Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kucing Yang Genit


__ADS_3

Kamar Abimanyu, yang berada di lantai atas, sepi. Tidak ada suara dari dalam kamar. Ibu Abimanyu, yang baru saja pulang dari kantor, ingin menemui anaknya, Abimanyu, karena mendapatkan laporan dari salah satu anaknya yang cewek, jika kakaknya sudah pulang bersama dengan istrinya, dari Bali.


"Masak seharian ini mereka ada di kamar, tidak keluar sejak pulang tadi? heran, ngapain di dalam kamar terus, apa masih kurang selama dua minggu kemarin di Bali?". guman ibunya Abimanyu di depan pintu.


Tapi, dia tidak jadi mengetuk pintu kamar. Ibunya merasa takut, jika Abimanyu kesal karena di ganggu waktu istirahatnya. Ibu dari Abimanyu, sebenarnya takut pada Abimanyu yang tidak pernah tampak marah, tapi diamnya itu lebih menakutkan daripada amarahnya yang berteriak keras.


Akhirnya, ibu Abimanyu kembali ke bawah. Dia ingin menemui anaknya yang cewek, untuk meminta keterangan, karena hanya ada dia di rumah, selain pembantu rumah tangga, saat Abimanyu dan Anjani pulang dari Bali


"Rin, sini!" panggil ibunya Abimanyu.


"Apa sih Bu?" tanya anaknya, yang sedang menonton video dari layar handphone.


"Tadi, saat Mas Kamu itu pulang, masak tidak tanya-tanya soal Ibu atau yang lainnya?" tanya ibunya, ingin tahu apa yang dilakukan Abimanyu dan Anjani tadi, saat baru saja datang dari Bali.


"Tidak ada. Mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar, karena tidak ada orang di rumah selain Aku."


Jawaban yang diberikan oleh anak ceweknya itu, Membuat ibunya Abimanyu merasa tidak senang dengan perilaku menantunya. Dia pikir, ini akan membuat Abimanyu semakin bersikap dingin terhadap keluarganya nanti


"Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus menegurnya secepat mungkin, supaya tidak terlambat nantinya." Ibu Abimanyu, membulatkan tekad untuk menegur menantunya, Anjani, supaya tidak mempengaruhi anak laki-lakinya, yang hanya satu-satunya juga.


"Huh, ini akan lebih parah lagi, jika dia bisa langsung hamil nanti. Aku tidak mau, Abimanyu terlalu mengikuti kemauan istrinya itu. Dia akan lupa pada keluarganya dan hanya peduli terhadap istrinya saja. Bisa-bisa, kisahnya temanku di kantor, yang sering cerita soal anak menantunya, Aku alami juga besok-besok. Amit-amit deh, jangan sampai menantuku seperti itu. Aku mertuanya, ibu dari suaminya. Dia juga harus patuh padaku."


Ibu Abimanyu, sudah memiliki banyak rencana, untuk Anjani, menantunya. Dia ingin, Anjani sadar jika dia lebih di utamakan oleh Abimanyu, dari pada dia yang baru saja menjadi istrinya.


"Bu. Mana minuman Ayah? tadi katanya mau buat, kok malah ada situ." Ayah Abimanyu, suaminya, menegur karena menunggu minuman yang katanya mau di buatkan. Tapi di tunggu lama, tidak juga datang.


"Eh iya Yah, malah kelupaan. sebentar ya!"


Ibunya Abimanyu, segara beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur, untuk membuat minuman untuk suaminya.


Dari arah tempatnya berada, ayah Abimanyu, menggeleng melihat kelakuan istrinya, yang lebih sering mengurus urusan yang tidak penting, dan mengabaikan hal yang seharusnya dia kerjakan terlebih dahulu.


*****


"Mas. Mas Abi, bangun. Sudah hampir malam ini."


Anjani, membangunkan suaminya supaya cepat bangun tidur, karena hari sudah mulai gelap.

__ADS_1


"Hemmm..."


Abimanyu, hanya berguman tidak jelas. Dia menggeliat sebelum membuka mata. "Jam berapa?" tanya Abimanyu, saat matanya sudah terbuka.


"Setengah enam," jawab Anjani. Maksudnya adalah jam setengah enam sore.


"Oh, Kamu masih capek?" tanya Abimanyu, sambil melihat istrinya yang terlihat lelah dan sedikit pucat.


Anjani, hanya mengangguk kemudian beranjak dari tempat tidur. Dia bermaksud untuk pergi mandi.


"Mau kemana?" tanya Abi, memegang tangan Anjani.


"Mandi Mas," jawab Anjani, dengan tersenyum tipis.


"Bareng yuk!"


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Abimanyu langsung berdiri dan menarik tangan Anjani untuk diajak ke kamar mandi. Tapi, Anjani berusaha untuk tetap diam, karena merasa tidak enak, jika akan berlama-lama di dalam kamar mandi. Ini akan membuat dirinya semakin lama bersiap-siap, untuk turun ke bawah dan membantu ibunya atau adiknya mengerjakan pekerjaan rumah.


"Mas. Nanti tambah lama," rengek Anjani supaya Abimanyu, melepaskan tangannya dan mengurungkan niatnya untuk mandi bersama.


"Kenapa?" tanya Abimanyu heran. Dia pikir, Anjani akan suka, sama seperti yang mereka lakukan di Bali kemarin.


"Sudah, tidak apa-apa. Mereka semua akan maklum, kita kan pengantin baru. Hups!"


Abimanyu, membopong tubuh istrinya itu cepat, sehingga Anjani, yang merasa terkejut, tidak bisa mengelak dan menolak. Dia akhirnya pasrah dan ikut apa yang diinginkan oleh suaminya itu.


"Aku kan wajib patuh pada Mas Abi. Aku tidak mau dia kecewa," kata Anjani dalam hati. Meskipun ada banyak pikiran yang berbeda di hatinya, dalam menanggapi sikap ibu mertuanya dan juga adik-adik iparnya nanti.


"Wah, enak bener itu kucing tetangga. Datang-datang, asal ambil makanan saja di rumah kita," kata salah satu adik ipar Anjani, saat Anjani dan Abimanyu turun dari lantai atas.


"Kucing yang mana?" tanya saudaranya yang lain, adik Abimanyu yang satunya lagi.


"Itu, yang warna kuning abu-abu. Genit dia. Kalau ketemu kucing jantan lain, pasti mengeong manja," ucap adiknya yang tadi.


"Wah-wah, parah itu! harusnya di usir jika dia datang. Nanti bisa-bisanya, dia juga akan mencuri si kumis."


Si kumis adalah kucing keluarga Abimanyu, yang berjenis anggora dan berkelamin jantan.

__ADS_1


Anjani, yang mendengar pembicaraan mereka, merasa tidak nyaman. Dia berpikir jika pembicaraan mereka berdua itu, adalah sindiran untuknya. Sebab, adik-adiknya Abimanyu, melirik-lirik ke arahnya, jika sedang berbicara.


"Tau lah. Kumis taruh kandang saja, biar tidak ikut-ikutan kucing liar yang genit itu."


Sekarang, Anjani dan Abimanyu sudah duduk di antara mereka berdua. Abimanyu, hanya diam saja mengamati keduanya. Dia tidak mengomentari tentang kucing yang sedang jadi bahan perbincangan itu.


"Kakak. Mana oleh-oleh untuk kami?" tanya adik Abimanyu, saat dilihatnya Anjani dan kakaknya, Abimanyu hanya diam dan tidak menggubris pembicaraan mereka berdua tadi.


"Ada. Tapi nanti saja, kalau selesai makan malam." Abimanyu menjawab pertanyaan adiknya dengan datar.


"Ihsss Kakak. Sekarang saja," rengek salah satu dari mereka.


"Iya Kak sekarang saja. Aku bisa milih nanti," sahut yang lain lagi.


"Tidak," kata Abimanyu pendek.


Kedua adiknya, diam dan saling pandang. Mereka berdua yakin, jika perumpamaan tentang kucing tadi, sudah terjadi sekarang ini, pada kakaknya, Abimanyu.


"Ibu belum pulang arisan di RT. Sebentar juga pulang. Sekalian saja sama ibu juga ya?" satu lagi memberikan usulan.


Abimanyu hanya diam saja, dan tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dan menanggapi usulan dari adik-adiknya.


"Mas. Aku bantu bibi di dapur ya?" tanya Anjani, berpamitan pada suaminya.


"Tidak usah Kak. Sudah selesai kok masaknya. Paling tinggal membereskan meja makan nanti pas waktunya makan. Kakak tidur saja, kan pastinya masih capek."


Perkataan dari salah satu adik iparnya itu, membuat Anjani yakin, jika sedari awal mereka bicara soal kucing, ditujukan untuknya, dan bukan kucing yang sebenarnya.


Anjani hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis. Dia mencoba untuk melapangkan dada dengan semua sikap adik-adik iparnya itu. Adik dari suaminya, Abimanyu.


*** Happy new year semuanyaπŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


jaga kesehatan dan keselamatan.


Semoga tahun ini akan lebih baik lagi.


Terima kasih masih setia membaca novel berbagi Cinta karya TK. πŸ˜˜πŸ˜πŸ™

__ADS_1


Boleh dong mampir di novel TK yang anak genius juga, sudah mau tamat lho πŸ˜πŸ˜πŸ™



__ADS_2