Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Menutupi Untuk Sebuah Kenyamanan


__ADS_3

"Terima kasih Mas, sudah repot-repot mengantarkan kami," ucap Anjani, begitu mereka sampai di rumah.


"Sama-sama Bu. Oh ya, itu lukanya diobati. Kalau perlu diperiksakan ke dokter," ujar remaja itu.


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan remaja tersebut. Dia juga menawari remaja itu untuk mampir dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. "Mari masuk dulu Mas, minum-minum dulu, sambil nunggu temannya datang."


"Terima kasih atas tawarannya, tapi sepertinya Saya harus kembali. Ini teman Saya bingung dengan share lokasi yang Saya kirimkan. Dia menunggu di pos penjagaan depan," jawab remaja tadi, dengan membungkuk sopan.


Dia berpamitan, karena sudah ditunggu oleh temannya, yang tadi mengantar ibu yang satunya lagi, ke rumah sakit.


"Oh begitu ya. Ya sudah hati-hati ya Mas." Anjani memberikan pesan pada remaja itu.


Setelah remaja itu pergi, Anjani baru tersadar bahwa, dia tidak mengetahui namanya. Dia lupa untuk bertanya, sebelum remaja itu pergi.


"Anggi. Tadi Mas-mas nya namanya siapa ya? Bunda kok lupa tanya," ucap Anjani menyesal karena kelupaan.


Anggi mengeleng, karena dia juga tidak tahu nama orang yang mengantar mereka pulang ke rumah barusan.


"Anggi juga gak tahu Bun. Kan temannya tadi cuma manggil dia dengan menyebut nama Bro."


Anjani mengangguk mengiyakan jawaban dari anaknya itu. Karena memang keduanya, masing-masing memangil dengan sebutan bro semua. Jadi, mereka berdua tidak ada yang memangil dengan sebutan nama yang sebenarnya.


"Ya sudah. Bunda mau kompres luka ini dulu. Maaf ya Sayang, kita jadi batal jalan-jalannya." Anjani meminta maaf pada Anggi, karena acara mereka untuk jalan-jalan jadi batal, dengan adanya kejadian tadi.


Jujur, Anggi sebenarnya kecewa karena gagalnya rencana mereka itu. Tapi dia merasa sangat senang, karena bangga dengan apa yang dia lihat tadi.


Dia melihat bundanya, seperti dalam film-film kartun yang sering dia lihat. Sama seperti jagoan-jagoan yang ada di film-film tersebut.


Anggi merasa senang, meskipun ketakutan juga saat melihat bundanya itu melawan preman, dua orang sekaligus. Meskipun pada akhirnya mereka bertiga harus lari, untuk menghindar, karena bundanya sudah merasa kewalahan menghadapi mereka.


Dan yang lebih beruntung lagi, mereka di tolong juga oleh dua orang yang tidak mereka kenal.


"Bunda. Berarti ada banyak jagoan ya di sini?"


Tiba-tiba, Anggi bertanya pada bundanya, tentang jagoan yang sama seperti yang ada di dalam pikirannya. Jagoan dengan super hero, yang sangat keren.


Anjani yang sedang mengopres beberapa lukanya dengan air es, tersebut geli, mendengar pertanyaan dari anaknya itu.


"Jagoan apa Sayang? hehehe..." tanya Anjani, dengan terkekeh geli, memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh Anggi.


"Bunda udah kayak jagoan tadi. Tapi lebih jago lagi kedua kakak tadi Bun. Ciat-ciat!" ujar Anggi menilai, sambil mempraktekkan gerakan-gerakan yang dia lihat saat bunda dan kedua remaja tadi melawan ke-dua preman.


"Hehehe... ada-ada saja sih Kamu Anggi."

__ADS_1


Anjani mengeleng beberapa kali, melihat tingkah laku anak kecilnya itu.


Anggi masih saja melakukan gerakan-gerakan tadi, meskipun terlihat lucu dan menggemaskan. Sedangkan Anjani, mulai mengobati beberapa lukanya dengan oba oles.


Tut


Tut


Tut


Anjani menoleh ke arah meja, dimana handphone miliknya berada.


Dia bergegas menuju ke meja, untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


..."Halo Mas Abi, sudah sampai?"...


Ternyata suaminya, Abimanyu, yang sedang menghubungi dirinya.


..."Iya. Kami baru saja sampai. Jalanan lumayan macet hari ini."...


..."Alhamdulillah. Syukurlah kalau sudah sampai Mas."...


..."Oh ya, Anggi gak rewel kan, pas kami tinggal? gak minta yang aneh-aneh kan?"...


..."Ayah-ayah!"...


Anggi menyahuti panggilan telpon dari ayahnya. Dia ingin menceritakan tentang kejadian tadi pada ayahnya, yang saat ini sedang berada di Bogor, bersama dengan kakaknya, Ara.


..."Sebentar-sebentar Dek. Ayah ganti video call saja telponnya."...


Tak lama, panggilan telpon tersebut berganti menjadi mode video call, sehingga mereka bisa saling bertatap muka lewat layar handphone.


Anggi dengan cepat meminta handphone tersebut pada bundanya. Dia memonopoli panggilan video call tersebut, karena ingin bercerita banyak tentang apa yang dia lihat saat bundanya berkelahi.


Dia juga menceritakan tentang kedua remaja yang membantu bundanya, untuk mengalahkan kedua preman tersebut.


..."Anggi kayak lihat film kartun kesukaan Anggi Yah. Yang jagoan-jagoan itu lho Yah!"...


Anggi mengakhiri ceritanya.


..."Benar Bun?"...


Abimanyu justru merasa khawatir dengan keadaan istrinya. Dia jadi bertanya-tanya, apa ada luka yang serius dan perlu perawatan. Dia juga meminta pada Anjani, untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, ke dokter, agar tidak merasa capek dan lelah karena kejadian tadi.

__ADS_1


..."Gak apa-apa kok Mas. Ini Anggi saja yang ceritanya berlebihan. Aku sedang mengopres beberapa luka dan memberinya obat juga kok. Mungkin sekarang belum begitu terasa sakit. Semoga saja, nanti malam gak terasa sakit ini badannya. Maklumlah, tidak pernah latihan dan tulang tubuhnya juga sudah tidak lagi lentur, sama seperti waktu masih muda dulu."...


Anjani mengatakan bahwa dia merasa baik-baik saja, dan tidak ada luka yang serius sehingga perlu perawatan medis secara intensif.


..."Pokoknya Bunda harus hati-hati. Jangan menyepelekan sesuatu. Jika ada kejadian seperti tadi, mending lari dan mencari bantuan saja."...


..."Iya Yah. Tadi itu terpaksa, karena jalanan sepi sekali."...


Setelah memberikan pesan-pesan yang dirasa cukup, Abimanyu mengajak Anjani dan Anggi, bercerita tentang hal lain dan bukan kejadian yang tadi. Dia juga mengajak Ara, untuk ikutan nimbrung dalam video call tersebut, karena tadi Ara sedang berada di kamar mandi.


..."Adek sih gak ikut kita ke Bogor. Enak tahu, adem dan sejuk!"...


Ara, pamer dengan adiknya, Anggi, dengan keadaan kota Bogor. Dia juga menceritakan tentang keseruan diperjalanan menuju ke kota Bogor.


..."Ah...! pokoknya besok-besok lagi, kalau ayah ke Bogor ganti Anggi yang ikut. Kakak yang di rumah!"...


..."Wek! gak lah."...


..."Pokoknya begitu, ya Yah!"...


Anggi merengek-rengek minta bantuan pada ayahnya, supaya dikabulkan keinginannya.


Abimanyu hanya mengangguk sambil tersenyum, melihat perdebatan kedua anaknya.


Begitu juga dengan Anjani. Dia menggeleng sambil tersenyum, mendengar mereka berdua saling berseteru, dan meminta dukungan ayahnya.


..."Ya sudah. Bunda istirahat dulu. Kami juga mau istirahat sebentar."...


..."Iya Yah. Hati-hati ya di sana."...


..."Iya Bun. Kalian juga hati-hati di rumah. Jika ada sesuatu langsung hubungi ayah Edi atau Juna."...


Klik!


Setelah sambungan video call terputus, Anjani mengajak Anggi untuk beristirahat sejenak. Dia berjanji, akan mengajaknya jalan-jalan, jika luka-lukanya itu tidak terasa sakit lagi.


Anggi masih memasang wajah cemberut, karena perkataan kakaknya tadi. Dia merasa kesal, karena Ara yang pamer dengan perjalanan dan situasi yang nyaman di kota Bogor. Apalagi, saat ini kakak dan ayahnya, menginap di villa, milik pengusaha yang meminta bantuan ayahnya, dan bukan di rumah bundanya yang biasanya mereka datangi.


"Tapi Ara tidak mau jalan-jalan lagi. Itu kaki Bunda pasti sakit," kata Anggi, sambil meringis ngeri, saat melihat luka-luka yang ada di kaki bundanya.


"Gak apa-apa kok. Nanti juga baik lagi. Makanya sekarang kita istirahat dulu," ucap Anjani, sambil mengeleng cepat, agar anaknya itu tidak merasa khawatir dengan keadaan kakinya.


Anjani memang merasa sakit pada lukanya, tapi dia tidak mau memperlihatkan kepada anak-anaknya, dan juga suaminya, Abimanyu, supaya mereka semua tidak merasa khawatir.

__ADS_1


Dia harus bisa menutupi kesakitan dan segala sesuatu yang terasa tidak nyaman, di depan mereka semua. Orang-orang yang dia sayangi. Kebiasaan sikap yang sama seperti ibu-ibu yang lain, pada umumnya. Menutupi apa yang sebenarnya terjadi, jika itu hanya membuat keluarganya merasa khawatir dan juga cemas.


__ADS_2