
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Sebel banget ih sama Mark!" pekik Tasya memasuki dapur menghampiri Dita yang sudah selesai dengan nasi gorengnya.
"Kamu jangan bilang Anan dan siapapun ya soal Mark," pinta Dita.
"Oke siap, aku juga ngerti kok, Ta."
"Aku denger, tapi tentang apa ya?" celetuk Pak Herdi.
"Bukan urusan Pocong!" Tasya menatap Pak Herdi tajam membuat sosok pocong itu mundur lalu duduk di kursi meja.
Tante Dewi datang dengan wajah cemberut menahan tangisnya. Ia duduk di kursi meja makan dengan lesu.
"Kok hawanya dingin ya duduk di sini?" gumam Tante Dewi.
"Jangan duduk di situ, ada Pak Herdi," sahut Dita.
"Astaga... maaf ya Pak Herdi, maaf banget." ucap Tante Dewi seraya memberi hormat dengan tangannya yang menutup.
Tante Dewi berpindah tempat duduk kemudian.
"Kenapa tante cantik?" tanya Dita menghampiri Tante Dewi yang sedang menangis itu.
"Sya, tolong siapin bekal Anta, di bentuk!" pinta Dita .
"Oke." Tasya menunjukkan ibu jarinya ke arah Dita.
"Kenapa? sekarang coba ceritain!" Dita memberikan secangkir teh hangat pada Tante Dewi.
"Kamu tau gak kalau om Kevin gak pulang?" tanya Tante Dewi menyeka air matanya yang hampir tumpah dari kelopaknya.
"Enggak tau!" sahut Dita dan Tasya bersamaan.
"Kok Tasya ikutan jawab sih?" Tante Dewi menoleh pada Tasya.
"Hehehe ikut nyimak tante," sahut Tasya.
"Terus emangnya kemana Om Kevin sampai gak pulang, tante kangen ya?" tanya Dita.
"Huaaaaaa..." Tangis tante Dewi meledak.
"Kok nangis tante? cup cup cup..." ucap Dita sambil menepuk punggung tante Dewi.
"Coba lihat deh ini fotonya," ucap Tante Dewi menyerahkan layar ponselnya.
"Ini foto om Kevin kan sama temen-temennya, oh mereka pergi reunian ke Pulau Hijau, lalu kenapa?" tanya Dita.
"Liat yang bener!" Tante Dewi menunjuk para perempuan yang berkerumun di samping foto om Kevin dan teman-teman prianya.
"Gak ngerti deh ih, tapi bentar kok kenal ya sama cewe ini, ini kan Tina, ya kan?" tanya Dita.
"Nah itu dia, huhuhu..."
"Lho terus kenapa sama Tina, berarti mereka temen kuliah dong ya?" tanya Tasya yang siap dengan bekal Anta lalu di letakkannya ke atas meja.
"Bukan cuma temen kuliah, aku baru tau ternyata Tina sama Om Kevin itu mantan, liat deh komentar di sosial medianya Tina," ucap Tante Dewi lalu membuka aplikasi sosial media milik Tina.
__ADS_1
"Tuh ada yang komentar pas foto Tina bareng sama Om Kevin dan dua temen ceweknya," tante Dewi menunjuk ke arah komentar tersebut.
"Cie foto bareng mantan..."
Tasya dan Dita mengucapkannya secara bersamaan lalu keduanya saling menatap.
"Jadi maksud tante si Tina ini mantannya..."
"Pakai ditanya lagi ah!" Tasya mencubit pipi Dita menghentikan ucapannya.
"Bunda liat deh masa yanda pinggangnya bolong," Anta menunjuk pinggang Anan yang tertutup kemeja bermotif kotak-kotak itu.
"Iya nih, mana gatal lagi," keluh Anan.
"Astagfirullah yanda, kok jadi kayak gini sih?" Dita langsung menghampiri Anan.
"Aku juga gak tau, habis aku mandi tadi tau-tau gatel eh bolong gini," ucap Anan menunjukkan bagian pinggangnya yang bolong.
Tante Dewi dan Tasya yang tak sengaja melihat pinggang Anan yang berongga dan terdapat belatung itu, langsung berebut menuju wastafel karena keduanya merasa mual dan hendak muntah.
"Wah pada jahat nih sama aku, segitu jijiknya apa sama aku?" gumam Anan menggerutu.
"Ya udah kita ke dokter dulu, Anta bawa bekal kamu tuh di atas meja." Dita menunjuk ke arah meja makan.
"Siap bunda!"
"Sya hari ini kamu ke restoran ya, ada audisi juru masak di sana," ucap Dita.
"Lho bukannya kamu yang masak?" tanya Tasya.
"Aku takutnya gak bisa selalu ada di sana makanya butuh bantuan, nanti kamu sama Jerry tolong pilih mana yang cocok ya," pinta Dita.
"Oke deh, kalau gitu aku bangunin Jerry dulu ya," ucap Tasya lalu melangkah pergi menuju rumah kecil Jerry di dekat kolam renang.
"Gimana yanda?" tanya Dita.
"Ya udah kita coba ganti dokter, biar bagaimanapun juga aku masih mau mengikuti tindakan medis daripada jantung Ratu Sanca," ucap Anan.
"Ya udah kita antar Anta sekolah dulu ya," ucap Dita lalu pamit pada Tante Dewi.
Di halaman rumah Anan ternyata Shinta sudah menunggunya dengan membawa sekotak kue pie di tangannya.
"Halo... pak Manan apa kabar?" tanya Shinta yang memberikan senyum manis kepada Anan.
"Namanya Anan jangan panggil Manan lagi," ucap Dita.
"Ih suka-suka aku ih," sahut Shinta.
"Tapi Manan udah meninggal, jadi panggil nya Anan, please deh jangan bandel," Dita mulai sewot pada Shinta.
Anta meraih kotak kue pie tersebut dah berucap, "Makasih ya tante."
"Sama-sama sayang, pastiin ya papinya makan kuenya."
"Papi? siapa papi?" tanya Anta dengan polosnya.
"Ini papi kamu," Shinta menunjuk ke arah Anan.
"Ini mah yanda bukan papi," sahut Anta.
"Iya sama aja, nanti kalau udah sama aku, panggilannya papi, dah semua..." Shinta langsung pergi dengan melambaikan tangannya menuju rumahnya.
"Ihssss kalau gak ada Anta udah aku jambak tuh perempuan," Dita bersungut-sungut.
__ADS_1
"Sabar bunda, sabar, ini ada Anta," sahut Anta menepuk perut Dita.
"Yang di tepuk dadanya atau punggungnya, Nta," ucap Anan mencontohkan menepuk punggung Dita.
"Anta kan gak sampai, ih yanda gimana sih, Anta mau makan ah kuenya."
"Jangan...!!!" Dita dan Anan berucap bersamaan mencegah Anta.
Mereka teringat pemberian Shinta kala itu.
"Sini Anta, nanti kita kasih petugas kebersihan," ucap Dita.
"Kalau racun gimana bunda?" tanya Anan.
"Masa iya dia mau ngeracunin kamu, gak mungkin lah, yang aku takutkan dia mau pelet kamu sama Anta supaya jatuh cinta sama dia," ucap Dita.
"Oh iya, iya, tapi gak mungkin lah aku jatuh cinta sama dia, kan aku cintanya sama kamu. I love you bunda." Anan mencolek dagu istrinya itu dengan gemas.
"I love you too, yanda..." balas Dita.
"Ih bunda sama yanda mah kalau kata teman Anta nih ya, Lebay!"
Anan dan Dita tertawa bersamaan lalu masuk ke dalam mobil menuju sekolah Anta.
Di tengah jalan, Dita melihat petugas pembersih sampah di sekitar kompleksnya.
"Berhenti di depan, yanda!" pinta Dita.
"Oke."
Dita turun dari mobilnya dan menghampiri pertugas kebersihan tersebut.
"Hai Pak Hans, ini ada hadiah dari Ibu Shinta, penghuni baru di seberang rumah saya itu," ucap Dita.
"Oh iya, terima kasih banyak ya nyonya." Petugas kebersihan itu menerima sekotak kue pie yang tadi Shinta berikan.
Dita kembali masuk ke dalam mobil setelah pamit.
"Kenapa sih bunda kuenya dikasihkan ke Pak Hans, aku kan mau kuenya?" rengek Anta.
"Gak enak nanti aja bunda beliin yang baru ya."
"Anta mau tiga ya kuenya."
Dita dan Anan langsung menepuk dahinya sendiri bersamaan.
******
Bersambung ya...
Mau kasih Info nih Vie baru aja release novel baru judulnya "Diculik Cinta" .
Jangan lupa mampir ya, beri like dan komen.
Mampir juga ke
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘😘