Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Pemakaman


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Happy Reading...


******


Di pemakaman Om Kevin, Mark datang menggunakan jaket ber-hoodie hitam. Di lehernya terdapat perban berwarna putih yang terlihat jelas. Dia juga menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi kedua matanya yang memerah.


"Kamu kemana saja, Mark?" tanya Anan menepuk punggung Mark.


"Aku ada tugas kuliah untuk riset, dan ada pekerjaan tambahan di luar kota, jadi maaf aku jadi jarang pulang," jawab Mark.


"Leher kamu kenapa?" tanya Tante Dewi.


"Aku, aku kemarin jatuh terus leher belakang aku luka, Tante. Aku turut berduka cita ya, Tante, atas kematian Om Kevin. Semoga beliau tenang di sana," ucap Mark seraya memeluk Tante Dewi.


"Udah tenang di sana, kemarin juga udah pamit," sahut Tante Dewi tak sengaja keceplosan begitu saja.


"Hah? pamit?" tanya Mark.


"Iya pamit kalau mau pergi eh taunya pergi selamanya huhuhuhu...."


Tante Dewi langsung mencari Dita untuk menangis di pelukannya. Dita akan dia jadikan tameng jika Mark bertanya lagi lebih lanjut.


Setelah acara pemakaman Om Kevin selesai, Mark pamit kembali dan ijin pergi dari rumah untuk sementara waktu.


Tasya dengan isengnya menghadang Mark sebelum menaiki sepeda motor besarnya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Tasya.


"Kenapa apanya?" tanya Mark menepis tangan Tasya dari jok motornya.


"Kamu tuh mencurigakan tau! Hmmm aku tau, jangan-jangan kamu sudah berubah menjadi vampire, ya?" Tasya mencoba menerka Mark.


"Apaan sih! Ngaco aja, awas minggir!" sanggah Mark menepis kembali tangan Tasya.


"Habisnya kamu kayak ketakutan sama matahari, mana pakai kaca mata hitam segala lagi," Tasya masih mencoba mengintip mata Mark dari balik kaca mata hitamnya. Mark mencoba memalingkan wajahnya. Ia berusaha menutupi wajahnya dari Tasya. Mark takut jika ada belatung kecil yang mendadak menggeliat keluar dari bola matanya maupun di sela perban di lehernya.


"Awas, ah! Kamu mau pulang bareng, gak?" tanya Mark.


"Emang kamu mau ke rumah?" Tasya balik bertanya kembali.


"Aku mau ambil beberapa pakaian, mau bareng gak?" tanya Mark lagi.


"Enggak ah! aku masih mau nunggu yang lainnya."


"Ya udah kalau gitu aku duluan, jangan kangen ya sama aku," ucap Mark lalu menaiki sepeda motornya dan melaju pergi.

__ADS_1


Tasya segera menghampiri lainnya, namun langkahnya terhenti kala melihat Anta.


"Kebiasaan banget nih bocah, gak di mana-mana di bilang kalau lihat hantu jangan di samperin, eh ini malah diajak main, hadeh... bener-bener anaknya Dita ya." Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghampiri Anta.


"Anta, Ayo pulang, bunda nungguin tuh!" ajak Tasya.


"Yah, udahan deh, maaf ya teman-teman Anta sudah disuruh pulang sama nenek sihir yang tadi Anta ceritain," ucap Anta menunjuk ke arah Tasya.


"Enak aja nenek sihir! bidadari cantik turun dari kayangan ya meski agak kepeleset dikit, tapi tetep cantik, dibilang nenek sihir," ucap Tasya seraya berkacak pinggang.


"Tuh kan, bener apa kata Anta dia bawel banget kayak nenek sihir, ya kan?"


Para hantu anak kecil yang bermain dengan Anta menganggukan kepalanya bersamaan dengan kompak.


"Eh masih pada kecil itu bergosip aja!" pekik Tasya.


Kemudian para hantu anak kecil yang berjumlah empat hantu itu menoleh ke arah Tasya. Betapa terkejutnya Tasya saat melihat salah satu hantu itu tak mempunyai mata sama sekali.


"Yang ini katanya matanya diambil sama orang jahat, terus mayatnya dibuang di jalan, kasian ya, Tante." Anta menunjuk hantu tadi.


"Kalau yang ini, Tante, dia matinya tenggelam di kolam renang rumahnya, makannya badannya air mulu tuh. Tadi baru aja Anta omelin, makanya kalau orang tua udah bilang jangan ke kolam yang dalam nurut, biar gak tenggelam kayak dia," ucap Anta.


Tasya lalu menunjuk hantu anak laki-laki di samping kanan Anta dengan tangan gemetaran.


"Yang ini, beuh... liat aja kepalanya gepeng gini kan," ucap Anta seraya memegang pipi hantu anak kecil itu dan menunjukkan kepalanya yang gepeng, lelehan otaknya masih mengalir sampai leher anak itu.


"Satu lagi, Tante."


"Enggak mau tau! bodo amat! kalau kamu gak ikut Tante sekarang, aku bilangin Bunda sama Yanda, nih!" Tasya langsung pergi meninggalkan kengerian para hantu yang dilihatnya itu.


"Anta harus pergi, nih. Kapan-kapan kita main lagi, ya. Dadah semuanya...." Anta melambaikan tangannya pada para hantu itu yang balas melambai.


Sebenarnya masih banyak lagi para hantu dewasa yang menyeramkan yang Anta lihat, tapi Anta lebih memilih menyapa para hantu anak kecil di sana.


Tasya berlari kecil menyusul Tasya menuju mobil Yandanya untuk bergegas pulang.


***


Setelah upacara pemakaman Om Kevin selesai, Tante Dewi yang lainnya melajukan mobilnya menuju rumah. Setibanya mereka di rumah, Jerry membuka pintu sambil menangis menyambut Tante Dewi. Ia hendak minta maaf karena tak bisa ikut pergi ke pemakaman. Ia merasa kakinya sangat sakit untuk di gerakkan saat pagi tadi. Oleh karena itu, Dita memerintahkan padanya untuk tinggal di rumah.


Tapi, saat ia mendengar mobil Anan datang, kakinya tak sakit lagi dan kemudian ia langsung bisa berlari menuju pintu utama, untuk membukakan pintu rumah itu dan menyambut Tante Dewi.


"Tante Dewi, maafin Yerry, ya..." Jerry merentangkan kedua tangannya menyambut Tante Dewi. Namun, betapa terkejutnya ia saat Tante Dewi tak melihatnya dan melangkah begitu saja menembus tubuhnya.


Dita langsung menepuk bahu Anan saat melihat Tante Dewi menembus tubuh Jerry.


"Tante!" seru Dita.


Tante Dewi lalu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa, Ta?"


"Tante, gak lihat ada Jerry itu di pintu?" tanya Dita.


Tasya dan Anta yang baru saja turun dari mobil langsung fokus pada pertanyaan Dita dan bersamaan menoleh ke arah Jerry yang masih bingung dengan kondisi tubuhnya itu.


"Tante gak ngerti deh sama pertanyaan kamu, Ta? kamu bilang ada Jerry, mana?" tanya Tante Dewi.


Jerry mencoba menepuk bahu Tante Dewi, tapi ia hanya bisa menembusnya. Wanita di hadapannya itu tak merasakan sentuhan apapun darinya.


"Udah ya Tante mau ambil minum dulu di dapur."


Lalu Tante Dewi melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Masa sih dia gak bisa lihat aku dan aku sentuh, aku kenapa ya, Mbak Dita?" tanya Jerry pada Dita yang memperhatikan dengan seksama.


"Yang aku takutkan, kamu itu sudah..."


Tasya, Anta dan Anan langsung menghampiri Jerry dan ikut memperhatikan dengan seksama.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Tante Dewi dari arah dapur.


"Aaaaaaa...!!!"


Mereka semua bergegas menghampiri suara teriakan tersebut.


Lalu dari belakang Dita suara teriakan kembali terdengar, kali ini dari mulut Jerry yang berteriak sambil memegangi kedua pipinya.


"Aaaaa... Tidak...!" teriak Jerry dengan kencangnya.


******


Bersambung...


Mohon maaf sekarang jadwal UP Pocong Tampan tak tentu yang penting tungguin aja upnya ya dengan tekan tanda love buat jadiin favorit.


Oh iya 9 Lives update lagi, cusss ditengok ya, dan mohon dukungannya di sana.


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta (On Going)


- With Ghost (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2