Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pagi Ini


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Abimanyu a........... . kabar dari ayahnya, ayah Edi, bahwa Yasmin dilarikan ke rumah sakit, karena air ketuban merembes dan Yasmin tidak merasakan rasa sakit pada perutnya.


"Sudah berangkat belum Yah?" tanya Abimanyu, yang kedatangan ayahnya pagi-pagi, setelah sholat subuh.


"Sudah dibawa oleh Aksan dan Nanda jam tiga tadi. Ibumu juga ikut," jawab ayah Edi memberitahu Abimanyu.


"Ayah kok gak ikut?" tanya Abimanyu lagi, karena ayahnya justru ada di rumah.


"Tadinya mau ikut juga, tapi mobilnya tidak muat. Kalau ada ayah juga, kasian Yasmin, sempit di dalam mobil."


Abimanyu mengangguk mengerti, apa yang dikatakan oleh ayahnya itu. Sekarang, dia tahu, jika ayahnya bermaksud untuk mengajaknya ke rumah sakit, meskipun tanpa meminta.


"Kita ke rumah sakit sekarang Yah?" tanya Abimanyu, memastikan bahwa, ayahnya itu sudah siap untuk dia ajak pergi.


"Iya ayok. Pakai motor Nanda saja. Ini!"


Ayah Edi, menyerahkan kunci sepeda motor Nanda, yang dia bawa ke rumah Abimanyu.


Akhirnya, Abimanyu pamit pada Anjani, untuk pergi bersama dengan ayahnya, ayah Edi, ke rumah sakit, untuk melihat keadaan adiknya, Yasmin, yang mau melahirkan.


"Semoga Yasmin dan anaknya selamat. Hati-hati ya Yah."


Abimanyu mengamini doa Anjani. Dia juga mengangguk mengiyakan pesan dari istrinya itu.


Tak lama kemudian, Abimanyu pergi bersama dengan ayahnya, ke rumah sakit, dengan menggunakan sepeda motor Nanda.


Anjani menghubungi adiknya, Sekar, memberikan kabar tentang Yasmin. Tentu saja, kabar tersebut membuat Sekar terkejut.


Sekar mengatakan bahwa, dia akan pergi ke rumah sakit, bersama dengan suaminya, Juna, nanti kalau Miko sudah berangkat ke sekolah.


Anjani meminta pada Sekar, supaya meminta tolong kepada bibi pembantu rumahnya, untuk mengantar Miko dan Anggi ke sekolah hari ini. Pak ojek, akan mengantar Ara ke sekolah, karena Nanda sedang ada di rumah sakit, menunggui mamanya, Yasmin, yang mau melahirkan.


Tapi ternyata, pada saat Anjani menghubungi Pak ojek, justru Pak ojek yang tidak bisa mengantar Ara ke sekolah.


Pak ojek akan pulang kampung pagi ini, karena mendapatkan kabar dari keluarganya di kampung, bahwa ibu Pak ojek sedang sakit. Sakit Karena usianya yang sudah tua, yang sudah berlangsung sejak lama.


Pak ojek juga meminta maaf pada Anjani, jika dalam waktu cukup lama nanti, tidak bisa mengantar dan menjemput Ara ataupun Anggi ke sekolah.


Anjani jadi kebingungan sendiri, saat semuanya ini terjadi secara bersamaan. Dia tidak mungkin naik motor Abimanyu sendiri, karena dia sudah berpuluh tahun tidak naik motor sendiri.


Trauma masa lalunya saat kecelakaan waktu itu, masih belum bisa dia lupakan.


Tok tok tok!

__ADS_1


Sekarang, Anjani masuk ke dalam kamar Ara. Dia mengetuk pintu kamar, dan tak lama kemudian, Ara membukakan pintu untuknya.


Clek!


"Ada apa Bun? Ara baru mau mandi," kata Ara, begitu membuka pintu kamar, dan melihat keberadaan bundanya.


"Kakak haru ini naik angkutan ya ke sekolahnya. Kak Nanda sedang ada di rumah sakit," jawab Anjani, memberitahu Ara.


"Kak Nanda di rumah sakit! sakit apa?"


Ara justru salah paham, dengan perkataan bundanya tentang Nanda. Dia berpikir bahwa, Nanda sedang sakit dan di rawat di rumah sakit.


"Tante Yasmin Sayang. Tante Yasmin yang mau melahirkan. Bukan Kak Nanda yang sakit," jawab Anjani, menjelaskan pada Ara.


"Oh, tante Yasmin mau lahiran. Aku pikir Kak Nanda yang sakit."


Akhirnya, Ara setuju untuk berangkat ke sekolah sendiri, dengan naik angkutan umum. Dia akan diantar oleh bundanya, sampai di halte sebelah perumahan mereka.


Anjani segera pamit untuk ke dapur. Dia mau menyiapkan makanan untuk sarapan pagi mereka.


Ara juga buru-buru mandi, karena dia harus berangkat lebih pagi, agar tidak terlambat datang ke sekolah.


"Dek, dek bangun!"


"Masih ngantuk!"


Anggi tidak mau bangun juga. Anggi justru kembali tidur, tanpa menghiraukan Ara.


"Eh, awas saja ya, kalau nanti ditinggal Bunda, antar Kakak ke halte!"


Setelah mengatakan itu pada Anggi, Ara masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak mau berlama-lama, supaya tidak terlambat.


Anggi mengucek-ngucek mata, berusaha untuk membuka matanya yang masih terasa berat untuk dibuka. "Ke halte? ngapain ke sana?" tanya Anggi bingung. Dia tidak tahu, apa yang terjadi pagi ini.


"Kakak! ngapain ke halte?"


Anggi berteriak-teriak, bertanya pada kakaknya, yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi.


Tentu saja, Ara tidak mau menjawab pertanyaan dari adiknya itu. Dia meneruskan acara mandinya, agar cepat selesai. Baru setelah itu menjawab pertanyaan dari Anggi, setelah dia keluar nanti.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.


Clek!

__ADS_1


"Buru sana mandi!"


Ara menyuruh adiknya itu, untuk pergi mandi, karena dia sudah selesai.


"Gak mau. Nanti saja, masih dingin."


Anggi membatah perkataan kakaknya, yang menyuruhnya untuk segera pergi mandi. Ara beralasan bahwa, airnya masih dingin.


"Mandi nanti juga tetap saja dingin," ujar Ara, memberitahu adiknya.


"Kamu di rumah saja kalau begitu. Nanti, bunda antar Kakak ke halte," kata Ara lagi, memberitahu pada adiknya itu, agar diam saja di rumah.


"Ngapain ke halte Kak?" tanya Anggi ingin tahu.


Sambil merapikan pakaian dan tas sekolah, Ara menjelaskan pada adiknya, apa yang terjadi pagi ini.


Setelah dijelaskan oleh kakaknya itu, Anggi baru paham dan segera beranjak dari tempat tidur. Dia mau mandi sekarang, karena tidak mau di tinggal sendiri di rumah, saat bundanya pergi mengantarkan kakaknya itu ke halte bus.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga berjalan menuju ke arah halte bus. Anjani memberikan beberapa nasehat pada anaknya, Ara, supaya berhati-hati saat berada di dalam angkutan umum.


"Kakak hati-hati ya. Soalnya, Kakak harus berpindah dua angkutan, untuk bisa sampai di sekolah," kata Anjani, menasehati anaknya, Ara.


Ara hanya mengangguk saja mendengar semua nasehat dari bundanya. Dia juga mengirim pesan pada Nanda, supaya Nanda menghubungi pihak sekolah, untuk meminta ijin, karena tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini.


Setelah Ara mendapat angkutan, Anjani pulang kembali bersama dengan Anggi. Baru saja mereka sampai di depan rumah, Sekar dan Juna datang bersama dengan Miko dan juga bibi pembantu rumah mereka.


Setelah menurunkan Miko dan bibi pembantu, Sekar dan Juna berpamitan, untuk pergi ke rumah sakit.


"Mbak Jani, nitip Miko ya."


Anjani mengangguk mengiyakan permintaan adiknya, Sekar.


Setelah itu, Sekar kembali masuk ke dalam i, dan berangkat bersama dengan suaminya, Juna, untuk pergi ke rumah sakit, melihat keadaan adiknya, Yasmin, yang sedang proses melahirkan.


"Bunda-bunda, besok kalau mamanya Miko melahirkan adik Miko, ke rumah sakit juga tidak?" tanya Miko polos.


Miko berpikir bahwa, semua mama yang mau melahirkan, akan pergi ke rumah sakit, untuk bisa melahirkan bayi.


"Miko berdoa saja ya, semoga, mama Sekar bisa normal dan baik-baik saja. Jadi, bisa melahirkan di klinik sebelah perumahan kita, yang ada di sana! jadi setelah adiknya Miko lahir, Miko bisa langsung ikut melihat adiknya Miko," jawab Anjani, dengan menunjuk ke arah jalan, yang menuju ke sebuah klinik kesehatan, yang ada di perumahan mereka.


Anjani juga menjelaskan pada Miko dan Anggi , bahwa anak-anak, tidak diperbolehkan untuk ikut berkunjung ke rumah sakit.


Anak-anak, di larang untuk ikut ke rumah sakit karena, di rumah sakit banyak orang yang sedang sakit dan virus juga banyak yang bisa menular pada anak-anak. Itu karena anak-anak, memiliki kekebalan tubuh, imun yang belum sempurna, sehingga mereka rawan tertular virus penyakit.

__ADS_1


__ADS_2