Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Klinik


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


*****


Hari mulai larut malam dan Anta sudah meronta kelaparan. Untung saja Anan menemukan sebuah klinik di pertengahan jalan yang di seberangnya ada rumah makan sederhana. Sahid segera membawa Arga ke dalam klinik untuk mendapat pengobatan.


"Bagaimana sembari menunggu Arga kita makan dulu," ucap Dita.


"Kamu mau mengajak saya makan malam?" tanya Ibu Eva dengan raut wajah tak percaya.


"Iya ibu, ayo saya yang bayar," ucap Dita.


"Ta, nanti pas dia pesen makan jangan lupa kasih sianida ya kaya waktu dia bunuh saya dulu," bisik Pak Herdi di samping Dita. Anan menahan tawanya kala melihat Pak Herdi masih saja memendam dendam dengan perbuatan ibu Eva dulu.


"Kamu kalau mau ketawa, ketawa aja dasar lontong kisut," ucap Pak Herdi bersungut-sungut.


"Hahahaha... tuh puas gue ketawanya," tawa Anan.


"Ah sebel saya, nanti kalau butuh bantuan panggil ya Ta, saya mau jalan-jalan keliling dulu," ucap Pak Herdi yang sudah terlanjur kesal lalu menghilang. Dita hanya tertawa kecil melihat tingkah Pak Herdi.


Ken menoleh ke arah Anan dengan perasaan bingung, entah apa yang ditertawakan Anan batinnya. Sementara Dita dan Anta sedang memilih menu makanan di dalam rumah makan itu.


"Bunda Anta mau nasi goreng sosis, kentang goreng, susu cokelat panas, lava cake, sama air putih," pinta Anta.


"Ckckckck... kok makannya banyak ya?" tanya Ibu Eva dengan herannya.


"Ya emang gitu bu kita suka makan banyak hehehe, mbak aku pesen makanan yang sama ya sama anak ini, yanda kamu mau makan apa?" tanya Dita menoleh ke Anan.


"Nasi goreng sama teh manis aja tapi telurnya di dadar," ucap Anan.


"Saya pizza, kentang goreng, dua kaleng soda untuk berdua sama Ken," ucap ibu Eva.


"Oke mbak tuh pesanannya, segera kirim kesini ya mbak," pinta Dita menyerahkan menu tersebut pada si pelayan.


"Apa Herdi masih marah pada saya?" tanya Ibu Eva.


"Masih..." sahut Anan.


"Betulkah? apa sekarang dia di sini sedang melotot ke arah saya?" tanya Ibu Eva lagi.


"Dia sudah menghilang, tetapi dia sudah memaafkan kok, asal ibu benar bertaubat dan menyerahkan diri," ucap Dita.

__ADS_1


"Iya, saya akan melakukannya," ucap Ibu Eva.


"Maaf saya mau ke toilet ya," pinta Ken lalu beranjak menuju ke toilet. Sebenarnya Ken merasa sangat takut jika ia harus berada di penjara jadi dia putuskan untuk kabur dari sana.


Ken buru-buru keluar menuju jalan raya dan menemukan sebuah sedan berwarna biru untuk dia tumpangi. Pak Herdi sekilas melihat kejadian itu tapi karena dia tak yakin, dia memutuskan untuk mengunjungi Arga di klinik.


"Halo..." pak Herdi menyapa Arga yang sudah lebih baik tubuhnya berkeringat dan wajahnya sudah terlihat segar. Sahid tertidur menemani Arga di sampingnya.


"Halo om," Arga tersenyum dengan manisnya.


"Kamu udah makan?" tanya Pak Herdi.


"Sudah, aku tadi makan bubur sampai habis, eh om tadi aku mimpi dimakan raksasa besar bertanduk seperti kambing di jembatan hantu, ih serem banget, terus om juga menghilang musnah lalu abi juga mati, untung cuma mimpi," ucap Arga.


Pak Herdi hanya tersenyum, sebenarnya dia juga tahu kalau cerita Arga barusan itu bukan mimpi. Dia juga mengalaminya seperti nyata, yang entah kenapa dia tiba-tiba kembali ke gudang. Tadinya dia ingin tanyakan itu ke Dita, namun dia urungkan niatnya. Pak Herdi takut malah Dita ketakutan mendengarnya. Namun, ketika Arga menceritakan hal yang sama, sekarang dia yakin kalau dia tak bermimpi.


Mungkin ada keajaiban yang datang pada keluarga Dita yang berimbas pada ku.


"Tante Dita dimana om?" tanya Arga.


"Ada di rumah makan depan, sebaiknya kamu tidur dulu, nanti om balik lagi ke sini ya," ucap Pak Herdi sambil menyelimuti Arga lalu melompat Pergi.


Seorang pria misterius melintas di hadapan Pak Herdi yang tak terlihat. Gerak geriknya mencurigakan. Pria misterius itu bertemu dengan seorang dokter di klinik tersebut. Rasa penasaran Pak Herdi membawanya melompat menghampiri si pria misterius dan dokter tersebut yang dia ingin dengar percakapannya.


"Hebat juga si Anu, oh iya beritahu dia untuk menyisakan dua ginjal padaku, ada pasien yang membutuhkan di rumah sakit kota sana," ucap sang dokter.


"Beres nanti ku beritahukan, Tuan Ming juga butuh kaki-kaki yang kuat untuk membangun pabrik terbarunya," ucap pria misterius itu.


"Bagus, laksanakan kalau begitu, oh iya bagaimana upacara pemanggilan Yang Mulia Iblis Ro, apa berhasil?" tanya sang dokter.


"Sepertinya tidak, seseorang yang tau bagaimana cara memanggil Yang Mulia Iblis Ro, tiba-tiba tak jua datang ke perkampungan," jawab pria misterius itu.


"Lalu apa identitas wanita tersebut sudah kau ketahui, jadi tak usah kita tunggu dia datang kalau perlu langsung kita bawa ke perkampungan untuk memanggil Yang Mulia," ucap sang dokter.


"Sayang sekali aku tidak tahu, neneknya Anu yang tau identitasnya, akan tetapi nenek kan sedang sakit dan mengalami struk secara tiba-tiba, padahal beliau sehat-sehat saja."


"Oh benarkah, kenapa ya nenek bisa sakit tiba-tiba? ya sudah kalau begitu, baiklah cepat lakukan dengan rapih untuk mengeksekusi korban bersama Anu, ingat aku butuh sepasang ginjal."


"Iya aku ingat, aku pamit dulu ya, ini jantung yang kau pesan," pria misterius itu menyerahkan cooler bag yang berisi jantung manusia.


Pak Herdi bergegas untuk memberitahukan Dita tentang apa yang dia lihat. Dia ingin Dita dan lainnya segera pergi dari tempat ini begitu juga dengan Arga dan Sahid.


***

__ADS_1


"Hai tuan siapa namamu?" tanya seorang wanita yang memberi tumpangan pada Ken.


"Namaku Ken, namamu siapa?" Ken balik bertanya.


"Namaku Anu," ucapnya sambil fokus menyetir.


"Bawa aku ke kota ya, aku mau ke bandara lalu pergi dari negeri ini," ucap Ken.


"Kenapa kau mau pergi dari negeri ini?" tanya Anu.


"Aku tak ingin di penjara, jadi kau tau kan kalau aku tak mau di penjara itu artinya aku bukan orang baik, jadi serahkan barang berhargamu padaku!" Ken berusaha mengancam Anu.


Wajah Anu ketakutan mendengar penuturan Ken membuat pria besar itu makin tersenyum puas.


"Kita berhenti di depan atm, aku akan ambil uang untukmu," ucap Anu.


"Hahaha kau pikir aku akan percaya, sudah jangan berhenti, lekas bawa aku ke bandara di kota!" pinta Ken.


"Dasar bodoh, itu kan jauh butuh dua hari untuk sampai sana, tapi aku tahu jalan lebih cepat menuju kota," ucap Anu wajahnya kini berubah, raut yang tadi ketakutan jadi tersenyum menyeringai.


"Ya sudah cepat, terserah mau lewat mana!" pinta Ken.


Anu melajukan mobil sedannya menuju jembatan besar. Jembatan yang di buat Suku Ro.


"Kenapa kita lewat sini?" tanya Ken mulai takut dengan asap kabut yang menyelimuti jembatan.


"Karena ini jalan pintas lebih cepat," ucap Anu yang bersenandung dengan siulannya.


Kini wajah Ken yang rautnya berubah jadi pucat pasi dan ketakutan.


*******


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2