Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Satu Kecupan


__ADS_3

Mobil ayah Edi, tampak memasuki halaman, dan tidak lama kemudian, berhenti tepat di depan pintu rumah, yang sudah ada beberapa anggota keluarga, yang sudah menunggu kedatangan mereka sedari tadi.


Ibu Sofie dan Sekar, bersama dengan anak-anak, Ara dan Nanda, berdiri dengan rasa haru, karena bahagia yang sedang mereka rasakan saat ini, atas kepulangan Abimanyu dari rumah sakit.


Dari dalam rumah, dua bibi pembantu dan baby sitter keluar, untuk ikut menyambut kedatangan Abimanyu juga.


Mobil sudah berhenti. Ayah Edi dan Juna, keluar terlebih dahulu, di susul kemudian oleh Anjani.


Mereka bertiga, mengeluarkan barang-barang bawaan dari rumah sakit, dan juga mengeluarkan kursi roda Abimanyu.


Setelah semua selesai, ayah Edi dan Juna membantu Abimanyu, untuk bisa keluar dari dalam mobil. Dengan pelan dan hati-hati, mereka berdua memposisikan Abimanyu dengan nyaman di kursi roda. Setelahnya, mereka bersiap untuk masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang Mas Abi," ucap Sekar dengan memeluk Abimanyu sebentar.


Begitu juga dengan ibu Sofie, dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh anaknya, Sekar.


"Selamat datang Abi. Semoga lekas sembuh ya berada di rumah. Kami akan ikut menjaga dan merawat mu bersama-sama," ucap ibu Sofie, sambil menitikkan air mata penuh haru.


"Ayah...!"


"Ayah Abi!"


Ara dan Nanda berteriak bersama-sama, kemudian berlarian menuju ke arah ayah mereka, ayah Abimanyu.


Abimanyu tersenyum senang mendengar panggilan dari anak-anak. Meskipun dia tidak mengingat siapa anak-anak itu, tapi dia yakin jika, dia dan kedua anak yang ada di depannya saat ini, mempunyai hubungan yang sangat dekat.


"Ini Ara Mas Abi, anak kita. Sedangkan yang besar, yang cowok ini, anak dari adiknya mas Abi, yaitu Yasmin. Nanda ikut bersama kita, karena mamanya, Yasmin, bekerja di Taiwan. Katanya seminggu lagi Yasmin akan pulang. Jadi mas Abi bisa bertemu dengan Yasmin nanti," kata Anjani, menjelaskan pada suaminya, Abimanyu, tentang siapa anak-anak yang saat ini sedang mengerubungi dirinya, yang duduk di kursi roda.


"Nanda yang dorong ya Yah, Bun?" tanya Nanda, sambil memegang, pegangan tangan yang ada di depan Abimanyu.


"Sini Sayang, kalau mau dorong. Itu tombol yang ada di tangan ayah Abi, jangan dipencet-pencet," kata Anjani, memberi peringatan pada Nanda, supaya berhati-hati saat memegang kursi roda Abimanyu.

__ADS_1


Anjani, menunjuk pada pegangan tangan, yang ada di bagian belakang kursi roda, dibelakang punggung Abimanyu.


Anjani melarang Nanda, untuk memencet-mencet tombol yang ada di sandaran tangan Abimanyu, karena di sana ada tombol otomatis, untuk menjalankan kursi roda, tanpa bantuan orang lain yang mendorongnya dari arah belakang.


Nanda patuh dengan apa yang dikatakan oleh Anjani. Dia akhirnya ke arah belakang dan ikut memegang pegangan tangan yang ada di belakang, sama seperti yang dilakukan oleh Anjani.


Padahal, yang sebenarnya mendorong kursi roda Abimanyu, tetap saja Anjani, karena Nanda tidak mungkin kuat mendorongnya.


Tapi, demi menyenangkan hati Nanda, Anjani mengikuti kemauan keponakannya itu.


Yang lain, ikut tersenyum melihat tingkah Nanda yang ternyata memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia peka terhadap lingkungan dan sekitarnya, terutama pada orang-orang terdekatnya dan dia sayangi.


"Semoga, dia punya kepedulian terhadap sesama ya Bu," kata ayah Edi, penuh harap.


Ayah Edi berharap, agar cucunya, Nanda, tidak sama seperti papanya, Wawan, yang hanya bisa membuat repot orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Iya Yah. Ibu juga berharap hal yang sama. Ini juga karena didikan Anjani dan Abimanyu Yah. Untungnya, Nanda ikut bersama dengan mereka. Ibu tidak tahu, bagaimana keadaan Nanda jika ikut papanya atau mamanya, dulu. Semoga, Yasmin juga sekarang sudah benar-benar berubah. Ibu sungguh menyesal, karena telah memanjakan Yasmin sejak kecil. Dan berakibat tidak baik pada akhirnya."


Ibu Sofie mengenang kembali perlakuannya terhadap anaknya yang paling bontot, Yasmin, yang selalu dia manja sejak kecil dulu. Dia berharap, cucunya Nanda, tidak memiliki sifat yang sama seperti mamanya, Yasmin. Tidak juga seperti papanya, Wawan, yang suka merepotkan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Hampir sebulan Abimanyu berada di rumah sakit. Dan malam ini, untuk pertama kalinya Abimanyu ada di rumah, setelah pulang dari rumah sakit. Kecelakaan yang dia alami, membawa banyak perubahan dalam pribadinya dan juga ingatannya.


Abimanyu, hilang ingatan, dan yang lebih parah lagi, dia lumpuh dan tidak bisa melakukan apa-apa termasuk untuk sekedar makan dan minum.


Semua harus dibantu oleh orang lain. Dan saat ini, dia hanya mengandalkan Anjani, yang menurut cerita dari mereka-mereka, Anjani adalah istrinya.


Istri yang sudah memberinya satu orang anak perempuan, Ara. Gadis kecil, yang tadi ikut menyambut kedatangan bersama dengan yang lain.


Setelah makan malam, Abimanyu dibantu oleh Anjani, masuk ke dalam kamar.


"Mas minum obat dulu ya. Setelah itu, baru tidur. Atau mas Abi mau berbincang-bincang terlebih dahulu?" tanya Anjani, sambil membuka bungkus-bungkus obat, yang harus diminum oleh Abimanyu malam ini.

__ADS_1


"Boleh Aku bertanya?" tanya Abimanyu sambil menatap wajah istrinya, Anjani.


"Tanya apa Mas?" tanya Anjani, menjawab pertanyaan dari suaminya, Abimanyu.


"Aku kecelakaan di mana? bagaimana Aku bisa kecelakaan? dan saat itu Aku naik apa?" tanya Abimanyu, yang ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat kecelakaan itu terjadi.


Anjani menghela nafas panjang. Dia sendiri sebenarnya tidak ada di tempat, saat kecelakaan itu terjadi. Dia ada di Bogor bersama dengan anak-anak.


Tapi, dari penuturan yang disampaikan oleh Juna dan ayah Edi, serta pantauan cctv yang ada di sekitar jalanan, dan beberapa saksi yang melihat kejadian itu, Anjani bisa juga menceritakan tentang kecelakaan yang terjadi pada suaminya itu.


Akhirnya, Anjani mengulang lagi cerita yang dia tahu. Meskipun dia juga mengatakan jika pada saat kejadian, dia dan anak-anak, berada di Bogor.


"Jadi, kecelakaan itu beruntun Mas. Dan mobil mas Abi ikut mengalami kecelakaan tersebut, bersama dengan bus dan mobil sedan yang menabrak mas Abi. Ini awalnya dari truk kontainer yang oleng. Karena mas Abi mengalami hilang ingatan, pihak kepolisian tidak meminta mas Abi untuk menjadi saksi. Tapi Anjani tetap bersyukur, karena mas Abi masih selamat. Banyak korban yang meninggal dunia termasuk supir bus dan sedan yang menabrak mobil mas Abi."


Abimanyu, mendengarkan cerita Anjani dengan wajah tegang. Dia tidak menyangka, jika kecelakaan yang sudah membuatnya harus mengalami kelumpuhan dan hilang ingatan, sangat tragis.


Abimanyu, memberikan isyarat pada Anjani supaya mendekat.


Anjani pun mengikuti keinginan suaminya itu. Dia mendekatkan telinganya, supaya Abimanyu bisa mengatakan apa-apa yang ingin dia katakan.


Tapi, sepertinya Anjani salah sangka. Karena ternyata, Abimanyu tidak mengatakan apapun padanya. Justru, Abimanyu hanya diam mengamati wajah Anjani dari dekat.


Cup!


Anjani kaget, saat bibir Abimanyu, mendarat di pipinya.


"Terima kasih, karena tidak meninggalkan diriku, saat Aku tidak bisa melakukan apa-apa," kata Abimanyu, sambil tersenyum, melihat Anjani yang masih tertegun ditempatnya.


"Hai!"


Abimanyu, memanggil Anjani, supaya sadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh, emhhh... Jani, Jani kaget. Hehehe..."


Anjani jadi salah tingkah, karena ketahuan terpana dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tadi. Memberikan satu kecupan di pipinya. Satu kemajuan yang berarti, dirasakan oleh Anjani pada suaminya, Abimanyu, malam ini.


__ADS_2