
Dita dan Anita bergegas menuju kolam dilihatnya air kolam sudah bercampur dengan darah. Jasad itu sudah mengapung dengan darah segar mengalir dari kepalanya dengan tangan dan kaki yang patah, tulangnya bengkok ke arah luar.
"Telpon polisi segera, cepaaatt...!!"
Dita langsung berlari mendengar perintah kang Ujang.
Diraihnya gagang telpon dengan panik tangannya bergetar memijit nomer telpon polisi yang ingin dia hubungi.
Dita terduduk lemas kakinya bergetar lalu ia memanggil Anan yang langsung dipeluknya ketika tiba dihadapannya.
"Udah tenang aku disini." Anan menepuk punggung Dita perlahan.
Polisi berdatangan, menetralisir area sekitar tempat kejadian.
Sandi dan Robi diberi banyak pertanyaan juga Akang Ujang yang berada di tempat kejadian saat Aldo terjatuh.
Yang Sandi tau dia berbeda satu tingkat tangga dengan Aldo, menurutnya Aldo ingin melompat dari tempat yang lebih tinggi dari biasanya. Robi yang sudah terjun duluan ke kolam juga tak melihat dengan pasti bagaimana Aldo terjatuh yang ia tahu kepala Aldo sudah membentur tepi kolam lalu jatuh ke air waktu itu. Dugaan sementara polisi kematian Aldo ini murni kecelakaan karena ia kemungkinan terpeleset.
Anita melihat Bu Devi yang langsung datang ke TKP sementara pak Herdi masih di perjalanan dari rumahnya.
"Cepet banget bu sampe nya." sapa Anita pada Bu Devi.
"Oh kebetulan pas saya ditelpon saya lagi makan deket sini, Pak Herdi mana ya sudah dihubungi belum?"
"Sudah Bu." jawab Anita.
__ADS_1
Anita lalu permisi menuju ruang kerjanya.
"Ta kamu ngapain disitu?"
"Aku aku bingung Nit, aku panik." Dita mencoba mengatur jantungnya yang masih deh degan dan syok.
Doni dan kang Ujang datang ke ruang kerja Dita dan Anita saat itu.
"Kenapa Kang?" tanya Dita melihat raut khawatir di wajah kang Ujang.
"Saya ngelihat sesuatu di atas tadi, saya pikir mas Sandi yang ada dibelakang mas Aldo eh pas mas Aldo jatoh taunya mas Sandi masih satu tingkat dibawahnya."
"Maksudnya kang ada orang dibelakang Aldo?" tanya Dita
"Yang saya takutin dia bukan orang neng."
"Akang gak bilang ke polisi?" tanya Doni.
"Mana polisi nerima yang gak masuk akal kaya gitu Don."
Dita berpikir sejenak lalu dia ingat akan sosok Tania, seakan sepaham dengan tatapan kang Ujang yang sama-sama menatap arah mess belakang.
"Kalian pada kenapa sih? tatapan gak jelas kaya gitu?" Anita melihat Dita dan Kang Ujang.
"Eh nih ya aku jadi inget, Bu Devi tuh cepet banget sampenya ya, padahal tadi sore aku udah liat mobil dia di parkiran resto depan mau ngapain coba." ucap Doni
__ADS_1
"Mau makan lah kan ke restoran." sahut Anita.
"Oh iya juga ya mau makan kali aja arisan yak."
"Jadi maksudnya apa Don?" tanya Kang Ujang.
"Ya kali aja kang ah masa iya sih dia ngerencanain kejadian hari ini."
"Dia ngebunuh Aldo gitu?" tanya Dita.
"Ya gak mungkin juga sih, kan kalo detektif biasanya peka sama sesuatu yang tidak biasanya." jawab Doni.
"Alah kamu kita udah nyimak serius malah becanda detektif gak jelas gitu." Anita menoyol kepala Doni.
"Kalian samperin Bu Devi gih saya mau kebelakang dulu." ucap kang Ujang.
"Aku ikut kang mau ke rumah belakang." sahut Dita.
"Yaudah aku sama Doni samperin Bu Devi yak, eh tuh Pak Herdi dateng." ucap Anita.
Anita dan Doni bergegas ke arah Bu Devi dan Pak Herdi sementara Kang Ujang pergi ke rumah belakang yang Dita tempati sekarang. Mereka kesana mencari Tania pastinya.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading...