
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
Masih di ruang makan rumah besar Anan.
"Terus saya berangkat kerjanya gimana?" tanya Doni dengan wajah bingung menatap Tante Dewi dan om Kevin yang sudah pergi menjauh.
"Hmmmm ya udah gini aja, gimana kalau elo jadi supir gue aja lah, soalnya gue mau santai duduk dibelakang terus gue mau ngelus - ngelus perut Dita biar ngobrol sama dedek bayi." sahut Anan.
"Emang bisa di ajak ngobrol dede bayinya Yanda kan belum lahir?" tanya Dita.
"Ampun deh Bunda sayangku, ceritanya ajak ngobrol nanti deh aku beliin buku-buku tentang ibu hamil, sama lagu-lagu klasik buat kami dengerin." sahut Anan.
"Aku kan gak suka lagu klasik, aku sukanya pop sama lagi rock nya Linkin Park juga suka hehehe." sahut Dita.
"Wuidih sadis ka Dita lagunya, eh makasih banyak ya pak bos, kirain saya bakalan ngojek nih berangkat kerjanya pak bos hehehe." ucap Doni sangat berterima kasih.
"Terus saya gimana nih pak bos Anan dan bos Dita? kan bos Dita lagi hamil jarang beraktivitas, apa gak ada pekerjaan buat saya pak bos?" tanya Tasya meski masih agak takut memandang Anan.
"Kerja bareng Doni aja Nan, jadi resepsionis rumah sakit kan sekarang Doni sendirian." ucap Dita.
"Cakeeeepp kak, aku suka itu." Doni menunjukkan dua ibu jarinya pada Dita.
"Yang lain deh pak, jangan sama dia." pinta Tasya.
"Kenapa sih Sya, apa kurangnya sih aku buat kamu, nih ya kamu tuh harusnya seneng bisa kerja bareng aku, jadi kita ketemu terus kerja bareng terus biar makin kompak menuju jenjang pernikahan kita nanti." ucap Doni mencoba merayu Tasya.
"Kurang Don, saya tuh kurang suka sama kamu udah itu intinya hehehe." sahut Tasya.
"Nanti giliran udah suka terus pisah sedih lho, mumpung masih ada di depan mata Sya tuh di tomprok." Dita menggoda Tasya dan Doni.
"Cakeeeepp hayo Sya." Doni merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut Tasya.
"Kalau gak mau gue aja deh yang nomprok." sahut Susi.
"Enggak usah enggak jadi makasih dah kalau elo yang mau nomprok mah hiyyy." sahut Doni tak mau memandang Susi.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Anan langsung mendaftarkan Dita untuk periksa kandungan kepada dokter perempuan di rumah sakit milik keluarga Anan.
"Eh pak bos apa kabar?" sapa Shinta yang langsung menghampiri Anan tetapi sudah di halangi oleh Doni.
"Kak, istighfar kak tobat, suami orang ini kak, kakak gak mau kan kalau di panggil pelakor, jangan malu-maluin bapak sama ibu kak." ucap Doni.
"Hei elo tuh kalau ngomong asal jeplak aja, orang kakak cuma mau nyapa kok, nih asal tau aja ya, kakak tuh udah punya pacar, cakep tajir meski masih cakep pak bos sih." Dita menoleh ke Anan.
"Serius kakak udah punya pacar? wah Doni ikut seneng dengernya." sahut Doni.
"Yuk bunda kita periksa dulu." ajak Anan.
"Kami permisi dulu ya dokter Shinta." ucap Dita seraya menggandeng tangan Anan.
Shinta hanya tersenyum sinis melihat Dita.
"Don, Dita sakit apa? kok mau periksa?" tanya Shinta pada Doni.
"Kak Dita gak sakit kok, kak Dita hamil." ucap Doni.
"What? apa? hamil? waaahhh tambah sayang deh tuh Anan sama Dita." Shinta berucap dengan nada kesal.
"Hayo... tadi katanya udah punya pacar kok masih gak suka gitu sama kebahagiaan kak Dita ?" ucap Doni menunjuk Shinta.
"Heh, emang gue dasarnya udah sebel banget sama Dita, gue gak suka aja denger dia bahagia huh." Shinta langsung kembali ke ruang kerjanya.
"Jangan gitu dong Sya, biar dia begitu kan tetep kakak aku." ucap Doni memelas.
"Ih tetep aja kaya uler kadang-kadang nyeremin hiiyy." ucap Tasya lalu duduk di kursi kerjanya.
Doni langsung mengikutinya duduk di kursi kerjanya bersama Tasya.
"Sya kamu tau gak?"
"Enggak tau lah orang kamu belum cerita sih." sahut Tasya segera.
"Nah makanya aku mau cerita, tadinya aku berdua sama Jojo, jaga meja disini." ucap Doni.
"Terus ada apa dengan Jojo?" tanya Tasya sambil merapikan meja kerjanya.
"Tuh di pojokan." Doni menunjuk ke sudut ruangan dekat lift.
"Itu Jojo ? terus dia ngapain disitu bukannya kerja, eh jangan-jangan gara-gara aku lagi dia gak mau duduk disini." Tasya mau menghampiri Jojo di sudut ruangan itu.
"Eh jangan Tasya, sini aja." Doni menahan lengan Tasya untuk duduk kembali.
"Kenapa sih Don?" Tasya menatap tajam ke Doni.
__ADS_1
"Ih jangan pokoknya jangan." cegah Doni.
"Iya jangan nya kenapa?" Tasya makin meninggi nada suaranya.
"Jojo tuh gak bakal pindah tempat, dia selalu disitu." ucap Doni.
"Ih kamu mah kalau ngomong tuh yang jelas yang komplit jangan setengah-setengah gitu Tasya gak paham nih sama omongan Doni soalnya hadeh..." Tasya menepuk dahinya.
"Tasya sanggup lihatnya?" tanya Doni menoleh sebentar ke arah Joni.
"Lihat apa sih? sanggup, enggak sanggup emang nya Tasya mau kenapa sanggup enggak sanggup lihatnya?" sentak Tasya.
"Aduh kepaksa dah, bismillah deh, diem disini ya!" perintah Doni.
Tasya mengamati Doni yang melangkah pelan-pelan agak takut menuju Jojo di sudut sana.
"Hai Jo, apa kabar hehe?" Doni menyapa Jojo dengan senyum meringis tetapi raut wajah Doni agak takut.
Jojo terdiam hanya menatap Doni dengan raut wajah datar tanpa tersenyum benar-benar datar.
"Don, Jojo sakit kali mana wajah nya pucat gitu, kasian tuh coba suruh duduk dulu." Tasya meneriaki Doni dari kursi mejanya.
Doni hanya mengibaskan kedua tangannya ke arah Tasya wajah Doni seperti hendak menangis dan takut.
"Ih si Doni kenapa sih? mukanya kaya gitu, jadi bingung kan Tasya." gumam Tasya.
Doni membalikkan tubuh Jojo saat itu.
"Pinjem bentar ya Jo." Doni membalikkan badan Jojo perlahan-lahan.
Tasya mengamati apa yang Doni lakukan.
"Kyaaaaaaaaaaa i...itu...itu... kelapanya eh kepalanya itu hiiyyyyyy." pekik Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
****
To be continued...
mohon maaf kalau ada typo.
Jangan lupa main juga ke cerita ku lainnya :
- Kakakku Cinta Pertamaku (End)
- 9 Lives (Ramaikan disana)
- Gue Bukan Player (Ramaikan juga disana)
__ADS_1
Makasih ya Vie Love you all readers 😘❤️