
Sebulan kemudian.
Persiapan Abimanyu untuk pulang ke Indonesia, sudah dilakukan.
Beberapa barang yang harus di bawa pulang ke Indonesia, sudah di paking sedemikian rupa. Agar pada waktunya nanti, tidak terburu-buru dan akhirnya terlupakan.
Ara, sebenarnya juga ingin ikut pulang ke Indonesia. Tapi karena wisudanya juga tinggal menunggu waktu, dia pun akhirnya hanya bisa bersedih hati. Sebab harus tinggal sendiri di Amerika.
"Ada kak Awan juga. Kakak gak akan kesepian lah!" seru Anggi, di saat Ara mengatakan rasa sedihnya.
"Beda dong Dek. Kan Kakak jadi gak temen berantem," sahut Ara, dengan bibir mengerucut.
"Hah! Maksud Kakak untuk gantiin Anggi berantem?" tanya Anggi, yang paham apa maksud dari perkataan kakaknya.
"Hahaha... salah satunya. Weekkk!"
"Ihsss... awas ya! Anggi bilang ke kak Awan, supaya di ajak berantem terus."
"Huhs! Gak boleh itu. Kalau dengan kak Awan... sayang-sayangan dong. Hehehe..."
Mereka berdua, terus berdebat di dalam kamar. Mereka tidak sadar, jika orang yang sedang mereka bicarakan, Awan, ada di rumah mereka.
Awan baru saja datang. Karena dihubungi oleh Abimanyu, supaya datang ke rumahnya.
"Eh, bentar deh Kak. Emhhh..."
Anggi sengaja mengantungkan kalimatnya, supaya kakaknya merasa penasaran.
"Apa sih Dek?" tanya Ara dengan cepat.
"Hehehe... aneh ya kalau dipikir-pikir. Kakak kan sukanya baca novel dengan kisah misteri atau petualangan. Memang bisa romantis gitu sama kak Awan?"
Ara mendelik, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh adiknya barusan.
"Ihsss....anak kecil. mau tau aja!"
"Hahaha... kabuurrr!"
Anggi segera menghindar dari cubitan kakaknya, dengan berlari keluar dari dalam kamar.
"Eh, awas ya!"
Ara tidak mau kalah. Dia segera ikut berlari, menyusul Anggi yang sudah keluar dari dalam kamar terlebih dahulu.
Tapi saat tiba di luar kamar, Ara dengan cepat menghentikan larinya. Karena melihat keberadaan Awan, yang tersenyum. Melihat bagaimana tingkahnya yang masih saja lari-larian bersama dengan Anggi.
"Kakak," sapa Ara, dengan tersipu malu.
Anggi justru cengengesan, melihat kakaknya yang sedang salah tingkah sendiri. Dan tidak melanjutkan kegiatannya yang tadi. Yaitu mengejarnya.
"Adek. Kenapa gak bilang-bilang sih!"
__ADS_1
Ara berbisik menyalakan adiknya, saat dia sudah duduk di samping Anggi.
"Mana Anggi tahu, jika Kak Awan ada di rumah?"
"Udah-udah. Kalian berdua ini. Gak ada ya akur gitu jika sedang bersama?" Anjani menegur keduanya anaknya, yang memang masih suka berantem dan main kejar-kejaran.
"Maaf ya Wan. Beginilah mereka berdua jika sedang bersama." Abimanyu, ikut menimpali perkataan istrinya, dengan meminta maaf pada calon menantunya itu.
"Hehehe... gak apa-apa Yah. Yang begini ini yang besok-besok akan jadi bikin kangen. Sayangnya, Awan gak ada teman berantem di rumah."
"Besok-besok, pas udah nikah, berantemnya sama kak Ara aja!" sahut Anggi cepat.
"Ih Adek!"
Ara memukul lengan adiknya, supaya tidak lagi bicara sembarangan.
"Hehehe..m iya deh. Bukan buat berantem. Tapi buat di sayang-sayang! Hahaha... kabur lagi!"
Dengan cepat, Anggi bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlari menuju ke arah belakang ayahnya. Dia minta perlindungan agar tidak di cubit kakaknya lagi.
Abimanyu dan Anjani, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat anak-anaknya yang tetap saja tidak mau diam.
Tapi, Awan justru tertawa senang. Karena bisa melihat bagaimana keadaan keluarga mereka semua.
Setelah beberapa menit berlalu.
"Kakak kenapa gak kasih kabar jika mau datang?" tanya Ara, pada Awan.
"Oh, jadi ayah yang minta. Emhhh..."
"Kenapa?" tanya Awan, yang merasa jika, Ara sedang merasa diabaikan olehnya.
"Gak. Gak apa-apa. Udah sana sama-sama ayah!" usir Ara, dengan nada jengkel.
"Hehehe... ngambek aja cantik. Bagaimana jika tersenyum?" gumam Awan, dengan maksud menggoda tunangannya itu.
"Ihhh Kakak!"
Ara semakin cemberut. Karena tahu jika Awan sedang menggoda dirinya.
Untungnya, kedua orang tuanya bersama dengan adiknya, sedang bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan mereka berdua berada di ruang tamu.
"Aciehhh... ciehhh... yang pacaran!"
Anggi datang dari arah kamar, dengan meledek keduanya.
"Apa sih Dek. Gak jelas."
"Kakak gak ikutan?" tanya Anggi, karena kakaknya itu tidak segera bersiap-siap untuk ikut bersama dengannya.
Rencananya, Anggi akan ikut bersama ayah dan bundanya. Mereka akan pergi untuk menghadiri pesta pernikahan rekan Abimanyu.
__ADS_1
Tapi karena ini bukan rekan kantor, Awan tidak mendapatkan undangan.
"Kakak ada kak Awan ini. Lagian, Kakak bukan anak kecil lagi. Yang harus ikut orang tuanya jika ada undangan pernikahan."
Ara membuat alasan. Padahal, dia memang tidak mau ikut. Itulah sebabnya, untuk keamanan Ara, Abimanyu menghubungi Awan untuk menemani dirinya di rumah.
"Nanti kita ke toko kuenya Ahmed aja ya Kak. Kita incip-incip kue pacarnya Anggi!" ajak Anggi, yang tentunya juga akan merasa risih. Jika harus berada di dalam rumah berduaan dengan Awan.
Meskipun mereka berdua sudah bertunangan, tapi dia tetap tidak mau, jika terjadi sesuatu yang tidak seharusnya.
"Ahmed yang mana?" tanya Awan. Dia memang tidak tahu, siapa sebenarnya Ahmed yang dimaksud oleh Ara tadi.
"Gak Kak. Bukan siapa-siapa!" jawab Anggi cepat.
"Ciehhh... malu ngakuin pacar sendiri!"
Ara justru semakin menggoda adiknya. Dia ingin membalas dengan apa yang dilakukan Anggi tadi.
"Ahmed siapa? artis atau selebgram, sama kayak Kamu? atau semacam hewan peliharaan yang dikasih nama?" Awan semakin penasaran dan ingin tahu. Siapa yang dimaksud dengan nama Ahmed.
"Hehehe... gak Kak. Aduh, Ara jadi pengen ketawa."
"Ihsss... Kak Awan jahat! Ahmed ya orang. Manusia juga sama seperti kita!"
Anggi merasa kesal, karena tebakan Awan justru ke arah hewan. Bukan nama seseorang.
"Ya makanya di jelasin ke Kakak dong!"
Akhirnya, Ara yang mengambil alih untuk menjawab dan memberikan penjelasan pada Awan, tentang siapa sebenarnya Ahmed.
"Nanti kita ke toko kuenya yang ada di bawah. Moga aja anaknya ada." Ara juga menjelaskan bahwa, Ahmed itu adalah calon adik iparnya juga.
"Jadi, dia itu gantengnya masyaallah... Kak! makanya, Anggi gak bisa pindah ke lain hati. Dan akhirnya galau ini mau ikut pulang ke Indonesia atau tetap ada di sini."
"Gak. Anggi pulang!" sahut Anggi dengan cepat.
"Apa lagi? Sedari tadi kok kedengarannya ribut terus," tanya Anjani, yang baru saja keluar dari dalam kamar. Bersama dengan Abimanyu.
Mereka berdua, sudah siap untuk berangkat menuju ke tempat undangan.
"Bunda. Itu Kakak nakal!" kata Anggi mengadu.
"Weee anak kecil aja udah mau pacaran! tuh tukang ngadu, masih ikut kondangan juga!"
"Hemmm..."
Anggi yang ingin menyahuti perkataan kakaknya, akhirnya diam dan tidak jadi berkata-kata.
Suara deheman yang terakhir, adalah suara ayahnya. Yaitu Abimanyu.
Ara juga meringis karena merasa bersalah.
__ADS_1
"Maaf Dek!" ucap Ara, yang tidak mau melanjutkan acara pertengkaran mereka berdua.