
Mamanya Elang, bunda Amel, merasa ada yang tidak beres dengan hubungan antara Anjani dan Elang, anaknya.
"Jani. Jawab pertanyaan Mama," kata mama Amel, mendesak Anjani agar menjelaskan tentang permintaannya tadi. Permintaan Anjani, untuk pulang ke rumahnya yang ada di kota Bogor.
"Kami baik-baik saja Ma. Jani hanya kangen dengan rumah," jawab Anjani dengan tersenyum. Dia tidak ingin, mama Amel curiga dengan keinginannya itu.
"Tidak apa-apa, jika kangen ingin pulang. Kamu bisa ngomong sama Elang. Ajak dia ke sana juga, atau jika dia sedang sibuk-sibuknya, Kamu minta sama supir untuk mengantar. Apa mau Mama temani sekarang?" tanya mama Amel, menawari Anjani.
"Terima kasih Ma. Mama kan sibuk terus, jadi Jani gak mungkin mengangu waktu Mama. Jani bisa kok pulang sendiri ke Bogor," jawab Anjani memberikan alasan.
"Eh, Mama juga bisa kok, tapi... ya begitulah. Harus mengulang semua jadwal kesibukan Mama. Tapi, tetap bisa jika di usahakan. Kalau ada apa-apa atau ingin apapun itu, seharusnya Kamu itu ngomong. Jangan hanya di pendam dan diam saja, ya!" Mama Amel, tetap bersikeras untuk meminta Anjani agar bisa lebih terbuka jika ingin sesuatu.
"Iya. Iya Ma. Maaf," jawab Anjani dengan tersenyum tipis
"Ini, Mama bawakan baju untukmu. Sepertinya Kamu tidak pernah ke mall atau butik untuk beli gaun ya?" tanya Mama Amel, memberikan kantong belanjaan yang dia bawa tadi.
"Gaun? Hehehe... Jani banyak gaun Ma. Lagipula mau kemana juga bawa gaun?" jawab Anjani dengan sebuah pertanyaan yang tidak perlu untuk dijawab mama Amel.
"Kamu itu juga harus tampil anggun dan seksi. Mama juga bawa lingerie lho," bisik mama Amel di dekat Anjani.
Anjani terkejut, mendengar perkataan mama Amel, meskipun pelan karena dengan cara berbisik. Anjani,yang tidak pernah memakai pakaian seksi, tetap saja tahu dan paham, apa yang di maksud mama Amel sekarang.
"Kamu harus bisa menyenangkan suami Kamu juga Jani. Mama yakin, Kamu juga bisa seperti Adhisti nantinya," kata mama Amel lagi, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
Anjani, meringis sambil berpikir, "apa tidak salah Aku pakai pakaian seperti ini? bisa-bisa malah Mas Elang kabur dan merasa jijik dengan penampilanku. Tidak-tidak. Buat apa juga Aku mau pakai."
"Kamu harus terap pakai ini nanti malam, atau besok-besok, sewaktu Elang ke mari." Perkataan mama Amel, sepertinya tidak ingin di bantah. Ini seperti sebuah perintah yang harus dilakukan oleh Anjani.
"Ya sudah. Mama mau ke rumah Adhisti dulu. Ini simpan ya, dan dipakai."
"Ma. Jani belum sempat buat minum?" tanya Anjani, karena mama Amel hanya sebentar saja dirumahnya.
__ADS_1
"Buatkan saja. Nanti juga Mama ke sini lagi. Mama cuma mau ke rumah depan sebentar, mau nengok cucu Mama," jawab mama Amel, kemudian melangkah ke arah pintu depan, menuju ke rumah Adhisti.
*****
"Pagi Nyonya," sapa bibi pembantu, yang ada di rumah Adhisti.
"Pagi Bi. Adhis ada?" tanya mama Amel dengan melihat ke sekeliling.
"Ada Nya, sebentar."
Bibi pembantu, melangkah menuju ke kamar atas, di mana kamar Adhisti berada.
"Lho, masih ada dikamar atas dia? Kan sedang hamil, harusnya pindah ke kamar bawah biar aman. Ceroboh sekali dia," kata mama Amel pada dirinya sendiri.
"Apa Elang tidak memperingatkan dia atau dia yang tidak mau pindah dari kamar atas?" tanya mama Amel, dalam hati lagi.
Tak lama, Adhisti muncul dari anak tangga di susul bibi yang ada dibelakangnya.
"Kamu sehat-sehat saja kan? bagaimana keadaan cucu Mama?" mama Amel, bertanya dengan memandang ke perut Adhisti.
"Ya sehat Ma. Bayi Adhis juga sehat. Kemarin, waktu periksa terakhir kalinya, ada kenaikan berat badan juga," jawab Adhisti, masih dengan berdiri, setelah tadi melepaskan pelukannya.
"Syukurlah. Kamu makan yang sehat, jangan hanya menuruti keinginan untuk makan enak saja ya," kata mama Amel menasihati Adhisti.
"Iya Ma," jawab Adhisti, menganggukkan kepalanya mengerti.
"Terus itu, kenapa Kamu masih tidur di kamar atas? seharusnya, Kamu pindah tidur di kamar bawah, ini untuk keselamatan Kamu sendiri. Mama juga tidak mau, jika terjadi sesuatu pada cucu Mama," tanya mama Amel lagi, dengan nada tidak suka.
"Ehmmm..." Adhisti, belum sempat menjawab pertanyaan dari mana Amel, tapi sudah di potong oleh mama Amel lagi.
"Bilang sama Elang, pindah ke kamar bawah. Kamar bawah juga besar, dan Kamu tidak perlu capek-capek naik turun tangga."
__ADS_1
"Iy... iya Ma," jawab Adhisti terbata. Dia heran, jika mama Amel datang, ada saja yang dia kritik.
"Ya sudah, mana minuman untukku? apa Kamu tidak menawari Mama untuk minum?"
"Oh iya, maaf Ma," jawab Adhisti gugup, karena merasa malu di tegur mama mertuanya.
"Tidak usah, mama mau ke rumah Anjani. Mau mama ajak dia keluar sebentar," kata mama Amel, mencegah Adhisti agar tidak beranjak dari duduknya.
*****
Keesokan harinya, Adhisti seperti biasanya, akan datang berkunjung ke rumah Anjani.
"Pagi Jani, bagaimana kemarin jalan-jalannya sama mama?" sapa Adhisti, begitu sampai di halaman depan rumah Anjani.
"Eh Mbak Adhis," sapa Anjani juga, dengan tersenyum tipis.
"Mama Amel, sedikit cerewet gak kalau bersama denganmu selama ini?" tanya Adhisti, memancing pembicaraan tentang mama Amel, mama mertua mereka berdua.
"Ya begitulah Mbak. Namanya juga mama-mama. Maunya itu, kita yang muda pasti nurut kan ya, hehehe..." jawab Anjani dengan terkekeh, menghilangkan rasa canggung yang datang karena harus bergosip tentang mama Amel.
"Tapi kan tidak harus dengan mengatur-atur juga Jani. Kemarin, saat datang ke rumah, dia menyuruhku untuk pindah kamar yang ada di bawah. Aku kak lebih suka yang kamar atas."
Anjani, mendengarkan semua cerita Adhisti tentang mama Amel, yang memang tidak begitu suka dengan dirinya sedari dulu.
"Jangan sampai Kamu juga mengalami hal yang sama seperti yang Aku alami ini Jani," kata Adhisti, mengakhiri ceritanya.
Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar harapan yang dikatakan oleh Adhisti untuknya.
"Oh ya Jani, mas Elang... maksudnya mas Elang pernah... kalian berdua, pernah..."
"Tidak Mbak. Kami tidak pernah melakukan hubungan seperti yang Mbak Adhis pikirkan. Tenang saja Mbak. Dalam waktu dekat ini, Anjani akan meminta pada mas Elang untuk menceraikan Jani. Kemarin sewaktu Jani di ajak mama Amel ke Mall, secara kebetulan, Jani ketemu sama teman sewaktu kuliah. Dia itu..." Anjani tidak meneruskan kalimatnya, yang tadi memotong Adhisti, sebab Adhisti ganti memotong kalimatnya juga.
__ADS_1
"Apa dia pacar Kamu, atau mantan pacar?" tanya Adhisti dengan antusias.