
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Ta tunggu dong cepet banget sih jalannya." Anan menarik tangan Dita.
"Lepas ah, udah sana kamu di rumah sakit aja ngurusin kantor kan bisa ketemu terus sama Shinta tuh." ucap Dita kesal.
"Maksudnya apa sih?"
"Gak ada maksud apa-apa kan aku baik nurutin apa kata Tante kamu biar kamu belajar jadi pengurus rumah sakit yang baik, bonusnya kami ketemu sama dokter Shinta yang cantik itu." Dita menepuk kedua pundak Anan.
"Ya apa hubungannya sama Shinta?"
"Ya adalah dia kan maunya deket sama kamu apalagi tadi udah tukeran nomer telpon, aku aja kaget kamu bawa hape, nomer kamu aja belom ada di aku."
"Oh gara-gara nomer telpon toh, aku baru dapet Ta dari Tante Dewi, sini aku save nomer kamu."
"Gak usah udah males."
"Kok gitu sih nanti kalo aku butuh kamu gimana hubunginnya aku kan gak bisa kaya dulu yang dateng tiba-tiba pas gelang kamu bunyi."
"Gak usah aku udah banyak yang jagain."
Dita memesan taxi online pada ponselnya.
"Adel, Andri ayok ikut.." ucap Dita.
"Kok aku gak diajak Ta?" tanya Anan.
"Udah sana sama Shinta aja!" sahut Dita kesal tanpa menoleh ke Anan.
"Itu kenapa sih si Dita, mau dateng bulan kali yak, cuma gara-gara hape aja marah." gumam Anan.
"Tong, buta banget elo yak kaga peka sama cewek." Andri merangkul bahu Anan.
"Lah emang iya kan dia marah gara-gara nomer dia belom gue save."
"Koplak...!! bodoh banget elo." Andri menoyor Anan.
"Sompret loh Ndri." Anan mau membalas Andri namun Andri menahannya.
"Nih mau gue kasih tau gak Dita marah kenapa?"
"Emang kenapa?"
__ADS_1
"Ya gara-gara Shinta lah." sahut Andri.
"Apa hubungannya sama Shinta?" tanya Anan masih heran.
"Haduh antara polos sama **** beda tipis nih cowok." Andri menepuk jidatnya.
"Apaan sih, tuh gue ditinggal sama Dita tuh, buruan susul yuk." Anan menahan taxi online yang Dita naiki.
"Kok kamu ninggalin aku sih Ta?" tanya Anan masuk ke dalam taxi samping Dita.
"Ini temennya neng?" tanya sopir taxi online itu.
"Kepaksa pak ngaku temen." ucap Dita.
"Ko gitu sih Ta, jalan pak sesuai aplikasi." sahut Anan yang menyuruh supir taxi online itu melaju ke alamat rumah Adel.
"Lontong kisut dasar masih belom paham sama Dita, dia tuh cemburu sama Shinta." sahut Andri yang sudah duduk di bangku depan samping supir taxi online itu.
"Idih najissss...!" pekik Dita.
Supir taxi online itu langsung menoleh dari kaca spion mendengar ucapan Dita.
"Oh cemburu... iya kah Ta? cieeee makin sayang nih aku sama kamu." goda Anan mencubit pipi Dita.
"Nan ada anak kecil main nyubit aja ih." ucap Dita.
"Eh enggak pak, cuma kesel aja." sahut Dita dengan wajah salah tingkah tak mau menatap Anan.
Anan mencoba menyentuh tangan Dita namun selalu Dita tepis. Sepanjang perjalanan kerumah Adelia Dita dan Anan hanya diam tak saling bicara, Anan terus memperhatikan Dita namun Dita selalu membuang mukanya melihat pemandangan kemacetan ibukota dari jendelanya.
***
Sore hari menjelang magrib akhirnya Dita sampai di lingkungan rumah Adelia yang terlihat kumuh di pinggiran kota Dita bertanya pada penduduk setempat rumah Adelia. Banyak ibu disana yang mengagumi ketampanan Anan semua berkerubung mencubit Anan bahkan ada yang minta foto.
"Gue kalo masih hidup juga kaya elo Nan." ucap Andri yang iri pada Anan.
"Maaf Bu saya udah punya istri tuh istri saya." Anan menunjuk Dita yang menoleh ketus pada Anan.
"Tuh kan Bu istri saya ngambek dari tadi cemburuan dia." sahut Anan mencoba keluar dari kerumunan ibu-ibu kampung situ.
"Duh beruntung banget mbaknya saya betah tiap hari di rumah punya suami kaya gitu." ucap seorang ibu di samping Dita.
Akhirnya seorang anak mengantarkan Dita kerumah Adel karena anak perempuan itu temannya Adel dan tau rumah Adel.
"Kak, kan dedek Adel udah enggak ada, emang kenapa mau kerumah Adel?" tanya anak SD kelas dua itu.
"Mau ketemu neneknya dek."
__ADS_1
"Kayanya nenek nya udah lama gak keliatan deh kak, oh iya kak hati-hati yak bapak tirinya galak, tuh kak rumahnya." tunjuk anak itu pada sebuah rumah mungil dengan cat putih yang sudah kusam dan mengelupas.
"Makasih ya dek, ni buat kamu jajan." Dita menyerahkan selembar uang kertas sepuluh ribuan pada anak itu.
"Makasih kak."
Tok ... Tok..
"Assalamualaikum... permisi Bu , pak, nek ada orang dirumah." ucap Dita mengetuk pintu rumah Adel.
Seorang wanita membuka pintu rumah itu. "Siapa ya?" tanyanya.
"Saya Dita Bu, temennya Adelia."
"Temen Adelia? anak saya kan masih kecil kok bisa punya temen udah segede kamu?"
"Ceritanya panjang Bu, boleh saya masuk Bu soalnya udah magrib mau numpang solat?"
Ibu itu terlihat curiga pada Dita dan tak mengijinkannya masuk kedalam. Sementara Adelia sedari tadi sudah memeluk ibunya meski ibunya tak menyadarinya.
"Terus gimana Ta?" ucap Anan yang berhasil lepas dari kerumunan ibu-ibu menyusul Dita.
Dita berlalu menuju mushola dekat situ untuk solat magrib setelah selesai dia menuju belakang rumah Adelia. Dita melihat Adel sedang menatap kebun dibelakang rumahnya.
"Kakak liat deh." tunjuk adek.
Hu... Hu... Hu... terdengar suara wanita yang sedang menangis di tengah kebun yang gelap itu.
"Itu nenek kak." ucap Dita.
"Ngapain nenek kamu malem-malem disitu?" Dita berusaha melihat ke dalam kebun yang gelap itu.
"Nan, berani ke situ gak?" tanya Dita.
"Jangan Ta, ntar dipatuk ular lagi, emang berani liat tuh nenek?" tanya Andri memotong Anan yang belum sempat bicara.
"Ah kaya gini aja takut, coba sini aku senter yak."
Anan menyalakan senter di ponselnya mengarahkan ke suara wanita yang menangis itu, dan benar saja itu memang seorang nenek dengan rambut putih yang terurai se pinggang lalu menoleh ke arah senter Anan.
"Itu mu-mu mukanya kenapa Nan?" Dita bersembunyi di balik tubuh Anan. Karena ketika nenek itu menoleh sebelah wajahnya terlihat berongga tanpa bola mata dan penuh darah, kepala nenek itu miring ke kanan hampir jatuh dengan luka gorokan di lehernya yang hampir putus. Baju nenek itu penuh koyakan dengan banyak daging ditubuhnya yang berongga banyak bekas gigitan seolah nenek itu dihabisi oleh hewan liar.
"Nenek....!" Adelia menghampiri neneknya dan memeluknya.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading... 😘😘