
Tet tet tet!
Tet tet tet!
Pintu terbuka. Muncul Anjani yang tersenyum manis. Melihat suaminya yang datang bersama dengan anaknya, Anggi.
"Assalamualaikum Bunda..."
"Assalamualaikum Bun."
Abimanyu dan Anggi, bersama-sama mengucapkan salam kepada Anjani, yang mengangguk dan menjawab salam dari mereka berdua.
"Waallaikumsalam Ayah, Adek."
Beberapa saat kemudian, setelah mereka bertiga duduk bersama di ruang makan.
Anggi langsung bercerita tentang kafe yang baru saja dia datangi, bersama dengan ayahnya tadi.
Tapi yang membuat Abimanyu dan Anjani heran adalah, Anggi bercerita sambil menangis.
"Hiks... kafe tadi, hiks... Anggi, Anggi jadi ingat, hiks..."
Abimanyu dan Anjani, saling pandang tanpa bicara apa-apa. Mereka berdua, masih menunggu Anggi menyelesaikan semua yang ingin dia sampaikan pada mereka berdua. Meskipun merasa aneh dengan sikap anaknya itu.
"Hiks... huwaaa..."
Tangisan Anggi, bukannya berhenti tapi malah semakin kencang dan tak bisa berhenti-henti.
"Huhuhu... huwaaa..."
Abimanyu menghela nafas panjang. Begitu juga dengan Anjani.
Mereka berdua tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh anaknya itu. Apa yang ingin diceritakan, juga belum tuntas.
Setelah puas menangis, Anggi mengusap air matanya. Meskipun sesekali masih terdengar suara sesenggukan menahan air matanya. Supaya tidak terus menerus mengalir dan tidak bisa dihentikan.
"Anggi hiks... Anggi mau pulang cepat Bun, Yah. Hiks..."
Ternyata, keinginan Anggi untuk bisa secepatnya pulang ke Indonesia, kembali dia ungkapkan lagi.
"Anggi, hiks... kangen Indonesia. Tadi, hiks... ada kolam ikan. Jadi, hiks... Anggi ingat kolam ikan yang di Bogor. Hiks..."
Ayah dan bundanya, saling pandang lagi. Mereka berdua, tersenyum mendengar apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh anaknya itu.
"Anggi, hiks... jadi ingat Miko Bunda. Ayah, ayok pulang. Huhuhu..."
"Anggi juga kangen rumah di Bogor. Huhuhu..."
Anggi kembali menangis. Di saat dia mengatakan jika kangen dengan Miko dan rumah yang ada di Bogor.
Rumah milik bundanya, yang sekarang ini sudah menjadi kafe dan juga rumah kost-kostan.
"Oh... jadi ini karena kangen dengan Miko. Yang dulu pernah kecebur kolam ikan berdua ya?" tanya Anjani, yang bermaksud untuk meledek anaknya, Anggi.
Anggi yang masih sesekali sesenggukan, jadi tersenyum-senyum sendiri. Dia merasa malu, karena diingatkan dengan kejadian yang dulu itu.
__ADS_1
"Ihhh Bunda... huhuhu..."
Sekarang, Anggi justru kembali menangis.
Ting klunting!
Ting klunting!
Handphone milik Abimanyu berbunyi. Ini mengalihkan perhatian Abimanyu, dan juga Anjani. Dari Anggi ke meja makan di mana handphone tersebut berada.
"Sebentar Dek," ucap Abimanyu, yang bermaksud untuk pergi mengambil handphone milik ayahnya itu.
Tapi ternyata, dengan cepat Anggi yang berdiri dan berjalan menuju ke arah meja makan. Dia yang mengambil handphone tersebut. Karena merasa jika, bunyi panggilan di handphone milik ayahnya itu, menganggu aktivitasnya yang sedang bersedih.
Dia jadi merasa kesal dan jengkel.
"Eh, Kak Awan?"
Anggi tidak jadi melampiaskan kekesalannya pada handphone tersebut. Karena ternyata, yang sedang menelpon ayahnya adalah Awan. Calon kakak iparnya sendiri.
Dengan tersenyum malu-malu, Anggi menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.
..."Halo calon kakak ipar!"...
..."Eh, kok udah sampai di rumah Dek? Kamu udah ikut pulang Ayah?"...
..."Iya. Ini ada ayah dan bunda juga di rumah. Kakak mau bicara dengan ayah apa bunda? Atau sama Anggi? Hehehe..."...
..."Ah, sama bunda tadinya. Tapi karena ternyata ayah sudah ada di rumah, ya sama ayah aja kalau begitu."...
"Ayah. Kak Awan mau ngomong sama ayah nih!" kata Anggi, dengan menyerahkan handphone tersebut kepada ayahnya.
Abimanyu tersenyum dan mengangguk. Menerima handphone miliknya, untuk diberikan oleh Anggi kepadanya.
..."Ya Wan. Maaf ya, ayah tidak jadi mampir ke kantor tadi."...
..."Iya Yah, gak apa-apa. Ini Awan cuma mau kasih kabar aja kok."...
..."Kabar apa Wan?"...
..."Oma sama Opa, mau datang ke sini. Jadi, mereka berdua akan berada di sini dalam beberapa hari. Dan ikut pulang, di saat Ayah pulang minggu depan."...
..."Oh ya gak apa-apa. Kapan mereka ke sini Wan?"...
..."Mungkin besok malam Yah. Sekarang, mereka sedang persiapan untuk berangkat dari Jakarta."...
..."Oh... Apa Ayah bisa jemput Oma Kamu ke bandara?"...
..."Tidak usah Yah. Supir di mension tidak punya pekerjaan nanti, jika ayah yang menjemput Oma. Hehehe..."...
..."Hahaha... iya-iya. Baiklah."...
..."Besok Awan kabari jika mereka berdua sampai di sini Yah."...
..."Iya."...
__ADS_1
Klik!
Panggilan telpon terputus, dan Anjani segera bertanya pada suaminya, "Kenapa Yah?"
"Itu. Emhhh... mama Amel dan papa Ryan, mau datang ke sini. Dan mereka berdua, akan kembali ke Jakarta bareng kita minggu depan."
"Ada apa Yah? Kok mendadak mereka berdua ke sini."
Abimanyu mengangkat kedua bahunya, karena dia juga tidak tahu apa-apa.
"Gak tahu juga Bun. Mungkin mereka mau jalan-jalan aja. Bosen kan mereka di rumah. Secara, sekarang ini mereka itu sudah tidak lagi aktif di perusahaan."
"Padahal tahu sendiri kan, bagaimana keadaan mereka berdua itu sedari muda. Pekerja keras, hingga usahanya itu begitu pesat berkembang."
Abimanyu mengatakan apa yang dia tahu, dari Oma dan opa nya Awan. Mama Amel dan papa Ryan sewaktu masih muda.
"Iya Yah. Pantas dijadikan panutan bagi para pengusaha muda dan yang baru merintis usaha sendiri," sahut Anjani.
Dia juga merasa kagum dengan kedua mantan mertuanya itu. Tapi, meskipun mereka berdua orang-orang yang sukses, tapi tetap rendah hati dan hidup sederhana.
Mungkin, seandainya mereka di minta untuk baik bus umum, atau kereta api ekonomi bisnis biasa. Mereka berdua tetap menyanggupi. Karena mereka tidak memprioritaskan keegoisan dan gengsi hidup.
*****
Di Jakarta.
Nanda dan Mita sudah resmi berpacaran. Tapi, ini karena Nanda tidak mau membuat Mita merasa terabaikan.
Dia yakin jika, dia pasti bisa menumbuhkan perasaan cinta di dalam hatinya sendiri. Kepada gadis cantik yang sedang kesepian itu.
Nanda juga ingin membuat Mita terus bersemangat dan sehat. Karena sejatinya, penyakit itu tidak hanya sekedar obat-obatan saja yang bisa menyembuhkan.
Tapi juga dari faktor perasaan yang bisa menumbuhkan aura positif. Dari perasaan bahagia, dan nyaman.
Salah satunya tentu saja dengan adanya cinta di dalam hati.
"Nak Nanda. Terima kasih, karena sudah membuat Mita menjadi bisa tersenyum sepanjang waktu. Ini adalah kebahagiaan juga untuk Kami sebagai orang tuanya Mita."
Papanya Mita, mengucapkan terima kasih kepada Nanda. Di saat dia menjemput Mita, untuk berangkat bersama ke kampus.
Karena sekarang ini, Mita sudah pindah kuliah di kampus yang sama dengan Nanda.
"Sama-sama Om, Tante."
"Nak Nanda tidak merasa tertekan atau keberatan kan melakukan semua ini?" Mamanya Mita, ganti yang bertanya.
Nanda mengeleng sebagai jawabannya. Dia memang tidak merasa keberatan atau tertekan, dengan keputusannya untuk menjadikan Mita sebagai kekasihnya.
"Yang Saya takutkan justru pada Mita Tante, Om."
Papa ada mamanya Mita, melihat Nanda dengan wajah bingung.
Mereka berdua, tidak tahu apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh Nanda barusan.
"Ada apa dengan Mita Nak Nanda?" tanya mamanya Mita, dengan rasa penasaran yang tinggi.
__ADS_1