Pocong Tampan

Pocong Tampan
Anita Pamit


__ADS_3

**Yeeeeaayyy Pocong Tampan nongol lagi, dan belum habis kok kan masih banyak misteri yang harus terkuak (Asik bahasanya 😂)


Semoga kalian makin suka bacanya...


Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊**


***


Pak Herdi merangkul bahu Maya.


"Jadi kamu sekarang sudah tenang ya may?" ucap pak Herdi.


"Iya saatnya aku mau pamit Di, kamu juga kalau sudah selesai bergegaslah kembali, Tania pasti menunggu mu."


"Ya, aku pernah bertemu dengannya ternyata saat dia sudah meninggal pun, dia bersama di dekatku namun seperti Anan, dia hilang ingatan, sampai di hari itu hari dimana semua terungkap tentang tumbal yang ayah dan ibu ku buat, Tania mengingatku." pak Herdi mencoba menjelaskan.


"Hmmm baiklah aku akan pamit pergi." ucap Maya lalu ia menghampiri Dita menepuk bahunya.


"Hai Dita, terima kasih untuk semuanya." Maya memeluk Dita.


"Sama - sama mbak, aku jadi tambah tenang ternyata Anan orang baik hanya saja dia tak sempat menolong mbak." sahut Dita.


"Iya maaf kan saya ya Nan, saya pikir kamu komplotan si brengsek itu."


Maya mengulurkan tangannya pada Anan, dan Anan membalas jabatan tangannya.


"Maaf ya mbak, saya gak bisa nolong mbak waktu itu." ucap Anan.


Maya mengangguk dengan senyum hangatnya.


"Iya aku ngerti, aku paham sekarang."


Maya lalu menoleh ke Anita.


"Anita mau peluk dong." ucap Maya lalu memeluk Anita.


"Makasih ya Nit kamu sudah mengajarkan saya menjadi hantu yang lebih pintar heheheh."

__ADS_1


"Ah mbak Maya bisa aja, jadi kangen main terjun payung liat usus mbak Maya kemana - mana hahahaha." sahut Anita penuh kekonyolan.


"Kamu mau bareng saya apa menyusul Nit?"


"Loh emang mbak Maya gak mau nunggu jasadnya di evakuasi dulu?" tanya Anita.


"Saya percaya kok mayat saya akan di kebumikan dengan baik diserahkan ke mama saya di kota xx." ucap Maya.


"Pantesan aku mau tanya tapi takut mbak Maya kesinggung kok kalau deketnya lebih lama mbak Maya agak bau tokai eh taunya hadeh maaf ya mbak, padahal dari situ aku udah curiga tuh mbak." ucap Anita polos dan semua orang menertawainya.


"Ah kamu mah bilang aja ngatain saya bau ta* ya kan?"


"Enggak ngatain mbak cuma curiga mau tanya aja tapi takut hehehe."


"Iya gak apa kok, kalau begitu aku duluan yak." ucap Maya lalu pergi menghilang menuju sinar terang yang datang tiba-tiba di belakangnya.


Hening tercipta saat itu mereka saling memandang satu sama lain.


"Kayaknya giliran aku yang pergi deh." ucap Anita.


"Enggak...! kamu gak boleh pergi Nit, pelase kamu gak boleh pergi." Dita langsung menghampiri Anita dan memeluknya.


"Aku harus pergi Ta, perjanjian ku berakhir." ucap Anita sedih.


"Aku gak peduli sama perjanjian kamu, pokoknya kamu gak boleh pergi huhuhuhu..." Dita menangis sejadi-jadinya.


"Tapi aku mohon jangan pergi Nit." Dita masih merengek tak rela melepas Anita pergi.


"Ta ninggalin kamu waktu itu tanpa pamit aja udah bikin aku hancur tau aku sedih kehilangan sahabat ku pergi gitu aja, tapi sang pencipta kasih aku kesempatan buat datang lagi nyari kamu dan jagain kamu, karena itu pintaku buat jagain kamu sampai kamu menikah dan ada yang jaga, lihat deh bukan cuma Anan tapi sekarang pak Herdi juga jagain kamu kan?" Anita menoleh pada Anan dan pak Herdi.


"Tapi aku maunya kamu, nanti yang nemenin aku ngegosip di toilet siapa coba, yang nemenin aku curhat juga siapa kalau gak ada kamu masa pak Herdi, gak seru tau aku gak mau huhuhu." ucap Dita masih sesenggukan terasa berat nafasnya.


"Cup cup cup, kan ada Anan yang dua puluh empat jam bakal selalu ada buat kamu."


Anita melepas pelukannya dari Dita, membawa Dita ke pelukan Anan.


"Aku gak perlu ngomong apa-apa lagi ya Nan, aku yakin semua yang aku minta kamu bisa kasih buat Dita ya kan?" tanya Anita ke Anan yang dibalas anggukan.


"Aku yakin kamu gak akan pernah sakiti dia dan bakalan ngelakuin apa aja buat Dita bahagia."


Anan kembali mengangguk.


"Makasih ya Nan, kamu emang orang yang tepat buat Dita." ucap Anita sambil membelai rambut Dita yang masih menangis di pelukan Anan.


"Dan pak Herdi, pak bos kesayangan ku, yang pernah menjadi imajinasi liar ku sebelum Dita hadir ya pak jadi karyawan, kan aku nge fans sama bapak hehehe."

__ADS_1


"Makasih Nit saya jadi malu punya fans hehehe." sahut pak Herdi.


"Tolong jagain Dita ya sampai bapak menyelesaikan urusan bapak disini." ucap Anita.


"Pasti Nit, pasti saya akan selalu jagain Dita, kamu gak mau peluk saya?"


"Emang boleh pak?"


Pak Herdi merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Anita.


"Coba dari dulu saya bisa peluk bapak kaya gini udah saya uber pak bodo amat deh mau saingan sama Dita hahaha." Anita masih mencoba bercanda sebum berpisah.


"Nit, kan ada aku disini kenapa peluk pak Herdi sih?" rengek Doni cemburu.


"Eh iya sayangku, maaf ya." Anita melepas pelukannya dari pak Herdi lalu memeluk Doni.


"Makasih ya Don, kamu udah sayang sama aku, kamu harus jagain Dita sama Anan jauhi Anan dari kakak kamu, ubah dia lebih baik kalo gak berubah kamu santet aja yak."


"Ah Anita mah." sahut Doni agak kesal


"Hehehe bercanda, pokoknya jagain Anan jangan sampai kecantol cewek lain mau itu Shinta kek, Cindi kek siapapun itu yak?"


Doni mengangguk sambil menangis mengiyakan permintaan Anita.


"Terus kamu cari jodoh yang baik, yang cantiknya kayak aku yang gemesin kayak aku yak?"


"Enggak ada Nit, enggak bakal ada yang kayak kamu huhuhuhu." Doni menyeka air mata dan ingusnya di lengan kemejanya.


"Ih jorok nih."


"Maaf Nit habis aku sedih." sahut Doni.


"Aku pergi ya, udah datang tuh sinar penjemputnya." ucap Anita menunjuk arah datangnya sinar penjemputnya.


"Semuanya... Anita yang cantik, sexy, baik hati, ramah tamah, tidak sombong dan tidak rajin menabung ini mau pamit yak, aku sayang kalian semua, sampai ketemu nanti disana ya, mampir kerumah Anita, semoga aja kita tetanggaan hehehe."


Anita memberikan flying kiss sebelum oamig pada semua nya.


Anita lalu melangkah menuju sinar nya namun ia menoleh ke arah Doni dan berlari ke arahnya. Anita memberikan kecupan selamat tinggal pada Doni.


"I love you Don."


Anita melepas kecupannya dari bibir Doni lalu pergi menuju sinar dan menghilang bersama tawa riangnya.


****

__ADS_1


Masih bersambung yak...


Happy Reading... Main ke 9 Lives jangan lupa


__ADS_2