Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bertemu Hantu Ayu


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


Rupanya bisikan mereka terdengar dan membuat hantu perempuan itu menoleh. Dan betapa terkejutnya Tasya dan Dita saat melihat hantu itu tertawa menyeringai, lalu hantu itu bersiap menghampiri mereka dengan berlari.


Sontak saja Dita dan Tasya terkejut dan mundur beberapa langkah menyandarkan punggungnya. Sosok hantu perempuan dengan wajah rusak sebelah yang memperlihatkan tulang pipinya, sedang berlari menuju ke arah Dita dan Tasya.


Darah terus menetes dari wajah perempuan itu. Bahkan kulit wajahnya seperti hendak jatuh saat kencangnya ia berlari. Lalu, tiba-tiba ia berhenti dan tertawa menatap Dita dan Tasya.


"Hayo, masa kalian lupa sama aku?" ucapnya.


Dita dan Tasya saling bertatapan dan teringat sesuatu secara bersamaan.


"Susi....!" pekik Dita dan Tasya bersamaan.


Ketiganya berlonjak - lonjak kegirangan dan saling berteriak dengan serunya sampai membuat Pak Herdi merasa iri.


"Aku ikutan ya," pinta Pak Herdi yang langsung ikut melompat di antara mereka.


"Eh, Pak Herdi... Apa kabar? Duh makin ganteng aja jadi pocong," Susi memeluk Pak Herdi.


"Iya dong, saya mah jadi manusia atau pocong juga tetep ganteng..." ucapnya dengan nada sombong.


Anan, Doni dan Andri ke luar dari pintu apartemen berbarengan karena mendengar teriakan Dita dan Tasya.


"Pada ngapain tuh cewek-cewek?" tanya Andri.


"Astagfirullah, dia lagi aja masih di sini," ucap Doni yang langsung menutup pintunya dan kembali ke dalam.


"Udah yuk masuk!" perintah Anan.


"Lah, Elu belum jawab pertanyaan gue, itu pada ngapain mereka?" Andri masih bersikeras.


"Ketemu temen lama," sahut Anan.


"Maksudnya, temen lama gimana, hantu gitu?"


"Nah, itu tau mereka lagi ketemu sama hantu."


"Idih baru itu gue liat ada gitu manusia ketemu hantu bukannya kabur ini malah girang, ckckkckc...." Andri mengikuti Anan menuju ke dalam.


"Kamu masih gentayangan aja, Susi. Emangnya belum menemukan ketenangan?" tanya Dita.


"Tapi nih, aku belum ketemu pria yang tepat," jawab Susi.


"Gaya banget, belum ketemu pria yang tepat, lah itu hantu gepeng yang dulu kemana?" sahut Tasya.


"Apaan tuh hantu udah disayang-sayang sama aku, eh malah kabur sama Kuntilanak pohon yang di seberang sana!" ucap Susi dengan nada kesalnya.


"Beuh... berarti kamu kalah sama Kuntilanak, yah bikin malu aku aja nih, kamu kan didikan aku, Susi," sahut Pak Herdi ikut menimpali.


"Iya, ya, berarti didikan Bapak belum sepenuhnya membuat saya menang, bantuin lagi ya, Pak. Biar saya cantik gak gelambiran gini kulit pipinya," ucap Susi.


"Duh ada-ada aja," ucap Dita.


"Eh, sebentar. Aku lupa kasih tau, di apartemen kamu yang itu, hantu Mbak -nya judes, galak, hiiyyy nyebelin, nakutin deh," ucap Susi.


"Hantu yang katanya bunuh diri itu?" tanya Dita.


"Iya, waktu hidupnya aja dia sering teriak-teriak sendiri eh malah bablas sampai bunuh diri," ucap Susi.

__ADS_1


"Hmmm biarkan aja kalau dia gak ganggu aku juga gak akan ganggu," ucap Dita lalu membiarkan Pak Herdi berbincang-bincang bersama Susi.


"Bunda masa tadi ada Tante yang tangannya berdarah mau ngajak Anta main terbang-terbangan jadi pesawat," ucap Anta mengadu pada Dita yang baru saja masuk.


Anta menunjuk sosok wanita yang langsung bersembunyi menuju kamar Tante Dewi.


Di tangan hantu itu penuh dengan sayatan luka yang masih saja mengeluarkan darah di pergelangan tangan kirinya.


"Maksudnya, gimana?" tanya Dita masih yak mengerti.


"Itu, si Anta hampir aja jatuh ke dorong ke beranda situ, untung aja Anan cepat tanggap," sahut Tante Dewi.


"Jadi maksudnya ada yang iseng sama Anta gitu, Yanda?" Dita menoleh pada Anan yang menjawab dengan anggukan.


"Hmmm... cari gara-gara nih berati, nanti kalau dia ngajak Anta main lagi, jangan mau ya, Nta. Dia mau buat kamu celaka nih kayaknya."


Dita bergegas menuju kamar Tante Dewi dengan langkah kesal.


Tiba-tiba saat Dita hendak masuk ke dalam kamar sosok hantu perempuan berteriak dengan kencangnya.


"Pergi...!!" pekiknya.


"Mau ngapain usir saya pergi?" tanya Dita.


Sementara di belakangnya Tasya dan Tante Dewi saling berpelukan. Mereka melangkah sedikit demi sedikit di belakang tubuh Andri yang ingin melihat dari dekat.


Teriakan hantu tadi sangat membuat telinganya Dita berdengung.


"Kenapa sih, Mbak? teriak-teriak gak jelas gitu?" tanya Dita.


"Kalian mau apa ke sini, mengganggu ketenanganku saja," keluh sosok hantu itu.


"Dih, semasa hidupnya aja suka teriak-teriak ganggu orang lain, kan? terus sekarang kedatangan kita kayak gini kamu pikir enggak ganggu orang lain?" tanya Dita.


"Urusanku sih bukan, masalahnya tadi kamu mau membuat anakku mati dengan cara terjun dari sini kan? dan itu sama aja menganggu dan membuatmu menjadikan itu urusanku." ucap Dita dengan nada mengancam.


"Baiklah... maafkan aku, biasanya aku gak pernah mau mengalah pada manusia, dari aku hidup aja aku gak bakal ngalah, tapi entah kenapa kok aki takut ya sama kamu," hantu itu.


"Siapa nama, kamu?" tanya Dita.


"Namaku, Ayu."


"Oke sesuai sama wajah kamu, Ayu."


"Ya, dong aku mah cakep sih, pujaan banyak pria, dan ingat aja aku tuh ketua asosiasi perkumpulan pelakor cerdas ibukota," ucapnya dengan nada sombong.


"Idih ketua asosiasi abal-abal aja bangga, sih gak tau malu sama gaun pengantin, udah kekecilan sampai perut y ke cetak kayak tas pinggang itu malah..."


Hantu Ayu langsung menghampiri Dita dan berusaha untuk mencekiknya. Anan langsung menolong Dita agar kuat menjalani perjalanan bertemu setan ini padahal di hati Tasya tetep saja ia merasa takut.


"Hayo ngaku kamu mau coba bunuh Anta?" tanya Dita.


"Aku gak suka aja sama dia, habisnya cuma dia anak kecil yang aku gangguin bukannya takut malah ngajak main," sahut hantu itu.


"Ya iyalah, secara Anta gitu loh dilawan," sahut Tasya.


Hantu perempuan itu melirik ke arah Tasya langsung bersembunyi di balik tubuh mungil Anta.


"Kenapa, sih Tante, ih... Aku geli tau!" seru Anta mencoba menepis rambut di kepala Tasya yang terasa menempel di punggungnya.


"Pinjem bentar," bisik Tasya.


"Lalu kenapa kamu masih gentayangan," tanya Dita.

__ADS_1


"Pokoknya aku gak suka manusia baik, karena menurutku suami wanita itu jahat," ucap Ayu.


"Jahat gimana?" tanya Dita.


"Iya jahat, nih aku ceritain," ucap Ayu membuat semua pasang mata di sana yang tak tau keberadaannya sedang mengamati Dita.


"Pada ngeliatin kamu tuh, Ta!" tunjuk Ayu.


"Oh, biarin aja udah bisa kok diliatin kayak gitu, ayo dong cerita kenapa kamu bunuh diri?" pinta Dita yang masih penasaran.


"Aku itu memang jahat, aku hidup dari uang bulanan om senang yang memelihara aku di sini, namanya Teddy."


"Memelihara? emangnya kamu hewan?" tanya Dita.


"Ya habisnya aku hanya mengandalkan uang jajan pemberiannya dan kerjaku hanya melayaninya di kasur karena tak puas dengan pelayanan istrinya," ucap Ayu.


"Wah, kalau urusan kagak gini mending kita main game di kamar aja ya, Nta." ucap Anan seraya melangkah menuju kamar Tante Dewi dan semua game bersama Tante Dewi Anta.


"Gue gimana, Nan?" tanya Andri.


"Kalau elu takut ada di situ, coba pindah ke Apartemen sebelah," sahut Anan.


"Enggak mau ah, udah biarin aku begini aja."


Ayu menceritakan kejadian sebelum ia meninggal karena ia berencana bertemu Om Teddy. Namun, pria berusia empat puluh tahun itu malah mengambil kesempatan dan membunuh Ayu. Karena istrinya sudah mengetahui keberadaan Ayu dan parahnya lagi Ayu sangat mencintai Teddy dan terobsesi ingin menghilangkan istri sah Pak Teddy.


Akhirnya malam itu setelah Teddy dan Ayu lelah bercinta ditambah dengan penambah obat kuat, Teddy berusaha untuk membekap wajah Ayu dengan bantal sampai kehabisan nafas.


Karena panik dan ketakutan mulai melanda, Teddy menyayat pergelangan tangan kiri Ayu sehingga membuat polisi berasumsi itu hanyalah bunuh diri.


Dan kini dendam Ayu agar ia tenang adalah mencari Teddy dan membunuhnya.


"Kalau soal pembunuhan aku gak mau ikut-ikutan ya, kalau bisa sih jangan ada yang dibunuh, kan yang salah kamu juga kenapa merintis karir jadi pelakor," ucap Dita.


"Yeee itu tuh trend tau gak, dan grup perkumpulan ku benar-benar ada pembelajaran dan tahapan saat menjadi pelakor," ucap Ayu.


"Maksudnya?"


"Ya ada tingkatan level buat tuh cewek dan penghasilan yang di dapat juga beda pastinya," ucap Ayu.


"Hmmmn kalau bahas soal selingkuh, kayak ada yang perhatiin, tapi sedih gitu," ucap Dita yang menoleh pada Tante Dewi.


Wanita itu langsung berpura-pura tak menyimak padahal sedari tadi memperhatikan.


*****


Bersambung...


Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘

__ADS_1


__ADS_2