Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Hujan Masih Turun


__ADS_3

"Miko! Huwaaa... Bunda, Miko nakal! huhuhu..."


Anggi menangis, karena baru saja berantem sama Miko.


Hari ini, Miko dititipkan di rumah Anjani, karena Sekar sedang tidak enak badan. Dia sedang ngidam, dan badannya terasa lemas, sehingga tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Dia juga tidak bisa menjaga anaknya, Miko, selepas anaknya itu pulang dari sekolah.


Tadi, yang menjemput Miko dari sekolah juga Anjani, karena Sekar tidak mungkin bisa menjemput anaknya itu, dalam keadaan tubuhnya yang lemas dan tidak bertenaga.


Dari pengakuan Juna, Sekar juga tidak bisa melakukan apa-apa, seperti memasak atau membersihkan rumah. Jadi, untuk sementara, Anjani diminta bantuannya, untuk menjemput Miko sepulang sekolah.


Juna bisa mengantar Miko ke sekolah, karena bisa sejalan dengan waktu berangkat kerjanya. Dia juga sedang mencari-cari seorang pembantu rumah tangga, yang cocok, dan bisa ikut menjaga Miko juga, sementara waktu, sampai Sekar tidak lagi ngidam dalam keadaan yang seperti sekarang ini.


"Bunda!"


Anggi kembali berteriak, memanggil bundanya, Anjani.


"Iya Sayang. Ada apa?" tanya Anjani, begitu dia sampai di depan anaknya, yang saat ini sedang duduk di lantai. Sedangkan mainan miliknya, tampak berantakan dan berserakan kemana-mana.


"Anggi, kok berantakan semua? Dirapiin dong Sayang..." Anjani mengeleng beberapa kali, melihat keadaan anaknya yang sedang duduk sambil menangis.


Miko, yang sedang bermain-main sendiri dengan mobil-mobilannya, hanya diam saja, tanpa berusaha untuk mendekat atau menjawab pertanyaan dari tantenya, Anjani.


"Itu Miko Bunda. Dia yang berantakin tadi. Huhuhu..." Anggi kembali mengadu.


"Gak. Miko gak nakal. Miko gak berantakin mainan Anggi. Tadi Miko cuma pinjam ini kan?"


Miko mencoba untuk membela diri, dengan menunjuk pada beberapa crayon warna milik Anggi.


"Tadi, Anggi yabg pelit bunda Jani. Dia tidak mau meminjamkan crayon itu. Miko kan mau pinjam!"


Sekarang, justru Miko yang berganti posisi, mengadu kepada Anjani, tentang kelakuan Anggi, yang tidak mau berbagi mainan dengannya.


Miko menuduh Anggi yang nakal dan pelit, karena tidak mau meminjamkan crayon miliknya.


Anjani mengangguk paham, dengan maksud Anggi, atupun Miko. Dia tahu, jika anak-anaknya itu, sedang mencari pembenaran pada diri mereka sendiri. Tidak ada yang mau mengakui jika mereka bersalah.


"Bunda sedang buat puding. Kalau kalian berantem terus dan rewel, pudingnya gak selesai-selesai dan tidak busa segera di makan juga. Bagaimana ini bunda buatnya?" Anjani pura-pura mengeluh, tentang pekerjaan dapurnya yang tertunda, karena perseteruan antara mereka berdua.


"Ya deh, ini!"

__ADS_1


Milo mengalah, dan menyerahkan crayon milik Anggi, untuk tadi dia pinjam dengan cara memaksa.


Anggi menerima crayon tersebut, dengan wajah di tekuk. Dia belum bisa memaafkan kelakuan sepupunya, Miko.


"Anggi," panggil Anjani, meminta pada anaknya itu, untuk tersenyum, karena Miko sudah mengembalikan crayon miliknya.


"Gak mau. Miko nakal!"


Anggi masih saja tidak mau memaafkan Miko. Dia melengos dan mulai bermain sendiri, dan tidak mempedulikan bundanya ataupun Miko, yang masih berada di depannya saat ini.


Anjani hanya bisa menghela nafas panjang, saat melihat anaknya yang satu ini berkeras hati dan sedikit lebih tegas dalam bersikap, meskipun terkesan cengeng, dibanding dengan anaknya yang satunya lagi, yaitu Ara.


Tentu saja, sebagai seorang ibu, Anjani paham dan tahu dengan benar, bagaimana watak dan karakter dari anak-anaknya sendiri.


"Miko main sendiri ya. Bunda mau buat puding. Miko mau tidak?" tanya Anjani, saat melihat Miko yang masih bengong dan tidak bisa ikut bermain dengan Anggi.


"Iya Bunda. Miko mau minta buat mama juga ya?" Miko justru ingat dengan mamanya, Sekar, yang saat ini sedang beristirahat di rumah.


Anjani terbelalak dengan tersenyum senang, karena mendengar permintaan dari keponakannya itu. Dia merasa senang karena ternyata, Miko yang dikenal sebagai anak usil dan reseh, memikirkan bagaimana keadaan mamanya juga. Dan bukan hanya sekedar memikirkan dirinya sendiri, yang saat ini ditawari Anjani, untuk puding yang baru saja dia buat nanti.


"Tentu saja Sayang. Nanti Bunda bungkus juga buat mamanya Miko di rumah." Anjani menjawab permintaan Miko dengan senang hati.


Miko segera mengangguk dengan cepat, sedangkan Anggi, hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa.


Duarrr!


"Bunda!"


"Bunda Tante!"


Tiba-tiba, Guntur terdengar mengelegar. Mendung juga terlihat gelap di luar rumah. Mungkin, sebentar lagi hujan akan turun.


Anggi dan Miko, sama-sama berteriak memanggil Anjani, saat mendengar suara guntur yang tiba-tiba datang.


Anjani juga berlari dari arah dapur, untuk melihat keadaan anak dan juga keponakannya itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Anjani, dengan wajah khawatir.


"Bunda. Anggi takut!"

__ADS_1


Anggi berdiri dan berlari memeluk bundanya. Dia merasa takut jika guntur akan datang lagi nanti.


Miko juga melakukan hal yang sama. Tapi dua tidak memeluk Anjani, dan hanya berpegangan pada tangan Anjani saja.


"Ayok-ayok! ikut Bunda ke dapur saja kalau begitu." Anjani mengajak keduanya untuk ikut bersama dengannya ke dapur, supaya lebih mudah untuk diawasi.


Anggi dan juga Miko mengangguk mengiyakan permintaan bundanya, Anjani. Mereka berdua ikut berjalan ke arah dapur, untuk menuggu puding yang mereka inginkan.


Duarrr!


Guntur kembali terdengar, dibarengi dengan hujan yang turun dengan lebat.


"Bunda, hujan!"


Anggi berteriak, sambil menunjuk ke arah luar rumah. Dia bisa melihat hujan yang turun, lewat kaca jendela yang terbuka.


"Iya Sayang. Hujan turun, dan ini sudah masuk musim hujan. Makanya, kalian harus berhati-hati, dan tidak usah bermain air hujan juga. Biasanya, kalau habis kehujanan atau main hujan, badan akan panas dan kepala juga pusing. Jadi, lebih baik tidak usah ya!"


Mereka berdua mengangguk mengiyakan perkataan Anjani. Mereka berdua hanya melihat tetesan air hujan yang turun dari langit, melalui jendela rumah.


"Ayah sudah pulang belum ya Bunda?"


Anggi tiba-tiba bertanya tentang ayahnya, Abimanyu. Mungkin, Anggi merasa kangen dengan ayahnya itu, dan kangen juga dengan kakaknya, Ara, yang saat ini bersama dengan ayahnya, pergi ke Bogor.


"Tadi pagi sudah telpon, kalau mereka sudah bersiap-siap untuk pulang. Tapi mampir ke kafe rumah Bunda, untuk mengambil asinan buah. Kamu suka tidak?"


Anggi mengeleng beberapa kali. Dia memang tidak begitu suka dengan asinan. Mungkin juga karena Anggi masih kecil, dan tidak begitu suka dengan bumbu yang dipakai untuk membuat asinannya.


"Kak Ara ikut ayah Abi ya Bunda?" tanya Miko, yang baru sadar, kalau Ara tidak berada di rumah.


"Kak Ara ikut ayah Abi ke Bogor. Tapi mereka sudah pulang kok. Mungkin masih ada di dalam perjalanan. Apalagi cuaca seperti ini, bisa-bisa macet dan mereka akan banyak berhenti, untuk beristirahat dan menghindari hujan lebat ini."


Anjani paham, dengan keterlambatan suaminya, yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.


Anjani tahu, jika suaminya itu, sudah lama tidak menyetir sendiri, apalagi sekarang dalam perjalanan jauh juga. Bukan hanya sekitar Jakarta saja, tapi pergi ke Bogor.


Tadi, saat suaminya menelpon, Anjani juga berpesan, agar berhati-hati saat memegang setir, dan tetap berkonsentrasi pada jalanan. Tidak usah terburu-buru. Yang penting, selamat sampai di rumah dan tidak terjadi sesuatu dengan mereka berdua.


Dia menyarankan kepada suaminya, supaya beristirahat terlebih dahulu, jika merasa capek dan lelah. Apalagi saat mengantuk. Diwajibkan untuk beristirahat sebentar, dan melanjutkan perjalanan jika sudah merasa cukup baik, dan tidak lagi dalam keadaan mengantuk.

__ADS_1


Anjani tidak ingin terjadi sesuatu pada suami dan anaknya, yang sedang ada di dalam perjalanan pulang dari Bogor ke Jakarta.


__ADS_2