Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Masa Yang Tidak Bisa Diulang Lagi


__ADS_3

"Jadi Wawan sudah keluar dari penjara yah?" tanya ibu Sofie pada suaminya, yang tadi menerima kabar dari anaknya, Abimanyu.


Ayah Edi mengangguk mengiyakan pertanyaan dari istrinya. "Abimanyu tadi yang telpon ayah," kata ayah Edi menjelaskan.


"Aduh. Bagaimana jika dia nekad datang ke rumah Yah? Sedang kita tidak ada di rumah, hanya ada si bibi saja," tanya ibu Sofie dengan khawatir.


Dia tentu merasa sangat khawatir jika sampai mantan menantunya itu nekad datang ke rumahnya, sebab sudah jadi kebiasaan Wawan yang suka nekad jika menginginkan sesuatu. Apalagi jika dia tidak bisa menemukan apa yang dia inginkan. Dan kenekatan Wawan, sungguh tidak bisa dibayangkan dan dipikirkan oleh semua orang.


"Ya kita pesan saja sama bibi, jika kita sedang tidak ada di rumah, dan ada tamu, suruh intip dulu. Seandainya yang datang itu si Wawan, gak usah dibukain pintu. Telpon ayah atau Ibu kan bisa. Nanti kita akan lapor pada keamanan perumahan."


Ibu Sofie mengangguk paham dengan penjelasan yang diberikan oleh suaminya. Dia juga tidak mau, jika Wawan sampai ke rumahnya dan mencari keberadaan cucu serta anaknya, yang merupakan mantan istrinya Wawan, yaitu Yasmin.


Tapi, dia juga merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya, jika bertemu sendiri dengan Wawan, seandainya Wawan memang datang ke rumahnya.


"Memangnya, kalau kita di rumah, ayah mau kasih tau Wawan dengan keberadaan Nanda dan juga mamanya?" tanya ibu Sofie dengan penasaran yang tinggi.


"Menurut Ibu bagaimana?"


Ayah Edi, justru balik bertanya pada ibu Sofie. Dua ingin meminta pendapat pada istrinya itu, bagaimana caranya menghadapi Wawan. Mantan menantunya yang selalu saja membuat ulah.


"Jangan kasih tahu dong Yah! Nanti dia ganti minta no telpon atau apa, kan bikin repot lagi nanti," sahut ibu Sofie cepat.


Dia tidak ingin, membuat hubungan Yasmin dengan suaminya yang sekarang, jadi berantakan karena kehadiran Wawan. Ibu Sofie, tidak lagi percaya dengan Wawan, yang sudah membuatnya sangat kecewa. Bukan hanya sekedar dirinya saja, tapi semua anggota keluarganya, dengan semua kasus yang dia lakukan.


Dari mulai kasus korupsi yang melibatkan dirinya, di dealer teman suaminya, ayah Edi, dan juga membuat modal suaminya itu hilang, karena dipakai untuk mengantikan kerugian yang dialami oleh dealer tersebut.


Perselingkuhan Wawan dengan mahasiswa yang akhirnya menjadi istrinya kedua, dengan menelantarkan anaknya, Nanda yang sedang sakit pada waktu itu. Bahkan, meninggalkan beberapa hutang di kontrakan yang dulu mereka tempati.


Begitu juga kasusnya di pekerjaan yang dekat kampus, percetakan. Wawan juga sempat menipu anak pemilik percetakan, dengan dalih hutang karena kesulitan untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang sedang berada di rumah sakit.


Padahal, Nanda sakit di rumah kontrakan dan tidak Wawan urus. Wawan pergi entah kemana, karena tidak ada yang tahu keberadaannya pada saat itu.


Ibu Sofie menghela nafas panjang, mengingat semua tentang Wawan yang tidak tahu berterima kasih.


"Yah. Pokoknya Ibu tidak mau, jika Wawan sampai menghubungi Yasmin. Apalagi punya niatan untuk mengambil Nanda. Dia saja jadi gelandangan, bagaimana caranya menghidupi Nanda nantinya!"

__ADS_1


Dengan tegas, ibu Sofie mengatakan kepada suaminya, jika dia tidak mau berhubungan lagi dengan Wawan, apapun bentuk hubungan itu.


"Kita kan tidak tahu Bu, apa niatnya. Tapi Ayah juga tidak mau kok. Buat apa mengali lubang yang sama, jika hanya untuk mengubur diri kita sendiri?" kata ayah Edi, dengan memberikan sebuah kiasan untuk menggambarkan bagaimana kebiasaannya Wawan.


"Ya sudah. Tidak ada selesai-selesainya, membicarakan si Wawan. Mending sekarang kita tidur. Besok juga kita masih harus pergi ke kantor," kata ayah Edi, mengajak istrinya itu untuk tidur dan beristirahat.


Ibu Sofie mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Dia juga sudah merasa mengantuk, dan tidak mungkin berbincang lebih lama lagi.


Akhirnya, mereka bersiap untuk tidur dan tidak lagi membicarakan tentang Wawan.


Dalam hati, mereka berdua berdoa dan berharap, agar tidak lagi bertemu dengan Wawan, dalam keadaan apapun.


*****


"Hoammm!"


Anggi menguap lebar, saat terbangun dari tidurnya. Tapi saat melihat sekeliling, dia mengerutkan keningnya bingung.


"Kok Aku ada di kamar bunda dan ayah?" tanya Anggi kemudian merangkak ke arah pinggir tempat tidur.


Clek!


Ternyata, pintu kamar tidak terkunci, kemudian Anggi segera keluar dari dalam kamar, mencari keberadaan ayah atau bundanya.


"Ayah. Bunda!"


Anggi berteriak-teriak memanggil-manggil ayah dan bundanya. Dia takut, jika ditinggalkan sendirian di dalam rumah.


"Huwaaa... bunda. Ayah! huhuhu... kakak!" teriak Anggi lagi sambil menangis, karena tidak menemukan kedua orang tua dan juga kakaknya, Ara.


"Anggi! Bangun tidur kok teriak-teriak sih!"


Dari arah belakang, muncul Ara, kakaknya Anggi, yang berteriak memintanya untuk tidak berteriak lagi.


"Lah itu, Kakak ikut teriak?" Anggi bingung, dengan perkataan kakaknya yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan dan dikatakan oleh kakaknya juga.

__ADS_1


"Hemmm... kebiasaan nontonnya kartun anak kembar itu kan, jadinya pinter bantah deh!" ucap Ara kesal, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan adiknya, Anggi.


Dengan wajah cemberut, Anggi meneruskan langkahnya menuju ke arah belakang. Mencari keberadaan ayah dan bundanya.


Setelah sampai di teras belakang, Anggi melihat ayah dan bundanya sedang bersama-sama, membersihkan tempat tidurnya, yang semalam dia ompoli. Dengan tersenyum malu-malu, Anggi mendekat dan pura-pura tidak terjadi sesuatu padanya. Khas anak-anak yang berwajah malaikat, sok lugu.


"Wah, sudah bangun ya. Mau mandi sekalian?" tanya ayahnya, dengan mengacungkan selang air yang sedang dia pegang.


"Ayah. Anggi malah kesenangan karena bisa main-main air. Ini juga ngompolnya karena kemarin dia main-main air sama Miko." Anjani mengatakan apa yang terjadi kemarin, di saat ada Miko, yang datang bersama dengan mamanya, Sekar.


"Oh, pantesan saja," sahut Abimanyu cepat, sampai melirik ke arah anaknya yang kedua itu.


Anggi hanya diam dan melangkah maju. Dia tentu saja tergoda untuk bermain dengan air yang saat ini, sedang digunakan untuk membersihkan tempat tidurnya.


"Awas Dek!"


Teriak Ara dari dalam rumah.


Anggi menoleh, tapi kembali acuh.


"Awas ya main air lagi. Entar malam ngompol lagi! Kakak gak mau nemenin tidur." Ara berkata dengan kesal, karena merasa diabaikan oleh adiknya itu.


Tentu saja dia merasa sangat kesal, karena tidak bisa tidur dengan nyaman karena semalam harus berhimpitan dengan ayah bundanya, dan ditambah lagi dengan Ara.


Tapi, meskipun merasa sangat kesal, Ara juga merasa sangat senang karena bisa tidur dengan memeluk bundanya. Sama seperti waktu dia masih kecil dulu, dan belum memiliki adik.


Abimanyu, hanya menggeleng sambil tersenyum-senyum, mendengar kedua anaknya yang rame lagi pagi hari ini.


Moment yang membahagiakan dalam keluarga, dan tidak akan bisa terulang lagi jika mereka sudah besar nanti. Dan moment seperti ini, kadangkala akan membuat mereka saling merindukan, jika berada di tempat yang berbeda.


Anjani, yang tidak pernah memiliki saudara, tentu saja tidak pernah mengalami hal serupa. Dia juga tidak pernah berdebat, untuk hal-hal kecil, karena dia hanya hidup berdua dengan ayahnya saja waktu itu.


Mungkin karena itu juga, Anjani jadi tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan tidak banyak bergaul dengan orang-orang, sehingga banyak dari mereka, teman-temannya, menilai jika Anjani adalah orang yang sombong.


Padahal itu tidak benar sama sekali. Itu semua hanya karena kebiasaan Anjani di rumah, yang tidak banyak anggota keluarga. Hanya ada ayahnya, yang juga bersikap lembut dan suka mengalah, jika Anjani menginginkan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2