Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keterangan Dokter


__ADS_3

Dokter sedang menjelaskan tentang keadaan Mita, pada kedua orang tuanya.


Dari beberapa tindakan medis, yang tadi dilakukan dan riwayat penyakit yang diderita Mita, dokter membuat kesimpulan awal, jika Mita mengalami tumor otak.


"Tumor otak Dok?"


Papa dan mamanya Mita, sangat terkejut dengan keterangan yang diberikan oleh dokter barusan.


Mereka secara refleks, mengulang kembali kata-kata dokter tersebut, dengan sebuah pertanyaan yang sama.


"Ya Bapak dan Ibu. Anak Anda, menderita tumor otak atau bisa dikatakan sebagai kangker otak."


"Tapi, ini masih dugaan awal. Perlu tes khusus, untuk mengetahui apakah benar atau justru penyakit yang lainnya."


Dokternya kemudian melanjutkan penjelasannya pada kedua orang tuanya Mita, tentang tumor otak ini.


Yaitu Sekumpulan atau pertumbuhan sel abnormal bersifat kanker atau non-kanker di otak.


Tumor dapat mulai di otak, atau kanker di tempat lain dalam tubuh dapat menyebar ke otak.


Mamanya Mita, menangis di samping suaminya, yang kini sedang memeluknya.


Anak mereka, tinggal satu-satunya Mita. Karena, saudara kembarnya Mita, sudah meninggal sejak masih bayi.


Mita memang lahir kembar, tapi saudara kembarnya telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, Mita tidak lagi memiliki saudara kandung.


Di rumah, memang ada saudaranya Mita yang lain. Abangnya, yang sudah besar. Tapi, itu adalah saudara sepupu, yang diangkat oleh kedua orang tuanya Mita sebagai seorang anak, karena kedua orang tuanya sudah tidak ada karena kecelakaan mobil.


Dan sekarang, saudaranya itu sudah lulus kuliah. Membantu bekerja di kantor papanya Mita.


"Semoga saja, ini belum membahayakan. Dan oleh karena itu, harus segera ditangani ya Pak, Bu."


Mamanya Mita, semakin terisak keras, setelah dokter selesai memberikan penjelasan.


"Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak Saya Dok. Jika perlu untuk dirawat di rumah sakit yang lebih besar dan lengkap, tolong katakan Dok, di mana rumah sakit itu?"


Dokter mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti apa dan bagaimana perasaan ke dua orang yang saat ini ada di hadapannya.


Dia sudah seringkali, menghadapi keluarga pasien, yang dalam keadaan seperti sekarang ini.


*****

__ADS_1


Di kamar pasien tempat Mita di rawat.


"Kamu sudah sering kayak gini, atau baru sekali ini Dek?" tanya Dika, yang merasa penasaran dan kesal juga.


Dia penasaran, dengan apa yang dia derita oleh pacarnya itu.


Tapi, Dika juga merasa kesal karena, jika Mita seringkali mengalami hal serupa, ini akan menyusahkan dirinya.


'Buat apa punya pacar, jika buat susah saja!'


Begitulah kira-kira pemikiran Dika, yang sedang menunggui Mita.


"Tiga kali Kak. Tapi, dua kali di rumah sendiri. Baru kali ini ada di tempat umum."


Mita memberikan jawaban, atas pertanyaan yang diajukan oleh Dika padanya. Dia berpikir jika, Dika merasa kasihan, dan akan lebih perhatian pada dirinya nanti.


"Semoga saja, tidak ada hal serius ya Kak. Mita juga tidak mau ini sampai terjadi lagi kok," ucap Mita penuh harap, saat Dika hanya diam saja, mendengar jawabannya yang tadi.


Tak berapa lama kemudian, kedua orang tuanya Mita, sudah kembali.


Mereka berdua, terlihat sedih, tapi segera menampakan senyumnya, begitu masuk ke dalam dan melihat anaknya, Mita.


"Apa kata dokter Pa, Ma?" tanya Mita, begitu mereka sampai di dekat tempat tidurnya.


"Terima kasih Nak Dika," tutur mamanya Mita, mengucapkan terima kasih pada pacar anaknya itu.


Dika hanya mengangguk sambil tersenyum saja, kemudian mundur beberapa langkah, agar papanya Mita juga ada ruang untuk berbicara dengan anaknya.


"Ma," panggil Mita, karena belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan tadi.


"Tidak apa-apa Sayang. Kamu hanya migrain saja. Nanti juga cepat sembuh kok. Kamu yang tenang ya."


Papanya Mita yang menjawab pertanyaan tersebut, menenangkan hati dan pikiran anaknya, Mita. Dia tahu jika, istrinya itu, tidak mungkin bisa menjelaskan kepadanya Mita, bagaimana keadaan yang sebenarnya dia alami saat ini.


"Bener Ma?" tanya Mita lagi, menyakinkan bahwa, apa yang dikatakan oleh papanya tadi benar.


Mamanya Mita, tampak mengangguk mengiyakan perkataan suaminya sendiri, dengan tersenyum tipis.


Dia menahan rasa sedih dan tangisannya, supaya anaknya itu tidak bertambah beban pikirannya.


Setelah beberapa saat kemudian, di saat Mita mulai tertidur lagi akibat efek obat, Dika pamit pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nak Dika. Oma mau bicara dengan nak Dika," kata papanya Mita, mengajak pacar anaknya itu, untuk bicara soal Mita di luar kamar.


"Iya Om. Mari Tante, Dika permisi dulu."


"Oya Nak Dika. Terima kasih ya, sudah menolong dan menunggui Mita," jawab mamanya Mita, yang menyangka jika, Dika adalah orang yang menolong dan membawa Mita ke rumah sakit.


Begitu sampai di luar kamar, papanya Mita menyampaikan sesuatu pada Dika, dan menjelaskan tentang keadaan Mita.


"Apa Om, kangker otak?"


Dika terkejut, di saat papanya Mita selesai memberikan penjelasan kepadanya tentang apa penyakit yang diderita anaknya itu.


"Iya nak Dika. Om harap, nak Dika tidak menceritakan tentang ini pada Mita sendiri. Dan Om berharap, nak Dika mau menemani Mita, dan memberikan semangat, agar Mita bisa menjalani semua prosedur kesembuhan yang akan dia lakukan."


"Ini belum parah, dan masih bisa disembuhkan."


Papanya Mita, kembali memberikan penjelasan pada Dika, apa dan bagaimana Mita sekarang.


"Ya Om. Tapi, Dika saat ini sedang sibuk-sibuknya kuliah Om. Skripsi dan sidang-sidang untuk tugas akhir juga. Jadi, Dika juga tidak bisa janji, bisa menemani Mita terus Om."


Dika membuat alasan, jika dia sedang ada kesibukan kuliah dan tugas-tugasnya.


Padahal sebenarnya, dia hanya tidak mau repot-repot, menemani Mita yang sedang sakit.


Ini akan membuatnya jenuh dan bosan, jika harus berada di rumah sakit setiap hari, hanya untuk menemani Mita.


Papanya Mita, menghela nafas panjang. Dia tahu jika, mahasiswa tingkat akhir memang sedang sibuk-sibuknya, dan butuh waktu untuk berpikir dan mengerjakan semua tugas-tugas kampus.


"Iya tidak apa-apa nak Dika. Tapi, Om harap, Kamu bisa sesekali datang dan memberikan semangat pada Mita. Ya?"


Dengan pengertiannya, papanya Mita masih berpikir hal yang baik tentang calon menantunya itu.


"Iya Om pasti. Semoga, Mita tidak kenapa-kenapa, sama seperti yang dikatakan oleh dokter. Dan dia akan segera sembuh."


"Aamiin. Terima kasih nak Dika." Papanya Mita, mengucapkan terima kasih pada Dika, yang mendoakan anaknya agar cepat sembuh dan bisa kembali sehat.


"Mari Om. Dika pulang dulu," pamit Dika, pada papanya Mita.


"Ya-ya, hati-hati ya Nak. Salam buat papa dan mama Kamu."


Dika mengangguk mengiyakan, permintaan dari papanya Mita.

__ADS_1


Papanya Mita memang mengenal papa dan mamanya, karena mereka adalah rekan bisnis.


Dan karena hubungan bisnis mereka juga, Dika dengan Mita menjadi dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.


__ADS_2