Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Saingan


__ADS_3

"Wan."


Awan menolehkan kepalanya, ke arah omanya, yang masih duduk di kursi makan. Sedangkan dirinya sudah berdiri, dan siap untuk berjalan kembali ke dalam kamar.


"Duduklah dulu sebentar. Oma hanya ingin berbincang-bincang sebentar dengan Kamu. Oma kangen ngobrol-ngobrol dengan Kamu seperti dulu."


Karena tidak ingin membuat omanya merasa kecewa, Awan akhirnya kembali duduk. Meskipun sebenarnya, hatinya sudah merasa dag-dig-dug. Dia merasa khawatir, jika perbincangan yang akan omanya bahas, adalah tentang Ara. Dan Awan tidak mau, jika omanya tahu, apa yang dia rasakan pada anak dari mantan istri ayahnya itu.


Apalagi, bukan hanya Awan saja yang memiliki perasaan terhadap Ara. Ada seseorang yang mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya.


Dan Ara, adalah gadis kecil yang juga sedang diincar oleh temannya Awan. Yaitu Dika.


Awan jadi merasa bersalah, karena sudah mengkhianati temannya itu, secara tidak langsung. Meskipun sebenarnya, antara Dika dengan Ara, belum ada ikatan apa-apa, sebagai seorang kekasih atau pacar.


"Wan. Awan."


Mama Amel, memangil cucunya lagi, karena Awan justru melamun sambil berdiri. Padahal, mama Amel sudah memanggil namanya beberapa kali tadi.


Dengan gelagapan karena terkejut, Awan akhirnya duduk lagi, di tempat duduk yang semula. Dia menuggu, hingga omanya itu berbicara.


"Dua tahun lagi, Kamu akan lulus. Kira-kira, Kamu mau melanjutkan ke mana nanti?"


Dalam hati, Awan merasa lega, karena omanya itu, tidak membahas tentang Ara, dan perasaannya sendiri.


Omanya justru bertanya kepadanya, tentang sekolah dan keinginannya untuk melanjutkan ke universitas nanti. Hal yang belum terpikirkan oleh Awan saat ini.


Anak-anak remaja seusia Awan, yang tentu saja, pemikirannya belum stabil dan memikirkan masa depannya sendiri, belum tahu, apa yang dia inginkan besok-besok kalau sudah lulus.


Biasanya, anak-anak usia SMA, baru terpikirkan untuk melanjutkan kuliah dan universitas yang diinginkan, nanti saat naik ke kelas dua belas, atau kelas tiga.


Jadi, Awan tidak bisa menjawab pertanyaan dari omanya.


"Kamu mau kuliah ke luar negeri? Siapa tahu, Kamu bisa ikut bantu opa dengan perusahaannya yang ada di luar sana."


Awan masih belum bisa menjawab pertanyaan dari omanya itu. Dia benar-benar belum mempunyai rencana untuk kedepannya nanti. Dia hanya menjalani, apa yang memang seharusnya dia lakukan sekarang, yaitu kegiatan belajar dan sekolahnya.


"Tapi, ini hanya usulan Oma. Kalau Kamu belum ada pikiran, siapa tahu, usulan Oma ini bisa Kamu pertimbangkan."


Mama Amel, kembali berkata, menjelaskan tentang pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan tadi.


"Belum Oma. Awan belum tahu, mau kuliah di mana setelah lulus."


Akhirnya, Awan menjawab pertanyaan dari omanya itu. Dia juga menggeleng, karena memang belum sempat berpikir untuk memutuskan.


"Pikirkan dengan baik, usulan Oma. Kamu adalah satu-satunya yang kami harapkan untuk bisa melanjutkan semua usaha, yang sudah diperjuangkan oleh opa, Oma dan juga ayah Kamu selama ini."


Awan mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari omanya.


"Ya sudah. Ayok tidur lagi, atau mau Oma buatkan sesuatu, untuk Kamu makan. Siapa tahu, masih lapar?"


"Tidak Oma. Sudah cukup."


Awan menjawab pertanyaan dari omanya, yang seakan-akan sedang meledeknya. Karena tadi, saat makan malam tidak mau keluar dari kamar, dan saat tengah malam jadi kelaparan seperti tadi.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Yuk!"

__ADS_1


Mama Amel, berdiri dari tempat duduknya. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan meja makan, dia kembali bertanya pada cucunya itu.


"Apa Kamu tidak ada perasaan apa-apa dengan Ara?"


Wajah Awan tampak pias. Dia, yang tadi sudah merasa lega, karena omanya tidak membahas tentang Ara, kini justru bertanya langsung padanya.


"Apa sih Oma," jawab Awan yang merasa malu.


"Ihhh, Oma kan ingin tahu Awan. Kalau iya, Oma bantuin ngomong sama ayahnya Ara, om Abi."


"Oma. Masih kecil ah."


Awan mengelak. Dia tidak mau mengakui perasaan hatinya pada Ara.


"Yang bener?" tanya mama Amel lagi, sambil melangkahkan kakinya menuju ke tempat Awan berdiri.


Mama Amel, mengandeng tangan cucunya, untuk di ajak berjalan menuju ke arah kamar, supaya cucunya itu kembali tidur.


"Sudah, tidak usah dipikirkan. Oma hanya bercanda kok," kata mama Amel, meneruskan kata-katanya yang tadi.


Tapi saat pintu kamar Awan sudah terbuka, dan Awan sudah di suruh masuk, mama Amel berkata lagi dengan Awan. "Tapi jika beneran ada juga Oma seneng kok. Oma dukung pokoknya."


Awan menahan nafas, saat omanya berkata demikian. Dan baru merasa lega, saat pintu kamarnya di tutup dari luar oleh omanya itu.


Clek!


"Huffff..."


"Ada-ada saja Oma," gumam Awan sendiri.


*****


"Wan. Ah Gue nyesel banget deh kemarin."


Awan mengerutkan keningnya, saat baru saja datang, dan belum sempat duduk di kursinya, tiba-tiba temannya, Dika, berkata demikian.


"Maksudnya apa?" tanya Awan, yang merasa bingung dengan perkataan dari temannya itu.


"Gue kemarin, niat buat nganter Diyah pulang sekolah. Kebetulan, dia kan gak ada bodyguardnya kemarin itu. Ada kesempatan gitu, buat deketin dia. Soalnya, pagi kemarin, saat berangkat, Gue ketemu dia di jalan, dekat halte angkutan umum. Makanya, Gue turun dan menemani dia jalan kaki."


Sekarang, Awan paham, dengan apa yang dia lihat kemarin pagi, saat mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam sekolah.


'Oh, begitu rupanya.'


Awan membatin dalam hati.


"Terus?" tanya Awan, yang baru paham, setelah temannya itu bercerita.


"Nah itu Wan. Harusnya Gue bawa motor atau mobil sendiri kemarin itu, jadi bisa antar dia pulang. Gue juga lupa kasih kabar ke nyokap, biar gak usah jemput, eh, Gue dijemput deh. Lupa juga Gue dengan rencana anter Diyah pulang."


Dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Awan mendengarkan semua perkataan temannya.


"Gue kayaknya beneran suka ama tu anak!" kata temannya lagi, dengan sangat antusias.


"Suka? bukannya Loe cuma mau balas dendam aja?" tanya Awan, yang tidak tahu, apa yang sebenarnya dirasakan oleh temannya itu.

__ADS_1


Tapi Awan juga merasa khawatir, jika ternyata, apa yang dikatakan oleh temannya itu benar. Itu artinya, mereka berdua mempunyai perasaan yang sama pada...


"Ya Gue suka ama Diyah Wan. Suka secara normal. Sama cewek. Gak kayak Loe, gak ada yang disukai. Hahaha..."


Awan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia juga tersenyum dengan nyengir kuda, karena merasa diledek oleh temannya, Dika.


"Serah Loe aja."


Dika menepuk pundak Awan, saat mendengar jawaban dari Awan.


"Dukung Gue ya Wan!" ujar Dika, minta dukungan untuk perasaannya pada Ara.


"Emang Loe ikut audisi, kodenya berapa? kok minta dukungan." Awan menyahut perkataan temannya itu, dengan maksud bercanda.


"Hahaha... iya, audisi jadi pacar Diyah!"


Temannya itu, menjawab dengan tertawa senang.


"Saingannya siapa?" tanya Awan, menanggapi jawaban dari temannya itu. Tampak serius.


"Loe. Hahaha..."


Awan terperanjat, mendengar jawaban dari Dika, yang tanpa sengaja. Dia berpikir bahwa, temannya itu, mengetahui tentang perasaan hatinya pada Ara.


"Hehehe... canda Wan," ujar temannya, melanjutkan kalimatnya yang tadi.


"Huh..."


Awan bernafas lega, karena perkiraannya yang tadi salah.


Tot!


Tot!


Tot!


Perbincangan antara Awan dan Dika berhenti, saat bel sekolah berbunyi.


Dika kembali ke tempat duduknya, dan Awan mulai mencari buku dan peralatan tulisnya, yang ada di dalam tas. Meskipun hatinya terasa kebat-kebit tidak menentu, dengan pernyataan dari Dika tadi.


*****


Di kelas tujuh, kelasnya Ara.


"Ciehhh... yang udah ada bodyguard lagi!"


Ara di ledek temannya, karena tadi melihat Ara, yang berjalan dengan Nanda lagi, bukan dengan orang lain.


"Hehehe... Kamu ngiri?" tanya Ara, menyahuti ledekan temannya itu.


"Gak. Aku nganan aja deh! hihihi..."


"Hehehe..."


Mereka berdua, Ara dan temannya, tertawa-tawa sendiri, menyadari bahwa, percakapan mereka berdua terkesan absurd dan unfaedah.

__ADS_1


Tawa mereka berdua berhenti, saat terdengar suara bel sekolah.


__ADS_2