
Salah satu penghuni sel, yang masih tampak muda, kaget saat melihat Clarissa yang pingsan.
"Madam. Dia pingsan!"
Teriak remaja tersebut, dengan menyebut madam, kepada wanita, yang tadi sudah membuat Clarissa pingsan.
Wanita tadi, memang biasa di sebut dengan sebutan madam. Karena dialah Bos di sel mereka ini.
"Biar saja. Telingaku sakit, mendengar dia berteriak terus menerus. Apa Kamu juga mau seperti itu?"
Remaja itu langsung mengeleng cepat. Dia tidak mau menerima perlakuan yang sama seperti anak baru itu. Yaitu Clarissa.
Beberapa saat setelah Clarissa diam dan tidak bersuara, sipir penjara datang mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi di sel tersebut.
Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa di sel tahanan tempat Clarissa di tahan. Bahkan sipir penjara melihat keadaan, di mana Clarissa sedang duduk bersandar pada madam.
Sedangkan yang lain, sedang berbincang-bincang mengelilingi Clarissa dan madam yang sedang duduk berdampingan.
Karena sipir penjara tidak menemukan keganjilan pada semua tahanan yang ada, akhirnya dia kembali di tempatnya semula.
"Huh! Aku pikir dia kenapa-kenapa. Nyatanya dia malah terlihat akrab dengan yang lainnya."
Sipir bergumam seorang diri, sambil mengeleng heran.
Sekarang, dia tidak perlu lagi mendengar suara Clarissa, yang sedari tadi berteriak. Dan itu bisa membuatnya bisa tidur nyenyak. Meskipun hanya untuk beberapa menit saja.
"Hiihhh! Untung saja tidak ketahuan."
Madam berdiri dari tempat duduknya, sehingga tubuh Clarissa yang tadi bersandar di badannya, jadi jatuh ke lantai penjara yang tidak ada alasnya.
"Biarkan saja!"
Madam melarang orang-orang, di saat ada yang ingin menolong Clarissa.
Akhirnya, semua orang menyingkir dan membiarkan Clarissa yang masih dalam keadaan pingsan.
Setelah beberapa lama kemudian, Clarissa tampak mengerakkan badannya perlahan-lahan. Dia sadar dari pingsannya tadi.
"Eghhh... a_aduh!"
Clarissa mengaduh, dengan meraba keningnya sendiri. Dia merasa kepalanya terasa pusing. Dan tubuhnya juga terasa kaku untuk digerakkan.
Orang-orang yang ada di dalam kamar sel tersebut, pura-pura tidak tahu, apa yang terjadi pada dirinya.
"Ehh... a_a... aduh!"
Sekali lagi Clarissa mengaduh. Merasakan tubuhnya yang kaku dan sulit untuk digerakkan. Meskipun dengan gerakan yang pelan sekalipun.
__ADS_1
"To... to_long!"
Akhirnya Clarissa bisa mengucapkan kata tolong. Berharap agar ada seseorang yang mau membantu dirinya.
Madam melirik ke arah remaja yang ada tak jauh dari tempat Clarissa. Dia memberikan isyarat mata, agar remaja itu membantu Clarissa.
Dan secara kebetulan, remaja tersebut juga sedang melihat si madam. Remaja itu, paham dengan apa yang diinginkan oleh madam nya itu.
Dengan susah payah, tubuh Clarissa dia seret ke tempat tidur. Meskipun tidak ada kasur atau sekedar tikar di atas tempat tidur tersebut. Tapi itu jauh lebih baik, daripada berada di atas lantai sel yang dingin.
Clarissa terbaring tak berdaya di tempat tidur. Dia ingin meminta minum. Karena tenggorokannya terasa kering dan tidak bisa mengeluarkan suara.
Tapi, di sel ini hanya madam yang memiliki botol minum. Dan tentunya hanya pada madam juga, harus minta ijin agar diberikan air minum.
Karena jika tidak, harus berteriak pada sipir penjara, yang belum tentu mau memberikan air minum juga.
"Beri dia air!"
Ternyata madam tidak membiarkan Clarissa mati kehausan. Apalagi, sesuatu yang dia berikan pada Clarissa juga harus menghilang dari tenggorokannya. Supaya tidak ada yang tahu, apa yang tadi dia paksaan untuk masuk ke dalam mulutnya Clarissa.
Dengan hati-hati, remaja tersebut memberi air minum pada Clarissa, dengan mengunakan gelas plastik yang sudah tidak layak untuk digunakan sebagai alat minum.
Tapi karena dalam keadaan seperti sekarang, Clarissa juga tidak mempermasalahkan soal itu. Dia tampak tergesa-gesa untuk meminum air tersebut. Hingga dia tidak hati-hati, dan akhirnya tersedak.
"Huk! uhuk-uhuk!"
Clarissa terbatuk-batuk, akibat dari tersedak nya itu.
"Hati-hati!" kata remaja tersebut mengingatkan.
Clarissa terpejam, untuk menghentikan air matanya yang hampir menetes akibat kejadian ini.
"A_apa yang ter_terjadi denganku?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Clarissa, menandakan bahwa dia tidak mengingat kejadian yang tadi dia alami.
Tentunya ini membuat remaja itu heran. Tapi tidak untuk teman-temannya yang lain.
Mereka semua tampak diam saja. Dan mereka juga pura-pura tidak mendengar, apa yang ditanyakan oleh Clarissa barusan.
"Istirahatlah."
Hanya itu kata yang diucapkan oleh remaja tersebut. Dia juga tidak mungkin mau bicara, dengan apa yang sebenarnya tadi terjadi.
Karena jika sampai dia bicara, bisa jadi, hal yang sama seperti yang dialami oleh Clarissa, akan dia alami juga.
*****
__ADS_1
Di rumah Anjani.
Anggi sedang berada di dapur, bersama dengan bundanya, di saat Ahmed datang bertamu.
Tet tet tet!
Bel pintu berbunyi. Anggi cepat berjalan menuju ke arah pintu. Meskipun dia sendiri tidak tahu, siapa yang datang ke rumahnya.
Clik!
Pintu terbuka. Tampak Ahmed yang tersenyum manis, melihat Anggi yang membukakan pintu untuknya.
"Assalamualaikum Anggi."
"Wa.... waallaikumsalam. Ahmed?"
Anggi menjawab salam yang diucapkan oleh Ahmed dengan terbata. Dia tidak menyangka jika, teman cowoknya itu akan datang mengunjungi rumahnya.
Dia lupa, jika tadi di undang sama Ahmed, supaya mampir ke toko kue miliknya Ahmed.
"Dari mana Kamu tahu letak lantai rumahku?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Anggi, sebenarnya tidak memerlukan jawaban juga.
Dan itu baru di sadari oleh Anggi, saat Ahmed tidak menjawab dan hanya tersenyum dengan mengelengkan kepalanya beberapa kali.
"Siapa Dek?" Anjani bertanya dari arah dapur.
Anggi tidak langsung menjawab pertanyaan dari bundanya. Tapi, dia mengajak Ahmed untuk masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Oh, Nak Ahmed," sapa Anjani, yang pada akhirnya keluar dari dapur, untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
Anjani tentu saja tahu siapa Ahmed. Karena kemarin, di saat ada pembukaan toko kue, mereka berdua dikenalkan oleh Anggi. Bahkan setelah itu, Ahmed juga memperkenalkan Anggi dan Anjani pada kedua orang tuanya.
"Maaf Tante. I datang tidak memberi tahu terlebih dahulu. I juga tidak bawa apa-apa, sebagai bekal untuk datang bertamu."
"Oh tidak apa-apa Nak. Justru Tante merasa senang, karena Nak Ahmed mau datang berkunjung ke rumah Tante yang sangat sederhana ini."
Tapi tentu saja itu hanya sebuah kata basa basi yang diucapkan oleh Ahmed. Karena pada kenyataannya, dia membawakan kue-kue khas timur tengah. Yang tentunya disukai oleh Anggi.
Ahmed tentu tahu Anggi suka kue mana, timur tengah, yang disukai oleh gadis kecilnya itu, dari sosial media miliknya Anggi.
Dan Anggi tentu saja sangat senang, dengan apa yang dibawakan oleh Ahmed untuknya.
"Maaf ya. Aku lupa turun lagi tadi," ucap Anggi, dengan nyengir kuda.
Anjani melihat ke arah anaknya. Karena Anggi tidak mengatakan apa-apa tadi, di saat pulang sekolah.
__ADS_1