan Lily langsung menceritakan kejadian yang baru mereka lihat tadi mengenai Mark. Anan sudah mengepal tangannya dengan geram sambil berteriak kesal mengutuk Mark.


"Yanda... kepala Doni..."


Dita memangku kepala Doni yang mengucurkan darah segar di bagian belakang kepalanya.


Anan segera menghubungi polisi dan mobip ambulance untuk menolong Doni.


"Doni..." Tasya langsung memeluk tubuh Doni menggantikan posisi Dita.


Kegaduhan saat sirine mobil polisi dan mobil ambulance hadir, berhasil membuat para tetangga keluar rumah termasuk Shinta dan Mitha. Mitha berteriak histeris sekuat tenaga saat melihat tubuh Doni terbaring di atas stretcher ke dalam ambulance.


"Maaf, pasien harus segera di bawa ke rumah sakit," ucap salah satu suster.


Tangan Doni tiba-tiba menggenggam tangan Tasya dan tak mau melepaskannya. Tasya menoleh pada Dita yang mengangguk.


"Ikutlah sebentar bersamanya," ucap Dita.


Entah kenapa sebuah keajaiban kala itu saat Shinta segera menarik tubuh Mitha menjauh.


"Biarkan dia menemani Doni dulu."


Mitha langsung menoleh pada Shinta dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa seorang kakak ipar yang selalu mendukungnya itu sekarang malah mendukung Tasya.


"Tapi, Kak..."


"Kita kembali ke rumah dulu, kita ganti baju lalu menyusul Doni ke rumah sakit," ucap Shinta.


Mobil ambulance itu pergi membawa Doni. Tasya akhirnya ikut menemani Doni bersama Pak Herdi di dalam mobil ambulance tersebut.


"Kita mau susul Doni, Bunda?" tanya Anan.


"Iya, kita ganti baju dulu," jawab Dita.


"Anta ikut ya, Bunda," pinta Anta.


"Anta jagain Tante Dewi ya, di temani Tante Lily dan Jerry," ucap Dita.

__ADS_1


"Iya, Anta sama Tante Dewi aja, lagian aku takut kalau harus sama Lily dan Jerry yang tak kasatmata itu, hiiyyy..." ucapnya.


"Kenapa, Ry?" tanya Dita saat melihat Jerry masih saja tertunduk lesu.


"Aku gak nyangka aja sama Mark, masa iya pujaanku, idamanku itu tega numbalin aku buat dia bertahan hidup, udah gitu dia juga mengincar tubuh Anan buat merebut Mbak Dita, ihhhh Yerry sebel...!" pekik Jerry seraya memukul-mukul kedua pahanya dengan kepalan tangannya.


"Hmmm... sebenarnya sih aku memang udah lama gak suka sama dia, tapi aku masih berusaha yakin masih ada kebaikan di hatinya, dan aku gak mau Anan tau soal kelakuan dia yang suka menggoda aku..."


"Apa? jadi si Mark suka godain kamu? wah bangke tuh Mark!" pekik Anan yang tak sengaja mendengar pembicaraan Dita dan Jerry.


"Ummm Yanda, udah dong tahan emosinya," pinta Dita.


"Gak bisa gitu dong, si Bangke itu harus di beri pelajaran, enak aja dia gangguin istri aku yang paling cantik gak ada duanya gini," ucap Anan dengan geramnya sambil meninju telapak tangannya sendiri.


"Iya, Yandaku yang paling ganteng, sabar ya, nanti juga Mark dapat balasannya," ucap Dita mencoba menenangkan Anan.


"Tante masih gak ngerti jadi Mark kenapa?" tanya Tante Dewi.


Dita menceritakan dugaannya terkait kematian Jerry yang dilakukan Mark. Apalagi kejadian tadi itu cukup menjadi bukti bahwa Doni melihat perbuatan Mark yang ingin membuat Anan celaka.


"Jadi, aku juga curiga kalau Mark yang membuat tubuh Anan busuk penuh belatung," ucap Dita.


"Wah minta dijadiin sate tuh orang, keponakan gak tau diuntung, belum tau aja kali ya kalau burungnya Tante bedah terus Tante pindahin ke jidat," seru Tante Dewi dengan nada marah.


Dita langsung menutup kedua telinga Anta saat mendengar omelan Tante Dewi barusan. Sementara Jerry, Lily dan Anan langsung menganga mendengarnya.


"Hei! malah mangap aja!" Tante Dewi menepuk bahu Anan dengan keras.


"Serem banget Tante, idih aku gak bisa bayangin itu burung pindah ke jidat," sahut Anan.


"Udah, udah, yuk kita nyusul Doni ke rumah sakit!" ajak Dita.


***


Sementara itu di rumah Mitha masih saja mengutuk kesal pada larangan Shinta di kamarnya seraya menyiapkan baju ganti untuk Doni dan dirinya yang ia masukkan ke dalam sebuah tas. Wanita itu marah-marah dengan ucapan meracau sendirinya di dalam kamarnya.


Dikamarnya, Shinta menatapi foto Doni saat acara pernikahannya dengan Om Item. Tak terasa air matanya jatuh mengalir ke pipinya. Hal yang ajaib yang ia lakukan adalah menangis. Dua malam lalu ia melihat Ratu Masako dan Makhluk yang bernama Shirime itu sedang membicarakan sesuatu.


Ratu Masako ingin Shirime menghamili Mitha agar bayinya dapat dia jadikan media hidup di dunia ini. Shirime juga harus mencari tumbal perjaka demi kelangsungan hidupnya. Semenjak ia melihat Shirime, bayi Lee selalu menangis gelisah, apalagi makhluk itu juga suka muncul menganggu Lee.


Dan siang tadi Shirime berencaa membunuh Doni dan mengambil tubuh Doni setelah gagal memakai tubuh Tom seorang pekerja di gedung perusahaan Mitha.


"Aku emang jahat, Don... aku bukan orang yang baik, tapi sekarang aku pastiin aku gak akan biarin kamu pergi setelah orang tua kita gak ada, kamu keluarga ku selain Lee yang harus kupertahankan dan perjuangkan. Bahkan kamu juga rela berkorban buat kakak, maafin kakak ya, Don..." lirih Shinta sampai Lee mengamatinya.


Lee kecil itu mendekat dan menyeka air mata ibunya yang terus mengalir. Shinta memeluk Lee kemudian.

__ADS_1


"Mama akan selalu mempertahankan kamu dan Om Doni, Nak."


Tiba-tiba terdengar ketukan yang dipercepat serta seruan dari suara perempuan yang Shinta sudah hapal.


"Kak, buruan dong, ayo kita ke rumah sakit!" seru Mitha meneriaki Shinta.


"Iya, sebentar..." Shinta meraih sweaternya dan tas bayi milik Lee yang ia jinjing. Lalu ia gendong Lee.


"Kalau nanti gak boleh bawa anak kecil gimana?" tanya Mitha.


"Aku tunggu di lobi kalau begitu," sahut Shinta.


"Titip aja kek, sama Tante Dewi gitu, rumah seberang," pinta Mitha.


"Gak bisa, Mit. Lee masih ku beri asi, biar aku bawa nanti aku tunggu di lobi," ucap Shinta tegas lalu menuju mobil Doni yang terparkir di halaman depan. Ia taruh Lee di kursi bayi yang di ikat kencang sabuk pengamannya.


"Ayo, aku yang nyetir!" ucap Shinta.


Mitha lalu masuk ke dalam mobil itu dan melaju pergi.


***


Doni di larikan ke Rumah Sakit Happy dan sesampainya di sana, ia langsung ditangani dengan baik dan dibawa ke dalam ruangan penanganan pasien gawat darurat.


Tangannya tak mau terlepas dari Tasya. Namun, saat ia masuk ke ruangan tersebut, suster memaksa tangan keduanya untuk lepas.


Tak lama kemudian Dita dan Anan sampai ke rumah sakit tersebut dan langsung menemani Tasya menunggu Doni yang sedang di tindak lanjuti.


Akhirnya dokter memutuskan untuk mengoperasi kepala belakang Doni saat itu juga agar mendapat jahitan karena lukanya yang cukup dalam.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives (END)


- Diculik Cinta (On Going)


- With Ghost (END)


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2