Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kemunculan Wawan


__ADS_3

Dengan berjalan kaki menuju ke arah rumahnya, Anjani menahan tangis.


Payung yang dia gunakan, seakan tidak memberinya rasa yang nyaman. Karena kesedihan yang ada pada hatinya, begitu banyak, dengan apa yang dia dengar tadi, saat suaminya memberinya kabar kalau sedang mengalami kecelakaan. Hal yang tidak seharusnya dia dengarkan lagi.


Anjani seperti trauma dengan kejadian waktu dulu. Di saat Abimanyu mengalami kecelakaan hebat, yang membuat suaminya itu harus lumpuh, bahkan hilang ingatan juga.


Dulu, Anjani juga pernah merasakan kecelakaan, yang membuatnya harus kehilangan ayahnya.


Ayahnya, meninggal dunia pada saat akibat kecelakaan tersebut. Sedangkan dia sendiri, harus terbaring koma, tanpa tahu apa-apa.


Begitu sadar dari komanya, Anjani justru sudah menjadi seorang istri, dari laki-laki yang sudah mempunyai istri juga.


Hatinya hancur, sama hancurnya dengan wajahnya waktu itu.


Mengenang kembali masa-masa pahit yang dia alami, Anjani tak kuasa menahan air mata, yang mengalir begitu.


Tin tin!


Terdengar suara klakson mobil, yang mengagetkan Anjani. Padahal, dia tidak berjalan di tengah jalan. Dia ada di pinggir, bahkan berjalannya juga lamban.


Tin tin!


Karena Anjani tidak menoleh ke arah mobil yang membunyikan klaksonnya, pengemudi mobil tersebut kembali membunyikan klakson.


Dan tentu saja, itu membuat Anjani penasaran dengan sang pengemudi mobil.


Namun saat Anjani menoleh, dia sungguh merasa sangat terkejut. Pengemudi mobil tersebut adalah Wawan. Papanya Nanda, mantan suami dari adik iparnya, Yasmin.


Wawan turun dari mobil dan mendekat ke tempat Jani berdiri. Dia juga bertanya pada Anjani. "Mbak. Mbak Jani kenapa melamun? eh bukan maksudku kenapa Mbak Jani menangis?"


Anjani merasa tidak enak, jika ada orang lewat yang melihat keberadaan Wawan. Apalagi, saat ini sedang berbicara dengannya juga.


"Kamu apa kabar Wan?" tanya Anjani, setelah menghapus air matanya.


Dia pura-pura tidak paham, dengan perkataan yang diucapkan oleh Wawan tadi. Jadi, dia hanya mencoba untuk menenangkan hatinya, dan berbicara baik-baik, dengan mantan adik iparnya itu.


"Yahhh, beginilah Mbak sekarang Aku. Ada usaha bisnis, yang bisa membuat Aku kembali mempunyai banyak teman. Karena tentunya Aku punya uang. Dan Mbak Jani pasti tahu kan, jika kita punya uang banyak, orang-orang akan mendekat dan menjadi teman kita, tanpa kita minta."


Jawaban yang diberikan oleh Wawan, membuat Anjani mengernyit heran. Sekarang, atensi Anjani yang semula ke arah Wawan, sekarang beralih pada mobil, yang dikendarai oleh Wawan tadi.


Sebuah mobil pick up, yang penuh dengan barang-barang dibelakangnya. Namun, barang-barang tersebut sepertinya bukan barang baru, tapi second semua. Entah apa usaha yang dimaksud oleh Wawan tadi.

__ADS_1


Bisa jadi, sekarang ini, Wawan sudah memiliki usaha pengumpul barang-barang bekas, atau bisa juga dia meresparasi atau memperbaiki barang-barang second tersebut, untuk dijual lagi dengan harga yang murah. Atau, dia pengepul untuk barang-barang loakan.


Tapi Anjani tidak bertanya apa-apa, pada mantan adik iparnya itu. Dia hanya kembali melihat ke arah Wawan, setelah tahu, apa yang dia bawa di atas pick up tersebut.


Dengan percaya diri dan tidak tahu malu, Wawan bertanya pada Anjani. "Mbak Jani gak mau tahu, apa usaha yang Aku maksud tadi? kan udah jadi bos sekarang."


Anjani hanya tersenyum tipis, mendengar pertanyaan dari Wawan. Dia sudah maklum, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan Wawan, yang selalu ingin menjadi pusat perhatian.


"Sekarang ini, Aku menjadi bos Mbak Jani. Yahhh, meskipun hanya bos barang-barang bekas. Tapi Aku juga memilih-milih barang tersebut, jika masih layak pakai, ya Aku servis. Ada anak buah yang melakukan semua itu. Aku hanya tinggal memberikan perintah saja pada mereka. Jadi, selain mengumpulkan barang-barang bekas, Aku juga menjual barang-barang second tersebut, dengan harga yang sangat murah. Ternyata laris lho Mbak. Kadang sampai kewalahan Aku menerima pesanan orang-orang. Hebat kan?"


Panjang lebar Wawan bercerita pada Anjani, dengan semua usaha yang sekarang ini dia lakukan.


"Syukurlah. Kamu bisa mendapatkan jalan untuk usaha yang sekarang ini. Jadi Kamu tidak menjadi sampah masyarakat lagi," jawab Anjani, yang mendapatkan respon senyuman dari Wawan.


"Iya dong Mbak. Aku tidak mau, jika pada saat Nanda besar akan menjadi malu, karena Aku tidak punya apa-apa. Ini semua Aku lakukan untuk Nanda Mbak." Wawan berkata dengan antusias. Memberi tahu pada Anjani, apa yang sebenarnya dia lakukan ini karena salah satu alasannya adalah anaknya, Nanda.


"Oh iya Mbak. Apa Nanda sudah kembali ke Indonesia?" tanya Wawan cepat, sebelum Anjani pamit untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.


"Maaf ya Wan. Aku pulang dulu. Ini panas matahari sudah terik. Dan Kamu tahu sendiri, Aku tidak bisa terkena sinar matahari terlalu lama."


Tanpa menunggu jawaban dari Wawan, Anjani melangkahkan kakinya. Dia juga tidak menjawab pertanyaan dari mantan adik iparnya itu.


Wawan tidak memaksa Anjani untuk tetap tinggal dan menjawab pertanyaan darinya. Tapi dia berteriak keras, mengatakan pada Anjani bahwa, dia bisa memberikan anaknya, Nanda, apapun sekarang ini.


Mungkin pikirkan Wawan hingga berkata demikian adalah, anaknya itu, Nanda, akan mudah dia bujuk, supaya mau di ajak untuk bisa hidup bersama dengannya, dengan iming-iming kekayaan yang dia miliki saat ini.


Tapi Anjani hanya berlalu begitu saja. Dia tidak menjawab ataupun sekedar mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Wawan padanya.


"Wawan sudah mulai muncul. Aku harus memberitahu pada mas Abi nanti. Aku tidak tahu juga, apakah memang benar, apa yang dia ceritakan tadi. Dia kan pandai bicara."


Anjani bergumam seorang diri sambil tetap berjalan. Tak lama kemudian, dia sampai juga di rumah. Menuggu kedatangan suaminya, yang katanya akan di antar sama orang, yang tadi menyerempet motor suaminya.


"Semoga saja, mas Abi tidak kenapa-kenapa. Aku merasa takut, jika kejadian waktu dulu terulang lagi."


*****


Pada saat istirahat di sekolah.


Drettt


Drettt

__ADS_1


Drettt


Handphone milik Dika bergetar. Ada panggilan masuk untuknya.


"Mama?" tanya Dika pada dirinya sendiri, saat melihat ke layar handphone miliknya, yang menampilkan nama mamanya.


Dika menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon dari mamanya.


..."Ya halo Ma. Ada apa?"...


..."Dik. Mama nanti tidak bisa jemput. Kamu naik taksi atau minta tolong pada teman Kamu, Awan, buat antar pulang ya!"...


..."Lho, memang Mama ke mana?"...


..."Mama ada urusan penting. Tapi tertunda ini, karena papa Kamu menyerempet motor orang. Ini Kami masih ada di klinik. Mau antar pulang orang itu."...


..."Kan udah diobati, dikasih uang saja Ma, untuk biaya bengkel motornya, dan ganti rugi biar dia senang. Udah selesai kan? ngapain juga Mama dan papa antar di pulang ke rumah juga?"...


..."Hush! Kamu tidak tahu apa-apa. Udah diam saja."...


..."Hemmm..."...


..."Pokoknya Kamu pulang naik taksi atau minta antar sama Awan saja!"...


Klik!


Mamanya Dika, memutuskan sambungan telponnya, tanpa menunggu jawaban dari Dika.


"Huh! Mama ada-ada saja."


Dika mengerutu sendiri, setelah panggilan telpon tersebut diputuskan oleh mamanya sendiri.


"Wan. Entar anterin Gue pulang ya!" Dika berteriak dari tempat duduknya, pada Awan, yang juga masih duduk di kursinya sendiri.


"Baby sitter Loe ke mana?" tanya Awan balik.


"Ck. Ada urusan penting katanya," jawab Dika, sambil berjalan mendekat ke tempat duduknya Awan.


"Naik ojek aja sih! Gue lagi malas nih."


"Ah, gak besti Loe!" Dika menepuk pundak Awan, karena jawaban yang diberikan oleh Awan, tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2