Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Biarkan Mereka Dengan Dunianya


__ADS_3

Di rumah sakit.


Yasmin sudah kembali ke ruang rawat inap, pasca operasi. Tapi anaknya, masih ditempatkan di ruang khusus, untuk bayi-bayi yang baru saja lahir.


Apalagi, Yasmin juga belum bisa menyusui bayinya terlebih dahulu. ASI belum keluar, dan Yasmin di minta untuk tetap menjaga kestabilan emosi dan perasaannya, agar ASI bisa keluar dengan stabil.


Untungnya, bayi yang baru lahir bisa bertahan hingga 48 jam tanpa menyusu. Jika ASI belum keluar, ibu tetap harus menjaga kontak kulit dengan bayinya, agar ia merasa nyaman.


Bayi bisa bertahan 24-48 jam, karena ia sudah dibekali dari kandungan.


Itulah sebabnya, perawat akan membawa bayi Yasmin ke dalam kamar perawatannya, selama dua atau tiga jam sekali, untuk di susui, meskipun ASI belum juga keluar.


Ini dilakukan untuk bisa menstimulasi keluarnya ASI.


Anjani dan Abimanyu, pamit untuk pulang ke rumah, setelah semuanya dirasa cukup. Dia juga merasa bahwa, Yasmin butuh istirahat agar kondisi tubuhnya, yang baru saja selesai operasi Caesar, kembali membaik.


"Bawa saja motor Nanda Yah. Nanti Nanda balik dengan Eyang."


Nanda memberikan usulan, agar Abimanyau mengunakan sepeda motornya, untuk pulang ke rumah.


"Eh, bawa mobilnya Ayah saja Bi. Kan ada Sekar juga yang ikut pulang," sahut ayah Edi, karena Juna memang belum datang menjemput istrinya itu.


"Ini Mas Juna udah di jalan kok Yah. Sebentar lagi juga sampai. Mas Abi dan Mbak Jani, biar ikut sekalian saja. Jadi, Ayah dan Nanda pulang dengan motor atau mobil, biar ada kendaraan di rumah sakit untuk riwa-riwi Aksan, jika urusan keluar."


Sekar, mengatakan bahwa suaminya, akan datang menjemputnya. Dia meminta kakaknya, Abimanyu dengan Anjani, ikut bersamanya pulang sekalian.


Sedangkan Aksan dan ibu Sofie, ikut menunggui Yasmin.


"Nah, begitu lebih baik. Lagipula, sebentar lagi rumah sakit akan ditertibkan, agar tidak banyak orang yang menunggui. Pasien juga butuh untuk beristirahat." Ayah Edi, mengiyakan perkataan anaknya, Sekar.


Tak lama kemudian, Juna datang juga. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan orang-orang, dia mengajak istrinya, Sekar, untuk pulang.


Begitu juga dengan Abimanyu dan Anjani. Mereka berdua ikut berpamitan, untuk ikut pulang bersama dengan Juna dan Sekar.


"Terima kasih ya Mas Abi, mbak Jani, Mbak Sekar dan mas Juna. Hati-hati di jalan," ucap Yasmin, yang belum bisa bergerak dengan leluasa, karena tubuhnya saat ini masih belum pulih benar.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka berempat, keluar dari dalam kamar pasien Yasmin. Mereka pulang ke rumah, karena ada anak-anak mereka, yang menunggu. Dan anak-anak mereka juga masih perlu perhatian dari mereka.


Beberapa menit kemudian, di dalam kamar pasien Yasmin, ayah Edi juga tampak bersiap-siap untuk pulang, bersama dengan cucunya, Nanda.


Dia meminta pada istrinya, ibu Sofie, untuk tetap berada di rumah sakit, ikut menjaga anaknya, Yasmin, bersama dengan cucunya yang baru saja lahir. Karena Aksan, tidak mungkin sendirian bersama dengan Yasmin di rumah sakit.


*****


Di rumah mama Amel.


Awan baru saja masuk ke dalam rumah, saat hari benar-benar sudah berganti menjadi malam.


Dia berjalan dari garansi, setelah memarkirkan sepeda motornya, ke dalam rumah melalui pintu samping.


Tapi begitu dia hampir saja sampai di pintu kamarnya, suara mobil ayahnya terdengar. Di susul kemudian dengan suara mobil omanya, mama Amel, yang tentu saja bersama dengan opanya, yaitu papa Ryan.


Namun, Awan tetap melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar. Dia tidak menunggu hingga ayah atupun omanya masuk ke dalam rumah.


Awan tidak mau jika, dia akan digoda oleh omanya, dengan Ara. Apalagi, sebelum ayahnya Ara menelpon dirinya, ternyata, ayahnya Ara itu, menghubungi omanya terlebih dahulu, untuk minta nomer handphone miliknya. Dia bisa memastikan jika, omanya itu akan menggodanya nanti, pada saat makan malam.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamar, Awan membuang nafas lega. Dia merasa sangat bahagia, tapi juga tidak baik-baik saja di dalam dadanya.


Sedari tadi, detak jantungnya masih saja cukup keras dan cepat, dibandingkan dengan biasanya.


"Jantungku kenapa ya? Apa ada kelainan?" tanya Awan pada dirinya sendiri, sambil memegangi dadanya sendiri.


Tok tok tok!


"Wan. Awan Sayang!"


Tiba-tiba, pintu kamar Awan diketuk dari luar, oleh omanya. Mama Amel.


Awan gelagapan. Dia mencari alasan, supaya omanya itu tidak bisa masuk ke dalam kamar.


Dengan gerakan cepat, Awan berjalan menuju ke arah kamar mandi. Dan pura-pura sedang mandi. Jadi, pada saat omanya itu memaksa masuk ke dalam kamar, omanya tidak akan bertemu dengan dirinya secepat ini.


Awan belum siap bertemu dengan orang-orang, yang tahu jika dia baru saja mengantarkan Ara pulang ke rumah.


Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan. Dan Awan juga tidak tahu, kenapa dia kesulitan untuk mencari sebuah kata yang tepat, untuk menjabarkan perasaannya sendiri saat ini.


Clek!


"Awan."


Ternyata benar. Omanya masuk untuk mencari keberadaannya.


Tapi karena mendengar suara air yang mengalir dari kran shower, mama Amel mengira jika cucunya itu sedang mandi.


Tak lama kemudian, mama Amel terdengar keluar dari dalam kamar Awan, dari suaranya menutup pintu kamar.


"Hahhh!"


Awan membuang nafas kasar. Dia merasa tidak nyaman, jika harus keluar dari dalam kamarnya, dan bertemu dengan omanya nanti.


Drettt


Drettt


Drettt


Tiba-tiba, handphone miliknya bergetar di dalam saku celana. Dengan malas, Awan mengambil handphone tersebut, dan melihat siapa yang saat ini menghubungi dirinya.


Dika calling!


Ternyata telpon tersebut dari temannya, Dika. Tapi Awan sedang malas, menerima telpon dari siapapun untuk saat ini. Jadi, Awan membiarkan telpon tersebut terputus dengan sendirinya.


Tapi ternyata Dika tidak menyerah. Dika menelpon lagi beberapa detik kemudian.


Drettt


Drettt


Drettt


Dengan malas, akhirnya Awan menekan tombol hijau juga, supaya panggilan tersebut tersambung.

__ADS_1


..."Halo Awan!"...


..."Hemmm."...


..."Ihsss, kenapa Loe gak semangat gitu sih!"...


..."Gak apa-apa."...


..."Ah, Gue mau cerita ini Bro!"...


..."Apa?"...


..."Gue mau cerita ini tadi di sekolah. Sayangnya udah keburu bel masuk. Dan saat istirahat, Gue lupa mau cerita, karena keburu lapar. Akhirnya Mr kantin deh!" ...


..."Cuma itu?"...


..."Eh gak lah. Bukan soal itu yang mau Gue ceritain."...


..."Terus?"...


..."Itu, si Diyah. Kamu tahu gak, kalau hari ini dia sendirian tadi, pas pulang sekolah?"...


..."Kenapa?"...


..."Loe napa sih Wan? Gak semangat gitu. Mau denger gak Gue cerita?"...


..."Besok sajalah. Gue mau mandi dulu ya?"...


Klik!


Telpon di putus oleh Awan, tanpa menunggu jawaban dari temannya, si Dika.


Awan menghela nafas panjang, dan segera membuangnya.


"Hufh!"


Setelah itu, dia bergegas menuju ke meja belajarnya. Meletakkan handlingnya di sana. Setelah itu, Awan benar-benar pergi mandi, dan bukan hanya pura-pura mandi, seperti tadi.


Di dalam kamarnya, mama Amel masuk dengan tersenyum-senyum sendiri. Meskipun dia tidak berhasil menggoda cucunya itu untuk saat ini, tapi dia mempunyai pikiran, untuk bisa menggodanya nanti, pada saat makan malam bersama.


"Ma. Ngapain senyum-senyum sendiri gitu?"


Papa Ryan, menegur istrinya, yang baru saja datang dalam keadaan seperti orang yang sedang berbahagia.


"Oh, mama lagi seneng banget ini Pa," jawab mama Amel, dengan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


Tentu saja, kelakuan istrinya itu, membuat papa Ryan mengernyit heran.


Tapi karena mama Amel dengan cepat bercerita pada suaminya itu, akhirnya papa Ryan malah mengelengkan kepalanya, saat mendengar perkataan dari istrinya.


"Mama ini aneh-aneh saja. Mereka masih kecil-kecil Ma. Biarkan mereka dengan dunia mereka. Tidak usah ikut campur dalam urusan dunia anak-anak." Papa Ryan, memperingatkan istrinya, supaya tidak terlalu jauh memikirkan hubungan antara Awan dan juga Ara.


"Oh si Papa. Mama cuma ingin Awan bahagia Pa. Tidak salah langkah dan milih pasangan juga. Mama tidak mau jika, Awan melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya waktu dulu."


Papa Ryan hanya menghela nafas panjang, saat mendengar jawaban dari istrinya, yang tidak bisa disalahkan juga, dengan usahanya kali ini.

__ADS_1


Tapi, menurut papa Ryan, semua itu masih terlalu dini juga untuk Awan, ataupun Ara. Karena mereka berdua, masih usia remaja dan baru duduk di bangku sekolah.


__ADS_2