Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mengalah Demi Ara


__ADS_3

Pertemuan yang mengharukan di bandara internasional ini, antara Yasmin dengan keluarganya, membuat sebagian orang yang ikut melihat, menoleh dan mengabadikannya lewat beberapa jepretan kamera, ataupun video amatir, menggunakan handphone.


Hal yang sudah sangat wajar terjadi, untuk saat ini. Semua kejadian, langsung masuk ke sosial media dan akan menyebar dengan cepat dan bisa dilihat oleh orang-orang, baik yang kenal ataupun tidak kenal.


Begitu juga dengan salah satu unggahan pengunjung yang kebetulan lewat dan mengabdikan moment Yasmin ini. Foto yang dia unggah ke akun sosial, tanpa sengaja di lihat oleh Wawan. Dan Wawan, sudah lama menanti saat-saat seperti itu.


Dia ingin menemui Yasmin, dan meminta pertanggungjawaban atas perceraian yang dilakukan tanpa persetujuan darinya. Tahu-tahu, statusnya sudah menjadi seorang duda.


Tapi dengan semua itu, Wawan merasa sangat beruntung, karena sudah memiliki istri lagi, sebelum Yasmin menceraikannya, jadi dengan demikian, dia bisa langsung menikahi istrinya yang baru, secara resmi tidak lama setelah perceraian itu terjadi. Tetap saja, Wawan merasa menang dan di atas awan-awan. Dia memiliki rencana sendiri untuk mantan istrinya itu.


"Ternyata, kamu lama tidak terlihat itu ada i luar negeri. Berarti banyak uang, dan kamu mau melupakan Aku begitu saja? tidak bisa Yasmin! Kamu tidak akan pernah bisa melupakan Aku dan semua kenangan tentang kita berdua. Kita sudah ditakdirkan untuk bersama selamanya. Hahaha..."


Wawan tertawa senang, dengan melihat sebuah video di sosial media yang dia miliki.


Entah apa yang sedang Wawan pikirkan saat ini. Entah itu untuk kebaikan Yasmin dengan anaknya, Nanda, atau untuk dirinya sendiri. Hanya Wawan yang tahu, apa yang dia pikirkan untuk semua rencananya itu.


*****


Anjani sedang merayu Nanda, agar mau tetap tinggal di rumah ayah Edi. Dia merasa jika, Yasmin sangat merindukan anaknya itu, dan tidak ingin berpisah lagi.


Tapi, sepertinya Nanda tidak mau. Setelah beberapa jam bersama mamanya, Yasmin, rada kangennya sudah terobati, dan ingin ikut pulang lagi bersama dengan bundanya itu, Anjani.


Nanda tidak mau tinggal di rumah kakeknya, yang saat ini ada mamanya juga.


"Sayang. Nanda tidak mau tidur bareng mama? kan Nanda sudah lama tidak tidur bareng mama? Sayang, Nanda juga sering ngomong kalau kangen dan pengen tidur sama mama seperti dulu kan? Mumpung mama ada di rumah. Besok-besok, kalau Nanda kangen Bunda, bisa minta di antar sama mama ke rumah Bunda, ketemu sana dek Ara juga."

__ADS_1


Anjani, masih berusaha untuk memberikan penjelasan kepada keponakannya itu. Dia tidak ingin, jika ada pemikiran yang tidak-tidak tentang cara asuhnya pada Nanda.


Tapi, Nanda bersikukuh untuk ikut pulang bersama dengannya.


"Mas," panggil Anjani pada suaminya, Abimanyu.


Dia ingin meminta bantuan pada suaminya itu, untuk memberikan penjelasan pada Nanda, supaya mau tinggal bersama dengan mamanya, Yasmin.


"Bagaimana ini?" tanya Anjani, dengan sikap keras kepala Nanda.


"Kita ajak Yasmin tidur di rumah saja," jawab Abimanyu, memberi usulan.


"Tapi ayah dan ibu, pastinya juga masih ingin berbincang-bincang dengan Yasmin juga Mas," kata Anjani lagi, dengan rasa cemas.


Anjani pastinya paham, karena Yasmin lama tidak pulang, kedua mertuanya, juga merasa kangen dengan anak perempuannya yang satu itu.


Usulan dari suaminya itu, membuat Anjani terbelalak kaget. Dia tidak pernah memikirkan sejauh itu, karena tidak mungkin menawari ke-dua mertuanya, untuk menginap di rumah, karena rumahnya, tidak sebesar rumah mertuanya itu.


Tapi, Anjani setuju saja. Tinggal menunggu, bagaimana tanggapan mereka nanti. Karena Nanda masih tetap tidak mau tinggal di rumah kakek dan neneknya.


"Yah, Nanda tidak mau di tinggal. Bagaimana ini? apa Yasmin ikut kami saja, biar tidur di rumah kami barang sehari dua hari, sampai Nanda terbiasa lagi?"


Abimanyu akhirnya membicarakan soal ini pada ayahnya. Dia pikir, ayahnya pasti memiliki pandangan sendiri soal cucunya dan anaknya. Kalau dia sendiri, ayah Edi, sudah cukup berbincang-bincang dengan Yasmin. Toh Yasmin, tidak ada niatan untuk kembali kerja ke luar negeri lagi, seperti kemarin.


"Kalau Ayah tidak masalah. Tapi, tidak tahu itu ibumu bagaimana. Mungkin dia belum puas berbincang dan bercerita dengan Yasmin."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti Abi tanya ke ibu kalau begitu."


Akhirnya, Abi memutuskan untuk bertanya pada ibunya saja. Dia menyampaikan usulan, untuk mengajak Yasmin ke rumahnya, karena Nanda tidak mau tinggal di rumah ini.


Tapi, sepertinya ibu Sofie yang balik bertanya pada Abimanyu. "Bagaimana kalau kalian saja yang menginap di rumah ini? kan sudah lama kalian tidak tidur di sini Abi," usul ibu Sofie pada Abimanyu.


"Tapi Bu, kami sudah ada Ara. Ibu tahu sendiri, Ara tidak bisa tidur kalau tidak di rumah sendiri."


Abimanyu mengingatkan ibunya, tentang kejadian dimana mereka bertiga, Anjani bersama Ara, mau menginap di rumah ibunya. Tengah malam, Ara terbangun dan menangis. Dia tidak mau tidur lagi hingga pagi. Tapi saat Abimanyu dan Anjani berpamitan untuk pulangnya pagi harinya, Ara tidak lagi menangis.


Anehnya lagi, saat bersalaman dengan ibu Sofie dan di cium olehnya, Ara kembali menangis, karena ibu Sofie bilang, "besok-besok menginap di sini lagi ya."


Dan begitulah akhirnya, Anjani dan Abimanyu tidak lagi pernah menginap di rumah kedua orang tuanya. Jika ada keperluan, mereka hanya datang, dan pulang setelah semua selesai, atau bermain secukupnya. Setelah hari berganti malam, mereka akan segera pulang kembali ke rumah mereka sendiri.


Ibu Sofie, yang kembali mengingat tentang kejadian waktu dulu, akhirnya mengalah untuk ikut ke rumah Anjani dan Abimanyu. Dia juga mengajak Sekar dan suaminya, ayah Edi.


Tapi karena Sekar harus berangkat kerja besok pagi-pagi, begitu juga dengan ayah Edi, akhirnya mereka berdua, tidak bisa ikut dan hanya ibu Sofie saja. Itu karena dia sudah meminta ijin pada atasannya, untuk ambil cuti selama dua hari.


Tinggallah sekarang ayah Edi dan Sekar sendiri di rumah, bersama dengan bibi pembantu. Sedangkan ibu Sofie, ikut serta bersama Yasmin, yang menginap di rumah Abimanyu.


"Maaf ya Bu, jika nanti kamarnya tidak seluas di rumah ibu," kata Anjani dengan hati-hati. Dia masih merasa belum bisa mengakrabkan diri dengan ibu mertuanya itu.


Meskipun sekarang mereka berdua tidak lagi bermusuhan, tapi Anjani berusaha untuk tetap berhati-hati. Dia tidak mau jika di anggap sebagai menantu yang kurang baik dan tidak sopan.


"Tidak apa-apa Jani. Ibu bisa kok tidur di kamar yang lebih kecil sekalipun. Dulu, sewaktu ibu belum jadi pegawai, dan masih berstatus sebagai pegawai kontrak, tunggalnya juga di rumah yang kecil dan tidak sebesar sekarang. Abimanyu, ikut merasakan perjuangan kami, orang tuanya. Itulah kenapa, dia tumbuh jadi laki-laki yang sangat berhati-hati dan bertanggung jawab pada keluarganya."

__ADS_1


Ibu Sofie, akhirnya bercerita tentang keadaan dirinya, diawal-awal menikah dengan ayah Edi. Sebuah perjuangan, yang patut untuk diteladani, dan selalu disyukuri oleh mereka semua.


__ADS_2