Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tentang Anak-anak


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Ara dan Nanda, tentu merasa sangat senang, karena ayah Abi dan bundanya Anjani, sudah berada di rumah.


Mereka berdua, dengan gembira bercerita tentang bagaimana kegiatan mereka di sekolah tadi pagi.


Ara yang memulai, karena dia selalu bisa menceritakan dengan detail, bagaimana kegiatan belajar dan bermainnya di sekolah, bersama dengan teman-temannya yang lain.


"Tadi Ara bikin gambar cetak telapak tangan Ara sendiri Ayah. Ini gambarnya. Sudah Ara warnai juga Bagus kan Yah?"


Dengan antusias, Ara memperlihatkan hasil gambarnya, yang mencetak telapak tangannya sendiri. Dia juga sudah mewarnainya, dengan warna yang banyak macamnya.


Tapi Nanda memprotes Ara.


"Harusnya jangan warna-warni Ara. Tapi satau warna saja. Kan sama seperti telapak tangan Kamu itu. Apa dia warna-warni? Cuma satu warna kan?" tanya Nanda, membenarkan kesalahan yang dilakukan oleh adiknya, dengan warna telapak tangannya itu.


"Kata Bu guru tidak apa-apa kok. Yang penting diwarnai," jawab Ara membantah. Dia juga cemberut, karena merasa jika Nanda sedang tidak mendukungnya, seperti biasanya.


"Iya tidak apa-apa Sayang. Kelas Nanda dan Ara kan beda tingkatan. Jadi beda juga pelajarannya," kata Abimanyu, menengahi perdebatan kedua anaknya itu.


Mereka berdua akhirnya diam dan tidak lagi berdebat.


"Ayo, sama saudara tidak boleh bertengkar dan saling diam-diaman. Sekarang, salaman dan sama-sama minta maaf," kata Abimanyu lagi, meminta pada kedua anaknya itu, supaya bisa akur lagi.


Ara dan Nanda, juga mengikuti apa kata ayah Abi mereka. Setelah bersalaman, mereka merekatkan jari kelingking masing-masing agar saling bertaut, sebagai tanda damai.


"Nah gitu dong. Kan anak-anak ayah Abi, anak-anak yang pintar!"


Abimanyu, memuji keduanya, sehingga mereka berhamburan memeluk Abimanyu bersamaan.


"Eh, Ayah ada hadiah buat kalian. Tapi nunggu bunda ya," ujar Abimanyu memberitahu.


"Hadiah apa Yah? kita kan tidak ulang tahun," tanya Nanda penasaran.


Ara juga mengangguk setuju dengan pertanyaan dari kakaknya, Nanda.


"Nanti dong. Biar bunda yang kasih. Ini hadiah dari ayah dan bunda, karena kalian berdua sama-sama rajin dan tidak pernah rewel-rewel lagi. Juga sering bantu ayah latihan kemarin-kemarin," kata Abimanyu, memberikan alasan tentang pemberian hadiah tersebut.


"Memang bunda kemana Yah?" tanya Ara tidak sabar.


"Sebentar. Bunda sedang ada di kamar mandi." Abimanyu, memberitahu keberadaan bunda mereka, Anjani.


"Hadiahnya apa sih Yah?" tanya Ara lagi.


Dia sangat penasaran dan ingin tahu.


Sedangkan Nanda, hanya diam menunggu kedatangan Anjani, yang belum juga terlihat keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Clek!


Pintu kamar mandi terbuka. Anjani muncul, dan langsung di serbu kedua anaknya itu.


"Bunda-bunda. Mana hadiah untuk Ara?" tanya Ara tidak sabar.


"Buat Nanda juga mana Bunda?" Nanda ikut-ikutan bertanya pada Anjani, tentang hadiah yang diterima Adi dikatakan oleh ayah mereka.


"Ayah bilang apa pada kalian?" tanya Anjani menyelidik. Dia melihat ke arah suaminya, dengan mata memicing.


Dari tempat duduknya di kursi roda, Abimanyu hanya tersenyum melihat istrinya, ditodong dan ditagih oleh anak-anaknya itu.


"Katanya ada hadiah buat kita. Tapi Bunda yang akan kasih. Ayah tidak bawa," jawab Ara, sama seperti yang tadi dikatakan oleh ayahnya.


"Oh..."


Anjani hanya mengangguk sambil melihat ke arah meja, yang tidak jauh dari tempat tidur. Di situ, ada dua kotak ukuran besar, yang sudah di bungkus dengan kertas kado, dengan motif kartun-kartun yang lucu.


"Asyikkkk!"


Ara berseru dengan senang.


"Ye! Beneran dapat hadiah!"


Nanda juga berteriak senang karena benar-benar ada hadiah buat mereka berdua.


"Terima kasih Bunda," kata Ara, sambil mencium pipi bundanya.


Nanda, juga melakukan hal yang sama. Dia mencium kedua pipi Anjani, kemudian berlari ke arah Abimanyu.


"Terima kasih Ayah Abi," kata Nanda, sambil mencium pipi Abimanyu juga, setelah Abimanyu menunduk lebih dekat.


Ara, akhirnya mengikuti apa yang dilakukan oleh Nanda. Dia ikut mendekat ke tempat ayahnya, kemudian melakukan hal yang sama. Mencium kedua pipi ayahnya itu.


Mereka semua, merasakan kebahagiaan yang sederhana ini dengan rasa syukur, atas kesehatan dan keselamatan mereka semua sampai saat ini.


******


Mama Amel merasa kewalahan menghadapi cucunya, Awan, yang sedang rewel dan meminta untuk bertemu dengan ayahnya, Elang.


Padahal, Elang ada di dalam kamar, tapi sedang sakit.


"Sayang. Ayah sedang sakit. Nanti, kalau sudah sembuh, bisa main-main lagi sama Awan ya," kata mama Amel membujuk cucunya itu.


Elang baru saja beristirahat, karena sakit kepalanya kambuh. Sedangkan Awan, tidak mau diam jika sudah bermain dengan ayahnya.

__ADS_1


Itulah sebabnya, dari pada keberadaan Awan menganggu istirahat Elang, mama Amel memintanya untuk bisa bermain dengan dirinya saja.


Tapi ternyata, Awan tidak mau. Dia justru menangis, dan terus merajuk. Bahkan, baby sitternya juga kewalahan menghadapi Awan kali ini.


"Kita jalan-jalan saja yuk! nanti kita main-main ke taman atau ke rumah teman baru. Oh ya, Oma ada teman baru lho buat Awan. Tapi dia masih kecil-kecil, jadi Awan manggil mereka adik. Bagaimana?"


Tawaran dari oma nya, sepertinya menarik perhatian Awan. Dia diam, dan memperhatikan bagaimana mama Amel sedang bercerita.


"Awan mau main sama Oma?" tanya mama Amel menyakinkan Awan.


Awan mengangguk pasti.


Selama ini, dia hidup sendiri sebagai seorang anak kecil. Dia tidak ada teman, dan saat di Batam, sekolah Awan harus berpindah-pindah, meskipun baru beberapa bulan. Ini karena Adhisti berasalan jika tidak suka dengan para wali murid yang suka bergosip, atau guru sekolah yang mengatur. Atau kadang juga karena sekolahnya terlalu kecil.


Itulah sebabnya, Awan tidak punya teman yang bisa dia ajak bermain, karena selalu berpindah-pindah sekolah. Dan sekarang, dia harus pindah ke Jakarta.


Oma nya, mama Amel, dan juga ayahnya, Elang, belum mendaftarkan lagi ke sekolah yang baru. Ini karena Awan yang menolaknya. Dia merasa takut, jika harus berpindah ke sekolah lainnya lagi, sama seperti saat berada di Batam dulu.


Padahal, mama Amel sudah memberi penjelasan kepada dirinya.


Ayahnya juga sudah memberi kebebasan untuk memilih sekolah mana yang Awan suka. Tapi Awan belum menentukan pilihan, mau bersekolah dimana nantinya.


Sekarang, dia sudah rapi dan berjalan menuju ke tempat duduknya mama Amel.


"Oma. Ayo!"


Mama Amel mendongakkan kepalanya, melihat kedatangan cucunya, yang sudah berganti pakaian, dengan dibantu oleh baby sitternya.


"Sebentar lagi ya Sayang. Ini Oma lagi balas email dari opa Ryan," jawab mama Amel, sambil memperlihatkan layar laptopnya, yang saat dia ada di pangkuan.


Awan akhirnya ikut duduk di samping omanya, mama Amel. Dia juga ikut memperhatikan, bagaimana omanya itu mengetik pesan di laptop.


"Oma. Awan bisa main kayak gini. Tapi game," kata Awan memberitahu omanya.


"Oh ya, harus banyak belajar biar pintar dong."


Perkataan omanya, membuat Awan mengangguk. Dia merasa jika saat ini dia tidak pernah belajar lagi. Hanya main-main saja, tapi dia suka.


"Besok mau tidak, jika Oma aji ke sekolah. Kita daftar sekolah untuk Awan," kata mama Amel, sambil melihat ke arah cucunya, yang saat ini masih terus memperhatikan layar laptop milik omanya.


"Tapi kita jadi jalan-jalan kan Oma?" tanya Awan mamastikan.


Dia takut, jika acara jalan-jalan yang sudah dijanjikan oleh omanya batal jika dia tidak menjawab pertanyaan tadi.


"Tetap jadi kok," jawab mama Amel, dengan tersenyum.

__ADS_1


Awan pun merasa lebih tenang, karena bisa keluar rumah untuk jalan-jalan bersama dengan omanya, hari ini.


__ADS_2