
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Dita berhasil menyusul Anan yang berlari dengan kencangnya.
"Haduh capek..." keluh Anan.
"Lagian yanda ngapain sih lari, kan udah biasa liat hantu kayak tadi," ucap Dita dengan nafas masih tersengal-sengal.
"Kamu bilang biasa? itu kepala doang Ta, ada di loker gitu mana gerak-gerak," Anan mendengus kesal.
"Ya namanya hantu iseng, ya udah cari minum dulu yuk."
Dita menabrak seseorang secara tak sengaja.
"Maaf ya mbak," ucap Dita.
"Iya gak apa," sahutnya lalu pergi.
"Mirip siapa ya? ummm... oh iya, Yoona..." Dita memanggil wanita berkulit sawo matang, rambut sebahu dan menggunakan kaca mata itu.
Perempuan itu menoleh saat mendengar namanya di panggil.
"Kamu kenal sama saya?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri menghampiri Dita.
"Enggak kenal sih cuma tau aja, oh iya kita kenalan kalau begitu, namaku Dita, aku kenalannya pacar kamu Noey," ucap Dita mengulurkan tangan kanannya.
"Kamu tahu dimana Noey?" tanya Yoona penuh antusias dan wajah khawatir.
Dita bingung mau mengangguk tapi Noey udah meninggal, kalau menggeleng nanti wasiat terakhir Noey tak bisa tersampaikan.
"Udah iya aja bunda," sahut Anan meyakinkan Dita.
"Bisa bicara di tempat yang lebih privasi?" tanya Dita.
"Mari ke kantor saya, ke ruangan saya," ajak Yoona.
Dita dan Anan mengikutinya sampai di kantor Yoona.
"Pak Herdi mana sih sama Noey, kok gak ngikutin?" bisik Dita menoleh ke belakangnya sebelum memasuki lift bersama Yoona.
"Coba panggil lagi," ucap Anan di dalam lift.
"Panggil siapa?" tanya Yoona yang mendengar sekilas.
"Eh enggak kok, enggak kenapa-kenapa," sahut Dita mencubit pinggang Anan memberinya kode agar jangan terlalu berisik.
Dita menggoyangkan gelang di tangannya. "Dulu aku panggil kamu kayak gini," bisik Dita.
"Aku...? di panggil kayak gitu?" Anan menunjuk dirinya sendiri dan di balas anggukan oleh Dita.
"Masa sih?"
"Iya, kamu tuh pocong paling tampan yang pernah aku temuin," sahut Dita dengan berbisik.
"Kok bisa sih, aku kan manusia?" tanya Anan.
"Nanti aku ceritain kenapa kamu bisa jadi manusia," ucap Dita.
Pintu lift terbuka di lantai lima, dan ternyata Pak Herdi dan Noey sudah menunggu di sana.
"Astaga, kirain setan mana?" ucap Anan terkejut melihat Pak Herdi dan Noey di sana.
"Setan?" tanya Yoona.
"Enggak kok itu ada bayangan kirain ada setan gitu taunya bayangan cicak kayaknya," Dita menjawab asal, belum siapa rasanya ia menceritakan tentang Noey di situ.
__ADS_1
Noey merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut pelukan Yoona. Noey terlupa kalau ia bukan manusia lagi sehingga Yoona tak bisa melihatnya dan menembus tubuhnya.
"Yoo...na..." ucap Noey lirih, raut wajahnya sangat kecewa dan amat merindukan Yoona. Pak Herdi menepuk punggung Noey menenangkannya.
"Masuk yuk, ini ruang kerja saya," ajak Yoona.
Yoona bekerja di bagian administrasi keuangan di kantor pajak tersebut. Ruangan yang serba merah muda mengingatkan Dita akan warna di loker tadi.
"Lho ini foto Noey," ucap Dita melihat bingkai Foto Noey dan Yoona bersama.
"Kamu kenal sama Noey? berarti kamu tahu kan dia di mana, Noey tuh menghilang tak ada kabar ke saya, padahal dia janji mau nikah sama saya, apalagi anak dalam kandungan saya sudah berusia tiga bulan, saya takut jika orang tua saya tau," ucap Yoona yang tak bisa lagi membendung air matanya.
Noey juga menangis di pelukan Pak Herdi.
"Ceritain aja bun," ucap Anan lirih.
"Maaf ya sebelumnya, tapi kamu harus tau kalau Noey sebenarnya sudah..."
"Sudah apa? jangan bilang sama saya kalau Noey sudah menikah, kamu mau bilang itu kan?"
Yoona memotong ucapan Dita.
"Bukan, bukan itu, Noey belum menikah, hanya saja Noey sudah meninggal," ucap Dita.
"Kamu bohong, kamu pasti bohong sama saya kan?" Yoona mengguncang kedua bahu Dita.
"Maafkan saya, tapi saya gak bohong," sahut Dita.
Anan mencoba melepaskan tangan Yoona dari bahu Dita. "Tolong lepaskan," pinta Anan.
"Lalu bagaimana dengan anak ini, bagaimana dengan saya? huhuhuhu..." isak tangis Yoona makin menjadi-jadi.
Dita memeluk Yoona dengan erat.
"Aku mau kamu lebih siap lagi ya, Noey bisa kamu pegang pundak saya?" pinta Dita menoleh ke Noey.
"Hah Noey katamu? Apa dia ada di sini?" tanya Yoona.
"Aku gak ngerti pak?" tanya Noey ke Pak Herdi.
"Kamu sentuh pundak Dita, dia akan menjadi media pertemuan mu dengan Yoona," ucap Pak Herdi.
"Emang gak ada cara lain selain sentuh pundak Bunda?" tanya Anan mulai posesif.
"Gak ada yanda, memang begitu caranya nanti Yoona bisa melihat Noey melalui aku," sahut Dita.
Anan mendengus kesal dan merebahkan diri duduk di kursi depan meja kerja Yoona.
Noey perlahan menghampiri Dita dan menyentuh pundak Dita dengan tangan kanannya. Yoona melihat kaki Noey yang penuh luka baret dati aspal lalu menuju ke atas tubuh Noey dan tiba di wajah Noey yang hancur.
"Aaaaaaaaaaa..." Yoona tak sadarkan diri seketika tergeletak di lantai.
"Hadeh, mode cakep Noey jangan kayak gitu, jelas aja dia takut," ucap Dita dengan nada kesal.
"Bukan dia doang yang takut, aku juga takut tau, serem banget sih Noey," sahut Anan yang sudah bersembunyi di balik kursi tadi.
"Aduh aku lupa, maaf ya..." ucap Noey lalu berubah ke bentuk wajahnya sebelumnya.
Dita mencoba menyadarkan Yoona dan membangunkannya.
"Yoona bangun," ucap Dita sambil menepuk pipi Yoona.
"No-Noey..." Yoona tersadar mencari Noey lalu kembali menangis saat melihat wajah Noey yang dia rindukan kembali.
"Kamu kenapa meninggal, kamu kenapa ninggalin aku huhuhuhu," Yoona menangis di pangkuan Dita saat Noey duduk di samping Dita menyentuh bahunya.
"Aku kecelakaan Na, rem motor aku blong terus aku buru-buru mau jemput kamu karena aku mau melamar kamu," ucap Noey.
Yoona makin menangis lalu memeluk Noey. Pelukan hampa tanpa menyentuh apapun karena Noey terlupa lepas dari pundak Dita.
__ADS_1
"Lho Noey kemana Ta, kok hilang?" Tanya Yoona yang tak mengerti.
"Karena kamu tak punya kemampuan melihat hal gaib jadi kamu gak bisa melihat Noey tanpa saya, karena saya media untuk kalian melihat satu sama lain," ucap Dita.
"Oh gitu..." Noey menyentuh kembali pundak Dita.
"Antar Yoona ke kantor pos Ta, tunjukan loker tadi," pinta Noey.
"Jadi kita balik lagi ke kantor pos tadi, nanti kalau ketemu hantu kepala buntung tadi gimana?" gumam Anan.
Pak Herdi menoyor kepala Anan dengan gemas karena melihat Anan mendadak ketakutan. Anan menoleh ke Pak Herdi menatapnya tajam dan ingin membalas. Namun, dia urungkan niatnya karena melihat Pak Herdi lebih seram.
"Kepala buntung?" tanya Yoona heran.
"Aduh jangan di ceritain dong, nanti Yoona malah takut kesana," sahut Noey.
"Aku gak takut, aku mau tau ada apa di kantor pos," ucap Yoona dengan yakin.
"Tuh gak takut, ayo kesana keburu sore," ajak Dita.
***
Sesampainya di kantor pos, Yoona akhirnya membuka loker tempat Noey menyewa loker itu untuk melamar Yoona.
"Ah manis banget kamu Noey," ucap Yoona.
"Eh eh kalau mau jalan bilang dong, pegel nih pundak aku ngikutin tangan kamu," protes Dita pada Noey.
"Maaf Ta, aku mau nyamperin Yoona, aku mau bilang selain kotak cincin itu, di bawahnya ada buku tabungan dan kartu atm untuk biaya anak kita lahir nanti," ucap Noey.
"Ini tabungan kamu banyak banget Noey," sahut Yoona.
"Iya tadinya untuk biaya pernikahan kita juga, tapi maaf, maafin aku, aku gak bisa buat pernikahan seperti yang kamu inginkan," sahut Noey.
Yoona memeluk Noey dan menangis sejadi-jadinya.
Tak terasa air mata Anan ikut menetes juga, ia tak sadar memeluk Pak Herdi dari samping dan mengusap air matanya di kafan yang di kenakan pak Herdi. Sementara Pak Herdi merangkul Anan dan menepuk bahunya.
"Kayaknya ada yang aneh," gumam Pak Herdi.
Anan tersadar saat pundaknya di tepuk-tepuk oleh Pak Herdi.
"Ih pantesan ada bau bangkai gitu perasaan," gumam Anan melepaskan diri dari rangkulan Pak Herdi.
"Sembarangan, yang mulai deket-deket siapa coba huuuuu...!!!" Pak Herdi mendorong Anan.
BRUG...BRUG...BRUG...
Loker di sudut itu berguncang kembali.
"Mending kabur aja yuk repot kalau nanti dia minta tolong cariin tubuhnya lagi hadeh..." Dita menarik lengan Yoona lalu pergi bergegas dari situ.
Anan menarik Pak Herdi agar membantunya berdiri, tanpa sadar ia malah meniru Pak Herdi yang melompat-lompat.
"Kamu menghina saya ya?" tanya Pak Herdi mulai kesal.
"Ih... percaya diri sekali anda, orang mau ngajakin lomba lompat yeee, tapi gak jadi ah cape mending lari aja nyusul Dita, wleeekkk..." Anan bergegas menghindari Pak Herdi.
***
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
__ADS_1
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘