
Jangan lupa Vote nya sebelum membaca... makasih ya...😊😊
****
"Sayangku bagaimana hari mu?" Tania memeluk Herdi suaminya yang baru ia nikahi sebulan lalu.
"Sangat baik, apa kau tau, ayahku akan membuat wahana kolam renang untuk kita?"
"Benarkah? wah pasti seru sekali."
"Apa kau mau melihatnya?"
"Melihat apa?"
"Wahana bermain yang disiapkan untuk kita."
"Baiklah aku mau." Tania memeluk lalu mencium pipi suaminya itu dengan penuh cinta.
***
Sesampainya di area wahana kolam renang yang sedang dibangun Tania melihat kedua mertuanya tengah menyiapkan sebuah meja penuh dengan sajen.
"Selamat datang menantu tercintaku." ucap Tuan Winata sembari menggorok leher ayam hitam dan mengucurkan darahnya kemangkok putih diatas meja.
"Jangan takut Nak, ini hanya ritual biasa agar wahana ini sukses nantinya." ucap Nyonya Winata menaburkan bunga tujuh rupa diatas mangkok besar itu.
Tak ku sangka di jaman yang modern ini mertua ku masih percaya dengan ritual murahan seperti ini.
Batin Tania, tubuhnya bergidik ngeri melihat ayam tadi berlonjakan menuju kematian.
"Tak usah dilihat sayang, bagaimana kalau kita berkeliling." ajak Herdi menggandeng tangan Tania.
Bug....
Nyonya Winata menghantam kepala Tania dengan martil besar membuat Tania tak sadarkan diri.
"Apa yang ibu lakukan...??!!" pekik Herdi lalu memangku kepala Tania yang mengeluarkan darah segar mengalir ke tangannya.
__ADS_1
"Maafkan ibu nak, tapi iblis itu menginginkan darah istrimu, Suruh dia datang Pah." Nyonya Winata menoleh ke arah suaminya.
Tubuh Herdi tak lagi dapat ia kendalikan jiwanya terkunci seperti terpenjara dalam kaca. Herdi dapat melihat dan merasakan apapun dari matanya dan sentuhan kulitnya namun ia tak bisa mengendalikan tubuhnya karena sosok Jordi merasuki tubuhnya.
Jordi kini menyeret Tania naik ke atas papan loncat indah dan menjatuhkan tubuh Tania ke dasar kolam yang tak berair dari atas sana.
"Cantik sekali...." ucap Jordi sambil tertawa puas lalu kembali ke tempat sajen yang disiapkan Tuan Winata.
"Kau puas kan? Sekarang keluarlah dari tubuh anak kami." ucap tuan Winata ke Jordi.
""Baiklah sebentar, biarkan ku nikmati sesembahan kalian ini."
"Lalu bagaimana dengan Tania ?" Nyonya Winata masih memandangi tubuh Tania didasar kolam.
"Kubur saja disana." Jordi menunjuk dasar kolam.
Akhirnya Tuan dan Nyonya Winata mengubur Tania di dasar kolam lalu mengganti ubin dasar kolam segera agar tak ketahuan dengan pekerja esok hari.
" Kerja yang bagus." ucap Jordi lalu
Brug...
Selang lima menit Herdi terbangun dan mencari sosok Tania
"Dimana istriku Bu?"
"Mulai sekarang istrimu sudah tiada nyawanya tak tertolong karena mengidap DBD."
"Tapi Bu, "
"Ikuti saja nak, kelak kau akan dapatkan seribu Tania diluaran sana."
ucap nyonya Winata membelai kepala anaknya itu.
Lalu Tuan dan Nyonya Winata merapikan bekas ritual mereka dengan sangat rapih tak berbekas tanpa ada yang tau bahwa ada mayat yang terkubur didasar kolam.
Herdi menyerahkan kunci mobil pada Tuan Winata.
__ADS_1
"Kalian pulang lah dulu, masih ada yang harus aku benahi disini." ucap Herdi.
"Jangan terlalu lama anakku, besok kita pergi ke Jepang mencari pengganti Tania agar kau tak bersedih."
Herdi mengangguk.
Tuan dan Nyonya Winata masuk kedalam mobil sedan hitam, menyalakan mesin lali melambaikan tangannya dan melaju keluar gerbang dan hilang dari pandangan Herdi.
"Kau pikir semudah itu menyingkirkanku dari anakmu."
Ternyata sosok Jordi masih ada dalam tubuh Herdi. Tangannya mengeluarkan gunting dari saku celananya lalu tersenyum menyeringai. Dia melangkah masuk keruang kantornya. Menekan sesuatu dibalik rak kabinet yang tampak sama rata seperti dinding. Terbukalah dinding itu membentuk anak tangga kebawah, ruang bawah tanah yang dibuat Tuan dan Nyonya Winata itu memang disiapkan untuk ritual tertentu atas perintah iblis yang mengaku bernama Jordi yang sekarang mengendalikan tubuh Herdi.
Ponsel Herdi berdering.
"Ya dengan saya sendiri ada apa ya Pak?
"APA...??? bagaimana kondisi keduanya?"
"Tidak mungkin... tidak mungkin... saya akan segera kesana segera, terima kasih Pak."
Herdi meneteskan air mata nya mendengar berita kedua orang tuanya tewas seketika pada kecelakaan mobil barusan karena di duga rem mobilnya blong sehingga Tuan Winata tak dapat mengendalikan mobilnya lalu menabrak pembatas jalan dan berguling.
"Tidak mungkin... tidak mungkin... "
Meniru raut wajah sedih Herdi saat menerima telpon tadi.
"Ya mungkin saja dasar bodoh kau Herdi, kan aku yang merencanakannya... hahahhahaha..... ngomong-ngomong tampan juga aku rupanya."
Jordi yang masih merasuki tubuh Herdi memandang cermin di wastafel ruangan bawah tanah itu sambil tertawa puas.
"Oh iya, aku harus ke kantor polisi, baiklah Herdi aku istirahat dulu, kubiarkan kau keluar sekarang melihat ke dua orang tuamu untuk yang terakhir kalinya."
Ucap nya lalu menaiki anak tangga ruang bawah tanah itu menuju ke parkiran mobil dan melajukan Jeep hijaunya ke kantor polisi setempat.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading...