Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Jajan Dalam Perjalanan


__ADS_3

"Ayah. Hujannya sudah reda, ayok pulang!" ajak Ara, dengan beranjak dari tempat duduknya.


Ara segera menarik tangan ayahnya, kemudian mengajaknya untuk keluar dari minimarket tersebut.


Abimanyu yang memang tidak betah berada di dalam, karena ada orang tadi, langsung mengiyakan ajakan anaknya itu. Dia tidak sempat berpamitan, bahkan hanya sekedar tersenyum ke arah orang tersebut.


Mereka berdua, Ara dan ayahnya, keluar dari minimarket tersebut, dan langsung menuju ke arah mobil.


Tak lama kemudian, mobil Abimanyu tampak meninggalkan parkiran minimarket, meskipun hujan masih turun, namun tidak sederas tadi.


Hal ini membuat orang tadi menjadi salah tingkah, tapi juga kesal, karena diperhatikan oleh beberapa orang yang ada di dekat mereka tadi. "Dasar anak kecil tidak sopan. Ayahnya baru berbicara dengan orang lain kok asal tarik saja!" gumam orang tersebut mengerutu.


Orang itu tentunya merasa kesal, karena dia belum sempat bercerita tentang keadaannya yang sekarang.


Lama tidak berjumpa dengan Abimanyu, tapi orang itu masih melihat bahwa, Abimanyu tetap menarik dimatanya. Dia jadi semakin tidak bisa mengendalikan perasaan hatinya sendiri.


"Dulu Aku sudah mencoba untuk mengabaikan perasaan ini. Tapi tidak untuk sekarang. Apalagi, saat ini Aku juga sudah lebih tinggi jabatannya, di banding dengan ibunya, ibu Sofie. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan ibu Sofie. Apa kabar dia ya? Heh! Kapan-kapan Aku ke rumahnya saja. Apa dia masih ingin menjodohkan Aku dengan anaknya itu. Hehehe... tidak apa Aku jadi madu-nya Anjani. Aku toh tidak butuh uang suaminya. Jadi Aku madu yang tidak merusak keluarga dan kehidupan Anjani, secara materi. Aku hanya ingin mendapatkan sedikit kasih sayang dari suaminya saja. Tidak salah kan?" tanya orang tersebut, pada dirinya sendiri di dalam hati.


Tak lama, dia berjalan ke arah rak minimarket, untuk mengambil barang-barang yang tadi ingin dia beli, untuk teman perjalanannya ke Jakarta.


Orang itu juga baru saja pulang dari Bogor, dan sekarang, dia harus ke kembali ke Jakarta, karena besoknya, sudah harus kembali berdinas di kantor barunya, dengan jabatan yang baru juga.


*****


Di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan rendah. Ara diam saja, tanpa bertanya pada ayahnya, tentang siapa yang tadi menyapanya di minimarket.


Tapi, Abimanyu yang merasa peka terhadap perubahan sikap anaknya itu, jadi tersenyum sendiri. Dia tahu bahwa, Ara sedang kesal, karena kehadiran orang tadi, menganggu waktu istirahat mereka berdua, yang sedang berteduh dari hujan lebat tadi.


"Wah... ternyata hujannya merata ya," kata Abimanyu, untuk memancing anaknya itu, supaya mau berbicara atau sekedar bertanya padanya.


Ara masih diam saja, meskipun atensinya teralihkan, dari depan ke arah samping. Dia melihat ke arah langit, melalui jendela mobil.


"Moga aja gak deres lagi hujannya," kata Abimanyu lagi.


"Siapa tadi Yah?"


Sepertinya, pancingan Abimanyu berhasil. Kata-katanya yang tidak ada hubungannya dengan orang tadi, berhasil membuat anaknya itu bertanya tentang orang yang baru saja mereka tinggal.


"Siapa yang mana?" tanya Abimanyu, yang berpura-pura tidak tahu tahu, siapa yang dimaksud oleh Ara.

__ADS_1


"Itu tadi, yang tiba-tiba datang tanpa memperkenalkan diri. Sok kenal banget!"


Ternyata Ara benar-benar merasa sangat jengkel dengan kehadiran orang itu.


"Cieee... ada yang marah nih... cemburu ya sama Ayah, yang ada penggemarnya? hehehe..."


Abimanyu justru tertawa, menggoda Ara, yang sedang kesal dan terlihat cemberut.


"Eh, ngapain cemburu dengan muka lenong begitu! lagian tetap menang Ara lah!" sahut Ara, dengan percaya diri.


"Hah! maksudnya apa ini? kok ada menang, ada muka lenong juga. Ayah gak ngerti deh," kata Abimanyu, yang merasa senang, karena anaknya itu bisa mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan.


"Iya lah Yah. Coba Ayah perhatian tadi. Mukanya itu, kalau gak pake bedak satu kilo, mana bisa licin begitu? paling juga kayak kulit jeruk!"


Ara semakin kesal, sehingga mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya.


Abimanyu tidak menyangka, jika anaknya yang masih kecil itu, bisa menilai seseorang dari tampilan wajahnya saja.


"Ara. Tidak baik menilai seseorang dari luar saja. Apalagi hanya karena tampilan wajahnya. Terus, yang kerjanya jadi badut Ara nilai apa dong?" Abimanyu, berusaha untuk menasihati anaknya, agar tidak lagi menilai seseorang dari tampilan luarnya saja.


"Beda Yah. Badut kan profesi, lah tadi apa? cuma mau tepe-tepe aja kan?" jawab Ara, dengan nada kesal.


"Ayah gak gaul ih. tebar pesona Yah!" jawab Ara, menjelaskan pada ayahnya, yang saat ini terkekeh sendiri.


"Hehehe... Ayah pikir jenis makanan apa tadi."


Abimanyu tidak berpikir sejauh itu, dengan apa yang baru saja dijelaskan oleh anaknya. Dia justru berpikir bahwa apa yang disebut anaknya tadi, adalah jenis makanan varian baru, seperti jajanan cireng, cilok atau sejenisnya. Sama seperti macam-macam jenis nugget dan sosis.


"Kan jadi lapar Ayah," gumam Abimanyu, yang sedang memikirkan banyak jenis makanan tadi.


"Yah sih... tadi gak mau makan," sahut Ara sambil melihat ke arah pinggir jalan, di mana banyak jajanan yang dijajakan oleh orang-orang.


"Ayah. Itu ada sosis telur!"


Tiba-tiba Ara berteriak, dengan menunjuk ke arah penjual sosis telur, yang sedang banyak dibicarakan.


"Ara mau?" tanya Abimanyu menawari, sambil mencari tempat untuk menepikan mobilnya.


"Tadi Ayah bilang lapar. Ara juga mau kok, kalau beli itu!" Ara menunjuk ke arah penjual sosis telur tadi.

__ADS_1


"Oh itu, ayok!"


Abimanyu mengajak Ara untuk keluar dari dalam mobil, kemudian berlari-lari kecil, untuk menghindari air hujan yang masih turun, meskipun tidak deras.


Akhirnya, mereka berdua duduk di kursi yang disediakan oleh penjual sosis telur, sambil menunggu pesanan mereka dibuat.


"Aku mau lima Yah."


Ara meminta untuk dibuatkan sosis telur lima tusuk.


"Habis?" tanya Abimanyu dengan menyipitkan matanya, karena tidak percaya, jika anaknya itu akan bisa menghabiskan sosis telur yang akan dia pesan.


"Habislah. Kalau gak habis, Ayah yang habiskan. Kan tadi katanya lapar," ujar Ara, mengingatkan perkataan ayahnya tadi.


Abimanyu membuang nafas panjang. Dia baru ingat, kalau tadi mengatakan, jika dia sedang lapar.


"Ayah yang lapar, tapi kok Kamu yang pesanannya banyak?" tanya Abimanyu lagi, dengan kelakuan anaknya itu.


"Kan Ayah belum pesan. Ayah pesan sendiri dong!"


Abimanyu memicingkan matanya, kemudian berkata, "Haduh! Ayah pikir tadi itu sekalian Ayah. Hehehe..."


"Hahaha..."


Mereka berdua sama tertawa-tawa senang, menikmati kebersamaan mereka berdua, yang tadi sempat terganggu dengan kedatangan orang yang ada di minimarket tadi.


"Pak. Sosis telur-nya nambah lima ya!" kata Abimanyu, memesan lagi.


Sekarang Ara yang terbelalak, mendengar perkataan ayahnya, yang baru saja memesan sosis telur dalam jumlah yang sama seperti pesanannya tadi.


"Yah. Gak kebanyakan?" tanya Ara heran.


"Ya gak lah. Kan Ara juga pastinya bisa habis tuh lima tusuk. Masak Ayah yang lapar, Ara aja yang makan. Weee..." jawab Abimanyu, sambil menjulurkan lidahnya, untuk meledek Ara.


"Hahaha..."


Ara tertawa senang, karena bisa bersenda gurau dengan ayahnya, yang selalu sibuk bekerja, jika ada di Jakarta.


"Yah. Kapan-kapan ajak Anggi dan juga bunda ya. Kita bisa kayak gini rame-rame," kata Ara, sambil membayangkan bagaimana keadaan mereka berempat, jika ada dalam perjalanan seperti sekarang ini.

__ADS_1


Abimanyu hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan anaknya itu. Dia jadi semakin rindu dengan istrinya, Anjani, dan juga anaknya yang satunya lagi. Anggi.


__ADS_2