Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Restoran Tuan Worm


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


"Welcome to my pizza house."


(Selamat datang di rumah pizza ku).


Tuan Worm menunjukkan restoran pizza miliknya dengan bangga.


"Bagus ya designnya sangat bergaya Italia," gumam Anan.


"Kalian duduk di sini dan silahkan pesan apapun yang kalian mau, everything all free for you, anggap saja sebagai tanda perkenalan dari ku," ucap Tuan Worm seraya meletakkan buku menu di meja Anan dan Dita.


"Tuan Worm, supir pengantar kursi dan meja yang baru menelepon, dia tersesat," ucap salah satu pelayan yang bekerja di sana.


"Hmmm dasar supir bodoh! sebentar aku ke sana, oh iya kalian silahkan pilih ya, saya tinggal sebentar soalnya saya mau adakan penambahan kursi dan meja di luar sana, lihat kan pengunjung di sini sangat ramai hehehe," ucapnya dengan penekanan nada kesombongan yang terlihat.


"Oh tentu saja, silahkan..." sahut Anan mempersilahkan tuan Worm pergi dari hadapan mereka.


"Sombong banget cih," gumam Anan.


"Yanda, gak boleh gitu, kita kan udah di kasih makan gratis, biarin aja mungkin memang wataknya seperti itu, lagi pula memang tempat ini ramai lho, tuh lihat sanpai waiting list!" Dita menunjuk ke depan pintu restoran pizza milik tuan Worm.


"Iya sih, jadi penasaran seenak apa sih rasanya," gumam Anan.


"Oke aku mau pesen, small makaroni schotel, medium pizza chicken and cheese, kamu yang beef nya ya, terus mango puding with milk, garlic bread..."


"Bunda... banyak banget lho ini jangan mentang-mentang gratis nanti di kira sengaja lagi aku mumpung, kesempatan," protes Anan.


"Hehehe maaf habisnya kalau lihat makanan suka khilaf," Dita meringis.


"Udah ya ini aja pesanannya, minumnya apa?" tanya Anan.


"Lemon tea aja aku lagi malas minum soda," jawab Dita.


"Ya udah aku ke meja kasir dulu ya," Anan lalu melangkah menuju meja kasir untuk memesan.


Beberapa menit kemudian, tuan Worm sudah hadir menemani.


"So kalian mau buat restoran apa? bukan meniru seperti saya kan? hahahaha maaf saya hanya bercanda," ucap Tuan Worm.


"Tentu tidak, kami tidak bisa meniru restoran seperti ini pastinya, anda benar-benar pengusaha sukses ya," ucap Dita mencoba menahan Anan agar tak terbawa emosi menghadapi orang sombong seperti tuan Worm.


"Ya tentu saja, oh iya kalian belum jawab pertanyaan ku, kalian mau buat restoran seperti apa?" tanya Tuan Worm.


"Mungkin masakan khas negara kami seperti nasi goreng, rendang, opor ayam, aneka sambal, ya semacam itu," jawab Dita.


"Wow, makanan seperti apa itu ya?"


"Makanya kau harus mencobanya, karena masakan istriku tercinta ini paling enak sedunia," sahut Anan mencium tangan istrinya.


"Well okay, kita lihat saja nanti seenak apa masakan istri cantikmu ini, soalnya ya setahu ku setiap ada restoran yang berada di sekitar kawasan ini, selalu saja kalah pamor, karena mungkin saja memang cita rasa mereka yang tak enak sehingga tak akan bisa sebanding dengan resep ku sendiri," ucap Tuan Worm dengan nada makin sombong.


Anan sudah mengenal tangannya, rasanya menyesal sudah mengikutinya pria sombong di sampingnya ini dan masuk ke dalam sini. Akan tetapi rasa penasarannya sangat kuat, Anan ingin tahu seperti apa dan seenak apa makanan yang di sajikan di sini.


Semua pesanan Anan dan Dita sampai ke meja mereka.

__ADS_1


"Nah ini dia makanan terkenal untuk kalian, san ku yakinkan sekali lagi, ini semua gratis, oh iya saya harus kembali ke meja kerja saya, silahkan kalian nikmati ya," ucap Tuan Worm menepuk bahu Anan.


"Wangi banget aroma pizza nya," ucap Dita.


"Memang nona, resep tuan Worm memang sangat lezat dan harumnya menggugah selera seperti ini," ucap pelayan perempuan itu.


"Nah sudah semua ya pesanan kalian, silahkan nona dinikmati," ucapnya seraya pergi.


"Awww aku dipanggil nona, aku kan sudah menjadi nyonya ya yanda hihihi," Dita memotong pizza di hadapannya, sementara Anan sudah melahap yang di hadapannya.


Saat sampai di dalam mulut Dita, ia merasakan sesuatu menggeliat di rongga mulutnya. Entah kenapa makin banyak yang menggeliat sampai Dita meraih tisu dan memuntahkan ke tisu. Betapa mengejutkannya kala dia melihat banyak cacing yang bergerak dari muntahannya tersebut.


"Iyeeekk... yanda kamu gak ngerasain sesuatu gitu seperti ini?" Dita menunjukkan cacing tersebut pada Anan.


"Fuaaah...!!! apaan itu?!" Anan menyemburkan isi makanannya ke atas meja.


"Yanda jorok ih bukannya pakai tisu, malu tau di liatin orang," ucap Dita.


"Ya maaf, serius bunda itu apa?" tanya Anan lagi.


"Ini yang aku dapat di dalam pizza aku yanda, kamu gak ngerasain kayak gini?"


"Perasaan enak kok, enak banget malah pantas aja restoran ini laku banget," ucap Anan mengunyah kembali pizza nya.


"Yanda baca doa makan dulu terus lanjutin ayat kursi," ucap Dita.


"Aku gak hapal ayat kursi hehehe," sahut Anan dengan polosnya.


"Hadeh... ya udah aku tuntun, ayo baca!"


Selang beberapa menit kemudian, Anan merasa mual dan segera berlari menuju ke toilet. Tujuannya hanya satu kini, ia ingin memuntahkan isi mulutnya saat itu juga.


Dita mengamati bagian pizza yang lain, penuh dengan cacing. Begitu juga dengan makaroni yang dia pesan. Hanya garlic bread dan puding mangga yang sepertinya aman dari cacing-cacing.


"Sstt.. kak..." sapa seorang anak laki-laki berkacamata dengan usia kurang lebih lima tahun itu.


Sepertinya dia keturunan campuran karena matanya persis seperti mata Anan, tak terbuka sempurna hehehe, batin Dita.


"Kau lihat cacing kan?" tanyanya dengan berbisik, meskipun terdengar logat cadel, tapi Dita masih bisa mengerti maksud perkataannya.


"Did you see that too?"


(Apa kamu lihat juga?) bisik Dita.


"Ya tentu saja aku lihat, padahal aku sudah bilang sama mama dan kakak perempuanku tapi mereka menertawaiku, katanya aku terlalu banyak menonton film horor," ucapnya.


"Jimin... Jimin sayang... ayo kita pulang!" seru seorang wanita dengan rambut di cepol yang mirip wajahnya dengan anak yang bernama Jimin ini. Di tangannya terdapat lima kotak pizza berukuran besar yang hendak dia bawa pulang.


"Itu ibumu ya, yang memanggilmu itu?" tanya Dita.


Jimin menoleh ke belakang menuju arah suara tadi.


"Oh iya benar dia ibuku, hari ini pesta ulang tahunnya dan kau tau lagi - lagi pizza cacing ini yang dia makan, iyaaakksss... dah kak!"


Jimin pergi menghampiri ibunya. Wanita itu tersenyum memandang Dita yang juga balas tersenyum, lalu mereka keluar dari dalam restoran itu.


Anan kembali dari kamar mandi.


"Parah, gila jijik banget bunda hiyy, gak beres ini restoran, kita harus kasih tau pengunjung bunda," ucap Anan lalu dicegah oleh Dita.

__ADS_1


"kita gak bisa menunjukkan apa yang kita lihat dan rasakan secara logika dan masuk akal, cuma orang tertentu seperti anak tadi yang bisa melihatnya," ucap Dita.


"Nih yanda, cuma puding, roti sama teh lemon ini yang aman, kita makan dulu bentar sambil mengamati, kamu gak nampak apa-apa di kamar mandi?" tanya Dita.


Anan menggelengkan kepalanya.


"Ya udah kita sebentar ada di sini dulu, kamu tahan emosi kamu ya," ucap Dita.


"Helo guys, bagaimana dengan makanan ku, lezat bukan?" Worm menyapa mereka lagi.


"Iya enak," sahut Dita.


"Nah kan sudah ku bilang apa, ya sudah aku mau pergi ya, rekan bisnisku banyak soalnya jadi aku harus bergegas bertemu mereka, bye..." ucapnya seraya pergi.


"Udah yuk bunda kita pergi dari sini, kita jemput Anta sekolah," ajak Anan.


"Oke... tapi mampir beli makanan lagi ya, aku kan laper," ucap Dita.


"Emang gak mual apa liat makanan menjijikan seperti tadi?" tanya Anan sambil merangkul Dita.


"Ya itu kan makanan tadi, kalau makanan lain mah enggak kali, hehehe," ucap Dita.


"Ya udah lah, terserah bunda aja, everything I do, I do it for you lah..." sahut Anan seraya mencium rambut di kepala Dita.


Ponsel Anan berbunyi, rupanya om Kevin yang menghubunginya.


"Halo, kenapa om?" tanya Anan.


"Kamu sudah lihat restorannya?" tanya Om Kevin dari seberang sana.


"Sudah om dan kayanya aku mau renovasi restorannya deh soalnya kotor banget, terbengkalai, mana tadi tuh ada ul..."


Dita menahan ucapan Anan agar tak usah bilang mengenai siluman ular yang mereka temukan di dalam restoran tersebut.


"Ada apa Nan?"


"Ada debu-debu banyak banget," jawab anan asal.


"Oh kalau kamu mau renovasi atau desain ulang kamu ke tempat Om Rick aja nanti om kasih alamatnya," ucap Om Kevin.


"Oke om makasih sebelumnya," sahut Anan lalu menutup ponselnya.


"Kita ke sekolah Anta kan buat jemput dia terus pulang dari sana kita ke tempat Om Rick. Dia bisa mendesain ulang restoran sesuai mau kita.


"Oke Yanda, yuk capcus...!" sahut Dita.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan bosen-bosen untuk VOTE dan maaf ya kalau Vie mulai slowres balas komen-komen kalian tapi aku selalu like dan baca lho komen kalian sebagai penyemangat Vie untuk nulis. Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


(season 1 END, Season 2 - hiatus)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2