
"Itu jangan diambil. Punya Anggi!"
"Gak. Miko mau yang ini!"
Anggi dengan Miko, sedang berebut keripik Talas, dengan rasa yang manis. Padahal, masih ada juga yang lain, meskipun dengan rasa yang berbeda. Karena Ara memang milih dengan rasa yang berbeda-beda setiap bungkus.
"Ihhh... Gak mau. Itu punya Anggi, Miko! Kamu ambil yang lain saja!"
Anggi, kembali berteriak, untuk mencegah Miko membawa keripik Talas tersebut.
Tapi ternyata Miko tidak mau mendengarkan teriakan Anggi. Dia justru menambah lagi dengan toples asinan buah, yang ada di meja, untuk dipeluknya sebagai tanda bahwa dia menginginkan oleh-oleh itu.
Semua oleh-oleh yang dibawa oleh Ara, diletakkan di atas meja makan. Jadi, tentunya Miko bisa melihat dan memilih sendiri, jajanan mana yang dia inginkan. Tidak perlu repot-repot meminta ini itu.
Anjani yang baru saja mau masuk ke arah kamar, karena menyiapkan baju ganti untuk suaminya yang mau mandi, jadi mengeleng beberapa kali, melihat tingkah anak dan keponakannya, yang tidak pernah akur. Meskipun Anjani juga tahu jika, keduanya sama-sama saling menyayangi. Tapi dia tetap masuk juga ke dalam kamar.
Sedangkan Ara, yang baru saja selesai membawa tas-tas berisi pakaian kotornya ke tempat cucian, malah tertawa terbahak-bahak, karena melihat kedua orang yang dia rindukan selama ada di Bogor kemarin. Adiknya Anggi dengan sepupunya, Miko.
"Hahaha... Apa sih kalian ini, berantem aja kerjaannya. Ini nih, yang bikin Kakak jadi kangen, dan mau cepat pulang ke rumah. Kalian memang lucu!"
Anggi dan Miko, menoleh ke arah kakaknya, Ara, yang sedang tertawa-tawa senang, melihat mereka. Sedangkan mereka berdua, justru bingung dengan perkataan kakaknya itu.
Mereka berdua saling pandang dengan wajah penasaran, karena tidak tahu, apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Ara, kakak mereka. Padahal mereka berdua sendirilah yang sedang dibahas Ara.
"Kak Ara ngomong apa sih?" tanya Miko dengan bingung.
"Tau tuh. Gak jelas kok," jawab Anggi dengan bingung, menoleh lagi ke arah Miko.
"Heh, Anggi, Miko! Kenapa bengong? Gak rebutan lagi?" tanya Ara, kemudian melangkah untuk mendekat ke arah mereka berdua, yang ada di meja makan.
"Ada apa Kak?"
Dari arah kamar utama, Anjani keluar dan bertanya kepada Ara, karena mendengar suara tawa anaknya, yang paling besar.
__ADS_1
"Ini Bunda, Anggi dan Miko. Mereka berdua rebutan keripik Talas, dengan rasa manis. Padahal, yang gurih atau pedas malah lebih enak ya Bun?"
Ara mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka, Anggi dengan Miko, supaya tidak memperebutkan keripik, yang memang hanya ada satu, untuk setiap rasa. Tapi, masih ada rasa pedas, gurih atau asin dan ada yang original juga. Bahkan, Ara juga membeli keripik Talas itu, yang punya rasa baru, yaitu rasa ayam panggang dan rasa rumput laut.
Kemarin saat ayahnya, Abimanyu, mengajak Ara untuk pergi ke pusat oleh-oleh, Ara memang memilih dan meminta pada ayahnya, supaya membelikan keripik tersebut, dengan semua rasa yang ada.
Ara beralasan, agar bisa merasakan semua rasa dan tidak bosan. Apalagi jika ada Miko dan Anggi, yang biasa berebut, agar bisa memilih sesuai rasa yang mereka sukai.
Tapi ternyata, pemikiran yang ada di kepala Ara, tetap saja salah. Nyatanya, Anggi dan Miko, tetap memperebutkan keripik Talas dengan rasa yang sama. Sedang keripik Talas dengan rasa yang lain, justru menganggur tanpa mereka sentuh.
Anjani yang sudah paham bagaimana keadaan mereka berdua jika sedang bersama, hanya mengangguk dan tersenyum mendengar perkataannya Ara.
"Sudah. Kakak pergi mandi sana. Tidak usah menghiraukan mereka berdua. Biar Bunda saja yang atur nanti."
Ara mengangguk mengiyakan perkataan bundanya. Sekarang, dia pergi melangkah dan tidak lagi menghiraukan adiknya. Dia masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan dirinya, karena terasa lengket, akibat perjalanan jauh yang baru saja dia lakukan tadi bersama dengan ayahnya juga.
"Sudah sini!"
Anjani meminta keripik Talas rasa manis, yang dipegang oleh Miko. "Sayang sini! biar Bunda yang bagi," kata Anjani merayu Miko, supaya Miko mau menyerahkan keripik yang masih dua peluk.
Sekarang, keripik tersebut sudah berada di tangan Anjani. Dia menyobek kemasan keripik, kemudian membaginya menjadi dua.
Setelah itu, Anjani mencari plastik bening, yang bisa dia gunakan untuk membungkus dua bagian keripik Talas itu.
Anggi dan Miko, tampak tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh bundanya. Setelahnya, masing-masing dari mereka mendapatkan satu bungkus plastik keripik yang sudah dibagi sama Anjani.
Sekarang, mereka berdua bisa menikmati keripik tersebut, tanpa harus rebutan, dan juga berantem. Jadi adil dan tidak ada keributan lagi.
"Ayo duduk! Jika makan, lebih baik dalam sambil duduk." Anjani menasehati keduanya.
Miko, yang sudah dalam keadaan duduk, tersenyum senang, karena bisa menikmati keripik Talas dengan rasa manis, tanpa diganggu oleh Anggi. Sepupunya yang cengeng, menurut Miko sendiri.
Dan Anggi, juga tersenyum senang, karena bisa makan keripik yang sama seperti Miko.
__ADS_1
Itu juga yang membuat Miko selalu usil dan reseh terhadap Anggi. Meskipun sebenarnya, Miko juga usil dan reseh terhadap Ara dan juga teman-teman yang lain.
*****
"Ayah!"
Di rumah mama Amel, Awan berteriak-teriak, memanggil-manggil ayahnya. Sedang dia sendiri hanya duduk, sambil melihat ke arah layar handphone miliknya.
Awan mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sedang dia baca dari berita online.
Di sana, di berita yang Awan baca, ada berita tentang keadaan perusahan yang kemarin dipegang oleh ayahnya, di negara Meksiko sana.
Perusahaan itu kini bangkrut karena beberapa hari terakhir ini, sahamnya anjlok dan tidak bisa tertolong lagi.
"Ayah! lihat berita yang terbaru dari perusahaan Ayah kemarin!" teriak Awan, kembali memanggil ayahnya, yang belum juga keluar dari dalam kamarnya.
"Ada apa Sayang? Kenapa teriak-teriak kayak gitu," tegur mama Amel, pada cucu satu-satunya itu.
"Ini Oma, lihat!"
Awan menunjukan layar handphone miliknya, pada mama Amel, supaya omanya itu bisa ikut membaca berita yang tadi dia baca.
Mama Amel menerima handphone tersebut. Dia juga menuruti permintaan cucunya, supaya membaca berita yang ada di layar handphone tersebut.
Dari tulisan yang dibaca oleh mama Amel, disebutkan bahwa, salah satu perusahan di Meksiko, yang tahun kemarin sedang berkembang pesat, sekarang jatuh pailit, karena nilai sahamnya yang anjlok untuk dua minggu terakhir. Dan itu tidak bisa tertolong lagi.
Mama Amel tersenyum tipis, setelah membacanya. Dia terlihat senang dan juga puas, setelah membaca berita tersebut. Hal yang memang diinginkan oleh mama Amel, untuk membalas kelakuan wanita Meksiko, yang sudah berhasil menipu anaknya, Elang.
Mama Amel memang meminta pada suaminya, papa Ryan, untuk melakukan sabotase terhadap saham perusahaan itu, karena perusahaan tersebut juga sudah tidak lagi milik anak dan suaminya. Tapi diambil alih oleh wanita penipu itu.
Karena itu juga, yang membuat papa Ryan, belum bisa pulang ke Indonesia, dan harus melakukan kerja sama dengan beberapa perusahaan besar di China dan Singapura, untuk menjatuhkan perusahaan yang ada di Meksiko.
Tugas berat itu mama Amel serahkan pada suaminya, yang sudah terbiasa melakukan negosiasi dengan pihak-pihak tertentu, yang bisa membantu dalam urusan bisnis dan usahanya.
__ADS_1
Dan mama Amel bisa tersenyum lega, karena semua sudah berlalu. Sekarang, sudah saatnya dia memikirkan kebahagiaan keluarganya, terutama untuk anaknya, Elang, yang sepertinya tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.
Mama Amel merasa kasihan dengan nasib anaknya itu. Dia ingin, anaknya bisa move on dan bangkit dari keterpurukan perasaannya sendiri.