Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Akhirnya Tiba Waktunya


__ADS_3

Pagi hari sekitar jam sepuluh, di bandara internasional Atlanta.


Bandar Udara Internasional Hartsfield–Jackson Atlanta (IATA: ATL, ICAO: KATL, FAA LID: ATL) di Atlanta, Georgia ialah sebuah bandara internasional terbesar, dengan semua fasilitas berstandar internasional juga. Yang menerima beberapa penerbangan dari Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan beberapa negara di benua Amerika.


Di sinilah sekarang. Keluarga Abimanyu dan Anjani akan melakukan penerbangan dengan tujuan Jakarta, Indonesia.


Semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Hanya tinggal orang-orangnya sebagai penumpang saja, yang akan masuk ke dalam pesawat.


Suara tangisan perpisahan antara Anggi dan Ara, terdengar jelas.


"Hiks... hiks... gak boleh nakal ya Dek!"


"Huhuhu... Kakak!"


Mereka berdua, saling berpelukan. Sedangkan Abimanyu dan Anjani, sedang berbicara dengan Awan. Memberinya beberapa pesan dan nasehat.


Karena mereka, terutama Abimanyu, sudah tidak akan bisa mendampingi dirinya mengurus perusahaan. Dan juga menjaga Ara.


"Tolong jaga Ara ya Wan. Ayah percaya Kamu pasti bisa menerima kepercayaan dari Ayah ini." Abimanyu memberikan pesan.


"Insyaallah Yah. Awan akan berusaha semampu Awan untuk menjaga Ara."


"Tinggal tiga bulan lagi. Kalian akan menjadi suami istri. Jadi, Ayah harap semua akan baik-baik saja hingga waktunya tiba." Abimanyu kembali berkata, mengungkapkan keinginan dan harapan yang dia miliki.


Awan mengangguk mengiyakan perkataan calon mertuanya itu. Karena waktu tiga bulan itu, bisa jadi terasa cepat. Tapi juga bisa terasa sangat lama.


Anjani hanya diam, dengan segala perasaan yang ada di dalam dadanya.


Rasa sedih, bahagia, bercampur aduk menjadi satu. Sehingga dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Dia hanya terisak tanpa suara, melihat kedua anaknya yang sedari tadi bicara, berpelukan. Bicara lagi, berpelukan lagi. Begitu seterusnya.


Dia juga tidak tahu, harus berkata apa pada Awan. Karena suaminya, sudah banyak memberikan penjelasan dan nasehat-nasehat, juga pesan pada calon menantunya itu.


Setelah saling berpamitan dengan suasana sedih, haru dan berbagai macam perasaan, kini mereka bertiga, Abimanyu, Anjani dan Anggi, sudah waktunya untuk naik ke pesawat.


Awan memeluk Ara dari arah samping. Melihat ke arah ayah, bunda dan juga adiknya yang melambaikan tangan dari atas tangga pesawat.


"Hiks hiks hiks..."


Ara terus menerus tersedu-sedu.


"Ra. Sudah-sudah! Jangan buat ayah dan bunda, juga Anggi bertambah sedih dan berat untuk pulang."


"Ara kan sedih Kak, hiks..."

__ADS_1


"Iya-iya, Kakak tau. Anggap saja, sama seperti waktu Kamu sekolah di asrama dulu," kata Awan menasehati.


"Iya Kak, hiks... Tapi tetap saja beda rasanya."


"Jika di asrama hiks... Ara bisa ketemu mereka sebulan dua kali. Ini hiks... tiga bulan kemudian. Hiks hiks hiks..."


Ara berkata dengan tersendat-sendat. Dia juga memberikan alasan yang memang benar adanya.


"Kak! Kak Ara!"


Ara menoleh ke arah sumber suara, yang memanggil namanya, dengan cepat.


Begitu juga dengan Awan. Karena dia juga mendengar seseorang memanggil namanya Ara.


"Ahmed?"


"Ahmed..."


Keduanya, Ara dan Awan, sama-sama menyebut nama Ahmed yang berlari-lari menuju ke arah mereka berada. Teman dekatnya Anggi. Yang beberapa hari terakhir ini, juga dekat dengan mereka semua.


"Kak. Kak Ara, i... i terlambat ya?" tanya Ahmed terbata, dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


Ahmed juga melihat sekeliling. Dia sudah tidak menemukan Anggi, atau ayah maupun bundanya, Anjani.


Apalagi, dia juga melihat wajah Ara yang sembab. Khas orang yang sedang, atau baru saja menangis.


Dia terlihat sangat sedih sekali. Karena tidak bisa bertemu dengan Anggi, untuk terakhir kalinya.


"Semalam, Kamu kan sudah bersama di rumah Kami. Kamu juga tahu, jam penerbangan Anggi. Ini Amerika Ahmed. Bukan Indonesia. Apalagi jam terbang di bandara. Tidak mungkin molor, karena jam karet juga."


Ahmed mengangguk mengiyakan perkataan Ara. Dia tahu, dia yang salah. Dan ini karena kedua orang tuanya.


Dari arah belakang, mama dan papanya Ahmed, berjalan dengan tenang. Berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.


"How dear, meet girl friend... emhhh... Anggi, ya, Anggi?"


"Mama. Dia sudah pergi Ma," jawab Ahmed dengan sedih.


"Sorry. I mamanya Ahmed. Dan ini adalah papanya." Mamanya Ahmed, memperkenalkan diri dan juga suaminya, kepada Ara dan juga Awan.


Dari penuturan yang disampaikan oleh mamanya Ahmed, anaknya itu sering kali menceritakan tentang Anggi. Begitu juga dengan bundanya, yang sudah banyak memberikan beberapa pelajaran memasak dan membuat kue.


Sayangnya, mereka berdua baru saja datang dari China. Negara asal mamanya Ahmed.


Itulah sebabnya, mereka berdua belum sempat bertemu dengan Anggi ataupun bundanya, Anjani.

__ADS_1


Setelah selesai berkenalan dan berbasa-basi sebentar, akhirnya mereka semua pulang ke rumah mereka. Begitu juga dengan Ara.


Dia tidak ingin pergi ke kampus. Dia ingin beristirahat sejenak, agar tidak merasakan kesedihan lagi.


Dan untuk barang-barang yang masih ada di apartemen, tadi sudah di bantu oleh jasa yang biasa mengurus segala sesuatu, untuk keperluan orang-orang yang pindah rumah.


Barang-barang yang masih ada, di lelang dan uang yang diterima dari penjualan barang tersebut, akan digunakan untuk kegiatan amal oleh pengelola apartemen.


*****


Di dalam pesawat.


Anggi terlihat sedih. Dua sedari pesawat naik, tidak lagi bicara apa-apa. Hanya diam dan berusaha untuk memejamkan matanya.


"Bun, Adek kenapa? apa dia mabuk udara?" tanya Abimanyu, yang melihat anaknya itu tidak dalam keadaan seperti biasanya.


"Emhhh... mungkin, mungkin karena dia tidak ketemu Ahmed Yah. Tadi kan, Ahmed tidak datang," ujar Anjani, memberikan penjelasan kepada suaminya. Tentang kemungkinan besar, dengan keadaan anaknya itu.


"Oh... begitu ya."


"Mungkin Yah. Hehehe..."


Sekarang, Abimanyu berjalan mendekat ke tempat duduknya Anggi. Dia menepuk-nepuk punggung tangan anaknya itu, yang ada di pinggiran tempat duduk.


"Dek," panggil Abimanyu, pada Anggi.


Anggi membuka matanya. Dia melihat ayahnya yang sedang tersenyum kearahnya.


"Ya Yah. Ada apa?" tanya Anggi, yang pura-pura bersikap seperti biasa.


"Kenapa? kok sedih gitu. Bukannya Kamu senang bisa pulang ke Indonesia? Ada Miko, Eyang putri dan eyang Kakung. Ada kak Nanda juga, dan pastinya adiknya Miko juga."


"Huhuhu..."


Anggi tidak menjawab. Dia justru menangis tersedu-sedu, mendengar semua nama orang-orang yang disebutkan oleh ayahnya tadi.


"Eh, cup cup cup! Kok malah tambah kejer nangisnya?" tanya Abimanyu heran.


"Huhuhu... Ayah. Huhuhu..."


Anggi tetap saja menangis. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa yang ada di dalam hatinya.


Anjani hanya tersenyum tipis, melihat anaknya itu sedang bersedih hati. Tapi, dia tidak mau mendekat. Karena jika itu dilakukan, Anggi akan lebih kencang menangis lagi. Bukannya jadi diam


Dia tahu, bagaimana perasaan anak kecil itu. Tapi, Anjani tidak mau ikut campur. Di berpikir bahwa, Anggi akan dengan cepat melupakan semua kenangan dan perasaannya terhadap Ahmed.

__ADS_1


Seiring waktu dan kesibukan Anggi di Jakarta nanti. Apalagi, Anggi masih terlalu kecil untuk mengenal perasaan yang lebih dari sekedar teman.


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Anjani.


__ADS_2