
Jam sudah hampir pukul sebelas, saat Abimanyu tiba di kantor.
Abimanyu baru saja datang, karena dia harus mengantarkan Ara ke kampus terlebih dahulu.
Dia tidak mau, jika terjadi sesuatu pada Ara lagi. Sama seperti semalam. Meskipun tersangka sudah di tahan.
Tapi siapa tahu, masih ada komplotan lain, yang merupakan teman dari Clarissa atau kekasihnya. Mungkin saja, mereka mau mengulang kembali rencana mereka untuk mencelakai Ara.
Abimanyu jadi sedikit over protektif terhadap Ara. Karena ini juga untuk keselamatan anaknya itu.
"Siang Wan. Maaf ya, Om berangkat siang." Abimanyu menyapa Awan, yang memang ada di satu ruangan dengannya.
"Iya Yah, gak apa-apa. Bagaimana dengan Ara Yah? Apa dia masih nekad masuk ke kampus?" tanya Awan, yang tadi pagi sudah meminta pada Ara, supaya beristirahat saja di rumah.
Tapi Ara tidak mau mendengar perkataan tunangannya itu. Karena dia pikir, dia akan baik-baik saja.
Ara dan Awan, tadi pagi sudah bertukar kabar melalui telpon. Karena itu juga saya ini dia bertanya pada ayahnya Ara, Abimanyu.
"Iya. Ayah baru saja mengantarkan dia tadi," jawab Abimanyu, setelah duduk di kursinya sendiri.
"Apa manager datang hari ini?"
Sekarang, ganti Abimanyu yang bertanya tentang manager. Yang pada kenyataannya adalah papanya Clarissa. Orang yang ingin mencelakai anaknya, Ara.
"Masuk Yah. Tapi dia diam saja sedari tadi. Sepertinya, dia merasa tidak enak hati karena kelakuan anaknya itu. Sama seperti semalam, di saat meminta maat pada Kuta di kantor polisi."
"Kasian juga ya dia," ujar Abimanyu, yang membayang jika dia yang ada di posisi manager tersebut.
"Tidak hanya kasian Yah. Bahkan, kita tidak pernah tahu, jika dia adalah peminum alkohol berat selama ini. Karena kinerjanya sangat baik. Dan dia juga tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak merugikan perusahaan selama ini."
Jadi, manager tersebut adalah karyawan lama, bahkan di saat Elang yang masih menjalankan perusahaan ini.
Manager itu juga, yang telah membantu Elang, membuka kedok wanita yang dekat dengan Elang. Bahkan akan menikah dengan Elang juga.
Dulu, dia belum menjabat sebagai manager.
Dan baru pada saat papa Ryan yang mengantikan Elang, dia diangkat oleh papa Ryan sebagai manager.
Itu juga atas rekomendasi dari Elang sendiri. Karena memang dia juga yang membantu papa Ryan, selama papa Ryan sering bolak-balik ke Indonesia.
Tapi siapa sangka, jika keberhasilan karirnya tidak sama seperti ikatan pernikahannya. Dia bercerai dengan istrinya, setelah beberapa tahun di angkat menjadi manager.
Dan anaknya yang satu-satunya, dimenangkan oleh istrinya untuk hak asuhnya.
Manager tersebut, hanya menjalankan tugasnya dengan seorang Papa, yang memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan dari anaknya.
Tapi pada kenyataannya, pergaulan anaknya itu tidak bisa dipegang.
Di luar rumah, anaknya, Clarissa, sering kali membuat masalah dengan teman-temannya. Bahkan ini sejak dia masih sekolah menengah pertama.
__ADS_1
Tapi karena sang manager hanya punya anak satu itu, dia pun hanya bisa menuruti dan membela anaknya. Apapun yang dilakukan oleh anaknya itu.
Namun, semalam dia tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mungkin melakukan hal yang tidak baik, untuk melawan orang-orang yang menjadi atasannya di kantor.
Manager membiarkan anaknya, Clarissa, ada di tahanan dan mendapatkan hukuman atas perbuatannya semalam.
Sedangkan pengacara wanita yang dia bawa bersama dengannya semalam, diberikan wewenang hanya untuk mendampingi saja.
"Biar dia tahu, bagaimana harus bersikap pada masa yang akan datang."
Begitulah kata-kata yang diucapkan oleh manager semalam. Dia saat dia tahu, jika Awan dan Ara adalah orang yang akan dicelakai oleh anaknya.
"Saya salah mendukung dia selama ini." Manager tersebut, mengatakan penyesalan yang mendalam, atas apa yang dia lakukan untuk anaknya selama ini.
Dia hanya bisa mengiyakan, dan memenuhi semua permintaan dan perkataan anaknya. Sebab itu juga, akhirnya anaknya berada di luar kendali, dan bertindak semaunya.
Manager tersebut menyesal karena sudah membuat anaknya menjadi gadis yang liar dalam bertindak.
Dia meminta maaf pada Awan dan juga Abimanyu, serta Ara. Dan dia membiarkan anaknya, di tahan dan akan mendapatkan hukuman, saat sidang pengadilan ditetapkan.
*****
Di kampus Ara.
Berita tentang kecelakaan yang terjadi pada dirinya semalam ternyata menjadi berita besar di antara teman-teman yang mengenalnya.
Tapi sayangnya, Ara sedang tidak ada kesempatan untuk bisa bebas hari ini. Karena ada beberapa sidang mata pelajaran, untuk skripsi yang dia ajukan.
"Ternyata, si Ara itu bukan mahasiswa biasa. Ayahnya juga petinggi perusahaan di mana papanya Clarissa bekerja."
"Oh iya. Itu kekasihnya juga ternyata salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut."
"Wah... jika begini caranya, Clarissa tidak mungkin bisa punya kesempatan untuk lolos dari jerat hukum."
"Iya pastinya."
"Syukurlah. Biang kerok akan mendekam di taman besi."
"Eh apa itu?"
"Jeruji besi. Penjara gitu!"
"Hahaha... ada-ada saja!"
Ternyata, ada beberapa dari teman-teman yang dulu mengenal Clarissa membicarakan tentang dirinya.
Ada yang merasa kasihan, tapi ada juga yang merasa senang.
Karena selain di anggap sebagai seorang teman, Clarissa juga di anggap sebagai seorang yang sering mencari masalah. Melakukan hal yang hanya dia senangi saja.
__ADS_1
*****
"Anggi!"
Anggi baru saja turun dari bus sekolah, di saat Ahmed datang mendekatinya.
"Kamu, ngapain di sini?"
Anggi merasa surprise, melihat Ahmed sore ini. Tapi, dia lupa jika, Ahmed adalah pemilik toko kue, yang ada di salah satu outlet toko di apartemennya.
Itulah sebabnya, dia mengajukan pertanyaan kepada Ahmed seperti itu.
"I sengaja menunggu U Anggi."
Tapi jawaban yang diberikan oleh Ahmed, bukan menjelaskan tentang keadaan dirinya yang ada di wilayah apartment.
"Ah yang benar saja?" tanya Anggi tidak percaya.
Wajahnya juga sudah berubah merah karena malu.
"Iya. Sekalian belajar jaga toko kue juga."
Sekarang, Anggi bertambah malu, karena perkataan yang diucapkan oleh Ahmed barusan.
Sekarang dia sadar bahwa, Ahmed tidak hanya sekedar menuggu kedatangan dirinya, karena memang ingin bertemu dengannya.
Tapi, Ahmed ada di sini karena memang kepentingan bisnis toko kue miliknya.
"Hehehe..."
Anggi hanya bisa meringis, saat mendengar jawaban itu.
"Hahaha... gak kok. I memang sengaja datang ingin bertemu dengan U. Kemarin, I belum bisa bicara dengan U secara banyak juga. Jadi, hari ini I datang khusus untuk U."
Sekarang, Anggi mengeleng beberapa kali. Dia berusaha untuk sadar, karena merasa jika apa yang baru saja dia dengar adalah sebuah mimpi belaka.
"Khusus untuk Aku?" tanya Anggi, mengulang kembali kata-kata Ahmed.
Tapi ternyata, Ahmed memang mengangguk. Mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Anggi padanya.
"Mau bicara apa?" tanya Anggi dengan antusias.
Dia tidak sabar, ingin mendengar apa yang ingin disampaikan oleh teman cowoknya itu.
"U mau balik ke rumah dulu, atau mau langsung ke toko kue I?"
Sekarang, Anggi yang bingung. Dia lupa, jika dia baru saja datang dan belum sampai di rumah.
"Aku pulang dulu ya! Nanti bundaku nyariin."
__ADS_1