
Keduanya sama-sama terdiam, meskipun telpon belum terputus. Anjani dan Abimanyu, sama-sama berpikir, bagaimana sebaiknya keputusan yang akan mereka ambil terkait tempat tinggal mereka nanti, setelah menikah.
Semenit dua menit, berlalu. Hampir lima menit lamanya mereka masih saling diam dan tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Hanya helaan nafas yang sesekali terdengar, sehingga menandakan jika telpon masih on dan tidak ditinggalkan begitu saja dengan lawan bicaranya.
Akhirnya, Abimanyu yang mengalah untuk membuat pembicaraan mereka kembali lagi.
..."Bagaimana kalau Kamu serahkan pengelolaan kafe pada orang yang Kamu percayai?"...
..."Aku belum lama membuka kafe ini Mas. Orang-orang yang ikut bekerja juga tetangga-tetangga dekat yang mau ikut bergabung dan mereka kebanyakan tidak ahlinya juga di usaha ini. Aku belum berani ambil seorang manajemen ahli yang profesional."...
..."Begini saja. Aku kan kerjanya free, jadi bisa riwa-riwi Bogor Jakarta, meskipun tidak setiap hari. Kamu boleh terus mengelola kafe itu, dan kalau bisa Aku akan buat kantor di rumah saja. Jika ada permintaan audit dari perusahaan, baru akan pergi dan ke tempat klein."...
..."Terima kasih Mas. Aku sangat senang, Mas mau mengerti keadaanku saat ini."...
..."Iya, sama-sama Sayang."...
Telpon terputus. Abimanyu, yang sedang berada di rumah, tentu tidak sendirian, ada adiknya cewek dua orang, yang baru saja siap-siap untuk pergi ke kampus. Ada ibu dan ayahnya juga, yang akan pergi ke kantor. Mereka berdua, ayah dan ibunya Abimanyu, adalah pegawai pemerintahan, yang jabatannya bukan hanya sekedar pegawai negeri biasa. Ada banyak pengaruh dari jabatan mereka berdua.
"Apa tadi Kamu bilang Abi?" tanya ibunya, saat Abimanyu selesai menutup panggilan telponnya.
"Yang mana Bu?" tanya Abimanyu tidak paham dengan maksud pertanyaan ibunya.
"Yang Kamu bilang mau tinggal di Bogor, rumah Anjani," jawab ibunya menjelaskan.
"Oh, itu. Iya Bu, aku akan menemani Anjani untuk mengembangkan kafe rumahnya. Dia kan baru saja merintis, jadi kasihan juga kalau harus di tinggal pergi begitu saja. Nanti gak ada yang urus dengan baik jika diserahkan pada orang lain."
Abimanyu, menjelaskan tentang rencananya nanti, setelah menikah.
"Tapi, Kamu itu laki-laki Bi. Kamu juga bisa menghidupi dia nanti. Apa tidak sebaiknya Kamu pikir lagi jika harus ikut dia di rumahnya?" tanya ibunya lagi, dengan wajah tidak suka.
__ADS_1
"Kenapa Bu? Jani sudah hidup sendiri, kasihan juga kalau Aku memaksakan kehendak untuk dia pindah ke Jakarta lagi," kata Abimanyu, membela keinginan Anjani, calon istrinya.
"Nanti Kamu tidak ada apa-apanya di sana. Kamu dianggap cuma numpang saja. Ibu tidak suka dengan keputusan Kamu itu."
Ibunya, jelas-jelas mengatakan jika tidak suka seandainya anaknya, Abimanyu, akan ikut tinggal di rumah istrinya, Anjani. Dia tidak ingin, anaknya itu, tidak dihargai dan dibilang numpang.
"Iya Kakak ini bagaimana? belum juga resmi jadi istri, sudah ngatur-ngatur begitu!" sahut salah satu adiknya, dengan wajah tidak suka.
"Dia itu sudah janda kan? Janda saja belagu banget," sahut adiknya yang lain.
Abimanyu, mengeleng mendengar perkataan ibu dan adik-adiknya, yang terkesan tidak suka dengan Anjani.
Ayahnya, datang dengan membawa tas kerjanya, kemudian bertanya pada kedua anak gadisnya, "ada apa? kok muka kalian butek begitu?"
"Itu Mas Abi," jawab salah satu dari mereka, menunjuk ke arah Abi dengan dagunya.
"Kenapa?" tanya ayahnya, meminta penjelasan.
"Benar begitu Bi?" tanya ayahnya, beralih pada Abimanyu.
"Iya yah," jawab Abi pendek dan datar.
"Kenapa?" tanya ayahnya lagi, ingin tahu.
"Itu lho Yah, Anjani kan baru merintis usaha kafe rumah, yang ada di pekarangannya itu. Tidak mungkin kan meninggalkannya begitu saja? Ada banyak sekali yang harus dipikirkan jika dia harus ikut tinggal di Jakarta. Lagipula, dia kan hidup sendiri juga, jadi Abi yang kerjanya free akan ikut dia di sana."
Ayahnya, mengangguk mengerti dengan penjelasan Abimanyu. Dia tidak langsung berkomentar banyak, karena ada beberapa hal yang harus dia pikirkan tentang kelanjutan hubungan anaknya nanti, setelah menikah, seandainya harus tinggal berpisah.
"Iya tidak apa-apa. Toh kerjaan Kamu bisa di handel dari rumah. Paling pas ada undangan atau setor hasil penelitian saja datang ke kantor, itu juga tiap kantor beda tempat."
__ADS_1
Ayahnya, bisa paham akan keadaan Abimanyu. Dia tidak memaksakan kehendak kepada anaknya itu, untuk bisa tinggal bersama di rumahnya ini, di Jakarta.
"Ayah!" tegur ibunya, yang tidak suka dengan jawaban dari suaminya itu, karena terkesan mendukung keputusan yang diambil oleh anaknya, Abimanyu.
"Kenapa Bu?" tanya ayah, dengan mengerutkan kening.
"Abi nanti di injak-injak dan tidak dihargai Yah, jika harus ikut tinggal di Bogor. Dikiranya, Abi tidak ada kerjaan dan tidak bisa memberikan makan pada Anjani," kata istrinya, dengan wajah yang tidak suka dengan persetujuan suaminya tadi.
"Itu hanya pemikiran ibu saja. Sudahlah, biarkan Abi membuat keputusan yang menurutnya baik. Kita tidak usah khawatir. Dia sudah dewasa dan tahu, mana yang baik dan tidak."
"Hemmm..."
Akhirnya, ibunya hanya bisa diam dan tidak lagi membantah apa yang dikatakan oleh suaminya sendiri.
"Kalian juga, tidak usah menilai yang tidak-tidak. Pikirkan saja bagaimana caranya agar bisa mendapat IP yang bagus dan bisa lulus. Tidak usah pergi main-main saja," kata ayahnya, menasehati kedua anak gadisnya, yang masih duduk di bangku kuliah.
Abimanyu, tersenyum tipis melihat ke arah ayahnya. Dia berterima kasih, karena didukung dan tidak di tanya-tanya dulu. Begitulah ayahnya, selalu ada pemikiran sendiri untuk setiap keputusan yang diambil dan tidak hanya berkomentar saja.
*****
Di lain tempat, Adhisti yang sudah tidak merasa bahagia lagi, dengan pernikahannya bersama dengan Elang, ingin mengajukan gugatan cerai. Dia tidak ingin hidup dalam keadaan seperti sekarang ini. Menjadi istri hanya sebatas untuk merawat dan membesarkan anaknya saja, yaitu Awan.
Adhisti merasa jika, Elang sudah tidak lagi mencintainya. Dia ingin berpisah dan hidup bahagia sendiri. Melupakan semua kenangan dan impiannya yang dulu, sebelum menjadi istri dari seorang Elang Samudra.
"Indah. Tolong Kamu urus semua yang berkaitan dengan gugatan cerai Aku ya!" ucap Adhisti, pada temannya yang berprofesi sebagai pengacara.
"Kamu yakin Dhis?" tanya temannya, indah, yang tahu bagaimana kisah cinta keduanya dulu.
"Iya. Aku sudah bosan, hanya di anggap sebagai baby sitter untuk awan saja."
__ADS_1
"Tapi, apa kamu tidak khawatir, jika Elang akan menuntutmu balik, dengan kasus korupsi yang terjadi di pabriknya itu?" tanya Indah, sang pengacara, yang sudah tahu, bagaimana kejadian yang sebenarnya, sebelum tuntutan ini diajukan Adhisti.
Sekarang, Adhisti kembali bingung dengan keputusan yang ingin dia ambil. Hatinya kembali bimbang, dan tidak juga menemukan titik terang.