Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Resah


__ADS_3

Dokter sudah datang. Kini, saatnya untuk membuka perban operasi yang menutupi seluruh permukaan wajah Anjani yang baru saja di operasi dua hari yang lalu.


"Kita lihat ya hasilnya. Semoga saja, tidak mengecewakan," kata dokter yang berwajah klimis itu. Mirip sekali dengan para artis Korea yang sering Anjani lihat di televisi. Padahal, Anjani yakin, jika usia dokter ini, sudah setengah abad, atau bisa jadi malah lebih.


"Ya Dok. Jika ada yang gagal, boleh juga minta wajah orang Korea sini, siapa tahu, Dokter lebih ahli dengan wajah orang asli Korea dari pada Indonesia. Nanti, Saya jadi lebih cantik lagi, hehehe..." jawab Anjani dengan bercanda, agar tidak terlalu tegang, karena menantikan hasil dari operasi wajah dia lakukan. Sekarang saatnya untuk membuktikannya.


"Saya suka wajah-wajah manis dari wanita Indonesia. Natural dan eksotik. Dulu, saat Saya masih muda, pacar Saya juga dari Indonesia. Sayangnya, kami tidak berjodoh." Dokter tersebut, justru bercerita tentang masa mudanya dulu. Entah apa maksudnya, tapi Elang dan Anjani, hanya menanggapinya dengan mengangguk saja, tanpa berkomentar apa-apa.


"Kita berdoa semoga wajah ayu anda bisa kembali lagi," kata dokter lagi.


Dengan deg-degan, Anjani dan Elang menantikan detik demi detik dibukanya perban yang menutupi seluruh permukaan wajah Anjani.


"Sus, tolong kacanya!" dokter meminta pada suster yang menjadi asistennya, yang membawa kaca agar bisa lebih mendekat, supaya Anjani bisa bercermin.


Elang, tersenyum melihat wajah Anjani yang baru. Meskipun dia sudah melihat fotonya Anjani terlebih dulu kemarin itu, yang digunakan untuk contoh wajah sewaktu mau di operasi, Elang, tetap merasa ini sebuah kejutan. Wajah cantik Anjani, kembali dan memang benar-benar cantik.


Anjani, yang masih dalam keadaan terpejam, belum melihat wajahnya sendiri.


"Bukalah mata Anda Nyonya, dan lihatlah di cermin. Wajah Anda sudah kembali seperti dulu lagi," kata dokter, meminta Anjani untuk membuat matanya yang terpejam.


Dengan hati-hati dan hati yang terasa tidak karuan, Anjani membuka matanya perlahan-lahan. Dia tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Anjani terisak, dalam kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.


"Mas. Aku sudah tidak buruk rupa lagi," kata Anjani dengan mata berkaca-kaca, melihat ke arah Elang, suaminya itu.


"Iya. Kamu sudah kembali cantik, seperti sebelum kecelakaan itu terjadi," sahut Elang mendekat ke arah tempat tidur Anjani.


"Mas. Terima kasih banyak ya Mas," kata Anjani lagi, sambil menggenggam tangan Elang.


"Iya, sama-sama Jani."


Elang, ikut mengenggam tangan Anjani juga Dia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Jani. Elang pun akhirnya memeluk Anjani, agar bisa menyalurkan rasa bahagia itu.


"Baiklah. Saya permisi kalau begitu. Untuk segala sesuatunya, tidak ada yang perlu dipantang, hanya saja, jangan berada pada suhu panas yang berlebihan, karena itu akan berpengaruh pada kulit baru anda Nyonya. Bukan apa-apa, di Indonesia kadang suhu cuacanya bisa sangat panas jika sedang musim kemarau."


Anjani, mengangguk mengiyakan nasehat dan pesan dari dokter tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih Dokter," kata Elang, mewakili Anjani yang masih terisak dalam kebahagiaannya.


*****


Sehari setelah keluar dari rumah sakit, mereka berdua, Anjani dan Elang, menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar kota Seoul Korea.


Mereka berdua ke menara Seoul yang terkenal itu. Melihat panorama kita dan mencoba berbagai menu makanan khas daerah Korea yang banyak tersaji di sana, kemudian mengunjungi istana Gyeongbokgung palace yang sangat indah.


"Mas beli sesuatu untuk Mbak Adhis Mas," kata Anjani, mengingatkan Elang tentang Adhisti.


"Apa ya yang bagus?" tanya Elang bingung, saat mereka sedang berjalan-jalan di 'Malioboro'_nya Korea.


"Apa saja yang penting khas Korea kan Mas," jawab Anjani, memberikan usulan.


"Iya. Semoga dia suka."


Akhirnya, Elang membelikan beberapa pernak pernik lucu khas Korea, yaitu tas , sepatu dan baju yang akan membuat Adhisti, seakan-akan berada di Korea nantinya.


"Kamu tidak mau beli juga?" tanya Elang, saat melihat Anjani tidak memilih untuk dirinya sendiri.


Elang, memeluk Anjani dengan rasa yang berbeda. Entah apa yang dia rasakan saat ini.


Untuk pertama kalinya, Elang memeluk Anjani, sebagai suaminya selama ini. Dia merasa bersalah, karena tidak pernah memperhatikan bagaimana perasaan Anjani, selama menjadi istrinya yang hanya berstatus sebagai istri siri.


"Maafkan Aku ya Jani. Aku belum bisa adil untuk Kamu dan juga Adhisti selama ini."


"Tidak apa-apa Mas. Aku tahu posisiku sendiri. Justru Aku berterima kasih, karena Mas masih mau memperlakukan diriku dengan baik. Aku tidak merasa keberatan atau cemburu, jika Mas lebih banyak waktunya untuk mbak Adhis. Aku memakluminya," kata Anjani, yang membuat Elang semakin merasa bersalah.


Elang, untuk pertama kalinya mencium kening Anjani dengan penuh perasaan.


*****


Setibanya di Indonesia lagi, Elang langsung dihadapkan dengan permasalahan perusahaannya yang kemarin.


Dari hasil penyelidikan polisi, ternyata bagian keuangan yang ditahan bukanlah satu-satunya orang yang bersalah. Masih ada beberapa orang lainnya yang ikut terlibat dalam kasus ini.

__ADS_1


"Haduh. Aku semakin pusing saja," keluh Elang saat berada di rumah Anjani.


"Mas. Harusnya lebih hati-hati saat memeriksa laporan keuangan dan bagian yang lainnya. Memang tidak mudah, dan itu perlu waktu lama juga, tapi setidaknya, hal semacam ini tidak akan terjadi dan terulang terus menerus."


Anjani, hanya bisa memberikan nasehatnya, karena tidak tahu bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi di perusahaan Elang.


"Iya, Aku salah. Selama ini, yang menangani masalah ini adalah Adhisti. Dia yang menjadi manager dan bagian promosi juga di perusahaan. Tapi, setelah menikah, dia Aku larang ikut bekerja. Apalagi sekarang ini dia sedang hamil, jadi Aku tidak mau dia ikut serta berpikir untuk masalah ini. Aku takut, dia akan kepikiran dan itu bisa mempengaruhi bayi yang sedang dia kandung. Aku tidak mau terjadi sesuatu pad anakku nantinya."


*****


Di rumah, Adhisti merasa tidak enak hati. Dia merasa jika sekarang ini, Elang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk Anjani dan mengabaikan dirinya.


"Aku harus meminta kejelasan pada Mas Elang. Aku tidak mau berada pada situasi seperti ini selamanya. Kamu harus bisa memilih Mas, Aku dan bayi ini, atau Anjani yang Kamu pertahankan."


Adhisti, membulatkan tekad untuk meminta pada suaminya, Elang, agar bisa memilih. Adhisti tidak mau, jika harus merasakan kesedihan dan kepikiran terus menerus, dengan sikap Elang, yang sekarang ini berubah banyak, apalagi setelah Anjani menjadi cantik lagi.


Pagi hari, saat Elang sudah berangkat ke kantor, Adhisti pergi berkunjung ke rumah Anjani seperti biasanya.


"Pagi Jani," sapa Adhisti, saat melihat Anjani yang sedang menyiram tanaman bunga.


"Pagi Mbak. Apa kabar dedek bayi?" tanya Anjani, kemudian meletakkan tempat air yang dia pegang, dan menyentuh perut Adhisti.


"Kabar baik Mami," jawab Adhisti dengan suara bayi.


"Hihihi, Mami. Sebutan untukku?" tanya Anjani dengan terkikik geli saat mendengar Adhisti menyebutkan namanya dengan sebutan mami.


"Mas Elang tidak memberitahu, jika Aku mengusulkan sebutan itu untukmu nanti?" tanya Adhisti pada Anjani.


"Tidak. Ehmmm, Mungin belum. Mas Elang sedang banyak pikiran Mbak, jadi mungkin lupa," jawab Anjani dengan tersenyum.


"Masalah, apa?" tanya Adhisti kaget.


"Keuangan perusahaan yang kemarin itu."


Jawaban dari Anjani, membuat Adhisti merasa, jika Elang sudah benar-benar melupakan dirinya, istrinya yang sah.

__ADS_1


__ADS_2