Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bertemu Manan


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Anan...! Kamu mau kemana?" Dita meneriaki sosok berkaus putih dan celana putih yang mirip dengan Anan di hadapannya


"Aku bukan Anan." sahutnya menoleh pada Dita.


"Kamu, kalau kamu bukan Anan apa iya kamu Manan?"


"Iya namaku Manan, bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku Dita, Anan adalah penjaga ku selama ini, jadi aku tau tentang cerita hubungan kalian, oh iya kau mau kemana?" tanya Dita.


"Aku akan kembali."


"Dimana?"


"Aku tak tahu, tempat itu gelap dan menakutkan." sahut Manan.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Dita lagi.


"Aku juga tak tahu harusnya aku yang bertanya bagaimana kau bisa sampai di sini?"


"Aku ada di rumahku kok, maksudku rumah Tante Dewi."


"Rumah Tante Dewi?"


"Iya di apartemen xx itu lho."


"Apa kau tidak menyadari sekarang kau dimana? lihatlah sekeliling mu!" ucap Manan.


Betapa terkejutnya Dita bahwa ia mendapati dirinya sedang berada di sebuah taman bunga matahari yang terhampar luas dengan sinar mentari hangat yang ia rasakan, terdapat beberapa bukit hijau menjulang. Dita mencoba menghampiri sebuah danau tak jauh dari sana.


"Hati-hatilah kau tak akan tau apa yang ada di dalamnya." ucap Manan.


"Memangnya apa yang ada di dalam, bukankah itu ikan-ikan yang cantik?" Dita mengagumi ikan cantik berwarna-warni di dalam danau dan tiba-tiba wusssss.


Seekor paus pembunuh seperti di cerita free Willy melompat dari dalam danau lalu jatuh lagi ke dalam danau meninggalkan semburan air yang membasahi tubuh Dita.


"Woooo keren banget, kok bisa paus ada dalam danau?" tanya Dita penuh kekaguman.


"Tentu saja bisa apapun bisa ku ciptakan, karena kau berada di mimpiku."


"Apa? mimpi kamu?"


"Iya tentu saja." ucap Manan dengan senyum manisnya.


"Bagaimana aku bisa sampai di mimpimu?"


"Entahlah aku pun tak tahu kenapa aku bisa bermimpi seperti ini."


"Aku yang memanggilnya."


Seorang perempuan berparas wanita Jepang datang dengan kimono merah cantiknya.

__ADS_1


"Mami..!" Manan memeluk maminya itu.


"Nyonya Aiko?" tanya Dita.


"Rupanya kau sudah mengenalku, apa kau berada di rumah Dewi?" tanya Nyonya Aiko


Dita mengangguk.


"Pantas saja, harusnya Dewi yang dapat ku tarik ke dunia ini bukan kau."


"Dunia apa ini?"


"Ini dunia ku, Manan berfikir ini dunia mimpinya. Aku baru belajar sekitar 2 bulan tentang ilmu ini memanggil para jiwa untuk berkumpul ke sini sesuai perintahku, dan ternyata berhasil." ucap Nyonya Aiko sambil tersenyum.


"Bagaimana anda bisa menarik Manan ke sini? apa anda yang menahan jiwanya?"


"Bukan aku, suamiku yang menahan jiwanya, membuatnya koma dari kecelakaan tragis itu kecelakaan yang ternyata sengaja ia lakukan."


"Jadi maksudnya Tuan Arjuna mengorbankan anaknya sendiri?"


"Iya tepat sekali, demi sekte biadabnya, namun aku malah kehilangan dua anak laki-laki kesayanganku." mata Nyonya Aiko berkaca-kaca mencoba menahan jatuhnya bulir air matanya.


"Sekte?" tanya Dita.


"Ceritanya panjang dan waktu ku tak lama untuk terpisah dari ragaku, oh iya siapa namamu?"


"Nama saya Dita senang bertemu dengan anda." Dita menjabat tangan nyonya Aiko.


"Mami apa mami tau, Dita sekarang bersama Anan." sahut Manan.


"Apa? bersama Anan, bagaimana mungkin?"


"Iya nyonya, Anan tak bisa kembali tenang karena sepertinya Anan mati di bunuh bukan karena overdosis, saya berjanji akan membantu Anan menuntaskan misteri pembunuhan nya tapi saya takut kehilangan Anan." Gantian mata Dita yang berkaca-kaca.


"Dia menempati raga Manan."


"Raga Manan yang koma?"


"Iya." jawab Dita.


"Sudah berapa lama ia disana."


"Hampir dua minggu Nyonya."


"Waktu Anan hanya tiga bulan menempati raga itu, karena Manan akan segera menghilang dan raganya akan membusuk. Berarti saat ritual pengosongan raga waktu itu ada Anan yang bisa masuk menggantikan Manan, lalu jika ada jiwa yang lain masuk kau tahu kan bagaimana dampaknya." ucap nyonya Aiko.


Dita mengangguk meski tak mengerti.


"Apa kau bisa melihat hantu?" tanya Nyonya Aiko.


"Iya, maaf bukankah nyonya sedang sakit?"


"Raga ku memang sakit tapi saat aku melepaskan jiwaku aku baik-baik saja namun tak bisa lama." Nyonya Aiko menghela nafas panjang lalu menjelaskan kembali.


"Kembalilah Nak ketempatmu, oiya aku akan memperingatkan mu jangan sampai Anan bertemu dengan ayahnya, aku akan tetap menahan ayahnya di Jepang selama satu bulan ini, karena setelah satu bulan ini ayahnya akan kembali untuk mengambil tubuh Manan dan membakarnya lalu mengambil jantungnya, kau tau kan itu jantung siapa?"


"Jantung Anan." sahut Dita.


"Tepat sekali, sekarang pergilah sampaikan sayangku dan rasa rinduku pada Anan." ucapnya dengan air mata yang sudah menetes.


"Mami apa boleh aku menemui Anan?" pinta Manan.


"Boleh, tapi hanya sebentar karena mami tak bisa menahan mu lebih lama."

__ADS_1


"Kenapa mami tak ikut?" tanya Manan.


"Tenaga ku tak akan cukup untuk transportasikan lebih dari satu jiwa."


"Bagaimana dengan Dita?"


"Dia menggunakan kekuatannya sendiri. Kekuatan dia cukup besar untuk bisa masuk kesini."


"Tapi aku tak tahu punya kekuatan nyonya?tanya Dita.


"Kau tak sadar sepertinya, cepatlah kalian pergi!"


Tiba-tiba Dita sudah kembali di apartemen Tante Dewi kali malah berada di kamar Tante Dewi.


Dita melihat jam dinding di kamar itu di angkanya tertera tepat pukul satu pagi, lalu Dita meraih ponselnya menelpon Anan.


"Halo." jawab Anan masih dengan nada mengantuk.


"Bukain pintu dong!"


"Mau ngapain kamu ih genit jam satu pagi gini minta bukain pintu."


"Apaan sih mesum banget otaknya, aku mau kamu nemuin seseorang."


"Siapa Ta?"


"Udah bukain aja!"


"Oke aku bukain."


Dita mencoba keluar dengan cara mengendap-endap menuju apartemen Anan.


Anan membuka pintunya dan langsung menarik lengan Dita segera ke dalam rumahnya dan menjatuhkan Dita ke atas sofa lalu Anan menghampiri Dita bersiap untuk menindih Dita diatas sofa.


"Kamu mau ngapain sih Nan?" Dita mendorong dada Anan.


"Kamu mau ini kan ngajakin ketemu aku jam segini." Anan menatap Dita dengan senyum liar kali ini.


"Ih pede banget sih, kocak..! masa segampang itu aku nyerahin diri aku ke kamu iyuuuh..."


"Ya kali kamu khilaf kaya aku sekarang nih." Anan makin mendekat sampai Dita tak bisa menahan dada Anan menjauh darinya.


"Ehm ehm..." suara Manan mengejutkan Anan.


Anan menoleh pada sosok kembarannya itu dilihatnya dari ujung kepala sampai mata kaki sosok kembarannya dengan tatapan wajah tak percaya bahwa kembarannya ada di hadapannya.


"Hai kak!" ucap Manan sambil tersenyum lebar menyapa Anan.


"Manan?" Anan langsung memeluk kembarannya itu dengan erat ada tangisan yang terdengar di antara mereka berdua.


"Maafin gue ya Bek, maafin gue karena gak bisa jagain elo." tangis Anan makin pecah memeluk kembarannya itu.


"Iya Can gue juga minta maaf yak, udah bikin elo bersalah banget yak sampai elo lari ke narkoba."


"Gue gak pernah ngerasa cobain barang itu Bek, gue di jebak, elo percaya kan sama gue?" Anan meyakinkan kembarannya itu.


"Iya gue percaya, gue akan selalu percaya sama elo Can."


Ada rasa haru yang Dita rasakan saat melihat kedua pria kembar nan tampan itu saling bertemu dan berpelukan. Kini Dita tau bahwa Anan memiliki gaya rambut berbeda. Manan masih berponi dengan belahan di tengah seperti anak culun, sedangkan Anan merubah gaya rambutnya dengan belahan samping dengan trendi nya dan satu lagi tahi lalat di tubuh Manan sebagai pembedanya.


***


To be continued ...

__ADS_1


Happy Reading..😘😘😘


__ADS_2