Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Akhir Cerita


__ADS_3

Anan dan Dita dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga milik Tuan Arjuna terdahulu. Setibanya mereka di ruang Instalasi Gawat Darurat, Dita masih tak sadarkan diri begitu juga dengan Anan. Anta tak bisa berhenti berteriak memanggil Bunda dan Yanda seraya menangis. Tante Dewi berusaha menahan gadis kecil itu sampai Anta lelah dan tertidur.


Sementara di luar rumah sakit, Tasya dan Doni kini berhadapan dengan Pak Herdi di parkiran rumah sakit.


"Pak Herdi mau kemana?" tanya Tasya yang masih tak mengerti kenapa Pak Herdi membawanya ke luar.


"Saya mau pamit, Sya. Saya rasa tugas saya selesai sampai di sini dan menurut Ratu Kencana Ungu, waktu saya sudah habis di dunia ini," ucap Pak Herdi.


"Pak Herdi bohong kan, Pak Herdi gak boleh pergi, gak bisa, aku gak mau Pak Herdi pergi huhuhuhu..." Tasya memeluk sosok pocong di hadapannya itu sambil menangis tersedu-sedu.


"Maafkan aku ya, Sya. Aku yakin kamu dan Doni bisa bahagia begitu juga dengan Dita dan Anan. Pesan saya, tolong jaga Anta ya, jagain juga Dewi, kalian pasti bisa menjaga mereka," pinta Pak Herdi.


"Tapi, Pak... tak bisakah Anda masih bertahan di sini, setidaknya sampai Dita dan Pak Bos sadar?" pinta Doni.


"Nanti saya juga bertemu mereka, saya harus pamit ya, tuh udah di jemput sama Tania," tunjuk Pak Herdi ke arah sosok wanita cantik yang mengulurkan tangannya ke arah Pak Herdi.


"Gak boleh, Pak Herdi gak boleh pergi," cegah Tasya, ia masih berusaha merajuk.


"Aku harus pergi, Sya. Maaf ya aku pernah terbawa perasaan sama kamu, tapi ternyata cinta kamu memang kuat pada Doni, hehehe..."


Pak Herdi memandang Doni dan menyerahkan Tasya padanya. Doni menahan tubuh Tasya agar melepaskan kepergian Pak Herdi yang melompat ke arah Tania.


Cahaya berkilauan berada di belakang Tania. PAK Herdi sempat menoleh ke arah Tasya dan Doni sambil tersenyum. Teringat kembali perjalanan petualangan mereka bersama Dita dan Anan. Kegembiraan dan kesedihan yang mereka hadapi Tawa dan canda yang silih berganti, semua terangkum dalam memori indah Pak Herdi.


Pocong tampan itu kini menghilang seiring dengan teriakan tangisa Tasya yang berat melepas kepergian Pak Herdi.


***


Di ruang perawatan Dita yang berada dalam satu kamar, Tante Dewi terbangun dari tidurnya di sofa sambil mendekap Anta.


"Dita..." ucap Tante Dewi saat Dita menyentuh pipi halusnya dan membuat Tante Dewi terbangun.


"Hai, Tante..." sapa Dita.


"Kamu kok pakai pakaian seperti itu?" tanya Tante Dewi heran melihat pakaian seorang Ratu yang Dita kenakan persis sama dengan pakaian Ratu Kencana Ungu.


"Dita mau pamit, sama Anan juga."


"Maksud kamu?"


"Maafin macan ya, Tante. Macan mau titip Anta, aku yakin Tante bisa menjaga Anta dengan baik," ucap Anan yang juga sudah memakai pakaian ala raja di kepulauan jawa jaman dahulu.


"Titip gimana maksudnya?" tanya Tante Dewi.

__ADS_1


Belum juga pertanyaannya di jawab Anan dan Dita, Tasya sudah masuk tanpa permisi dan menghampiri Dita.


"Dita bangun, Ta. Pak Herdi pergi, Ta. Kenapa kamu gak bangun buat pamitan sama dia...?" Tasya berusaha mengguncang tubuh Dita agar tersadar.


"Tasya, Doni... nih aku sama Anan di sini."


Dita dan Anan menunjuk dirinya sendiri.


"Apa-apaan ini, kenapa kalian pakai pakaian seperti Ratu Kencana Ungu?" tanya Tasya menghampiri Dita dan Anan tak percaya.


Sementara Doni yang mulai paham tertunduk lemas sampai jatuh duduk melihat ke arah Dita dan Anan meski ia belum siap kehilangan.


"Kenapa aku pakai pakaian Ratu Kencana Ungu? karena sekarang akulah Ratu Kencana Ungu dan Anan adalah Raja yang menemaniku di alam sana," ucap Dita.


"Alam sana?" tanya Tasya masih tak percaya begitu pula dengan Tante Dewi.


"Sebenarnya kami bertiga mati saat itu, Ratu Masako memberi kami racun," ucap Dita menunjuk dirinya, Anan dan Tante Dewi.


"Lalu, kenapa Tante masih hidup?" tanya Tante Dewi.


"Karena kekuatan Ratu Kencana Ungu yang menipis yang hanya bisa menyelamatkan satu orang, dan kami memilih Tante yang harus bertahan, karena aku dan Anan tak bisa terpisah lagi," ucap Dita tersenyum menahan tangis seraya menatap Anan.


"Tapi, Ta..." Tante Dewi mulai bangkit.


"Sudah takdir kami harus pergi, kami sudah dapatkan kebahagiaan kami, dan kini berusahalah untuk mendapatkan kebahagiaan kalian. Tasya aku titip Anta ya, Doni juga jagain Anta, jagain Tasya, jagain Tante Dewi," ucap Dita.


"Ya, aku juga percaya sama kamu, Don. Jangan takut lagi sama hantu, kamu harus bisa menghadapinya," sahut Anan.


Doni tak bisa menjawab apa-apa lagi kecuali dengan tangisannya. Ia sudah kehilangan Kak Shinta yang memilih tinggal bersama Om Item dan anaknya Lee. Setelah tadi dia kehilangan sahabatnya Pak Herdi, kini ia juga harus kehilangan panutannya yaitu Anan dan Dita.


"Kami akan selalu hadir di ingatan kalian, di setiap doa kalian, di setiap tidur kalian, kami akan selalu ada, ya Yanda?" Dita menggenggam tangan Anan.


"Kenapa, kenapa kalian harus pergi..." Tante Dewi berkali- kali menyeka air matanya.


"Maafkan kami, Tante. Dan sebelumnya ada kabar buruk yang Tante harus tau," ucap Dita lalu menoleh pada Anan.


"Katakanlah, Bunda."


"Ummm... anak Om Kevin yang Tante kandung itu meninggal, Ratu Kencana Ungu tidak bisa mempertahankannya."


Tante Dewi menoleh ke arah perutnya dan menangis seraya mengusapnya.


"Tapi, bayi laki-laki kami sudah kuberikan di perut Tante, jadi tolong jaga dia dengan baik ya," pinta Dita.

__ADS_1


"Beri nama Raja, Raja Ananta Prayoga," pinta Anan.


"Waktu kami sudah tak banyak lagi, gak ada yang mau peluk nih...?" tanya Dita.


Tasya langsung menghamburkan tubuhnya memeluk Dita seraya berkata, " Kamu jahat, Ta, kamu jahat!"


"Maaf ya, Sya. Tapi nanti aku janji kalau kamu punya bayi, aku akan datang berkunjung, itu juga kalau di bolehin sama yang di atas, hehehe."


"Don, gak mau peluk gue, nih?" tanya Anan.


Doni bangkit dan langsung memeluk Anan.


"Gue bangga sama elo!" Anan menepuk punggung Doni.


Tante Dewi lalu bangkit memeluk Anan dan Dita.


"Tante akan jaga anak-anak kalian bahkan tante rela mengorbankan nyawa Tante seperti kalian mengorbankan nyawa kalian untuk Tante..."


"Jangan bangunkan Anta ya, kami tak sanggup mengucap perpisahan sama dia," ucap Dita.


Anan dan Dita kemudian pergi menuju cahaya terang yang muncul di belakang mereka.


"Yanda, siap?" tanya Dita.


"Selama aku bersama kamu, aku akan selalu siap, I love you, Bunda..."


"I love you too, Yanda..."


Anan memberi kecupan mesra di bibir Dita sebelum memasuki cahaya terang tersebut. Kemudian keduanya lalu menghilang seiring dengan suara mesin jantung yang berbunyi menandakan kematian mereka.


Tangis Doni dan Tasya makin pecah memeluk tubuh kedua sahabatnya itu. Tante Dewi berusaha tegar dan menutup telinga Anta dengan erat agar tidak mendengar tangisan Tasya dan Doni.


***** THE END *****


Inilah akhir kisah Pocong Tampan season 2...


Maaf ya kalau Vie membuat kalian menangis, membuat kalian marah, bahkan sebel sama Vie. Tapi, memang ini alur kisah Anan dan Dita. Bahagia sampai akhir hayat.


Nantikan pengumuman pemenang buat pembaca setia Pocong Tampan di episode berikutnya.


Dan... kira-kira Vie mau kasih kejutan apa ya buat kalian... hayo tebak...


😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2