Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Awal Yang Baik


__ADS_3

Nanda sedang berbicara dengan mamanya, Yasmin, terkait dengan rencana wisudanya beberapa bulan depan.


"Syukur Alhamdulillah Nda. Kamu bisa menyelesaikan semua tugas Kamu selama kuliah," ucap Yasmin dengan perasaan bangga, tapi juga sedih dan terharu.


Dia bangga, dengan keberhasilan anaknya itu hingga lulus kuliah.


Tapi dia merasa sedih, yang bercampur dengan rasa haru juga. Karena selama ini, dia merasa tidak perhatian pada anaknya itu. Dia tidak bisa mendampingi Nanda dengan berada di Jakarta.


Karena sekarang ini mereka memang tidak tinggal bersama. Yasmin harus ikut tinggal bersama dengan suaminya yang sekarang ini. Dengan berdomisili di kampung halamannya Aksan.


"Ya Ma. Nanda juga sangat berterima kasih pada mama. Karena mama sudah banyak membantu Nanda selama ini."


Nanda juga mengucapkan terima kasih atas semua yang sudah dilakukan oleh mamanya, Yasmin. Yang sudah berjuang untuk dirinya selama ini, meskipun mamanya juga sudah memilki kehidupannya sendiri. Bersama dengan keluarga barunya.


"Itu kewajiban Mama Sayang. Tidak perlu berterima atas apa yang Mama lakukan."


"Ma... emhhh..."


"Ada apa? Apa Kamu perlu ada perlu uang? Mumpung Mama belum pulang ke kampung. Jadi, bisa minta langsung."


Nanda memang tidak pernah meminta uang pada mamanya. Karena Yasmin akan mengirim sendiri. Tidak pernah terlambat juga.


Apalagi, kadang kala papanya, Wawan, juga memberikan uang saku untuknya.


Sebelumnya, Yasmin marah dan tidak suka jika Nanda menerima uang dari pemberian mantan suaminya itu. Tapi ayah Edi menasehati Yasmin, untuk membiarkan Nanda menerima uang dari papa kandungnya.


Karena menurut ayah Edi, sejauh apapun jarak antara Yasmin dan Wawan sekarang, tapi itu bukan berarti dengan Nanda, yang notabene adalah anak kandungnya. Darah daging Wawan sendiri.


Sebab itu juga, akhirnya Yasmin membiarkan anaknya merima uang dari Wawan. Atau jika ada waktu mereka bertemu juga.


Yasmin hanya mewanti-wanti agar Nanda tidak terpengaruh dan mengikuti jejak papa kandungnya itu.


Sekarang, mereka berdua saling berpelukan dengan rasa haru.


"Maafkan Nanda ya Ma. Nanda selalu buat repot Mama," ucap Nanda dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak. Kamu tidak merepotkan Mama. Justru Mama bersyukur, karena Kamu tumbuh jadi remaja yang baik dan tidak ikut-ikutan pergaulan yang ada di luaran sana. hiks..."


Yasmin menepuk-nepuk punggung anaknya itu, dengan berderai air mata.


Ibu Sofie yang tidak sengaja melihat agenda mereka berdua, jadi ikut terisak tanpa sadar. Dia ingat bagaimana perjalanan dari tahun ke tahun, anak dan cucunya itu melewati beberapa cobaan.


'Aku juga ikut bersalah atas semua yang sudah terjadi dengan mereka.' batin ibu Sofie, dengan mengusap air matanya.

__ADS_1


"Bu," sapa ayah Edi, yang melihat istrinya itu berdiri di depan pintu dapur.


Tapi istrinya itu tidak menjawab. Dia justru kembali terisak dan segera memeluk suaminya yang ada di sebelahnya.


"Ibu sedih Yah, liat mereka berdua. Hiks... ini ibu juga ikut salah."


"Sudah-sudah. Tidak perlu disesali yang sudah lewat. Yang penting, bagaimana menatap masa depan, dengan jalan yang benar."


Ibu Sofie mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dia masih memeluk ayah Edi, menumpahkan air mata haru dan sedihnya. Atas rasa bersalah dengan apa yang dialami oleh anak dan cucunya itu.


*****


Di pangkalan barang-barang bekas.


Wawan yang memang tahu jika, mantan istrinya yang pertama saat ini ada di Jakarta, ingin datang berkunjung. Dia ingin meminta maaf pada Yasmin.


"Mi. Ayok ke rumah mantan mertuaku Mi. Eyangnya Nanda."


Wawan mengajak istrinya, si Mami, untuk ikut bersama dengannya. Pergi ke rumah ayah Edi, untuk bertemu dan meminta maaf pada Yasmin.


"Mau ngapain Mas? Jika mau bertemu dengan Nanda, suruh aja dia ke sini!" sahut Mami, yang memang tidak tahu apa maksud dari ajakan suaminya itu.


Akhirnya, Wawan berbicara dengan Mami. mengutarakan niatnya untuk bertemu dan meminta maaf pada mantan istrinya yang dulu.


Wawan mengangguk mengiyakan. Kemudian Mami segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah kamar. Dia ingin berganti pakaian terlebih dahulu, untuk ikut bersama dengan suaminya.


Meskipun Mami tahu jika, dia tidak mungkin bisa bersaing dengan Yasmin, mamanya Nanda, tapi setidaknya dia akan berusaha untuk tampil maksimal. Tidak asal seperti biasanya jika sedang bekerja sehari-hari.


Setelah beberapa saat kemudian, Mami tampak keluar dari dalam kamar. Penampilannya yang sederhana tapi tetap elegan dan rapi, membuat Wawan terkesima.


"Mi," panggil Wawan dengan wajah berbinar.


"Ayo Mas!" ajak Mami, dengan mengulurkan tangannya, untuk membantu Wawan bangkit dari tempat duduknya.


"Eh, iya yuk!"


Wawan pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengandeng tangan istrinya itu, untuk keluar dari dalam rumah.


Mereka berdua menuju ke mobil pick up yang terparkir di pangkalan barang-barang bekas. Untuk dijadikan sebagai kendaraan menuju ke rumah ayah Edi.


"Kamu gak akan cemburu kan nanti, saat ketemu mamanya Nanda?" tanya Wawan, di saat mobil sudah melaju di jalan raya.


"Kenapa? Kamu gak mau balikan juga kan dengan mamanya Nanda?" Mami justru berbalik mempertanyakan keinginan suaminya itu.

__ADS_1


"Hehehe... gak lah Mi. Aku cukup tau diri," sahut Wawan dengan terkekeh-kekeh.


Dia tahu, kesalahan yang sudah dia lakukan untuk Yasmin dan keluarganya sudah terlalu banyak. Padahal, mereka semua sudah selalu baik terhadap dirinya.


"Kita beli oleh-oleh dulu Mas. Seenggaknya, ada buah tangan yang bisa kita bawa."


Wawan mengangguk mengiyakan. Kemudian bertanya, "beli oleh-oleh apa ini Mi?" Wawan tidak tahu, apa yang ingin dibeli oleh istrinya itu, dijadikan sebagai oleh-oleh nanti.


"Emhhh... bagusnya beliin apa ya Mas?" Mami justru balik bertanya.


"Buah aja ya, yang umum." Mami menjawab pertanyaannya sendiri. Karena tahu jika, suaminya itu pasti sama bingungnya juga dengan dirinya.


Wawan kembali mengangguk setuju. Kemudian menjalankan mobilnya secara pelan. Karena sambil melihat-lihat dan menemukan kios yang menjual buah segar.


*****


Rumah mama Amel terdengar ramai.


Ada Ara dan Awan, yang menjadi bahan ledekan mama Amel bersama dengan papa Ryan.


"Ra, kasih Oma cicit yang banyak ya!"


"Oma, satu aja belum minta banyak," sahut Awan, dengan wajah datar.


Wajah Ara sudah memerah karena malu. Dia berpikir jika, dia dan Awan aja belum melakukan apa-apa, malah sudah dipesan untuk buat cicit yang banyak.


"Ya kan Oma pesan dulu Wan," sahut mama Amel tidak mau kalah.


"Ma. Memangnya mereka online shop ya?" tanya papa Ryan, menanggapi perkataan istrinya yang ambigu.


"Hahaha... Opa ihsss..."


Mama Amel tertawa lepas, mendengar gurauan suaminya itu.


"Lagian, gak usah persen. Bisa jadi satu aja belum. Eh... itu Wan. Kamu udah... itu belum?"


Pertanyaan papa Ryan yang tidak jelas, membuat Awan dan Ara, mengerutkan keningnya. Memikirkan apa yang dimaksud oleh opanya.


Tapi mama Amel justru kembali tertawa senang, karena ternyata, bukan hanya dia saja yang suka menggoda pasangan pengantin baru ini.


"Pah. Yang jelas jika bertanya! Mereka bingung tuh. Hahaha..."


"Hehehe..." papa Ryan juga terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Sedang Awan bersama dengan Ara, justru saling pandang. Saat keduanya memiliki pemikiran yang sama. Dengan apa yang ditanyakan oleh opa Ryan tadi.


__ADS_2