
"Sudah besar ya ternyata," ujar Abimanyu, setelah Awan memperkenalkan dirinya sendiri.
Awan tampak tersenyum, tapi juga merasa heran, karena tidak menyangka jika Abimanyu sudah mengenalnya. Dan mungkin bisa jadi, orang yang diperkenalkan oleh omanya, dengan nama Abimanyu itu, sudah mengenal dirinya sedari kecil. Apalagi dengan perkataan yang tadi diucapkan oleh Abimanyu, setelah Awan menyalaminya.
"Apa Kamu tidak ingat dengan Om?" tanya Abimanyu, mencoba untuk mengingatkan Awan, tentang dirinya.
"Awan!"
Sebelum Awan sempat mengingat dan menjawab pertanyaan dari Abimanyu, dari arah belakang pintu lift, muncul Elang, yang memangil namanya.
"Ayah," sapa Awan, setelah menoleh dan melihat siapa yang memanggil namanya.
"Kenapa tidak langsung naik?" tanya Awan yang tadi berjalan, dan sekarang sudah berada di dekat mereka bertiga.
"Mama yang membuatnya tidak jadi naik lift tadi. Aku tidak tahu, jika dia datang karena undangan darimu. Ada apa?" tanya mama Amel, yang tidak mengetahui tentang panggilan Elang, untuk Awan, supaya datang ke kantor.
"Tidak apa-apa Ma. Aku hanya ingin mengajak Awan pergi sebentar."
Elang akhirnya pamit pada mama Amel dan juga Abimanyu, untuk pergi bersama dengan anaknya, Awan.
"Aku ajak Awan pergi dulu Ma, Mas Abi," pamit Elang, yang sekarang memanggil Abimanyu dengan sebutan Mas, karena tidak enak hati, jika hanya memanggilnya dengan nama saja.
Awan, yang tadi belum sempat menjawab pertanyaan dari Abimanyu, juga ikut mengangguk sebagai tanda berpamitan, setelah itu baru menyalami mereka lagi, termasuk dengan omanya juga.
Mama Amel, memeluk sebentar cucunya itu, sebelum ikut pergi bersama dengan anaknya, Elang.
"Mau kemana mereka berdua?" tanya mama Amel dengan bergumam, tapi tadi dia juga tidak bertanya kepada anaknya.
Abimanyu, yang mendengar pertanyaan dari mama Amel, hanya diam saja. Dia berpikir jika itu adalah urusan privasi mereka berdua, sebagai seorang anak dan ayah.
"Ayok Bi, kita kembali ke atas. Ada beberapa laporan yang belum jelas untuk aku pahami."
Akhirnya, mama Amel mengajak Abimanyu, untuk pergi ke atas, dimana ruangan kerjanya berada.
Abimanyu mengangguk mengiyakan ajakan bos-nya itu. Meskipun mereka berdua dekat seperti layaknya anggota keluarga, tapi dalam pekerjaan, mereka semua saling tahu dan tetap bekerja secara profesional.
__ADS_1
Di dalam perjalanan, Awan bertanya tentang siapa Abimanyu, yang sepertinya sangat mengenal dirinya. "Om Abi itu siapa Yah?"
Elang, yang duduk di bangku penumpang bersama dengan anaknya, Awan, hanya tersenyum tipis karena, sebenarnya dia sedang tidak ingin membicarakan tentang orang lain, terutama Abimanyu.
Tapi karena pertanyaan itu ditujukan oleh anaknya sendiri, Elang, mau tidak mau, harus menjawabnya, sekaligus menjelaskan tentang Abimanyu, agar anaknya itu tahu, siapa sebenarnya orang yang baru saja bertemu, dan dia tanyakan juga.
"Kamu berpikir apa tentang om Abi tadi?" tanya Elang, yang belum menjawab pertanyaan dari Awan. Tapi dua justru bertanya, untuk mengetahui penilaian anaknya, tentang Abimanyu.
Kesan pertama, yang bisa disampaikan sebagai penilaian, terhadap seseorang yang baru saja bertemu dan berkenalan untuk pertama kalinya.
"Dia normal kan Yah? tapi kenapa tadi jalannya agak pincang gitu?"
Awan, justru menilai Abimanyu dari segi fisik terlebih dahulu.
Dari jawaban dan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh awan, Elang jadi berpikir bahwa, anaknya itu tidak mewarisi kelebihan omanya, mama Amel, yang sedikit banyak bisa menilai seseorang untuk kepribadian dan karakter seseorang. Awan, sama seperti dirinya, yang tidak memiliki kemampuan itu.
"Abimanyu itu normal. Sangat normal. Dia hanya pernah mengalami kecelakaan yang hebat, dan itu membuatnya harus kehilangan ingatannya, untuk beberapa bulan dan juga mengalami kelumpuhan untuk beberapa tahun lamanya. Dia harus berada di kursi roda, dan hanya mengandalkan bantuan orang lain untuk bisa melakukan apa-apa, untuk semua kebutuhannya. Dan untungnya, istrinya sangat baik dan sabar. Dia dengan telaten, menjaga dan merawat Abimanyu, hingga bisa sembuh, dan bisa beraktivitas kembali, meskipun memang tidak lagi sama seperti dulu."
Elang menceritakan tentang keadaan Abimanyu, sehingga berjalan dengan sedikit pincang.
"Wah, baik sekali istrinya itu Yah," ujar Awan, menanggapi hal dan cerita dari ayahnya.
"Kamu tidak bertanya, siapa istri dari om Abi tadi?" Elang mencoba untuk memancing rasa penasaran anaknya, tentang istri dari Abimanyu, yang sekarang ini menjadi bahan pembicaraan mereka berdua.
"Siapa Yah?"
Awan bertanya dengan cepat, karena memang sudah merasa penasaran dengan istrinya Abimanyu, yang diceritakan sebagai seorang istri yang baik dan sabar, meskipun suaminya sedang sakit dan lumpuh. Bahkan, bisa diperkirakan jika, Abimanyu tidak bisa kembali dalam keadaan seperti saat tadi bertemu dengannya, yaitu dalam keadaan baik-baik saja, meskipun cara berjalannya sedikit pincang.
Tapi semua itu tidak mempengaruhi penampilannya, karena sebenarnya, Abimanyu juga gagah dan tetap tampan, di mata Awan.
Elang tersenyum tipis, mendengar pertanyaan dari anaknya, tentang istrinya Abimanyu. Istri Abimanyu, yang sebenarnya dulu, pernah begitu dekat dengan dirinya. Bahkan, pernah menjadi istrinya, meskipun tidak dalam jangka waktu yang lama, dan itu hanya sebatas status, karena harus bertanggung jawab, atas kecelakaan yang membuatnya kehilangan ayah dan catat di wajah.
"Istri om Abi adalah Anjani."
Jawaban dari ayahnya, membuat Awan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Awan membuat satu kesimpulan bahwa Abimanyu, adalah laki-laki yang sekarang ini menjadi suami dari mantan istri ayahnya. Madu dari bundanya sendiri, Adhisti.
"Maksud Ayah, om Abi itu adalah suami dari bunda Anjani, yang dulu pernah menjadi istrinya Ayah?" tanya Awan, memastikan kebenaran dari kesimpulan yang dia ambil, dari semua cerita ayahnya.
Baik yang dulu saat ayahnya bercerita tentang mantan istrinya, dan cerita tentang Abimanyu, yang beruntung, karena mendapatkan seorang istri yang baik dan penyabar.
Elang tampak mengangguk, meskipun samar. Dia tidak tahu, harus menjelaskan apalagi dengan anaknya itu, tentang keluarga Anjani dan Abimanyu.
"Jadi selama ini, om Abi dan Ayah, sekantor dan saling bekerja sama juga? bagaimana perasaan Ayah?" tanya Awan, tentang perasaan ayahnya, yang selalu bertemu dengan suami mantan istrinya.
"Tidak kenapa-kenapa. Abimanyu, sudah bekerja sama dengan oma, sejak lama. Bahkan, sejak Ayah belum menikah. Cuma dulunya, om Abi hanya bekerja secara freelance saja. Jadi belum ada kantor khusus untuk audit, yang sekarang ini dipegang oleh om Abi. Dia juga yang sudah membongkar rahasia bunda kamu, saat ada di Jakarta dan Kamu baru saja lahir. Tapi semua itu sudah berlalu. Ayah tidak mau mengingat-ingat kembali. Sekarang, kita pergi ke makam bunda Adhisti bersama-sama. Kemarin-kemarin, kita selalu ke sana sendiri-sendiri. Tapi karena ini adalah tanggal kematian bunda Adhis, kita berdoa ke sana dan ke rumah panti asuhan, untuk memberikan sumbangan atas nama bunda."
Panjang lebar Elang menjelaskan pada Awan, tentang bagaimana keadaan mereka dulu.
Tapi semua itu tidak lagi berarti. Kehidupan sudah berganti, dan masing-masing juga sudah ada di jalan nasibnya sendiri.
Elang hanya bisa berharap, agar mantan istrinya itu tetap berbahagia, dengan keluarganya.
*****
Ara dan Anggi, akhirnya mengantarkan Miko bersama-sama. Mereka bertiga, berjalan dengan Miko dan Anggi yang ada di depan, sedangkan Ara, berada di belakang mereka, untuk memantau keadaan adik-adiknya itu.
"Aku jadi kayak bodyguard mereka berdua ini, hehehe..."kata Ara di dalam pikirannya. Ini karena posisi mereka bertiga, yang sedang berjalan saat ini.
"Kakak. Mau itu dong," ujar Anggi, dengan menunjuk pada gerobak dorong, yang menjajakan makanan Lakers.
"Wah, Miko juga mau dong Kak," sahut Miko dengan wajah memelas, karena berharap agar bisa mendapatkan Lakers yang nikmat dan renyah itu.
Ara, yang sebenarnya juga mau, jadi memeriksa ke kantong bajunya terlebih dahulu. Dia tidak mau jika, sudah memesan jajanan tersebut, tapi tidak membawa uang untuk membayar.
"Wah, uang Kakak di kantong gak cukup nih, untuk kita bertiga beli Lakers itu. Bagaimana jika satu, untuk kalian berdua. Jadi kita pesan cuma dua saja," kata Ara, setelah memeriksa yang dia miliki.
"Yah..."
"Maunya satu..."
__ADS_1
Anggi dan Miko, sepertinya tidak mau jika harus berbagi jajanan Lakers.
Ara harus pulang terlebih dahulu, jika mau membeli tiga Lakers. Atau bisa juga beli dua Lakers saja, untuk kedua adiknya. Sedangkan dia sendiri, hanya bisa melihat mereka berdua menikmati jajanan tersebut nanti.