
Hari sudah berganti dengan malam, pada saat Ara dan Nanda tiba di rumah.
"Adek kenapa Bun?" tanya Ara, begitu masuk ke dalam rumah, dan melihat keadaan adiknya, Anggi.
Nanda, yang ikut masuk ke dalam rumah, juga melihat dengan memicingkan matanya, menatap ke arah bagian-bagian tubuh Anggi.
Ara bertanya pada bundanya, karena melihat keadaan adiknya yang babak belur di beberapa bagian tubuhnya.
Terutama di bagian lutut yang tampak terluka parah.
Sedangkan Nanda, tidak perlu lagi bertanya. Dia langsung melihat, bagaimana keadaan adik sepupunya itu.
"Dia nyungsep di got tadi," jawab Anjani, memberitahu.
Anggi yang sedang tiduran di sofa ruang tamu, hanya meringis saja. Tanpa banyak bicara dan menyahuti perkataan yang diucapkan oleh kakak dan bundanya.
"Kok bisa Bun?"
"Nyungsep Dek?"
Ara dan Nanda, bersamaan mengajukan pertanyaan kepada bundanya dan juga Anggi.
Meskipun sebenarnya, pertanyaan itu akan mendapatkan jawaban yang sama. Karena memang seperti itulah yang terjadi pada Anggi tadi.
Tapi sepertinya Anggi tidak mau menceritakan kembali tentang kejadian yang dia alami. Apalagi, dia mengalaminya bukan hanya sendirian. Tapi bersama dengan Miko juga.
Pastinya, kakaknya Ara dan Nanda akan meledeknya. Dan bisa-bisa, kedua kakaknya itu akan mentertawakan dirinya juga.
Tapi karena Anggi hanya diam saja, akhirnya bundanya, Anjani, yang mengulang kembali cerita yang disampaikan oleh Anggi tadi sore.
"Hahaha... coba Kakak ada di tempat kejadian. Pasti seru."
Ternyata dugaan Anggi benar. Kakaknya, Ara, tertawa senang, mendengar cerita dari bundanya.
"Kak."
Anjani berusaha untuk mengingatkan anak tertuanya itu, supaya tidak meledeknya adiknya.
"Hehehe... maaf Bun. Maaf Adek Sayang..."
Ara meminta maaf pada bundanya, dan juga pada Anggi. Karena tawanya tadi, sama seperti dia yang tidak punya rasa peduli dan simpati, atas apa yang terjadi pada adiknya, Anggi.
Nanda memegang dan memeriksa luka Anggi, yang ada di bagian siku serta lutut.
"Sakit Dek?" tanya Nanda, saat melihat Anggi meringis.
"Sakit lah Kak!" sahut Anggi dengan bibir cemberut.
"Kok bisa sepedaan dengan Miko?" tanya Nanda lagi, karena dia juga tahu, bagaimana keadaan sepedanya Miko, yang tidak memiliki boncengan untuk penumpang yang lain.
"Dia yang ngajak Kak. Ternyata, waktu kita muter-muter, dia lihat dan tahu, jika kita habis lewat depan rumahnya."
__ADS_1
Anggi kembali menceritakan kepada Nanda, apa yang dikatakan oleh Miko saat mereka berdua sepedaan.
Anjani dan Ara, hanya diam saja. Mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh Anggi, yang sesekali meringis menahan perih pada lukanya, yang masih saja diobati bundanya.
"Bun, udah Bun. Perih!"
Anggi meminta pada bundanya, agar tidak lagi mengoleskan obat ke luka yang ada pada lututnya.
Obat itu justru membuat dia merasa sangat tidak nyaman. Karena rasa perih yang dia rasakan.
"Tahan Dek. Biar cepat kering."
Tapi bundanya tetap mengoleskan obat yang dia pegang, pada luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya Anggi.
Ara jadi ikut meringis. Merasakan rasa yang sama seperti yang dirasakan oleh adiknya itu.
"Makanya hati-hati Dek, jika naik sepeda."
"Ah, kakak kan gak tahu juga, jika Anggi gak menghindar dan masuk got, bagaimana keadaan kucing itu? Bisa-bisa, kucing tersebut akan tertabrak dan mati."
Ara membela diri, dan tidak mau disalahkan atas kejadian yang menimpa dirinya.
"Terus, Miko juga banyak lukanya?" tanya Ara, yang merasa penasaran dengan keadaan adik sepupunya itu.
"Lebih parah!" sahut Anggi cepat.
"Ah, yang bener Dek?"
"Liat aja sono!"
Karena merasa penasaran dengan kondisi Miko, Ara dan Nanda pamit pada bundanya, untuk datang ke rumah tantenya, Sekar.
"Bun. Kami boleh kan datang ke rumah tante Sekar? Mau lihat keadaan Miko."
"Mau liat apa mau ngeledek Miko?" sahut Anggi cepat, sebelum bundanya menjawab.
"Apa sih Dek. Orang Kakak mau jenguk kok," ucap Ara, dengan wajah canggung karena ketahuan juga jika dia ada niatan untuk meledek adik sepupunya itu nanti.
"Gak usah. Besok saja Kak. Kalian baru saja pulang. Belum makan malam. Ayo Nda, ikut makan di sini saja!"
Sayangnya, Anjani tidak mengijinkan anaknya, Ara dan juga Nanda, untuk pergi ke rumah Miko.
Dia justru menahan Nanda, supaya ikut makan malam di rumahnya saja.
"Ya sudah. Ayok Kak, kita makan!"
Ara pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh bundanya.
Tak lama kemudian, mereka berdua makan malam bersama di meja makan. Sedangkan Anggi, disuapi oleh bundanya, dengan masih dalam keadaan berbaring di sofa.
"Adek gak boleh main-main dulu ya! Biar lukanya sembuh dulu."
__ADS_1
"Ini obat pereda rasa nyerinya juga di minum setelah makan nanti."
Anggi hanya mengangguk saja, tanpa mau membantah perkataan dan apa yang diperintahkan oleh bundanya.
Sekarang, dia merasakan ketidaknyamanan pada seluruh tubuhnya.
*****
Mita menangis di dalam kamarnya.
Dia berusaha mencari keberadaan kekasihnya, melalui sosial media milik Dika.
Tapi sepertinya usaha yang dia lakukan gagal.
Semua media sosial milik Dika, sudah tidak ada yang aktif. Bahkan, ada yang tidak buda dilihat lagi.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa dan rasa kecewa, Mita menutup akun media sosial miliknya.
Tapi, pada saat dia melihat foto-foto terbaru yang ada di galeri handphone miliknya, dia tersenyum sendiri.
Ada beberapa foto yang tadi dia ambil bersama dengan Ara.
Jadi, dia ingin membagikan kebahagiaan yang tadi dia rasakan bersama dengan teman lamanya itu ke akun media sosial miliknya.
Selamat atas pertunangannya ya sobat. Semoga dimudahkan sampai tiba saatnya nanti.
Mita mengunggah beberapa foto dirinya, yang bersama dengan Ara. Dia juga menulis berita, yang dia tulis untuk keterangan fotonya itu.
Setelah merasa jika semuanya sudah layak untuk di posting, Mita melanjutkan unggahannya.
Dan beberapa menit kemudian, ada beberapa temannya, yang dulu satu sekolah dengan dirinya dan juga Ara, memberikan like serta komentar.
Dan akhirnya, Mita sibuk membalas komentar-komentar yang diberikan oleh temannya, hingga dia lupa dengan kesedihan yang tadi dia rasakan.
*****
Di tempat yang tidak diketahui oleh orang lain.
Ada seseorang yang memantau akun sosial milik Mita, tanpa disadari oleh pemiliknya sendiri.
Dan orang tersebut, sangat senang dengan apa yang dia lihat.
Tapi itu hanya beberapa detik saja. Karena wajahnya jadi berubah merah padam, menahan amarahnya, saat membaca keterangan dari unggahan foto yang baru saja di-posting oleh Mita.
"Sialan!"
Orang itu mengumpat sendiri di dalam kamarnya. Tapi sayangnya, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa, atau sekedar bertanya pada Mita, untuk meminta penjelasan dan keterangan yang lebih lanjut mengenai temannya, Ara.
"Awas saja. Aku akan buat semuanya menjadi kacau dan pastinya, semuanya akan hancur."
Begitulah akhirnya, orang itu pun menutup akun media sosial miliknya, dengan perasaan yang penuh dengan amarah dan kebencian yang dia miliki.
__ADS_1
Dia tidak ingin, orang-orang yang ada di sekitarnya dulu, berbahagia dan tenang.
Karena dia merasa jika, apa yang dia alami ini adalah kesalahan orang-orang tersebut.