
"Lalu, apa yang diinginkan oleh istri Saya saat ini Dok?"
Elang, mencoba mencari tahu, apa keinginan istrinya itu, dengan bertanya kepada dokter jaga di panti rehabilitasi tersebut. Dia berharap, Adhisti pernah membicarakan tentang hal ini pada dokter itu.
"Dia tidak tahu, mau apa dia kedepannya. Dia pasrah, karena dia sadar jika kesalahannya sendiri sedari dulu sebenarnya tidak termaafkan. Dia merasa kasihan dengan Anda Tuan. Dia ingin pergi saja dari kehidupan Anda. Dia ingin bebas, menentukan segala sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan sebuah ikatan pernikahan dan keluar dari keluarga Anda."
Jawaban yang diberikan oleh dokter tersebut, membuat Elang tidak percaya, jika Adhisti, menginginkan perpisahan.
Padahal, Elang sebenarnya masih ingin memberikan kesempatan kepada istrinya agar bisa berubah dan menjadi istri yang baik, juga bunda yang baik untuk Awan.
"Apa Saya bisa bertemu dengan istri Saya Dok?" tanya Elang.
Dia berharap, jika istrinya itu bisa berubah pikiran dan tidak ingin berpisah dengannya.
"Sebenarnya, dia tidak ingin bertemu lagi dengan Anda Tuan. Tapi Saya akan usahakan untuk bisa membujuknya, supaya mau bertemu dan berbicara dengan Anda sendiri. Semoga, saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja."
Dokter tersebut, menyanggupi untuk bisa mengajak Adhisti keluar agar bisa bertemu dengan Elang.
"Saya pergi ke dalam dulu sebentar," kata dokter tadi, lagi, sambil berdiri.
Elang mengangguk mengiyakan. Dia akan menunggu, apa pun keputusan yang akan diberikan oleh Anjani saat ini.
Setelah lebih dari lima belas menit kemudian, dokter tadi, datang bersama dengan seorang wanita yang terlihat sangat kurus dan tidak terawat sama sekali.
Elang hampir saja tidak mengenali siapa wanita tersebut, jika dia tidak melihat senyum wanita tadi, yang memperlihatkan satu gigi gingsul, yang ada di sebelah ke kiri dari deretan giginya.
"Adhisti," sapa Elang pada istrinya, yang sangat dia rindukan.
Elang memeluk istrinya itu, dengan mata berkaca-kaca. Dia menangis bahagia, karena bisa bertemu dengan istrinya dan memeluknya erat, meskipun dalam keadaan yang tidak sama seperti dulu.
"Mas."
Adhisti memangil Elang, saat dia sedang berada di dalam pelukan suaminya itu.
"Apa Sayang? Kamu mau Aku pindah ke rehab di Jakarta? Mau ya?"
__ADS_1
Elang bertanya pada istrinya, supaya mau menerima tawarannya, untuk memindahkan perawatan Adhisti ke Jakarta saja.
"Maaf Mas. Aku_aku tidak mau. Aku_aku tidak mau bersama dengan mas Elang lagi. Aku ingin menikmati kebebasan tanpa harus terikat dengan pernikahan kita. Aku pikir, dengan menikahi mas Elang, semua beban hidupku terselesaikan. Tapi ternyata tidak. Aku justru semakin gila. Aku tidak mau lagi."
Adhisti, bersikukuh untuk meminta pisah dari Elang. Dia tidak mau diajak untuk kembali membangun rumah tangga mereka berdua, dari awal lagi, dengan memperbaiki diri dan kepribadiannya, agar bisa lebih baik.
Elang memejamkan mata untuk menenangkan hatinya. Dia harus bisa memberikan penjelasan kepada istrinya itu, supaya mau menuruti keinginannya, demi kebaikan Adhisti sendiri.
"Baiklah. Itu terserah Kamu nanti. Tapi, jika rehabilitasi Kamu ini berhasil dan Kamu sudah busa lepas dari ketergantungan terhadap obat-obatan itu. Setelah semua kembali normal, terserah Kamu, mau tinggal bersamaku untuk memperbaiki semuanya, atau menjalani hidup sendiri. Aku menyerahkan semua keputusan kepadamu."
Adhisti tersenyum, mendengar perkataan suaminya itu. Dia tahu, jika Elang memang tulus dalam mencintai dirinya sedari dulu.
Tapi, dirinya sendirilah yang memang sudah tidak ada perasaan istimewa ataupun rasa cinta pada Elang. Bukan hanya saat ini, tapi sedari dulu. Sejak awal, dia memang hanya memanfaatkan kebaikan dan perasaan cintanya Elang saja.
Adhisti, hanya ingin melindungi dirinya sendiri dan terlepas dari bayang-bayang kehidupannya yang dulu, yang semuanya harus serba terbatas, di panti asuhan, tempat dia dibesarkan.
*****
Di Jakarta, di rumah sakit tempat Abimanyu di rawat, semua orang merasa sangat senang dengan keadaan Abimanyu, yang baru saja bangun dari tidurnya, saat dia sedang pingsan tadi.
Mendengar dan melihat Anjani yang sedang menangis sesenggukan, membuat Abimanyu bertanya, "Kenapa Sayang?"
Anjani, justru tambah menangis dengan keras. Dia bukan merasa sedih atau sedang kecewa. Tapi dari sebutan 'Sayang' dari Abimanyu tadi, Anjani menjadi sadar bahwa, saat ini Abimanyu sudah ingat lagi. Itu berarti, Abimanyu tidak lagi amnesia.
"Ada apa?" tanya Abimanyu lagi, dengan melihat ke arah sekitarnya.
Abimanyu melihat semua anggota keluarganya berkumpul sambil menangis, mengelilingi tempat tidur pasien yang dia tempati.
Tapi, kebingungan yang dialami oleh Abimanyu, semakin bertambah saat dia ingin mengerakkan tangannya. Dia tidak mampu bergerak dengan leluasa.
Begitu juga saat dia sedang ingin mengerakkan kakinya. Dia juga merasa sangat kaget, karena kakinya juga tidak bisa digerakkan.
"Sayang. Ini_ini kenapa Sayang? apa yang terjadi pada tubuhku?" tanya Abimanyu panik.
Anjani memeluk suaminya itu, untuk menenangkan hati dan pikirannya Abimanyu.
__ADS_1
Sedangkan ayah Edi dan ibu Sofie, hanya bisa memegang kaki anaknya itu, sambil menangis bahagia sekaligus sedih juga.
Begitu juga dengan adik-adiknya. Mereka juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Anjani, ataupun kedua orang tua mereka.
Mereka semua, merasa lega dan bahagia, dengan kembalinya ingatan Abimanyu.
Tapi mereka semua juga bersedih hati, karena Abimanyu tentu akan merasa lebih kecewa dan menyesal, dengan keadaannya sekarang ini.
"Mas. Mas Abi mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Mas Abi yang kuat ya," kata Anjani, mencoba untuk menenangkan suaminya itu.
Abimanyu terdiam. Dia mencoba untuk mengingat kembali kejadian yang dia alami, sama seperti yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Beberapa bulan yang lalu? Dan apa Aku koma, karena parahnya luka yang Aku alami?" tanya Abimanyu lagi.
"Oh tidak. Aku tidak tahu apa-apa, karena saat itu semua begitu cepat dan Aku langsung tidak sadarkan diri, di saat tubuhku tertimpa sesuatu. Padahal Aku berada di dalam mobil. Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu? Bagaimana mungkin, sebuah kecelakaan bisa membuat Aku jadi seperti mayat hidup begini Sayang?"
Abimanyu, kembali bertanya tentang kejadian yang dia alami saat itu. Dia tidak tahu, jika selama beberapa bulan kemarin, dia mengalami amnesia sehingga tidak mengingat apa-apa.
Akhirnya, ayah Edi menceritakan tentang keadaan yang di alami oleh Abimanyu. Dari beberapa tangkapan layar cctv yang ada di beberapa toko dan jalan yang dilalui oleh Abimanyu, dan keterangan dari saksi juga.
"Masih beruntung Kamu bisa selamat Abi," kata ayah Edi, mengakhiri semua ceritanya.
"Beruntung? Abi lumpuh Yah, dan itu membuat Abi tidak bisa melakukan apa-apa. Abi hanya bisa merepotkan semua orang kan selama ini?"
Abimanyu sepertinya tidak bisa menerima kenyataan, jika sekarang ini dia dalam keadaan lumpuh. Dia merasa sangat kecewa, dengan nasib yang dia alami saat ini.
"Tidak apa-apa Mas. Kita bisa melakukan terapi dan pengobatan, baik medis ataupun tradisional, agar Mas Abi bisa kembali lagi seperti dulu."
Jawaban yang diberikan oleh Anjani, membuat Abimanyu sadar, jika keluarganya selalu mendukung dan bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya sudah tidak bisa lagi diandalkan seperti dulu.
"Apa Aku sangat merepotkan kemarin-kemarin? saat Aku tidak ingat apa-apa?" tanya Abimanyu ingin tahu, bagaimana keadaan dia kemarin-kemarin saat tidak mengingat semua hal.
Anjani hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Dalam hati, dia merasa sangat bersyukur, karena dalam keadaan seperti apapun, Abimanyu tetap mencintai dan menyayangi dirinya.
Bahkan saat Abimanyu sedang dalam keadaan hilang ingatan sekalipun.
__ADS_1