
..."Ayolah Bro. Bantuin Gue."...
..."Ke mana?"...
..."Cari rumah Diyah."...
..."Emangnya Kamu belum tahu?"...
..."Belumlah Bro. Kapan Gue punya kesempatan untuk bisa tahu rumahnya, jika ada bodyguard Diyah setiap hari."...
Selesai sarapan pagi, Dika menghubungi Awan, untuk meminta bantuannya, agar Awan mengajaknya pergi ke rumah Ara.
Dika ingin bergerak cepat, untuk bisa mendekati dan mendapat perhatian khusus dari Ara. Dia tidak mau, jika Ara sampai jatuh cinta pada orang lain. Meskipun itu pada Awan, kawannya sendiri.
..."Aku sedang istirahat. Capek ini, sorry."...
..."Ah, kapan Loe gak males sih? senyum aja males Loe Wan."...
Awan menolak permintaan temannya, si Dika. Dia tidak mau, jika niat Dika untuk mendekati Ara, masih saja sama seperti waktu yang dulu, saat pertama kalinya dia punya niatan untuk membalas dendam sakit hatinya.
Tapi Awan salah. Si Dika, ternyata benar-benar sudah jatuh hati, pada anak mantan istri ayahnya itu.
Sama seperti yang dia rasakan pada Ara juga. Meskipun Awan belum merasa yakin, dengan apa yang dia rasakan saat ini. Apalagi, dia juga tidak mau jika, harus mengikat hatinya Ara, di saat dirinya sendiri akan segera pergi dari Indonesia.
Awan tidak ingin membuat Ara tergantung pada perasaannya yang egois. Meskipun Awan juga tidak ingin melihat Ara, berhubungan dengan cowok lainnya juga.
..."Beneran gak mau bantu Gue Wan?"...
..."Gak. Males Aku."...
..."Ah, bener-bener gak besti Loe Wan!"...
..."Serah ah. Cari sendiri sana!"...
..."Kasih alamat atau nama perumahan si Diyah aja kalo gitu. Ya Wan, please!"...
..."Usaha dong."...
..."Haisss... pelit ah!"...
..."Hemmm..m udah ya. Aku mau tidur."...
__ADS_1
..."Hei Bro! Ini pagi hari, bukan malam. Dan matahari, juga baru saja nongol!"...
..."Serah Aku!"...
Klik!
..."Hai...."...
Tut tut tut....
"Ah sial! Ternyata udah di matiin!"
Dika mengerutu sendiri, setelah panggilan telponnya di tutup oleh Awan secara sepihak, tanpa minta persetujuan darinya.
"Dasar Eskimo! Eh, kok Eskimo sih? Dasar kulkas!" Dika ngedumel sendiri, di dalam kamar.
Tok tok tok!
"Dika, Sayang! Jadi ikut Mama gak Dik?"
Dari arah luar kamar, mamanya Dika bertanya pada Dika, tentang rencananya yang tadi.
Clek!
Akhirnya, Dika ikut juga ke mana mama dan papanya pergi pagi ini. Yaitu ingin datang ke rumah orang, yang kemarin-kemarin di serempet mobil papanya.
Dia tidak ingin berada di rumah sendiri, karena dia juga ingin mengajak kedua orang tuanya itu, untuk jalan-jalan ke Mall. Sama seperti waktu dulu, saat dia masih kecil, dan kedua orang tuanya itu belum sesibuk sekarang.
"Ma. Kata Mama, kemarin orang itu udah sembuh kan, kok datang lagi ke sana sih?" tanya Dika, yang bingung dengan apa yang mamanya lakukan kali ini.
"Ini kan demi perusahaan kita juga Sayang. Jika usaha kita ini bisa di bantu dengar lancar sama orang tersebut, kita bisa untung besar juga."
Mama Dika, menjelaskan pada anaknya itu, dengan tujuan-tujuan yang ingin dia lakukan. Jadi, Abimanyu juga ingin dimanfaatkan untuk memperlancar proses kerja sama antara perusahaan mereka, dengan perusahaan milik mama Amel, yaitu PT SAMUDERA GROUP.
"Nama perusahaannya kok kayak familiar gitu sih Ma, siapa pemiliknya?" Dika bertanya pada mamanya, karena merasa sering mendengar kata yang sama seperti yang tadi barusan dikatakan oleh mamanya juga.
Sekarang giliran papanya Dika, yang menjelaskan tentang PT SAMUDERA GROUP, pada anaknya.
Jadi, ternyata pada waktu mudanya dulu, papanya Dika pernah ikut magang di perusahaan cabang PT SAMUDERA GROUP, yang ada di kota Medan. Sayangnya, perusahaan tersebut di tutup, dan dipindahkan ke Batam.
Tapi, menurut cerita dari beberapa teman papanya Dika, perusahaan yang ada di Batam juga di tutup, dengan alasan yang tidak jelas.
__ADS_1
Dan akhirnya, tidak ada lagi cabang di Medan atau di Batam. Tapi justru ada di Malaysia, dan juga Benua Amerika sana.
"Wah, maju pesat itu berarti Pa, perusahaan mereka," kata Dika, memberikan komentarnya, tentang cerita yang disampaikan oleh papanya tadi.
"Iya itu makanya Dik. Kita usahakan untuk bisa mendekati salah satu pegawai kepercayaan big bos nya PT SAMUDERA GROUP. Ya bapak-bapak yang kemarin keserempet mobilnya Papa itu."
Dika mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh papanya, tentang siapa orang yang sedang dibicarakan tadi.
"Kalau dia salah satu pegawai kepercayaan di perusahaan sebesar PT SAMUDERA GROUP, harusnya, dia bisa pakai mobil Pa. Ini kenapa cuma pake motor? Motornya motor biasa lagi, bukan motor yang terbaru dan mahal juga."
Dika masih tetap tidak bisa mengerti, apa yang dia dengar tadi dan juga kemarin-kemarin, saat mama dan papanya bercerita.
Apalagi, dia juga mendengar cerita dari mamanya bahwa, rumah orang tersebut, juga kecil. Tidak berada di rumah yang besar, atau di apartemen.
Rumah orang itu juga di sebuah kompleks perumahan biasa. Bukan kluster istimewa. Itulah sebabnya, Dika berpikir yang tidak-tidak, tentang orang tersebut.
"Ma, Pa. Jangan-jangan, orang itu dulunya hidup enak dan mewah, terus ternyata banyak utang atau korupsi. Makanya, sekarang jadi hidup biasa kayak gitu." Dika mengatakan, apa yang dia pikirkan saat ini.
"Bisa jadi Ma. Sekarang kan banyak tuh, kelakuan orang-orang yang sebenarnya tidak kaya, tapi ngaku-ngaku kaya. Terus pas ketahuan, banyak kerugian yang harus dia alami. Bangkrut kan keuangan keluarganya. Jadilah miskin lagi."
Mamanya Dika, mengangguk sambil tersenyum mendengar perkataan dari anaknya itu. Sekarang, dia punya ide bagus, untuk bisa mengajak Abimanyu, untuk bisa melakukan kerja sama dengan perusahaan mereka.
"Pa. Mama punya ide bagus nih!"
Papanya Dika, yang sedang menyetir mobil, menoleh sekilas ke arah istrinya. Dia tidak tahu, apa ide bagus yang dimaksud oleh istrinya. "Ide apa Ma?" tanya papanya Dika, saat istrinya itu tidak lagi mengatakan apa-apa tentang rencananya tadi.
"Nanti aja Pa. Mama masih mencari cara yang tepat, untuk bisa membuat pak Abi menyetujui permintaan dari kita kemarin."
Papanya Dika hanya mengangguk saja, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya. Dia terus berkonsentrasi, pada setirnya agar tetap terkendali. Karena ternyata, hari libur seperti weekend saat ini, justru membuat jalanan Jakarta menjadi macet parah.
Banyak warga kota, yang ingin bepergian ke luar kota. Baik jalan-jalan ke puncak, ke Bandung, atau sekedar pergi berkunjung ke rumah sanak saudara mereka.
Mungkin juga ada yang sama seperti dirinya. Ada keperluan, dan sekalian ingin jalan, meskipun hanya sekitar Jakarta saja.
Meluangkan waktu untuk keluarga, dengan mengajak mereka keluar rumah.
"Pa, masih jauh ya?" tanya Dika, karena merasa capek juga, di dalam mobil dalam keadaan jalanan yang macet.
"Tinggal belok kiri, dari lampu lalu lintas di sana kok. Setelah itu, kita akan memasuki jalan, yang menuju ke kompleks perumahan pak Abi."
Dika tidak mendengar jawaban dan penjelasan dari papanya dengan baik. Dia justru memicingkan mata, melihat keadaan jalanan yang sekarang dia lalui.
__ADS_1
Dika seperti pernah melewati daerah sekitar kompleks sini, tapi dia lupa, untuk keperluan apa, dan kapan waktunya.
Dika tidak ingat, karena saat ini sedang berada di dalam mobil, dengan cuaca yang sedikit mendung juga. Dia hanya merasa jika, pernah lewat jalan yang sama, untuk menuju ke rumah pak Abi, yang tadi disebutkan oleh papa dan juga mamanya.