
Beberapa kali bertemu dengan Awan dan temannya itu, membuat Ara semakin akrab dan dekat dengan mereka berdua. Meskipun sebenarnya dia dan Awan jarang berbicara, karena pembicaraan mereka seringkali didominasi oleh temannya, yang sedang melancarkan rencananya untuk melakukan pembalasan dendam pada Ara. Meskipun belum bisa memutuskan juga, dengan kelanjutan rencananya itu.
Tapi lama-lama, temannya Awan benar-benar merasa bahwa, perasaan yang dia miliki pada Ara itu adalah perasaan suka yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar ambisi untuk balas dendam, sama seperti yang dia rencanakan sebelumnya.
Teman Awan menilai Ara sebagai seorang gadis kecil yang benar-benar manis, bukan hanya sekedar pintar dan cerdas. Tapi sikapnya yang apa adanya serta memiliki kepedulian terhadap orang lain, membuat temannya Awan jadi tidak bisa melakukan balas dendamnya lagi.
Dan itu diakuinya, saat berbincang dengan Awan di suatu hari saat pulang sekolah.
"Bro. Gue merasa tidak enak kalau melakukan balas dendam pada Diyah. Gue rasa... gue benar-benar suka sama dia. Gimana nih?" tanya temannya Awan dengan panik, karena perasaan hatinya yang berubah.
"Baguslah. Tidak perlu repot-repot balas dendam," sahut Awan, dengan nada datar.
Awan sudah bisa memprediksi, bahwa semua tidak akan sama seperti yang ada dalam rencana temannya itu. Karena pesona Ara, tidak sama seperti gadis-gadis yang lain.
"Tapi... kira-kira dia gimana ya?" tanya temannya Awan, yang mirip dengan orang yang sedang berada dalam keadaan jatuh cinta.
Ada perasaan yang tidak bisa dia ucapkan. Perasaan was-was, cemas dan takut.
Ini karena sebenarnya, teman Awan itu juga merasa sangat takut jika, Ara, yang dia panggil dengan sebutan Diyah, akan mengetahui tentang rencana balas dendamnya itu, suatu hari nanti.
"Gue ngaku aja kali ya Wa?" tanya temannya Awan, dengan nada cemas.
"Ngaku apa?" tanya Awan bingung.
"Ngaku kalau Loe tadinya deketin dia karena mau balas dendam?" sambung Awan bertanya.
Teman Awan menganggukkan kepalanya ragu. Dia merasa takut juga, jika pengakuannya nanti, membuat gadis incarannya itu, menjauhi dirinya karena pengakuannya tentang semua kebenaran tentang rencana yang dulu.
"Belum juga dicoba, ngapain takut." Awan kembali mengatakan bahwa, semua perlu dicoba.
Tapi ternyata, teman Awan berbeda pendapat. Dia tidak mau jika, Ara akan benar-benar merasa tersinggung karena kedekatan mereka berdua hanya karena rencana balas dendam yang dia lakukan.
"Gak mau Gue Wan. Biarin ajalah kayak gini. Kapan-kapan, jika dia sampai tahu, Gue pasrah aja, gimana tanggapan dia."
Akhirnya, temannya Awan memutuskan untuk tetap diam dan tidak jadi mengakuinya.
Awan juga tidak mau berdebat dengan temannya itu, hanya untuk sekedar membuka semuanya, agar tidak ada kesalahpahaman yang bisa saja terjadi, kedepannya nanti.
"Hai Kak, mau pulang?"
__ADS_1
Tiba-tiba, dari arah belakang muncul Ara dan temannya, yang baru saja keluar dari dalam ruangan kantor guru untuk tingkat SMP.
'Eh, panjang umur dia,' kata Awan dalam hati, meskipun wajahnya tidak tampak terkejut dan hanya datar saja.
"Eh Diyah. Kakak pikir, Kamu udah pulang," ujar teman Awan, menanggapi sapaan Ara tadi.
"Itu tadi bantu Bu guru, bawa beberapa alat bantu praktek," jawab Ara, dengan menunjuk ke arah belakang, di mana ruang guru berada.
Akhirnya mereka berempat, berjalan bersama-sama menuju ke luar dari halaman sekolah, untuk pulang ke rumah masing-masing.
Ara, yang biasa di jemput oleh pak ojeknya, dan temannya itu di jemput oleh mamanya sendiri.
Berbeda dengan Awan, yang sekarang ini lebih sering membawa motor sendiri, dan temannya itu, juga membawa motor sendiri juga.
Temannya Awan, tidak mau lagi ditolak oleh Awan, karena tidak mau mengantar ataupun menjemputnya ke rumah. Dia sendiri juga anak orang kaya, jadi merasa biasa saja dengan cara Awan menolaknya. Karena dia memang sudah terbiasa dengan penolakannya Awan, sejak mamanya menyalahkan Awan kemarin-kemarin, waktu badannya ketahuan banyak memar dan lebab, karena berkelahi dengan preman-preman.
Itulah sebabnya, Awan tidak mau jika diminta untuk datang menjemput atau mengantar temannya itu. Semua karena sikap mama dari temannya sendiri.
Tapi karena temannya itu sudah mengenal watak mamanya, tentu saja dia tidak marah ataupun ngambek dengan Awan. Tapi dia meminta pada mamanya, untuk mengijinkan dirinya mengunakan sepeda motor sendiri, untuk pergi dan pulang sekolah.
Awalnya, mamanya menolak permintaan anaknya itu, tapi anaknya, temannya Awan, justru mengancam akan pergi dari rumah, dan akan tinggal sendiri di apartemen. Itulah sebabnya, dia diijinkan untuk membawa motor sendiri ke sekolah. Karena tidak mungkin mengijinkan anaknya itu membawa mobil sendiri. Selain belum punya SIM, pihak sekolah akan menindak tegas siswa siswi yang mengunakan kendaraan mewah, karena itu akan membuat kecemburuan sosial dan persaingan yang tidak sehat, sehingga para pelajar tidak berkonsentrasi pada pelajaran.
Ternyata Pak ojek yang biasa, sudah datang dan menunggu Ara.
"Eh ya Pak. Maaf ya, jadi nunggu." Ara menganggukkan kepalanya pada Pak ojek.
"Kak, Aku duluan ya!" pamit Ara pada kakak-kakak kelasnya itu.
Ara juga berpamitan dengan temannya, yang ternyata belum dijemput oleh mamanya.
Namun ternyata, tidak lama kemudian, mama temannya Ara datang, sehingga yang tinggal di depan gerbang sekolah hanya ada Awan dan temannya itu.
"Kapan ya dia gak dijemput kayak gini?" gumam temannya Awan, berandai-andai.
"Kenapa?" tanya Awan menanggapi.
"Gue pengen antar dia pulang Bro. Biar gue tahu, dimana rumahnya, siapa ibunya atau ayahnya gitu deh," jawab temannya Awan, sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Oh, mau pedekate." Awan paham dengan maksud perkataan temannya itu.
__ADS_1
"Hehehe... iya dong Bro. Biar ada peningkatan gitu. Gak cuma gini-gini aja kan!" sahut temannya Awan dengan antusias.
Awan, hanya tersenyum tipis mendengar perkataan temannya itu. Dia terus saja melangkah menuju ke warung Pak Lek, di mana motornya terparkir.
Teman Awan juga melakukan hal yang sama, karena motornya juga terparkir di sana.
Mereka berdua, akan masuk ke dalam warung Pak Lek sebentar, untuk memesan makanan atau hanya sekedar memesan minuman es kopi atau teh saja.
Mereka berdua, ada juga beberapa orang lain yang sama seperti mereka juga, meskipun dari kelas lain, sudah tampak mengobrol di dalam warungnya Pak Lek. Ada yang makan dan minum, ada juga yang sekedar mengobrol sambil bermain handphone.
"Pak Lek, aku pesan es sirup manis aja," kata temannya Awan memesan.
"Loe apa Wan?" tanya temannya Awan, pada dirinya.
"Gue mau makan kok. Malas di rumah, gak ada orang," jawab Awan memberitahukan keinginannya.
Begitulah akhirnya, mereka berdua memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
*****
"Beneran Bunda, kak Nanda mau pulang ke Indonesia?" tanya Ara pada bundanya, Anjani, saat dia sudah selesai berganti pakaian, dan berbincang dengan bundanya.
"Iya, tadi tante Sekar yang kasih kabar pada Bunda."
Ara merasa senang, mendengar kabar tentang sepupunya, Nanda, yang akan pulang sebulan kemudian.
"Kok kak Nanda gak bilang ya kemarin itu, waktu dia balas pesan Ara?" gumam Ara, yang mulai ragu lagi.
"Mungkin lupa, atau mau kasih surprise sama Kamu Kak," ujar Anjani, dengan tersenyum.
Dia merasa jika Nanda memiliki rencana sendiri, untuk kepulangan ke Indonesia. Bisa jadi, mereka, keluarga Yasmin, pulang terlebih dahulu ke kampung halamannya suaminya, sebelum ke Jakarta.
Atau bisa juga, Nanda memang ada surprise sendiri untuk Ara. Mereka berdua sudah tidak bertemu sekian lamanya, jadi pasti akan berusaha untuk bisa membuat kesan yang baik untuk pertemuan mereka nanti.
"Semoga saja, kak Nanda sekolah di Indonesia saja ya Bun. Gak usah balik ke Taiwan lagi," kata Ara, penuh harap.
Anjani hanya tersenyum, mendengar perkataan dan harapan dari anaknya itu. Dia juga akan merasa sangat senang sekali jika, keponakannya yang sudah besar itu, ada di Indonesia saja, dan tidak kembali ke Taiwan.
Tapi Anjani juga tidak mau berharap banyak, karena Nanda punya kehidupan sendiri bersama dengan mamanya, dan papa barunya.
__ADS_1
Kepulangan mereka semua ke Indonesia kali ini karena, untuk persiapan persalinan Yasmin, yang menginginkan bisa melahirkan di Indonesia saja, karena dekat dengan semua keluarganya. Beda jika berada di Taiwan sana, yang hanya ada suami dan anaknya saja.