
Sebelum membaca, jangan lupa tekan tombol Like, rate bintang lima dan bayar pakai Vote ya...
Bayar pakai koin juga tambah seneng akunya. 😁😄
Happy Reading 😘😘😘
*******
Setelah satu jam hanya mondar-mandir memikirkan siapa gerangan yang meniduri Mitha di kebun belakang, tiba-tiba Doni melihat bayangan pria di balik tirai jendela kamarnya di lantai dua yang terlihat dari kebun belakang.
"Kok, ada cowok di kamar aku?" gumam Doni.
Lalu, bayangan pria itu terlihat sedang mencumbu Mitha dan menghilang dari tepi jendela.
Doni segera menghampiri kamar Mitha dengan cara sembunyi-sembunyi. Dia menempelkan daun telinganya untuk mendengar kegiatan di dalam kamar sana. Setelah tiga puluh menit ia mendengar langkah kaki mendekat ke arah pintu kamar. Doni segera beranjak pergi bersembunyi.
Seorang pria yang bertubuh sama dan berwajah sama dengan Doni muncul dari dalam kamar. Betapa terkejutnya Doni saat melihat pria itu naik ke atas loteng rumahnya dan menghilang di sana.
"Siapa ya? kok mirip sama aku ya," gumam Doni.
Doni lalu membuka pintu kamarnya dan melihat Mitha terbaring di atas ranjangnya tanpa menggunakan sehelai benang apapun. Doni langsung menyelimuti tubuh Mitha yang terlelap pulas.
Doni membaringkan dirinya di atas sofa seraya masih memikirkan siapa gerangan pria yang mirip dengannya tadi. Apa kah dia sebangsa Om Item, suaminya kak Shinta. Namun, apakah mungkin sebangsa makhluk itu sampai ke sini.
"Aku harus bicara pada Dita dan Anan mengenai kejadian ini, kini aku benar-benar yakin, kalau anak yang di kandung Mitha itu, bukanlah anakku."
Setelah lelah berpikir, Doni memejamkan matanya untuk beristirahat malam itu.
***
Pagi itu Tante Dewi, sudah di perbolehkan untuk pulang. Dita mengemasi barang-barang milik Tante Dewi sementara Anan mengurus biaya administrasinya.
Tante Dewi memeluk Dita tiba-tiba.
"Ada apa ini, kok tumben sih," ucap Dita.
"Terima kasih, kalau gak ada kamu sama Anan, Tante gak tau bagaimana Tante bisa menjalankannya hidup ini," ucap Tante Dewi.
Buliran bening telah hadir dan menetes sampai ke kedua pipinya.
"Tante... Udah dong jangan nangis, sebagai calon ibu dan yang sedang mengandung, kita harus bahagia, supaya bayi yang kita lahirkan nanti juga bahagia," ucap Dita membalas pelukan Tante Dewi.
"Duh, ada apa ini main peluk-pelukan? Jadi pengen ikut dipeluk," celetuk Anan yang muncul dari luar ruangan.
"Sini peluk..." Dita merentangkan tangannya menyambut Anan.
Hantu perempuan di dalam kamar mandi mengintip memperhatikan Dita.
"Kenapa? mau peluk juga?" tanya Dita.
Anan dan Tante Dewi langsung menoleh ke arah kamar mandi yang dipandang Dita.
__ADS_1
"Kamu pasti ngomong sama hantu, ya?" tanya Tante Dewi yang langsung dijawab anggukan oleh Dita.
"Ya, ampun kamu aja lah yang peluk, Tante mah gak mau hiyyy..." Tante Dewi langsung menyerahkan tas besarnya pada Anan.
"Gak usah peluk lah nanti anak kita sawan lagi," cegah Anan langsung menarik lengan Dita.
"Dah, Nona Hantu, sampai jumpa lagi..." Dita melambaikan tangannya pada Hantu tersebut yang ikut membalas lambaian tangan Dita.
Sesampainya di lantai bawah, Dita hendak membeli roti susu untuk Anta nanti setibanya di rumah.
"Kamu duluan sama Tante Dewi ke mobil, aku beli roti dulu, nanti aku nyusul," ucap Dita.
"Oke, jangan lama-lama ya," pinta Anan.
Saat membeli roti, Dita melihat Mark yang berjalan ke sebuah koridor tanpa tahu keberadaannya. Rasa penasaran Dita membuat wanita itu mengikuti Mark secara diam-diam.
Saat mengikuti Mark dan sampai di sebuah ruangan, Dita melihat pria itu sedang berbincang dengan tiga pasien kanker.
"Mark baik juga rupanya," gumam Dita.
Sebenarnya Mark tahu jika ia sedang di ikuti oleh Dita. Dia sengaja membuat Dita bersimpati dengan kebaikannya. Padahal para pasien kanker itu tadinya berjumlah lima orang. Namun, Tuan Worm sudah mengambil dua pasien kanker tersebut sebelumnya.
Dita menyudahi acara mengintip kegiatan Mark dan beranjak dari koridor itu, tapi Mark menarik lengan Dita dan membawanya menuju dekapannya.
"Jangan pergi, tetap di sini," pinta Mark.
Dita langsung mendorong dada Mark dan melepas pelukannya. Tamparan keras mendarat di pipi Mark.
Mark mengusap pipinya seraya menatap Dita dengan pandangan penuh nafsu.
"Semakin kau perlakukan aku seperti ini, semakin kau membuatku tambah jatuh cinta padamu," ucap Mark.
Dita berbalik badan hendak meninggalkan Mark, namun lagi-lagi tangan Mark menahan lengan Dita.
"Lepaskan! kalau enggak, aku bakal teriak sekencang-kencangnya!" ancam Dita menatap Mark dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.
Akhirnya Mark melepaskan genggaman tangannya dari Dita. Ia membiarkan wanita idamannya itu pergi meninggalkannya.
"Kelak, ku akan mendapatkanmu, Dita..." lirih Mark.
***
Di Gunung Hijau, rombongan sekolah Anta sedang bersiap menaiki bis yang baru saja tiba. Rombongan sekolah tersebut memutuskan untuk menghentikan kegiatan mereka di Gunung Hijau yang harusnya masih dua hari lagi.
Setelah semuanya naik ke dalam bis, rombongan pun berangkat. Logan yang berdiri di samping kursi Tasya, terus memandangi Tasya yang masih asik bermain game dengan Anta. Sampai sang supir membuat bis itu berhenti tiba-tiba akibat rem mendadak. Logan jatuh di pangkuan Tasya.
"Aduh... sakit banget paha aku," keluh Tasya.
"Eh maaf Sya, gak sengaja," ucap Logan lalu ia berdiri dan menghampiri sang supir untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ternyata di depan bis tersebut terjadi kecelakaan antara mobil sedan yang tertabrak truk tronton dan membuat mobil sedan itu dua kali berguling.
__ADS_1
Kemacetan pun terjadi seiring para pengendara yang mulai heboh ingin tahu para korban kecelakaan.
"Ada apa sih?" tanya Tasya pada Logan.
"Ada kecelakaan di depan, sebaiknya kalian semua jangan..."
Ucapan Logan terlambat, para murid dan orang tua wali dalam bis itu mulai penasaran dan turun dari dalam bis. Logan langsung turun dan meneriaki Miss Lucy agar mengatur para rombongan sekolah untuk kembali ke dalam bis.
Rombongan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak itu tertabrak bis tronton yang supirnya sedang dalam keadaan mabuk. Hanya sang kakak perempuan yang dinyatakan masih hidup dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Si Ayah tewas seketika dengan kondisi badan terbelah dua. Sementara sang Ibu juga tewas dengan kepala pecah hancur sebelah. Dan anak perempuan yang kecil juga tewas dengan kondisi wajah penuh darah serta tangan kanannya putus.
"Anta mau pipis, Tante, udah gak tahan," ucap Anta seraya merengek.
"Duh, tahan dulu ya sampai kita ketemu rest area," ucap Tasya.
"Udah gak tahan Tante, nanti Anta ngompol di bis nih," ancam Anta.
"Tunggu sebentar, Tante liat keadaan dulu," cegah Tasya.
"Biarkan aja sih turun bentar terus pipis di situ," ucap Pak Herdi menunjuk ke arah semak-semak di samping bis yang di naiki Tasya dan Anta.
"Masalahnya, ada yang kecelakaan, aku takut bertemu sama korban yang meninggal nanti," jawab Tasya.
"Telat, tuh Anta udah ketemu tuh," tunjuk Pak Herdi.
"Ya ampun, si Anta!" Tasya mengusap wajahnya dengan kesal.
Anta yang sedang berjongkok karena tak tahan untuk buang air kecil sudah berada di samping hantu anak kecil korban kecelakaan itu. Air seni Anta mengalir di tangan hantu yang putus itu.
"Maaf ya, gak sengaja kena pipis Anta, nih tangannya aku balikin. Anta mah baik kok, sini Anta pasangin tangannya," ucap Anta berusaha menyambungkan kembali tangan anak kecil yang putus itu.
"Ya ampun, anaknya Dita... hiiiiisssshhh," ucap Tasya dengan jengkelnya.
*******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II - On Going)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
Vie Love You All... 😘😘😘
__ADS_1