Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Mutiara Hitam


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


"Ayo antar aku ke restoran," ucap Dita pada Pak Herdi.


"Memangnya kenapa Ta?" tanyanya sambil melompat di belakang Dita.


"Masa Anan kena parasit gitu punggungnya ada belatung, nah aku takut kalau itu berasal dari si Ratu Sanca," ucap Dita.


"Lalu mau kamu apakan?"


"Mau aku mandiin lah!"


"Buaaahaahaa... kamu mau mandiin ratu ular? haduh perut saya sakit Ta ketawa terus gini."


"Gak usah ketawa kalau gak mah ikut ya udah aku sendiri aja!" Dita bergegas menuju ke dalam mobilnya.


"Gitu aja marah sih Ta, terus Anan gak ikut?" tanya Pak Herdi.


"Biarkan dia istirahat obat dari dokter kan ada obat tidurnya buat bahan sakit sama gatel dia soalnya," jawab Dita seraya menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju restoran miliknya dan Anan kini.


Setelah menempuh lima belas menit perjalanan dan hampir sampai di restoran milik Dita, tiba-tiba ia di kejutkan sesuatu.


"Bunda..."


Dita tiba-tiba menekan rem secara mendadak karenabterantuk dengan keberadaan Anta di kursi belakang mobilnya.


"Astaga Anta, kamu ngapain ada di situ?" Dita menoleh ke belakangnya.


"Hai Ta..." sapa Tasya yang juga ikut bersama Anta muncul dari kursi belakang setelah tadi bersembunyi.


"Kok ada kamu juga, Sya?" pekik Dita menatap tajam ke arah Tasya dan Anta bergantian.


"Hehehe tadi kan aku denger kamu mau ke restoran sendiri, eh gak sendiri juga sih kan kamu sama hantu ini, tapi kalau manusia yang lihat pasti dikiranya kamu sendirian kan, nah terus..."


"Cepetan kamu mau ngomong apa?"


"Ummmm... mau ikut nemenin kamu Ta, eh si Anta juga ikut-ikutan masa, kata dia maksa tadi," ucap Tasya menunjuk ke arah Anta.


"Kan aku libur sih, besok kan hari minggu aku kan gak sekolah wleeek..." Anta menjulurkan lidahnya ke arah Tasya yang langsung mencubit pipi Anta dengan gemas.


"Ah kalian ini udah terlanjur dikit lagi sampe ya udah ikut tapi awas ya kalau kalian berulah." Dita kembali fokus menyetir setelah mengancam dua gadis di belakangnya tersebut.


Sesampainya di halaman restoran milik Anan, Anta melihat sesuatu bergerak dan menghilang di balik dinding restoran.


"Itu apa ya bunda nempel di situ, tapi udah hilang?" tanya Anta menarik ujung jaket milik bundanya itu.


"Mana bunda tau kan kata kamu udah hilang," sahut Dita seraya menyerahkan sekantung barang-barang belanjaan Dita di kertas kopi tersebut.


"Ini apa sih Ta, mana banyak banget lagi, wangi lagi, kok kayak sabun mandi ya sama samponya?"


Tanya Tasya.


"Itu memang sabun sama sampo," sahut Dita membuka pintu restoran untuk mereka masuki.

__ADS_1


"Segini banyak buat apa Ta?"


"Aku mau mandiin Ratu Sanca."


"Apa?! kamu mau mandiin Ratu Sanca? yang bener aja!" ucap tasya membayangkan bagaimana caranya memandikan ular besar terlebih yang mau di mandikan itu seorang Ratu Ular.


Dita hanya tersenyum saat menoleh ke arah Tasya.


"ih Dita ada-ada aja," gumam Tasya.


Papan besar penuh lampu kecil di sekelilingnya sudah terpasang di dinding restoran di hadapan mereka.


"Spicy Kitchen Ananta"


"Berarti makanannya serba pedas dong, Ta?" Tabya Tasya saat mengamati tulisan besar di papan nama yang berkelip-kelip itu.


"Yup betul, aneka sambal ada di sini sebagai pelengkap makanan dengan bahan ayam, daging sapi, bebek juga ada," jawab Dita seraya memasuki restoran miliknya.


Ratu Sanca terkapar di lantai tak berdaya saat Dita datang.


"Jangan sentuh! aku gak mau kalian sentuh dia!" Dita menyalakan lampu di restoran tersebut.


"Kenapa Ta?" tanya Tasya yang langsung menarik tangan Anta.


"Anan kan kena parasit, di punggungnya banyak belatung tadi, yang aku takutkan parasit itu muncul dari dia," ucap Dita menunjuk Ratu Sanca.


"Kamu jangan buruk sangka gitu, Ta."


Pak Herdi menyela tuduhan Dita seraya mengamati Ratu Sanca yang terkapar tak berdaya itu.


"Lalu siapa lagi pak, di restoran ini kan cuma ada dia." Dita menunjuk ke arah sang Ratu Ular tersebut.


"Anta stop! gak boleh deket ke sana!" Dita langsung mencegah Anta.


"Beresin Sya, kamu semprot dulu pakai cairan pembersih sebelum kamu buang," pinta Dita.


"Oke, Ta."


"Pakai sarung tangan kayak gini, Sya!" Dita menunjukkan tangannya yang memakai sarung tangan berbahan lateks pada Tasya.


"Oh, oke siap!" Sahut Tasya segera melaksanakan perintah Dita.


"Ini Ratu Sanca tidur apa pingsan sih?" tanya Dita menyentuh pipi sang Ratu.


"Coba minggir, aku lihat dulu."


Plak... Tamparan keras mendarat di pipi sang Ratu.


"Awww... sakit tau!" pekik Sang Ratu Ular yang langsung tersadar akibat tamparan keras dari Pak Herdi.


"Nih si Dita mau bangunin bingung caranya jadi di tampar," ucap Pak Herdi menyalahkan Dita.


"Heh hantu bungkus, sembarangan aja nyalahin aku, jelas-jelas pak Herdi yang nampar," ucap Dita langsung mengelak.


"Hehehe... iya saya yang nampar, maaf ratu gak sengaja habis gak bangun sih udah di colek pipinya," ucap Pak Herdi seraya tersenyum malu memperlihatkan giginya yang menghitam.


"Jangan dekati aku, kalian pergilah, mau apa pula kalian malam-malam kesini!" sahut Ratu Sanca mencoba bergerak menyeret tubuhnya tapi tak bisa ia terlalu lemah.


"Apa yang terjadi?" tanya Dita penasaran.

__ADS_1


"Sudahlah kalian pergilah, kau hanya akan menertawai aku jika tahu kejadiannya, pergi!"


"Aku tak akan pergi sampai aku tahu apa yang menimpamu, lagi pula aku tak akan menertawakanmu," ucap Dita meyakinkan sang Ratu.


"Kau pasti akan menertawakan diriku, apalagi saat kau tahu aku kalah telak oleh si cacing sialan itu!" ucap Ratu Sanca dengan nada ketusnya.


"Cacing milik tuan Worm? dia menyerangmu? apa kau terluka, apa ada yang sakit?" tanya Dita dengan nada tulus sambil memperhatikan kondisi sang ratu ular tersebut.


"Kenapa kau tanyakan keadaanku? bukankah semua manusia hanya memperalat kami para kaum siluman, mereka memperkerjakan kami untuk memperkaya mereka, setelah kami tak bisa membuat mereka lebih kaya, mereka langsung mencampakkan kami," ucap Ratu Sanca dengan nada sedih.


"Wah kau belum mengenal Dita ya, dia bukan manusia serakah seperti itu. Aku pikir aku berada di sampingnya dan menjaganya karena dia memperalat aku? jika itu yang ada di pikiranmu, kau salah. Aku berada di sisi Dita dan Anta karena mereka sangat baik, mereka selalu peduli terhadap sesama bahkan suka menolong para hantu."


Pak Herdi menepuk bahu Dita.


"Satu hal lagi, meskipun sering datang keburukan di sekitarnya tapi setelah itu selalu ada kebaikan yang akan melindungi dan menghampirinya," Ucap Pak Herdi seraya mereka bahu Dita dengan bangga.


"Aww... sakit pak!" sahut Dita menepis tangan Pak Herdi.


"Eh maaf, Ta."


"Kau yakin tidak ada yang sakit?" tanya Dita.


Ratu Sanca terdiam.


"Tadinya aku ke sini mau membersihkan tubuhmu supaya bersih, wangi, tak ada jamur maupun parasit yang menempel di tubuhmu," ucap Dita.


"Aku... Aku... huhuhuhuhu," Ratu Sanca itu menangis.


Dita segera memeluknya, tak ada lagi ketakutan kalau ia akan tertular parasit di tubuhnya sama seperti Anan.


"Kenapa kau memelukku?" tanya Ratu Sanca.


"Siapa tau ini akan membuat hatimu lebih baik," sahut Dita.


Tiba-tiba dari air mata Ratu Sanca mengalir butiran mutiara hitam bukannya bulir cair yang bening air mata.


"Astaga... apa ini?" pekik Dita yang terkejut melihat mutiara tersebut berjatuhan.


"Lho, kenapa aku bisa menangis mutiara lagi ya?" gumam sang Ratu melepas pelukan Dita.


Anta sudah sibuk mengumpulkan mutiara hitam yang berjatuhan di lantai itu dengan senangnya.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2